Share

Bab 04

Author: De Sore
last update publish date: 2026-08-21 17:14:58

“Siapa yang mengizinkan Mama mengatur hidup, pernikahan dan perceraianku?”

Suara berat, dingin, dan sarat akan intimidasi memotong kalimat Anggun dari arah pintu masuk.

Kiara dan Anggun membeku secara bersamaan. Di sana, Joshua berdiri tegap dengan setelan jas kerjanya, menatap sang mama dan Kiara dengan sorot mata yang begitu pekat dan berbahaya.

Menit berikutnya Anggun menetralkan raut wajahnya. Melangkah tenang dengan senyuman manis menghampiri putra kesayangannya.

“Joshua, Laura sudah kembali. Kamu bisa melanjutkan hidup bersamanya. Hubungan mu dengan Kiara sudah selesai,” ucap Anggun penuh percaya diri.

Joshua melirik Kiara yang masih membeku di sofa. Ia dapat merasakan desir aliran darahnya saat melihat rona merah di pipi Kiara akibat perbuatan ibunya.

“Aku sendiri yang akan memutuskannya Ma. Tidak ada yang bisa mengatur pilihan ku.” Joshua menatap dingin Anggun.

“Tapi perjanjiannya tidak seperti itu Josh—”

“Mama dan Kia yang membuat perjanjian! Bukan aku,” potong Joshua dengan sisa kesabaran yang ia punya. Joshua tidak ingin dicap sebagai anak durhaka, tapi ia juga tidak mau hidupnya disetir oleh sang ibu.

Anggun mengepalkan tangan di balik dress yang membalut tubuhnya.

Kiara menunduk dalam-dalam di tempat ia semula, mendengar setiap perdebatan itu. Hatinya semakin terasa getir. Dulu ia diminta menikahi dan merawat Joshua, tapi sekarang setelah pria itu sembuh, ia diusir dari hidup suaminya seperti seekor serangga.

“Mama bisa pulang sekarang. Masalah rumah tangga kami, biar kami yang selesaikan.” tegas Joshua tak terbantahkan.

“Jo, kamu harus tahu kalau dia mau menikah denganmu karena investasi Papamu di perusahaan keluarganya!” Anggun mengingatkan. Joshua menoleh ke arah Kiara sebentar kemudian mengangguk “Ya, aku tahu.”

“Kalau begitu, segera urus perceraian kalian!” sahut Anggun.

“Aku akan mengurusnya, Mama jangan pernah kesini kalau cuma mau ngomongin perceraian!” tegas Joshua, suaranya pelan, nyaris seperti tanpa emosi namun memiliki tekanan.

Anggun berjalan menyambar tasnya yang teronggok di sofa dan menatap tajam pada Kiara. Seolah tatapannya bisa saja membunuh Kiara detik itu juga. Tanpa sepatah kata pun Anggun berlalu dan membanting daun pintu.

Dengungan pintu itu seperti peringatan keras dari Anggun agar Kiara tahu dimana ia berada seharusnya.

Ayunan kaki jenjang Joshua terhenti ketika Kiara berdiri, “Aku mau sendiri dulu, Jo,” Kiara berlalu meninggalkan Joshua.

Joshua menghempas tubuhnya duduk di sofa. Ia melihat punggung Kiara kian menjauh menuju kamar. Wanita itu tampak tegar dan rapuh di waktu bersamaan.

***

Makan malam berlangsung tanpa suara, hanya denting sendok yang beradu dengan piring porselen yang menemani makan malam Joshua dan Kiara, tak ada yang membuka suara. Kedua nya tenggelam dalam pikiran masing-masing.

Kiara meremas kuat sendok di genggamannya, seperti sedang mengumpulkan seluruh keberaniannya. Ia meneguk air guna membasahi tenggorokan. “Jo, jangan semakin mempersulit keadaan. Ikuti saja apa yang Mama kamu mau,” Kiara ingin berkata lantang, namun yang keluar hanya lirih penuh harapan— berharap kali ini takdir memihak padanya.

Joshua melepaskan sendok ke atas piringnya. Punggungnya ia rapatkan pada sandaran. Menatap netra coklat Kiara lurus. Ia menghela napas tipis sebelum berucap.

“Kenapa kamu sangat menginginkan perceraian ini Kia?”

Kiara menunduk dalam, ada banyak tekanan yang dia miliki jika dia tidak segera meninggalkan Joshua walaupun kalau boleh jujur, sangat berat. Apa yang dia lakukan, berikan pada Joshua semuanya tulus.

“Kiara….” panggil Joshua lagi karena Kiara hanya diam bergeming.

Kiara mendongak, menarik napas panjang, menyunggingkan senyum tipis sebelum akhirnya dia menjawab pertanyaan Joshua.

“Karena sejak awal pernikahan ini bukan milikku Jo. Aku hanya menggantikan Laura dan sekarang Laura sudah kembali. Aku membuat kesepakatan dengan Mamamu. Aku tidak mau perusahaan Papaku terkena imbas jika aku melanggar kontrak—”

Di seberang meja, Joshua tersenyum penuh kemenangan. Sikap dingin yang beberapa hari ini Joshua tampilkan sirna tanpa sisa. Menyadari hal itu kalimat beruntun Kiara menggantung di udara.

“Jadi hal itu yang kamu khawatirkan Kia? Bukan karena kamu tidak ingin hidup bersama ku?”

Joshua menyimpulkan ucapan Kiara dengan benar. Kiara segera memutus kontak mata mereka.

“Semakin kamu mengundur permintaan Mama kamu, sama saja kamu membuat aku ada pada posisi yang lebih sulit.” timpal Kiara.

“Kiara Jill, pernah gak kamu memiliki…setidaknya sedikit saja perasaan padaku selama kebersamaan kita dua tahun ini?” Suara berat Joshua telak mengenai dasar pertahanan Kiara.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kiara, Suamimu Enggan Bercerai!   Bab 08

    “Demi Papa, jangan tanda tangani, Kiara!”Suara Arman terdengar tegas dan keras menembus hening ruang tamu. Kiara yang baru saja hendak membungkuk mengambil salinan kertas berserakan di lantai membeku seketika.“Oooh… ternyata serakah juga ya kamu? Bapak dan anak sama-sama serakah dan tidak tahu malunya!” sindir Anggun tajam, melipat tangan di dada.Pria paruh baya yang biasanya selalu bersikap tenang dan mengalah itu melangkah tegas ke depan. Dengan sisa tenaga di tubuhnya yang makin ringkih, Arman memasang badan, berdiri tepat di hadapan Anggun dan Laura—memblokir akses kedua wanita itu ke arah Kiara.“Saya tidak begitu, Bu Anggun. Kalau memang mereka mau bercerai, biarkan mereka bercerai. Tapi tidak bisakah semua dilakukan dengan kepala dingin? Kenapa harus membuat masalah sebesar ini?”“Itu karena putrimu yang melanggar kontrak!” gertak Anggun, matanya menyalang penuh kemarahan. “Surat pengakuan itu satu-satunya cara agar kamu dan anakmu tidak membusuk di penjara!”“Saya yang puny

  • Kiara, Suamimu Enggan Bercerai!   Bab 07

    “Apa pun yang terjadi dengan pernikahanmu, ini tetap rumahmu. Maafkan kami, Nak... yang dulu sudah sangat egois memanfaatkanmu.”Suara Arman—Papa Kiara bergetar saat kalimat itu terucap. Pria paruh baya yang kini tampak makin ringkih itu memeluk Kiara erat, disusul elusan lembut Ibu di punggungnya. Suasana ruang tamu rumah sederhana mereka mendadak diliputi haru yang menyayat dada.Pagi tadi di apartemen, dekapan hangat Joshua di depan Anggun dan Laura sempat menghentikan detak jantung Kiara. Namun, ia tak ingin membiarkan keributan tak berujung itu berlarut-larut. Dengan suara lirih namun mantap, Kiara meminta izin pada Joshua untuk pulang sementara waktu ke rumah orang tuanya demi menenangkan diri.Joshua—meski berat hati dan sempat menahan lengannya—akhirnya luluh dan membiarkan Kiara pergi, memberi ruang yang wanita itu butuhkan.Keputusannya melangkah sejenak dari lingkaran kehidupan Joshua membawa Kiara kembali ke satu-satunya tempat ia bisa bernafas lega.Kiara menyandarkan kep

  • Kiara, Suamimu Enggan Bercerai!   Bab 06

    “Ternyata apartemenmu tidak banyak berubah ya, Jo, masih sama seperti selera minimalismu yang dulu.”Suara renyah nan elegan itu bergetar halus di udara, memecah ketenangan ruang tengah. Kiara yang baru saja selesai menyusun cangkir teh di atas nampan membeku.Pagi baru saja merambat naik, namun pintu apartemen sudah diketuk keras. Anggun datang tanpa pemberitahuan, dan kali ini ia tidak sendirian. Ia membawa Laura—sosok anggun dan cerdas dari berita bisnis kemarin malam.Laura berdiri anggun membelakangi jendela kaca. Gaun pastel berpotongan haute couture membalut tubuh semampainya dengan sempurna, berpadu erat dengan riasan wajah halus yang memancarkan aura kelas atas.Perhiasan berlian berukuran kecil berkedip lembut di leher dan pergelangan tangannya. Dibandingkan dengan Kiara yang hanya mengenakan kemeja katun kelabu dan celana kain sederhana, jurang perbedaan di antara mereka terlihat sangat nyata.“Laura, kamu duduk dulu. Biar Kiara membuatkan minum untukmu,” cetus Anggun santa

  • Kiara, Suamimu Enggan Bercerai!   Bab 05

    “Jo, jika pertanyaan itu aku balik ke kamu... apa kamu bisa menjawabnya?” Mendengar Kiara membalikkan pertanyaan itu, Joshua terkekeh pelan. Sebuah senyum tipis terbit di bibirnya, meski sorot matanya sarat akan kerapuhan yang amat dalam. “Saat kamu datang ke dalam kehidupanku, aku sedang dalam keadaan sangat buruk,” ucap Joshua, suaranya mengalun lembut memecah hening malam. “Tidak banyak perempuan yang mau bertahan bersamaku. Apalagi saat itu rumor di luar sana menyebutkan kalau aku punya kekasih lain... dan kemungkinan besar lumpuh permanen.” Joshua menjeda kalimatnya. Ia menatap lurus ke dalam netra cokelat Kiara yang kini berkaca-kaca, memantulkan bayangan lampu gantung meja makan. “Tapi kamu bersedia di sini, Kia...” “Itu karena...” Kiara berusaha memotong, namun lidahnya terasa kufur. “Aku tahu, karena investasi Papaku di perusahaan Papa kamu, kan?” sahut Joshua menyambung cepat. Pria itu menggeleng pelan. “Tapi kalau kamu memang tidak punya ketulusan itu dari awal, kam

  • Kiara, Suamimu Enggan Bercerai!   Bab 04

    “Siapa yang mengizinkan Mama mengatur hidup, pernikahan dan perceraianku?” Suara berat, dingin, dan sarat akan intimidasi memotong kalimat Anggun dari arah pintu masuk. Kiara dan Anggun membeku secara bersamaan. Di sana, Joshua berdiri tegap dengan setelan jas kerjanya, menatap sang mama dan Kiara dengan sorot mata yang begitu pekat dan berbahaya. Menit berikutnya Anggun menetralkan raut wajahnya. Melangkah tenang dengan senyuman manis menghampiri putra kesayangannya. “Joshua, Laura sudah kembali. Kamu bisa melanjutkan hidup bersamanya. Hubungan mu dengan Kiara sudah selesai,” ucap Anggun penuh percaya diri. Joshua melirik Kiara yang masih membeku di sofa. Ia dapat merasakan desir aliran darahnya saat melihat rona merah di pipi Kiara akibat perbuatan ibunya. “Aku sendiri yang akan memutuskannya Ma. Tidak ada yang bisa mengatur pilihan ku.” Joshua menatap dingin Anggun. “Tapi perjanjiannya tidak seperti itu Josh—” “Mama dan Kia yang membuat perjanjian! Bukan aku,” potong Jos

  • Kiara, Suamimu Enggan Bercerai!   Bab 03

    Sehari setelah pembicaraan menyakitkan di meja makan itu, Joshua berubah menjadi sosok yang makin banyak diam. Pria itu menenggelamkan diri sepenuhnya dalam tumpukan pekerjaan kantor. Kiara yang biasanya terbiasa dengan keheningan Joshua, kali ini merasa sesak luar biasa.Joshua memang bukan tipe pria yang obral kata-kata, tetapi perhatian kecilnya—seperti memindahkan cangkir teh hangat ke dekat tangan Kiara atau memastikan AC ruangan tidak terlalu dingin—selalu mampu mengalirkan kehangatan. Kini, kehangatan itu menguap tanpa sisa, digantikan oleh dinding es yang dipasang Joshua rapat-rapat.Suasana hening di apartemen mendadak terusik ketika bel pintu berbunyi siang itu. Kiara terpaku saat mendapati Anggun, ibu mertuanya, berdiri di ambang pintu sembari membawa sekeranjang anggur hijau.“Kamu sudah membicarakannya pada Joshua?” tanya Anggun tanpa basa-basi, begitu mereka duduk di ruang tengah. Anggun meletakkan keranjang buah itu di atas meja—buah kesukaan Kiara yang rasanya absurd d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status