Compartilhar

Ungkapan Joshua

Autor: De Sore
last update Data de publicação: 2026-08-21 17:16:59

“Jo, jika pertanyaan itu aku balik ke kamu... apa kamu bisa menjawabnya?”

Mendengar Kiara membalikkan pertanyaan itu, Joshua terkekeh pelan. Sebuah senyum tipis terbit di bibirnya, meski sorot matanya sarat akan kerapuhan yang amat dalam.

“Saat kamu datang ke dalam kehidupanku, aku sedang dalam keadaan sangat buruk,” ucap Joshua, suaranya mengalun lembut memecah hening malam. “Tidak banyak perempuan yang mau bertahan bersamaku. Apalagi saat itu rumor di luar sana menyebutkan kalau aku punya kekasih lain... dan kemungkinan besar lumpuh permanen.”

Joshua menjeda kalimatnya. Ia menatap lurus ke dalam netra cokelat Kiara yang kini berkaca-kaca, memantulkan bayangan lampu gantung meja makan.

“Tapi kamu bersedia di sini, Kia...”

“Itu karena...” Kiara berusaha memotong, namun lidahnya terasa kufur.

“Aku tahu, karena investasi Papaku di perusahaan Papa kamu, kan?” sahut Joshua menyambung cepat. Pria itu menggeleng pelan.

“Tapi kalau kamu memang tidak punya ketulusan itu dari awal, kamu tidak mungkin merawat pria lumpuh yang emosional ini selama dua tahun. Kamu tidak akan sesabar itu mendampingi terapi fisikku sampai aku bisa berdiri lagi. Mulut kita bisa berbohong, Kia... tapi tidak dengan tindakan dan hati kita.”

Dada Kiara bergemuruh hebat. Penjelasan Joshua meruntuhkan pertahanan yang susah payah ia bangun. Satu tetes air mata akhirnya lolos dan menitik membasahi pipinya. Joshua membacanya dengan sangat akurat—bahwa semua perhatian dan pengabdiannya selama dua tahun ini didasari oleh rasa cinta yang tulus, bukan sekadar tugas kontrak.

Joshua menatap Kiara hangat, lalu kembali bersuara dengan nada yang sangat tenang.

“Kalau aku memberimu sepuluh miliar... apa kamu mau tetap tinggal dan tidak meminta cerai denganku?”

Kalimat itu terlontar begitu saja dari bibir Joshua. Kiara terpaku, menatap suaminya dengan sorot mata terluka. Dada Kiara berdenyut nyeri, seolah harga dirinya baru saja diinjak-injak kembali setelah perlakuan ibu mertuanya siang tadi.

“Kamu bercanda, Jo?” bisik Kiara, suaranya bergetar menahan tangis. “Apa di mata kalian, aku ini cuma wanita yang bisa dibeli dengan uang? Siang tadi Mama kamu menawarkan satu miliar agar aku pergi... sekarang kamu menawarkan sepuluh miliar agar aku bertahan?”

“Kiara, bukan itu maksudku—”

“Aku tidak butuh uang sepuluh miliar itu, Joshua!” potong Kiara tegas, air matanya kini mengalir makin deras.

“Kalau begitu tetap tinggal bersamaku! Jangan meminta cerai!”

Kiara membeku. Ucapan Joshua barusan tidak pernah terlintas sedikitpun di benaknya. Di balik sikap pria itu yang irit bicara dan terkesan dingin, ternyata tersimpan sebuah kehangatan dan keinginan untuk mempertahankannya—hal yang tidak pernah Kiara temukan dari anggota keluarga Joshua mana pun.

Namun, kenyataan pahit dengan cepat menampar Kiara kembali ke realita.

Ia menyapu air matanya kasar dengan telapak tangan, mengumpulkan sisa kekuatan yang ada untuk berdiri dari kursi. Tanpa mengucap sepatah kata pun, Kiara melangkah masuk ke kamarnya. Tak lama kemudian, ia keluar sembari membawa selembar salinan dokumen yang pinggirannya mulai menguning.

Dokumen itu adalah perjanjian rahasia yang ia tandatangani bersama Anggun tepat sebelum pernikahan ini terjadi. Kiara menggeser kertas itu di atas meja makan, tepat di hadapan Joshua.

“Kamu baca ini, Jo...” bisik Kiara dengan suara serak.

Joshua mengerutkan dahi. Ia menarik kertas tersebut dan mulai membaca setiap klausul yang tertera di sana. Manik hitamnya berkilat tajam saat membaca poin demi poin yang disusun sangat rapi dan licik oleh ibunya.

Di sana tertulis jelas: jika Kiara membatalkan perceraian secara sepihak setelah Laura kembali, atau berusaha memicu Joshua untuk mempertahankan pernikahan ini, maka investasi pada perusahaan papa Kiara tidak hanya ditarik penuh—tetapi Kiara juga akan dituntut secara pidana atas tuduhan penipuan dan penggelapan dana restrukturisasi perusahaan, dengan ancaman hukuman lima tahun penjara.

Itu bukan sekadar ancaman kosong. Anggun telah mengunci posisi Kiara sejak awal dengan dokumen legal berpayung hukum.

“Mama kamu sudah menyiapkan segalanya dengan sangat matang, Jo,” tutur Kiara dengan senyum miris. “Kalau aku nekat bertahan, papaku tidak hanya bangkrut... tapi aku juga akan dijebloskan ke penjara. Aku tidak punya celah untuk menang.”

Joshua mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih, meremas pinggiran kertas itu hingga kusut. Hatinya panas membayangkan bagaimana ibunya sendiri menjebak wanita yang ada di hadapannya ini.

“Aku bisa selesaikan ini, Kia. Pengacaraku bisa batalkan klausul ilegal ini—”

“Dan bagaimana dengan ini?” potong Kiara pelan.

Ia merogoh ponselnya, menggeser layar, lalu menyodorkannya ke hadapan Joshua. Di layar ponsel itu terpampang sebuah artikel berita bisnis nasional yang baru saja terbit satu jam lalu, lengkap dengan foto wanita anggun berbusana elegan.

BERITA BISNIS TERKINI: Pewaris Utama Galaxi Group, Laura Arisandi, Resmi Kembali ke Indonesia. Siap Melakukan Ekspansi Pasar dan Menjemput Kembali Cinta Lamanya Bersama Calon Suami dari Keluarga Zenda.

Meskipun artikel itu tidak menyebutkan nama secara eksplisit, seluruh kalangan pebisnis kota paham betul siapa "Calon Suami dari Keluarga Zenda" yang dimaksud.

Kiara menatap Joshua dengan manik mata yang redup dan pasrah.

“Seluruh media dan publik sudah tahu siapa yang seharusnya ada di sisimu, Jo. Aku cuma peran pengganti yang waktunya sudah habis.”

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Kiara, Suamimu Enggan Bercerai!   Nama untuk Chery

    Setelah dua bulan melakukan renovasi rumah, dengan desain klasik eropa sesuai keinginan Joshua akhirnya rampung juga.Sedangkan Kiara tidak ingin ambil pusing soal itu. Dia menyerahkan semuanya pada Joshua. Siang itu Kiara dan Joshua berada di toko perlengkapan bayi. Mengingat usia kandungan Kiara yang sudah memasuki minggu ke 28, mereka akan mempersiapkan pakaian dan segala kebutuhan untuk Chery.“Sayang, kamu yakin ini ukurannya?” Joshua melirik Kiara dan baju bayi yang sedang ia pegang bergantian.“Kenapa kamu ngomong kayak gitu?” Dahi Kiara bertaut tipis menoleh pada Joshua yang terlihat ragu.“Ini kecil banget, sayang. Apa muat untuk Chery pas udah lahir nanti?” Joshua meletakkan baju itu di telapak tangannya. “Lihat, cuma setelapak tangan aku loh, sayang,” bisik Joshua sedikit menunduk.“Astaga, Mas, aku kirain kenapa kamu ngomong kayak gitu, ternyata. Ya iya lah, sayangku, memang ini ukuran baju untuk bayi baru lahir. Kamu pikir nanti anak kamu lahir langsung gede?” Kiara memu

  • Kiara, Suamimu Enggan Bercerai!   Pertanyaan yang sulit

    Pertanyaan Kiara membuat Joshua membeku, ia tidak pernah berpikir akan dihadapkan dalam situasi seperti itu. Setiap saat dia berdoa agar Kiara dan buah hati mereka lahir dengan sehat dan selamat.Kali ini hening turun cukup berat. “Kenapa kamu nanya kayak gitu?” Joshua mencoba mengulur waktu untuk menjawab.“Nggak kenapa-kenapa, kita gak tau apa yang akan terjadi nanti. Dokter tidak akan menunggu lama, dia bakal meminta kamu memilih dengan cepat.” Sebenarnya Kiara juga tidak akan bisa jika dihadapkan dalam situasi seperti itu, Membayangkannya saja sudah membuat hatinya nyeri seperti diremas dari dalam.Apa lagi harus benar-benar disuruh memilih, hanya bisa menyelamatkan satu di antaranya, Joshua atau anak mereka.“Mas…” panggil Kiara melihat Joshua tak kunjung memberi jawaban.Joshua mengelus perut Kiara, tendangan Chery menyapa telapak tangannya yang besar. Jelas dia tidak ingin kehilangan buah hati yang sudah lima bulan ini dia ajak bicara serta selalu ia sapa. Namun, kehilangan Kia

  • Kiara, Suamimu Enggan Bercerai!   Mas Joshua

    Malam hari setelah survei dua lokasi rumah, Joshua menghampiri Kiara yang tengah duduk bersandar pada kepala ranjang, wanita itu terlihat asyik bermain ponsel.“Sayang,” panggil Joshua lembut, lalu naik ke atas ranjang dan duduk tepat di samping Kiara.Kiara menoleh pada Joshua, ia mematikan layar ponsel dan meletakkan benda pipih itu ke atas nakas, “Kenapa, sayangku?” sahut Kiara tak kalah lembut.“Aku mau ngomong sesuatu, kamu lagi sibuk gak?” ujar Joshua basa-basi.“Nggak kok, emangnya kamu mau ngomong apa?” Kiara menatap lekat pria itu.Joshua berdehem kecil, mengusir kegugupannya sebelum memulai bicara. “Sekarang kan kita juga tinggal di lantai dua puluh, sayang. Jadi gak ada bedanya dong dengan rumah yang cuma dua lantai?” ucap Joshua membalas tatapan Kiara.Kiara mengerti arah pembicaraan itu, merujuk pada perbedaan pendapat mereka tentang selera rumah.“Jelas beda dong, sayang. Walau pun kita tinggal di apartemen setinggi ini, tapi rumah kita tetap satu lantai, tidak ada tang

  • Kiara, Suamimu Enggan Bercerai!   Berbeda pendapat

    Siang itu Joshua sengaja pulang lebih awal, ia menjemput Kiara di kantornya. Setelah obrolan tentang membeli rumah satu minggu lalu, hari ini mereka akan mulai survei mencari yang sesuai dengan dengan selera keduanya. “Selamat siang, Bu Kiara,” suara berat Joshua mengalun di ruang kerja Kiara yang hening. Kiara menoleh pada Joshua yang berjalan mendekat, ia tertawa kecil, “Gak sopan ya anda, Pak Joshua. Tidak mengetuk pintu sebelum masuk,” Kiara menanggapi gurauan Joshua. “Maaf, Bu, wanita yang ada di dalam ruangan ini membuat saya sedikit tidak sabaran ingin berjumpa dengannya.” Joshua tiba di sebelah Kiara, ia memegang dagu wanita itu lalu mencium pipinya berkali-kali. Kiara hanya tersenyum, “Udah ah, kamu kalau nyium basah gini,” gerutu Kiara gemas melihat tingkah suaminya. Joshua tidak menjawab, ia tertawa puas kemudian menghapus bekas ciumannya yang sengaja dia buat basah. Suara seseorang berdehem sengaja sedikit keras di sudut ruangan. Hal itu membuat Joshua terkejut, s

  • Kiara, Suamimu Enggan Bercerai!   Hadiah terima kasih

    Pagi ini hal pertama yang Kiara lakukan setelah bangun tidur adalah mengecek suhu tubuh Joshua. “Hari ini kamu jangan kerja dulu, ya. Demam nya sudah turun sih, tapi istirahat aja dulu,” ucap Kiara saat telapak tangannya berada di dahi Joshua.Pria itu mengangguk pelan dengan tubuh masih di balut selimut. Sedangkan Kiara bergegas membersihkan diri ke kamar mandi, lalu melangkah menuju dapur.“Selamat pagi, Mbak Ririn. Ya ampun kangen banget sama, Mbak,” sapa Kiara ramah. Suara Kiara memecah keheningan dapur, membuat Ririn menoleh pada sumber suara.“Pagi, Bu Kiara. Saya juga kangen banget, Bu. Hampir dua minggu ya kita gak ketemu,” sahut Ririn sama ramahnya seperti Kiara.“Bener, Mbak,” Kiara mengangguk setuju. “Oya, Mbak masak bubur yang aku minta tadi malam kan?” timpal Kiara.“Sudah, Bu. Ini buburnya. Semoga Bapak cepat sembuh, ya, Bu,” Ririn mengulurkan mangkuk porselen putih.“Terima kasih, Mbak.” Kiara mengulas sebuah senyuman. Kemudian berlalu kembali ke kamar.“Jo, sarapan dul

  • Kiara, Suamimu Enggan Bercerai!   Demam

    Kiara merasa ada yang aneh dengan Joshua. Hawa tubuh pria itu terasa panas, kepalanya kian berat bersandar di bahu Kiara. “Joshua,” panggil Kiara pelan. “Hmm,” Joshua hanya bergumam singkat. Tangan Kiara yang tadi mengusap-usap punggung Joshua, kini menyusup masuk ke dalam baju pria itu, lalu meraba kulit punggung Joshua yang mengeluarkan hawa panas. “Jo, kamu demam, ya?” Kiara menjauhkan kepala Joshua dari bahunya, mendapati wajah pucat pria itu. Pantas saja dari tadi wajah Joshua sendu, Kiara pikir itu hanya karena mereka sedang cekcok kecil tadi. Tapi ternyata pria itu sedang menahan sakit di fisiknya juga. “Ayo pindah ke kamar dulu, Jo. Biar aku ambil kompres. Badan kamu anget banget ini,” Kiara berdiri memapah Joshua menuju kamar. Dengan langkah kecil yang tersendat-sendat akhirnya Kiara berhasil membaringkan Joshua di atas ranjang. Kiara meletakkan telapak tangannya di dahi Joshua, mengecek suhu tubuh pria itu, “Tunggu bentar, ya,” Kiara mencari kotak P3K di laci nakas

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status