Compartir

Bab 7

Autor: Fitri
Rupert mengajak Daisy bermain karena menurutnya Daisy cantik.

Rupert berkata, "Kalau kamu memaafkanku, nanti aku akan melindungimu di TK. Aku janji nggak akan ada yang berani mengganggumu." Dia takut, gara-gara kejadian ini, ibu Daisy akan memindahkan Daisy ke sekolah lain.

Lunara memang sempat berpikir begitu. Namun, pindah TK pun belum tentu menghindari kejadian serupa. Dengan suara lembut, dia menanyakan pendapat putrinya, "Daisy, kamu mau pindah sekolah atau tetap di sini?"

Daisy berpikir sejenak, lalu mengangguk. "Bu Guru dan teman-teman lain baik."

Lunara juga punya pertimbangan sendiri.

Setelah kejadian ini, karena rasa bersalah, Kayden pasti akan terang-terangan maupun diam-diam memberi tekanan dan pembatasan. Setidaknya di TK ini, Daisy tidak perlu khawatir lagi menghadapi bocah pengganggu seperti Rupert.

Bisa meminta maaf berarti Rupert bukan anak yang sepenuhnya tak bisa bertobat. Di persimpangan dekat rumah, Lunara meminta Kayden menghentikan mobil. Dia turun bersama Daisy, tanpa banyak bicara pada Kayden. Dia memang tidak punya suasana hati untuk itu.

Hanya dari punggungnya saja, Kayden sudah bisa melihat bahwa Lunara sedang marah. Meski berbeda dari beberapa tahun lalu, kini Lunara tampak seperti dilapisi tameng yang melindungi dirinya. Namun, temperamen dan kebiasaan kecilnya masih sama seperti dulu.

Kalau marah, dia akan diam dan tidak bicara dengan siapa pun. Bedanya, dulu Lunara tidak tega marah padanya. Dia selalu menahan emosi, mengolahnya sendiri, baru kemudian mendatanginya lagi.

Kayden melirik lokasi di sekitar mereka.

Deretan rumah tua hasil relokasi, bangunan kumuh yang disewakan murah. Jarak ke kantor setidaknya satu jam perjalanan.

Lunara sekarang tinggal di tempat seperti ini? Sepertinya suaminya memang tidak punya kemampuan apa-apa.

Kayden menekan perasaan aneh yang muncul di dadanya dan memutar setir, lalu bertanya, "Kamu sering mengganggu Daisy?"

Rupert manyun.

Setelah ditanya beberapa kali, Rupert akhirnya berbicara, "Aku bilang dia nggak punya Papa. Anak nggak ada Papa. Papanya nggak mau dia. Sungguh, Paman, aku nggak pernah melihat Papa Daisy."

"Biasanya dia nggak mau main denganku, jadi aku merebut camilan dan buahnya beberapa kali."

"Juga pernah mendorongnya beberapa kali. Dia punya gaun, harganya cuma 100 ribu. Paman, pernah lihat baju 100 ribu? Murahan sekali, ditarik sedikit saja langsung rusak."

"Pernah juga aku lihat dia minum obat herbal, aku tuangkan punyanya."

....

Kayden menekan pelipisnya.

Sekarang dia malah bersyukur kata-kata ini tidak diucapkan di depan Lunara. Kalau tidak, dengan sifat Lunara yang begitu protektif terhadap anaknya, kemungkinan besar dia akan jauh lebih marah.

Kayden mengantar Rupert pulang ke rumah sepupunya dan menjelaskan seluruh kejadian. Mobilnya bahkan belum sempat beranjak pergi, dari dalam rumah sudah terdengar tangisan melengking Rupert.

Sambil duduk di dalam mobil, Kayden mendengarkan tangisan Rupert tanpa terburu-buru pergi. Dia mengeluarkan ponsel dan membuka grup internal perusahaan, lalu menemukan nama Lunara dari akun beridentitas asli.

Foto profilnya adalah ilustrasi anjing kecil yang tersenyum lebar dengan ekspresi bodoh sambil memegang bunga. Sangat mirip dirinya dulu.

Pesan yang dikirim Kayden berubah menjadi tanda seru merah.

Di bawahnya muncul deretan tulisan kecil.

[ Komunikasi lintas divisi di dalam perusahaan tidak diperbolehkan, komunikasi lintas jenjang tidak diperkenankan. ]

Kayden terdiam.

Sebagai pemilik perusahaan, untuk menghubungi seorang karyawan saja dia masih harus melalui tim sekretarisnya sendiri. Kayden membuka WhatsApp Ignas dan menulis.

[ Rekomendasikan akunku ke Lunara. ]

Ignas langsung gemetar. Dia mengira ada masalah lagi dengan proposal Lunara. Dengan ponsel di tangan, dia hampir saja berlutut. Setelah mengirim rekomendasi, balasan yang diterima hanya sebuah tanda tanya.

[ ? ]

[ Ada urusan apa dengan Bu Lunara? ]

Kalimat terakhir itu segera ditarik kembali dan diganti dengan, "Ok."

Lunara melihat rekomendasi pertemanan yang dikirim Ignas.

WhatsApp Kayden sama seperti orangnya, sulit ditebak. Foto profilnya hitam polos, namanya hanya satu huruf, "K", dan ID-nya adalah gabungan nama Inggris dan tanggal lahir.

[ Kayden: Kalau ke depannya putrimu mengalami masalah apa pun, aku yang akan bertanggung jawab. ]

[ Lunara: Baik. ]

Kayden mengirim sebuah video.

Di dalam video, bocah gendut Rupert dipukul sampai merangkak di lantai dan menangis keras seperti anak babi kecil yang sebentar lagi akan diseret ke rumah potong. Lunara menontonnya sekali lalu memahami maksud Kayden. Kurang lebih, masalah ini sudah cukup, jangan terus dipersoalkan.

Terlihat jelas, Kayden sangat menyayangi anaknya. Barangkali anak itu lahir dari wanita yang sangat dia cintai.

Hati Lunara terasa kecut. Tadi sore, sikap Kayden yang melindungi bocah gendut itu semuanya tertangkap jelas olehnya. Bahkan saat memukul anak pun, dia tidak benar-benar tega. Lebih seperti sekadar formalitas.

Memang begitu.

Siapa Kayden? Kalau dia ingin punya anak, akan ada banyak wanita yang rela melahirkannya.

Lunara tersenyum pahit, mengutip pesan video itu lalu membalas.

[ Diterima. ]

Dia menahan dan merapikan semua emosinya.

....

Malam itu juga, Daisy demam.

Untuk mencegah infeksi, Lunara memasangkan masker pada dirinya dan Daisy, lalu tergesa membawa putrinya ke IGD. Setelah diperiksa, ternyata semuanya penyakit lama.

Dokter menunjuk ke arah tirai di belakang. "Ibu gendong anaknya ke sana dulu. Ada cairan obat yang perlu disiapkan."

"Baik, terima kasih Dokter."

Duduk di bilik sambil memeluk tubuh kecil putrinya, Lunara membuka ponsel dengan tangan satunya dan melihat pesan-pesan yang masuk. Dia lulusan seni rupa. Sejak kuliah, dia sudah menggambar ilustrasi.

Karena tidak kekurangan uang dulu, semua ini dilakukannya murni karena hobi. Menggambar fan art game atau drama. Tanpa disangka, malah mengumpulkan popularitas. Sekarang Lunara adalah ilustrator terkenal dengan tiga juta pengikut.

Sering ada yang bertanya apakah dia menerima komisi. Selama ada waktu, Lunara biasanya menerima. Hanya saja, menggambar membutuhkan waktu dan tenaga. Setiap karyanya butuh waktu sekitar satu minggu.

Ditambah Daisy sedang sakit, efisiensinya tentu menurun. Dia membuka beberapa pesan yang menanyakan soal komisi, mengirimkan daftar harga, lalu keluar dari akun.

Di WhatsApp, panggilan dari Kayden masuk, "Jaket putrimu tertinggal di mobilku."

"Besok saya ambil di mobil Bapak saat jam kerja."

Mendengar Lunara menahan suaranya, Kayden menduga dia sedang tidak dalam situasi yang nyaman. Saat dia hendak menutup telepon, dari luar bilik terdengar keributan.

Suara seorang wanita tua terdengar tidak senang. "Kayden itu benar-benar keterlaluan. Rupert cuma berteman di TK, bagaimana bisa dia bilang Rupert menindas teman?"

"Lihat saja, Rupert sampai ketakutan begitu, sekarang malah demam!"

Hinari, sepupu Kayden, berkata dengan nada tak berdaya, "Bu, Kayden mau mendidik Rupert itu demi kebaikannya. Lagian, coba suruh Rupert ceritakan lagi apa yang dia lakukan di sekolah. Itu bukan berteman, itu jelas menindas orang lain."

Wanita tua itu tetap tidak mau mengalah. "Walaupun begitu, dia juga nggak boleh main tangan. Rupert sudah sebesar ini, kapan pernah dipukul orang?"

"Aku sudah dengar cerita Rupert. Anak perempuan itu bajunya cuma ratusan ribu, dan dia juga nggak pernah lihat ayah anak itu. Jangan-jangan ibu dan anak itu memang sengaja sekolah di TK elite, niatnya mau dapat menantu kaya."

"Pasti begitu. Kalau nggak, dengan sifat Kayden, mana mungkin dia sampai mengantar mereka pulang? Rupert bilang ibu anak kecil itu cantik. Paling juga wanita murahan! Nggak bisa dibiarkan. Besok aku akan ke sekolah, suruh mereka mengeluarkan anak nggak tahu malu itu!"

Hinari akhirnya tidak tahan lagi. "Kalau berani, coba saja Ibu ucapkan kata-kata itu di depan Kayden."

Wanita tua itu jelas tidak berani bersikap sombong di hadapan Kayden.

Di balik tirai, Lunara hanya merasa tangan dan kakinya dingin. Kata-kata tajam itu menusuk telinganya. Gendang telinganya terasa perih dan berdengung, berputar-putar tanpa henti. Dia sama sekali tidak menyadari bahwa sambungan teleponnya belum terputus.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Comentarios (15)
goodnovel comment avatar
Sulisti Nur Yuliani
semakin seruuu
goodnovel comment avatar
Dewi Drupadi
sdh bayr..tapi ngga bis buka eps berikutnya
goodnovel comment avatar
sri suparti
Bagus ceritanya
VER TODOS LOS COMENTARIOS

Último capítulo

  • Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda   Bab 1073

    "Luna, bangun."Suara yang terasa begitu akrab sekaligus asing terdengar lembut di telinga Lunara. Telapak tangan yang sedikit kasar menepuk pipinya dengan lembut."Bangun, waktunya makan. Hari ini Ayah beliin pie kesukaanmu."Ayah? Lunara membuka mata dengan bingung.Di hadapannya, Orion mengenakan celemek bergambar kartun dan memegang spatula. Sambil membuka tirai kamarnya, dia terus mengoceh menyuruh Lunara bangun."Cepat bangun. Ayah sudah siapkan sausnya untukmu. Makan pelan-pelan, nanti baru berangkat sekolah."Apa ini mimpi? Lunara merasa sangat heran.Bagaimana mungkin dalam mimpinya dia kembali ke usia 17 tahun, saat masih duduk di kelas 3 SMA? Waktu itu dia tidak mau tinggal di asrama, jadi setiap hari dia pulang pergi dari rumah.Melihat Lunara masih duduk termenung di atas tempat tidur, Orion kembali mendesak, "Kok malah melamun? Kamu nggak enak badan?"Lunara mengangkat kepala dan bertatapan dengan mata Orion yang penuh perhatian. Wajah yang begitu dikenalnya itu kini dipe

  • Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda   Bab 1072

    "Halo semuanya, kami dari stasiun televisi Kota Andara. Hari ini kami ingin mewawancarai beberapa orang secara acak. Apa impian Anda?"Kamera mengikuti sang reporter dan mengarah pada dua perempuan yang berpenampilan modis, duduk di bangku tepi sungai sambil menikmati kopi.Salah satunya mengenakan setelan jas profesional yang membuatnya terlihat berwibawa dan berkelas, sementara yang satunya mengenakan gaun biru muda dengan potongan yang begitu pas. Sekilas saja sudah terlihat bahwa keduanya menjalani kehidupan kalangan elite.Reporter itu tampak sedikit gugup saat menghampiri mereka."Permisi, boleh mengganggu sebentar? Kami dari stasiun televisi dan sedang melakukan wawancara. Ini kartu identitas saya."Dari penampilannya, reporter itu jelas baru lulus kuliah. Bahkan di kartu identitasnya masih tertulis statusnya sebagai pekerja magang.Elina menerima kartu itu, lalu tersenyum dan mengembalikannya. "Boleh. Kamu kelihatannya seumuran dengan putriku."Reporter itu terkejut. "Kakak sud

  • Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda   Bab 1071

    Sabrina pura-pura tidak melihat apa pun.Setiap departemen mengadakan rapat besar sekali setiap bulan. Rapat besar di departemen Sabrina kali ini ditangani oleh sekretariat, jadi tidak heran sang direktur sudah tegang sejak awal.Namun, setelah sampai di ruang rapat, Sabrina baru menyadari bahwa orang yang hadir ternyata adalah Kayden.Dia mencari tempat di sudut dan duduk di sana.Kayden duduk di salah satu sisi, sementara rapat dipimpin oleh Daisy.Biasanya, Kayden tidak pernah menghadiri rapat seperti ini. Semua orang pun mengira dia sengaja datang untuk menunjukkan dukungannya kepada putrinya, sehingga tak seorang pun berani bersikap ceroboh.Seorang anak magang yang suka menjilat berdiri di samping Miko dan berkata dengan nada penuh pujian, "Miko, Pak Kayden seharusnya om tertuamu, 'kan? Ganteng banget!"Miko mengangkat dagunya dengan angkuh, nyaris mengakui begitu saja bahwa dirinya memang putri Casya.Beberapa anak magang di sekitarnya semakin bersemangat dan ikut memuji.Sabrin

  • Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda   Bab 1070

    Seketika, seluruh kantor sunyi senyap.Sabrina mengangkat ponselnya. "Saya sudah mengambil tangkapan layarnya, Pak. Di bagian penanggung jawab penyusunan materi rapat, nggak ada nama saya."Di bagian bawahnya tertulis jelas nama Miko."Lagi pula, semalam saya sudah lembur sampai jam 9. Kenapa saya masih harus lembur lagi? Memangnya pekerjaan yang nggak diselesaikan orang lain harus saya yang bereskan?"Miko yang duduk menyerong di seberang pun berdiri. "Maaf, itu tugasku. Tapi kemarin aku sakit, jadi aku pulang jam 5. Sabrina, maaf sudah merepotkanmu."Sabrina tersenyum lebar. "Nggak merepotkan. Toh aku juga nggak menerima tugas itu."Miko melirik sang direktur. Sang direktur membanting berkas itu dengan keras ke atas meja."Sabrina! Kamu sebenarnya masih mau kerja di sini nggak? Kalau kamu nggak mau magang di Grup Narasoma, pergi saja!"Sabrina menjawab dengan tenang, "Maksud Bapak, saya akan dipecat hanya karena menolak pekerjaan yang bukan tanggung jawab saya? Oke. Kalau begitu, say

  • Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda   Bab 1069

    Dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan besar lainnya, tunjangan untuk para pekerja magang di Grup Narasoma terbilang jauh lebih baik. Namun, sebanding dengan itu, beban kerja mereka juga ikut meningkat dan cukup merepotkan.Setelah menyelesaikan tugasnya hari ini, Sabrina mengangkat tangan dan memijat lehernya yang kaku dan pegal, lalu menggerak-gerakkan tubuhnya dengan susah payah.Casya meneleponnya. "Sasa, gimana magangnya?""Lumayan. Memang agak capek, tapi untuk sementara masih nggak apa-apa."Casya terus mengoceh, "Bukan berarti keluarga melarangmu melakukan pekerjaan yang kamu minati. Mama cuma mau kamu melihat seperti apa aturan di dunia kerja. Lagian, nggak akan ada yang berani mengganggumu di Grup Narasoma."Setelah Casya selesai bicara, pintu ruang direktur terbuka. Direktur yang dari raut wajahnya saja sudah tampak sulit diajak berunding itu memandang Sabrina dan berkata tanpa basa-basi, "Sabrina, kamu lembur hari ini. Sekalian urus dokumen yang akan dipakai untuk rapat

  • Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda   Bab 1068

    Saat Daisy berusia 27 tahun, Sabrina berusia 23 tahun.Daisy menjadi direktur termuda Grup Narasoma.Jaden pergi ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikan dan perlahan mulai mengambil alih beberapa urusan di luar negeri.Di Grup Narasoma, sejak dulu beredar rumor bahwa hubungan kakak beradik itu terlihat akur di luar, tetapi sebenarnya tidak.Hanya Sabrina yang tahu bahwa rumor itu memang sengaja disebarkan oleh kakak beradik itu.Di dalam perusahaan, belakangan ini memang muncul beberapa konflik.Tak lain karena terjadi perombakan besar-besaran di jajaran petinggi, sementara Daisy masih terbilang sangat muda.Namun, sebesar apa pun penolakan itu, tetap tidak bisa mengabaikan kemampuan Daisy yang memang luar biasa.Dewan direksi ingin Daisy fokus mengerjakan penelitian dan pengembangan, tanpa sekaligus ikut mengambil keputusan di dewan direksi.Daisy berkata, "Kalau bekerja, aku akan mengerjakan semuanya. Kalau nggak bisa, lebih baik nggak usah sama sekali."Hasil penelitiannya juga

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status