Share

Bab 6

Author: Fitri
Kayden membuka laci dan merobek kemasan aluminium obat, lalu menelan loratadin di tangannya.

"Alergi."

Saphira mengakui, saat melihat bekas di leher Kayden, dia sempat mengira putranya akhirnya punya pacar, hanya saja tidak nyaman dibawa pulang.

Siapa sangka, ternyata alergi.

....

Saphira agak kecewa.

"Kayden, Maeris bilang dia ingin magang di perusahaan. Kamu atur saja."

"Suruh dia ikut prosedur. Kalau lolos wawancara, ya silakan."

Wajah Saphira langsung tidak senang. Dia tak kuasa mengeluh, "Maeris itu lulusan universitas ternama. Magang di perusahaan sendiri masih harus lewat prosedur segala? Kayden, kamu nggak bisa melonggarkan sedikit?"

Kayden mengangkat kelopak mata. "Nggak bisa."

Penampilan Maeris tidak buruk, latar belakang keluarganya juga sepadan. Apalagi dia sudah menyukai Kayden selama bertahun-tahun. Lalu, apa yang salah?

Saphira menatap Kayden. Semakin dilihat, hatinya semakin tidak tenang. Nada bicaranya pun meninggi,

"Kayden, jangan-jangan kamu ... suka laki-laki?"

Kayden menekan pelipisnya dengan lelah dan menahan diri sejenak sebelum berkata, "Aku pernah punya pacar perempuan."

Hati Saphira yang sempat terangkat pun jatuh kembali. Belum sempat dia bertanya lebih jauh, Kayden sudah menambahkan, "Kecenderungan sesama jenis biasanya diturunkan. Kalau kamu curiga sama aku, lebih baik tanya Ayah."

Saphira terdiam.

Apa-apaan ini!

Dengan sikap seperti ini, mau marah juga tidak pas, tidak marah juga rasanya tidak enak. Rasanya benar-benar menyebalkan.

Akhirnya, Saphira memilih untuk tidak ikut campur lagi. Dia merapikan nampan bekas makan Kayden dan pergi. Daripada terus tinggal di sini dan benar-benar dibuat mati kesal olehnya.

....

Keesokan harinya.

Kayden sudah berjanji pada sepupunya untuk menjemput anak hari ini. Baru saja mobilnya berhenti, dia langsung menarik perhatian para orang tua di sekitarnya.

Wajahnya menonjol, sepasang kaki panjangnya bersandar santai di mobil mewah. Posturnya elegan, auranya dingin dan tegas. Ke mana pun dia berdiri, Kayden selalu menjadi pusat perhatian. Bahkan ada yang bertanya, apakah ada artis yang sedang syuting di sekitar sini.

Belum sempat bertemu keponakannya, yang datang malah seorang guru TK dengan wajah memerah dan malu-malu. "Permisi, apakah Anda wali murid atas nama Rupert? Dia sempat berselisih dengan salah satu murid kami, jadi kami perlu kerja sama dari pihak keluarga."

Kayden melepas kacamata hitamnya dan mengikuti guru itu masuk ke area sekolah.

Di halaman TK, seorang gadis kecil berbaju putih terduduk di tanah. Tangisnya lirih dan terisak pelan. Lengan putihnya dipenuhi goresan-goresan kecil. Keponakannya berdiri di samping, wajah tembamnya penuh keangkuhan.

"Daisy, aku mengajakmu main itu artinya aku menghargaimu! Kenapa kamu berani mengabaikanku? Jangan menangis, jelek sekali!"

Kayden mengerutkan kening dan melangkah cepat. Dengan satu tangan, dia mengangkat keponakannya yang masih berteriak-teriak. Sorot matanya dalam dan dingin. "Rupert, apa yang kamu lakukan?"

Begitu melihat Kayden, sikap garang bocah gendut itu langsung lenyap. Di tangan Kayden, dia tampak gemetaran.

Sebagai putra tunggal sepupu Kayden, Rupert tumbuh dimanjakan semua orang. Namun, satu-satunya orang yang benar-benar dia takuti hanyalah Kayden. Kalau pamannya marah, seluruh keluarga bisa terkena imbas.

Dari guru TK, Kayden mengetahui duduk perkaranya. Tidak lebih dari ulah si pembuat onar Rupert yang ingin bermain bersama Daisy. Daisy menolak, lalu saat jam pulang dia mendorong Daisy sampai bajunya robek.

Kayden membungkuk dan mengangkat Daisy dari tanah. Saat menatap mata beningnya, hatinya tiba-tiba melunak. Entah kenapa, anak ini terasa familier, bahkan menimbulkan rasa dekat yang sulit dijelaskan.

Suaranya pun tanpa sadar melembut, "Sakit nggak? Paman antar kamu ke rumah sakit."

"Mohon hubungi orang tuanya. Semua kerugian akan saya tanggung."

Angin bertiup pelan. Lunara yang bergegas datang, tidak menyadari bahwa orang yang menggendong Daisy adalah Kayden. Di matanya hanya ada putrinya yang sedang menangis.

Entah menurun dari siapa, sifat Daisy sangat pendiam. Bahkan saat menangis pun nyaris tak bersuara. Air matanya mengalir deras, membuat siapa pun yang melihatnya merasa iba.

Sepasang tangan yang lembut merebut Daisy dari pelukan Kayden dan mendekapnya sambil menenangkan dengan suara halus, "Daisy, sayang, jangan menangis. Mama sudah datang."

Daisy bersandar di bahu Lunara, kedua lengannya melingkari leher ibunya.

Begitu Lunara melihat luka di lengan Daisy, pikirannya langsung terasa kosong.

Sistem imun Daisy jauh lebih lemah dibanding anak-anak lain. Dia terlahir dengan kekurangan trombosit dan gangguan pembekuan darah. Sekali terluka, proses penyembuhannya selalu jauh lebih sulit.

Begitu melihat putrinya terluka, sikap Lunara langsung mengeras. Dia menatap guru TK dan berkata tegas, "Apa yang terjadi sebenarnya? Saya perlu penjelasan dari pihak sekolah!"

Kayden yang berdiri di samping membuka suara, "Ini salah Rupert. Kami akan bertanggung jawab dan memberi ganti rugi."

Lunara bertubuh tinggi, tetapi kini jauh lebih kurus. Daisy tampak seperti boneka porselen di pelukannya.

Ini putrinya. Pantas saja dia merasa anak ini begitu familier.

Namun, ada perasaan aneh lain. Kayden selalu merasa anak ini entah kenapa cocok dengannya.

Melihat Kayden menatap Daisy, jantung Lunara mendadak berdebar keras. Seolah takut ada yang akan merebutnya, dia refleks menutup Daisy lebih rapat dalam pelukannya.

Lunara mengangkat kepala dan bertemu dengan sepasang mata hitam yang dalam. Tulang alis Kayden tampak tegas. Tatapannya tampak dingin dan menekan, tetapi setiap garis wajahnya sebenarnya rapi dan elok.

'Apakah anak laki-laki yang sering menindas Daisy ini anaknya?'

Tidak, anak itu bermarga Kirana. Atau jangan-jangan, Kayden begitu mencintai ibu anak itu sampai tidak peduli soal marga?

Perasaan cemburu menjalar di dadanya. Tangan Lunara bergetar tanpa sadar. Amarah seorang ibu yang melindungi anaknya pun membara. Dia menyahut tajam, "Ganti rugi?"

"Rupert sudah berkali-kali menindas putri saya. Bagaimana Pak Kayden ingin memberi ganti rugi? Dia sudah menimbulkan trauma psikologis yang serius pada anak saya!"

Ini bukan pertama kalinya Rupert mengganggu Daisy.

Kayden melirik keponakannya yang berdiri di sampingnya, menunduk tanpa berani bicara. Dia lalu berjalan lebih dulu ke arah mobil yang terparkir di luar.

"Masuk mobil. Kita ke rumah sakit."

Kayden tahu betul tabiat keponakannya. Melihat Lunara masih memeluk Daisy tanpa bergerak, dia mendesak, "Cepat."

Di dalam pelukan Lunara, Daisy sudah berhenti menangis. Napasnya masih terengah-engah dan wajah kecilnya memerah. Lunara tidak berani menunda. Dia langsung naik ke mobil Kayden dengan cepat.

Setibanya di rumah sakit, Lunara tidak banyak bicara. Sambil menggendong Daisy, dia langsung menuju poli pernapasan. Setelah serangkaian pemeriksaan, dia keluar dengan tangan penuh kantong obat.

Kayden mengikuti dari belakang dan membayar dengan kartunya. Dari sana juga dia tahu, putri Lunara memang benar-benar tidak sehat. Saat membayar, dia sempat melirik lembar rekam medis.

[ Nama pasien: Daisy Wikara. ]

'Nama belakang suaminya Wikara?'

Rupert jelas tidak menyangka. Dia mengira Daisy hanya menangis karena manja saat bermain di TK. Tak disangka, ternyata Daisy benar-benar sakit.

Kayden mengantar mereka pulang. Di perjalanan, setelah ragu beberapa kali, Rupert akhirnya memanfaatkan jeda lampu merah untuk menoleh ke arah Lunara dan Daisy, lalu meminta maaf dengan suara kecil.

"Maaf."

Lunara memalingkan kepala ke samping dan tidak menjawab.

Meski Rupert masih anak-anak, dia tetap marah.

Anak Kayden berharga, tetapi putrinya juga adalah harta karun.

Tubuh Daisy dirawat Lunara dengan penuh kehati-hatian. Jangankan terluka, bahkan menangis pun jarang dibiarkan. Kondisi kesehatan putrinya tidak boleh mengalami emosi yang terlalu bergejolak. Begitu teringat wajah Daisy yang penuh air mata dan mata membengkak saat dia tiba sore tadi, hati Lunara langsung terasa perih.

Melihat Lunara tidak menggubrisnya, Rupert menoleh ke Daisy.

Daisy mengedipkan mata ke arahnya.

Wajahnya cantik, seperti boneka porselen yang dipahat dengan halus. Jika fotonya diunggah, pasti akan dihubungi pencari bakat untuk jadi model anak. Di antara alis dan matanya juga terselip sedikit kesan blasteran.

Dulu, Lunara sempat heran dengan penampilan Daisy. Lalu teringat Kayden pernah mengatakan bahwa ibunya berasal dari luar negeri. Mungkin Daisy mewarisi gen itu secara turun-temurun. Itulah sebabnya raut wajahnya terlihat seperti anak campuran.

Tak jarang pula orang salah mengira ayah Daisy adalah orang asing.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (2)
goodnovel comment avatar
Lidia Mangunsong
Daisy baru berumur 2 thn sdh bisa ngomong jelas di telp, dan sdh TK? ...
goodnovel comment avatar
Retno jati
akhirnya bertemu dengan Daisy itu anak mu kayden
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda   Bab 1073

    "Luna, bangun."Suara yang terasa begitu akrab sekaligus asing terdengar lembut di telinga Lunara. Telapak tangan yang sedikit kasar menepuk pipinya dengan lembut."Bangun, waktunya makan. Hari ini Ayah beliin pie kesukaanmu."Ayah? Lunara membuka mata dengan bingung.Di hadapannya, Orion mengenakan celemek bergambar kartun dan memegang spatula. Sambil membuka tirai kamarnya, dia terus mengoceh menyuruh Lunara bangun."Cepat bangun. Ayah sudah siapkan sausnya untukmu. Makan pelan-pelan, nanti baru berangkat sekolah."Apa ini mimpi? Lunara merasa sangat heran.Bagaimana mungkin dalam mimpinya dia kembali ke usia 17 tahun, saat masih duduk di kelas 3 SMA? Waktu itu dia tidak mau tinggal di asrama, jadi setiap hari dia pulang pergi dari rumah.Melihat Lunara masih duduk termenung di atas tempat tidur, Orion kembali mendesak, "Kok malah melamun? Kamu nggak enak badan?"Lunara mengangkat kepala dan bertatapan dengan mata Orion yang penuh perhatian. Wajah yang begitu dikenalnya itu kini dipe

  • Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda   Bab 1072

    "Halo semuanya, kami dari stasiun televisi Kota Andara. Hari ini kami ingin mewawancarai beberapa orang secara acak. Apa impian Anda?"Kamera mengikuti sang reporter dan mengarah pada dua perempuan yang berpenampilan modis, duduk di bangku tepi sungai sambil menikmati kopi.Salah satunya mengenakan setelan jas profesional yang membuatnya terlihat berwibawa dan berkelas, sementara yang satunya mengenakan gaun biru muda dengan potongan yang begitu pas. Sekilas saja sudah terlihat bahwa keduanya menjalani kehidupan kalangan elite.Reporter itu tampak sedikit gugup saat menghampiri mereka."Permisi, boleh mengganggu sebentar? Kami dari stasiun televisi dan sedang melakukan wawancara. Ini kartu identitas saya."Dari penampilannya, reporter itu jelas baru lulus kuliah. Bahkan di kartu identitasnya masih tertulis statusnya sebagai pekerja magang.Elina menerima kartu itu, lalu tersenyum dan mengembalikannya. "Boleh. Kamu kelihatannya seumuran dengan putriku."Reporter itu terkejut. "Kakak sud

  • Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda   Bab 1071

    Sabrina pura-pura tidak melihat apa pun.Setiap departemen mengadakan rapat besar sekali setiap bulan. Rapat besar di departemen Sabrina kali ini ditangani oleh sekretariat, jadi tidak heran sang direktur sudah tegang sejak awal.Namun, setelah sampai di ruang rapat, Sabrina baru menyadari bahwa orang yang hadir ternyata adalah Kayden.Dia mencari tempat di sudut dan duduk di sana.Kayden duduk di salah satu sisi, sementara rapat dipimpin oleh Daisy.Biasanya, Kayden tidak pernah menghadiri rapat seperti ini. Semua orang pun mengira dia sengaja datang untuk menunjukkan dukungannya kepada putrinya, sehingga tak seorang pun berani bersikap ceroboh.Seorang anak magang yang suka menjilat berdiri di samping Miko dan berkata dengan nada penuh pujian, "Miko, Pak Kayden seharusnya om tertuamu, 'kan? Ganteng banget!"Miko mengangkat dagunya dengan angkuh, nyaris mengakui begitu saja bahwa dirinya memang putri Casya.Beberapa anak magang di sekitarnya semakin bersemangat dan ikut memuji.Sabrin

  • Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda   Bab 1070

    Seketika, seluruh kantor sunyi senyap.Sabrina mengangkat ponselnya. "Saya sudah mengambil tangkapan layarnya, Pak. Di bagian penanggung jawab penyusunan materi rapat, nggak ada nama saya."Di bagian bawahnya tertulis jelas nama Miko."Lagi pula, semalam saya sudah lembur sampai jam 9. Kenapa saya masih harus lembur lagi? Memangnya pekerjaan yang nggak diselesaikan orang lain harus saya yang bereskan?"Miko yang duduk menyerong di seberang pun berdiri. "Maaf, itu tugasku. Tapi kemarin aku sakit, jadi aku pulang jam 5. Sabrina, maaf sudah merepotkanmu."Sabrina tersenyum lebar. "Nggak merepotkan. Toh aku juga nggak menerima tugas itu."Miko melirik sang direktur. Sang direktur membanting berkas itu dengan keras ke atas meja."Sabrina! Kamu sebenarnya masih mau kerja di sini nggak? Kalau kamu nggak mau magang di Grup Narasoma, pergi saja!"Sabrina menjawab dengan tenang, "Maksud Bapak, saya akan dipecat hanya karena menolak pekerjaan yang bukan tanggung jawab saya? Oke. Kalau begitu, say

  • Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda   Bab 1069

    Dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan besar lainnya, tunjangan untuk para pekerja magang di Grup Narasoma terbilang jauh lebih baik. Namun, sebanding dengan itu, beban kerja mereka juga ikut meningkat dan cukup merepotkan.Setelah menyelesaikan tugasnya hari ini, Sabrina mengangkat tangan dan memijat lehernya yang kaku dan pegal, lalu menggerak-gerakkan tubuhnya dengan susah payah.Casya meneleponnya. "Sasa, gimana magangnya?""Lumayan. Memang agak capek, tapi untuk sementara masih nggak apa-apa."Casya terus mengoceh, "Bukan berarti keluarga melarangmu melakukan pekerjaan yang kamu minati. Mama cuma mau kamu melihat seperti apa aturan di dunia kerja. Lagian, nggak akan ada yang berani mengganggumu di Grup Narasoma."Setelah Casya selesai bicara, pintu ruang direktur terbuka. Direktur yang dari raut wajahnya saja sudah tampak sulit diajak berunding itu memandang Sabrina dan berkata tanpa basa-basi, "Sabrina, kamu lembur hari ini. Sekalian urus dokumen yang akan dipakai untuk rapat

  • Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda   Bab 1068

    Saat Daisy berusia 27 tahun, Sabrina berusia 23 tahun.Daisy menjadi direktur termuda Grup Narasoma.Jaden pergi ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikan dan perlahan mulai mengambil alih beberapa urusan di luar negeri.Di Grup Narasoma, sejak dulu beredar rumor bahwa hubungan kakak beradik itu terlihat akur di luar, tetapi sebenarnya tidak.Hanya Sabrina yang tahu bahwa rumor itu memang sengaja disebarkan oleh kakak beradik itu.Di dalam perusahaan, belakangan ini memang muncul beberapa konflik.Tak lain karena terjadi perombakan besar-besaran di jajaran petinggi, sementara Daisy masih terbilang sangat muda.Namun, sebesar apa pun penolakan itu, tetap tidak bisa mengabaikan kemampuan Daisy yang memang luar biasa.Dewan direksi ingin Daisy fokus mengerjakan penelitian dan pengembangan, tanpa sekaligus ikut mengambil keputusan di dewan direksi.Daisy berkata, "Kalau bekerja, aku akan mengerjakan semuanya. Kalau nggak bisa, lebih baik nggak usah sama sekali."Hasil penelitiannya juga

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status