Compartilhar

Bab 5

Autor: Fitri
Saat kuliah dulu, Maeris cukup sering datang ke Universitas Andara untuk mencari Kayden. Setiap kali, dia selalu memakai nama kakaknya, Theron, sebagai alasan.

Pada masa itulah dia kerap melihat seorang wanita yang hampir selalu berada di sisi Kayden. Wanita itu bertubuh tinggi, bertubuh seksi, dan berpakaian mencolok. Auranya seperti matahari terik yang terang dan memesona. Sekilas saja sudah terlihat sebagai seseorang yang dibesarkan dengan kemewahan.

Dari mulut Theron, Maeris tahu bahwa wanita itu bernama Lunara, pacar Kayden, mahasiswa akademi seni.

Tak seorang pun menyangka bahwa pria sedingin dan seanggun Kayden yang memiliki aura tenang, akan bersama seorang nona besar yang tampak vulgar dan manja.

Theron pernah berkata, saat itu Kayden miskin. Kemungkinan besar Lunara menghamburkan uang untuknya. Maeris pun memercayainya.

Kemudian, lewat sebuah kerja sama, Maeris baru mengetahui bahwa Kayden sebenarnya adalah putra sulung Keluarga Narasoma dan calon pewaris grup di masa depan. Sejak saat itu, Maeris tahu bahwa hubungan Kayden dan Lunara kemungkinan besar hanyalah main-main.

Belakangan, dia juga mendengar pernyataan serupa langsung dari mulut Kayden sendiri. Namun entah kenapa, Maeris sama sekali tidak merasa senang. Kayden mengangkat mata dan menatapnya dengan dingin.

Maeris bergetar.

Kayden sudah meletakkan sendok di tangannya, lalu berdiri. "Aku naik dulu. Ke depannya, kalau mau kasih bunga, nggak perlu menjadikanku alasan."

Saphira mendengus, raut wajahnya langsung tidak enak dilihat. "Apa maksudmu? Aku kasih Maeris sebuket bunga, lalu kamu malah nggak senang?"

Kayden sudah melangkah ke lantai atas. Maeris menatap punggung Kayden yang menjauh, matanya dipenuhi rasa tidak rela.

Saphira menggenggam tangan Maeris, menenangkannya beberapa patah kata, lalu bertanya, "Maeris, siapa Lunara yang tadi kamu sebut itu?"

Kenapa Saphira sama sekali tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya?

Maeris tahu dia telah salah bicara. Dengan susah payah akhirnya bisa bertemu Kayden, malah membuatnya marah dan pergi.

"Nggak apa-apa. Hanya teman lama. Tante, tadi aku lupa bilang ke Kak Kay kalau aku ingin magang di Grup Narasoma. Dia nggak akan keberatan, 'kan?"

"Ah, itu urusan kecil. Nanti aku bicarakan dengannya."

"Terima kasih, Tante."

....

Di lantai atas, di ruang kerja Kayden.

Di layar komputer, laporan keuangan grup bergulir. Informasi setiap kelompok proyek tersaji dengan jelas. Tanpa sadar, pandangan Kayden tertuju pada kelompok Lunara, yang mencatat kenaikan kinerja paling signifikan.

Saat melihatnya tadi siang, yang dia rasakan hanya satu hal. Lunara jauh lebih kurus. Dulu tubuh Lunara bisa dibilang proporsional. Dia bahkan sering mengeluh ingin menurunkan berat badan. Sekarang, bahu dan punggungnya tampak setipis selembar kertas A4 yang ringkih dan rapuh.

Kayden mengakui, saat pertama kali melihat nama "Lunara" yang tertera sebagai penanggung jawab proyek, hatinya sempat bergetar aneh.

Kenapa bisa ada orang lain yang namanya sama?

Namun, ternyata benar dia orangnya.

Lunara adalah anak seni. Dulu dia tidak suka belajar. Saat kuliah pun sering berkata bahwa kelak dia tidak akan bekerja. Uang keluarganya cukup untuk dia habiskan seumur hidup. Kini, Luanra bukan hanya bekerja, tetapi juga bekerja di Grup Narasoma.

Itu saja sudah cukup mengejutkan Kayden.

Yang lebih mengejutkan lagi, proposal proyek Lunara adalah yang terbaik di antara semua kelompok. Pada awalnya, hubungannya dengan Lunara hanyalah sebuah taruhan. Ditambah lagi Lunara yang terus mengejarnya tanpa menyerah, akhirnya Kayden menyetujuinya.

Saat itu dia berpikir, setelah lulus kuliah dan kembali ke Grup Narasoma, dia akan putus dengan Lunara. Namun perlahan, taruhan itu berubah arah. Kepribadian Lunara hangat dan ceria. Setiap kali melihatnya, sudut bibir Kayden tak kuasa terangkat.

Di depan orang lain, Lunara adalah nona besar Keluarga Angkasa yang angkuh. Namun di hadapannya, Lunara lembut dan patuh. Mereka pun berkali-kali melampaui batas. Kayden bahkan terkejut menyadari bahwa setiap preferensinya dapat dipenuhi Lunara dengan sempurna.

Seperti terkena penyakit kronis, Kayden tak bisa melepaskannya. Dia menyukai Lunara. Dia mulai merencanakan masa depan. Bahkan sempat berpikir, setelah lulus nanti, mereka akan putus lebih dulu, lalu dia akan kembali dengan identitas yang berbeda dan menjelaskan semuanya dengan jujur.

Jika Lunara tidak mau memaafkannya, dia akan memberinya banyak uang dan lebih banyak lagi cinta.

Setiap kali ada masalah, solusi Lunara selalu satu, yaitu uang.

Kalau tidak masuk kelas, tinggal sewa pengganti. Kalau tidak mau buat tugas, tinggal cari penulis bayangan. Bahkan mengambil paket pun menyuruh orang lain. Di matanya, uang bisa membeli segalanya.

Termasuk ketika Lunara berkata ingin berpacaran dengannya, sikap Lunara tampak begitu tinggi hari, seolah-olah dia sedang "membeli" Kayden. Padahal, sepuluh kali lipat harta Keluarga Angkasa pun tak akan menandingi satu tahun dana perwalian Grup Narasoma.

Namun pada akhirnya, malah Kayden yang diputuskan. Lunara pergi tanpa menoleh sedikit pun. Dia memblokir semua kontak Kayden, barang-barangnya dipindahkan, dan putus secara mendadak tanpa bersisa.

Kayden baru tahu setelah bertanya ke sana kemari bahwa Lunara sudah pergi ke luar negeri. Dia pergi begitu saja, tanpa meninggalkan sepatah kata pun.

Bahkan Theron pun tahu soal kepergiannya. Lunara sampai menjual akun gim yang sudah dia top-up habis-habisan dan perlengkapannya kepada Theron.

Kayden sampai tertawa sinis karena marah.

Jelas-jelas Lunara yang terlebih dulu mendekatinya, mengerahkan segala cara untuk menerobos masuk ke dunianya. Sekarang dia bisa pergi sesuka hati?

Benar-benar tidak masuk akal.

Siapa Kayden? Dia ini idola kampus Universitas Andara, pewaris Grup Narasoma. Sejak kecil, hidupnya selalu dikelilingi sanjungan. Dia tidak percaya Lunara akan benar-benar menghilang begitu saja.

Kayden mencarinya. Semua pesan yang dikirim tak pernah mendapat balasan. Dia bahkan sempat mengira Lunara mengalami sesuatu yang buruk, sampai-sampai berencana menggunakan koneksi Keluarga Narasoma untuk mencarinya.

Namun kemudian, dia mendengar Theron yang berbaring di ranjang sebelah, menjawab telepon dengan suara pelan sambil menutup mulutnya.

Telepon dari Lunara.

Pada saat itu, yang tersisa di hati Kayden hanyalah kebencian yang menjalar, nyaris ikut membakar dirinya sendiri dan meluluhlantakkan akalnya. Panggilan telepon itu seolah mengejeknya tanpa ampun. Setelah itu, tidak ada lagi yang menyebut nama Lunara.

Mengambil alih perusahaan memang sudah lama direncanakan. Kayden hanya tidak menyangka Lunara juga bekerja di perusahaannya.

Saat melihatnya, Kayden terpaku. Hidupnya sekarang tidak sebaik dulu. Namun alih-alih merasa puas, hati Kayden justru terasa seperti tertusuk duri, sesak dan tidak nyaman.

Lunara sudah menikah. Waktunya tepat setelah dia putus dengan Kayden.

Kayden bahkan mulai curiga, apakah Lunara terburu-buru memutuskan hubungan karena hendak menikah dengan pria lain? Bahkan sudah punya anak.

Dulu, Lunara sering berkata bahwa dia tidak suka anak-anak. Dia ingin menikmati dunia berdua terlebih dahulu sebelum mempertimbangkan punya anak. Yang tidak disukai Luanra, mungkin adalah anak Kayden. Begitu hamil dengan benih pria lain, Lunara malah langsung melahirkan.

Hati Kayden seperti ditindih sebongkah batu besar. Yang tersisa hanya rasa sesak tanpa sebab yang jelas. Dia mengangkat kaki dan menendang kaki meja.

"Lunara, kamu memang hebat."

....

Pintu ruang kerja diketuk, Saphira masuk sambil membawa nampan makanan.

Tanpa bertele-tele dia berkata, "Kamu nggak suka Maeris? Aku lihat hubunganmu dengan Theron juga cukup baik. Aku sampai berpikir menjalin hubungan keluarga."

Kayden bahkan sudah berbalik dan pergi tanpa makan terlebih dahulu. Saphira pun merasa kasihan pada putranya. Kalau keluarga lain, banyak yang tidak akan tahan dengan sifat Kayden seperti ini.

Hubungan Saphira dan Kayden memang tidak terlalu dekat.

Sejak kecil, Kayden dibesarkan oleh kakek Keluarga Narasoma. Setelah dewasa, dia sibuk dengan urusan karier. Sejak Kayden memegang kendali selama beberapa tahun terakhir, auranya semakin tajam dan berwibawa. Saphira malah merasa agak segan pada putranya sendiri.

Kayden mengambil sendok dan menyuap satu suapan nasi. "Bukan nggak suka. Aku benci."

Kayden sudah terlalu sering melihat wanita seperti itu. Tatapan mereka penuh hasrat padanya dan begitu terang-terangan, dia merasa muak.

Tanpa sadar, pikirannya melayang pada sepasang mata lain. Tatapan yang dulunya lembut, kini terasa begitu dingin. Hati Kayden ikut mencelos.

"Kalau lain kali ada tamu di rumah, kasih tahu aku dulu."

Kalau ada tamu, dia tidak akan pulang.

"Apa maksudmu? Sekalipun nggak suka, setidaknya kamu hargai sedikit gadis itu!"

Saphira jelas merasa malu jika Kayden pergi begitu saja.

Kayden mengangguk ringan. "Mau pilih tamu atau pilih aku, terserah."

Amarah Saphira memuncak. Dia tidak bisa meluapkannya, juga tidak bisa memendam perasaan itu.

Setelah beberapa saat, dia berkata lagi, "Nggak banyak wanita yang sanggup menerima sifatmu ini. Maeris menyukaimu, kamu malah nggak senang?"

Kayden meletakkan sendok dan mengusap sudut bibirnya. "Ya."

Saphira mengangkat pandangan dan melihat bekas di leher Kayden. "Lehermu itu ...."

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Comentários (1)
goodnovel comment avatar
Retno jati
awal nya taruhan to lama lama jatuh cinta beneran. lunara pergi karena mulutmu kayden
VER TODOS OS COMENTÁRIOS

Último capítulo

  • Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda   Bab 812

    Kedua anak itu benar-benar bertolak belakang. Yang satu aktif, yang satu tenang.Amy yang berdiri di samping melihat mereka pun tak kuasa menahan senyum. "Nanti setelah bayi di dalam kandungan Nyonya lahir, rumah ini pasti akan makin ramai."Hinari mengangkat kepala. "Kamu hamil?"Dia benar-benar tidak tahu. Tubuh Lunara memang ramping, ditambah lagi dia mengenakan pakaian rumahan yang longgar, jadi sama sekali tidak terlihat sedang hamil.Lunara tersenyum. "Sudah empat bulan. Waktu hamil Daisy dulu, perutku juga nggak terlalu besar.""Sudah diperiksa? Laki-laki atau perempuan?"Lunara meliriknya dengan tatapan manja. "Kalau perempuan seperti Daisy, aku suka. Kalau laki-laki seperti Rupert, aku juga suka.""Jangan deh." Sebagai ibu kandung Rupert, Hinari benar-benar tidak memiliki "filter ibu" terhadap anaknya sendiri. "Kalau seperti Rupert, nanti kamu malah pusing mikirin cara buat dia kurus. Bodoh, doyan makan lagi. Kayak anak babi."Rupert mendengus pelan. "Ma ... jangan buat aku ma

  • Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda   Bab 811

    Entah dari mana pria itu mendapatkan rasa percaya diri sebesar itu.Lunara duduk di seberang Hinari. "Dia ingin bertemu Rupert?""Aku juga nggak pernah melarangnya. Toh seorang anak tetap membutuhkan ayah. Apalagi anak laki-laki, nggak boleh tumbuh tanpa kehadiran ayah.""Tapi setiap kali dia bawa Rupert pergi, dia selalu menanamkan pikiran-pikiran buruk!"Makin membicarakan hal itu, Hinari makin marah. "Dia mencari tahu kehidupan pribadiku. Dia bertanya kepada Rupert apa dia tahu penghasilanku berapa, apa aku berniat menikah lagi.""Bahkan dia bilang, begitu aku menikah lagi dan punya anak, aku pasti nggak akan menginginkan Rupert lagi. Memangnya itu ucapan manusia?"Seorang pria yang berselingkuh hingga memiliki anak di luar nikah justru mengatakan hal seperti itu. Sungguh menggelikan.Lunara tersenyum tipis. "Dia mengira semua orang di dunia ini sama seperti dirinya.""Siapa peduli? Awalnya kukira dia benar-benar sudah sadar dan ingin lebih banyak menghabiskan waktu bersama anaknya.

  • Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda   Bab 810

    Mereka terus melewati banyak level. Setiap kali, Rupert yang melakukan kesalahan sehingga menghambat kemajuan Daisy.Rupert sendiri mulai kehilangan semangat. Dia merasa malu, juga sedikit kecewa pada dirinya sendiri.Wajah kecil Daisy tetap tenang. Dia mengangkat tangan mungilnya, lalu menepuk pelan punggung Rupert."Aku nggak menyalahkanmu. Kamu hanya ... agak bodoh."Lebih baik dia tidak mengatakannya. Begitu kata-kata itu terlontar, Rupert langsung seperti ikan buntal yang menggembung karena marah.Dia menatap Daisy dengan pipi menggembung. "Lain kali aku pasti nggak akan begitu lagi!"Daisy berkata dengan datar, "Kemarin kamu juga bilang begitu."Rupert langsung membantah, "Yang kemarin 'kan beda bahasa. Mana mungkin aku tahu banyak bahasa asing!""Kalau begitu, belajar. Kalau sudah belajar tapi nggak bisa, bukannya itu berarti bodoh?"Logikanya sangat masuk akal.Rupert memikirkannya sejenak. Sepertinya memang begitu. Namun, dia benar-benar tidak suka belajar.Di sisi lain, dia j

  • Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda   Bab 809

    Frandy mengajak Rayan berdiskusi untuk menentukan tanggal yang tepat.September tahun depan. Saat harumnya bunga osmanthus memenuhi halaman dan musim gugur sedang berada pada masa yang paling indah, waktu itu sangat cocok untuk berkumpul bersama keluarga, mengikat janji suci pernikahan, serta menyatukan Keluarga Lumbana dan Keluarga Prayogo dalam ikatan besan.Kalau dilaksanakan tahun ini, waktu untuk mempersiapkan pernikahan sudah tidak cukup. Baik Keluarga Prayogo maupun Keluarga Lumbana merasa semuanya akan terlalu terburu-buru.Dalam urusan seperti ini, yang terbaik adalah mempersiapkannya sesempurna mungkin.Sedangkan mengenai kapan mereka akan mendaftarkan pernikahan, biarlah mereka sendiri yang memutuskannya.Setelah satu beban di hatinya akhirnya terlepas, Rayan terus tersenyum sepanjang waktu.Setelah kembali ke Keluarga Lumbana, dia sama sekali tidak merasa lelah. Dia malah menarik Eston untuk memilih lokasi pesta pernikahan. Bahkan dia ingin menulis sendiri kartu undangan pe

  • Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda   Bab 808

    Frandy dan Mira juga tersentuh oleh ketulusan Keluarga Lumbana.Memang begitulah seharusnya sebuah pernikahan dijalankan.Mira mengangkat tangan mengusap sudut matanya yang mulai basah. "Kalau Floryn masih ada, dia pasti akan sangat bahagia. Satu-satunya kekhawatirannya akhirnya bisa terlepaskan."Frandy memasang wajah tegas dan menegurnya, "Di hari sebaik ini kenapa malah nangis? Nanti saat kita ziarah ke makam Floryn, sampaikan saja kabar ini kepadanya. Dia pasti akan tahu."Mira menggenggam tangan Casya. Dia adalah seorang perajin sulam sekaligus pewaris kerajinan sulam warisan budaya tak benda yang sangat terkenal di ibu kota. Setiap lembar sulaman yang dibuat dengan tangannya sendiri bernilai sangat tinggi.Di telapak tangannya terdapat banyak kapalan kecil. Memang tidak lembut, tetapi justru membuat Casya merasakan kehangatan."Casya, sepanjang hidup ibumu, dia nggak pernah memperoleh kebahagiaan sedikit pun dari pernikahannya. Bahkan akhirnya dia justru terseret dan menghancurka

  • Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda   Bab 807

    Hubungan Eston dengan Casya juga selama ini diperhatikan oleh Keluarga Narasoma.Lunara mendekat, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Kayden sambil melihat ke layar. "Selamat ya."Setelah mendapat persetujuan Kayden, Casya benar-benar merasa lega. Dia menyimpan ponselnya, lalu menoleh kepada Rayan."Kakek, maaf sudah membuat Kakek menunggu. Ayo berangkat."Kepala Keluarga Narasoma adalah Kayden. Rayan juga mengetahui hal itu. Hanya saja, sebelumnya dia belum pernah bertemu ataupun berurusan dengan pemuda itu.Namun, dari percakapan singkat barusan, sudah cukup baginya untuk mengenal sosok Kayden. Prasangka buruknya terhadap Keluarga Narasoma akibat berita pengumuman itu pun sedikit berkurang.Begitu keluar rumah, penampilan Rayan dan Brandon langsung menarik perhatian beberapa senior yang sedang berada di luar.Henny yang sedang berjalan bersama Tora juga membelalakkan matanya. "Kakek Rayan, mau ke mana?""Ya, Rayan. Mau menemui pemimpin besar yang mana ini? Sampai-sampai seragam yang

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status