ANMELDENBeberapa jam kemudian, Kiara masih duduk di posisinya semula, jejak air mata masih terlihat jelas di pipinya. Kiara meringkuk, merapatkan kaki di depan dada, lalu melingkarkan kedua lengannya di sana. Dia membenamkan wajahnya di celah lutut. Seolah bersembunyi dari perasaan bersalah kepada suaminya.Kiara tersentak saat mendengar suara mobil memasuki area pekarangan rumah. Ia mendongak, lalu berlari kecil mengintip dari celah gorden jendela depan.Jantung Kiara mencelos saat melihat mobil hitam Joshua mulai terparkir di halaman rumah. Kiara melangkah mengendap-endap, kemudian duduk bersandar di daun pintu.Dari dalam rumah, Kiara mendengar suara mesin mobil dimatikan. Derap langkah Joshua tiba di teras rumah. Kiara menahan napas, saat Joshua grasak-grusuk di luar sana. Kiara tebak pasti Joshua sedang mencari kunci cadangan rumah.Beberapa menit kemudian, suara Joshua menggeser pot bunga tiba-tiba berhenti. Kiara menajamkan pendengarannya, mencari kemana arah langkah kaki Joshua.Terd
Beberapa jam sebelumnya– POV KiaraSayup-sayup Kiara mendengar percakapan David dan dokter yang bertugas pagi ini di ruangan Kiara.“Kondisi Bu Kiara berkembang pesat dari pemeriksaan terakhir. Tunggu sampai air infus ini habis, Bu Kiara sudah boleh pulang, ya, Pak,” ujar dokter itu ramah.“Baik, dokter. Terima kasih banyak, dok.” David membalas dengan senyum lega yang kentara.“Kalau gitu saya permisi dulu.” pamit dokter, berjalan keluar meninggalkan ruang rawat Kiara.Setelah mendengar dokter tadi sudah benar-benar pergi. Kiara membuka mata perlahan. “Pagi, Kiara. Gimana? Udah mendingan?” sapa David saat melihat Kiara mencoba duduk. Sedangkan Kiara hanya mengangguk sebagai jawaban.“Oya, barusan dokter datang memeriksa keadaanmu, katanya setelah air infus ini habis, kamu sudah boleh pulang,” jelas David mengulang kalimat sang dokter.Lagi-lagi Kiara hanya mengangguk.“Vid, aku boleh minta tolong?” akhirnya Kiara membuka suara.“Boleh. Mau minta tolong apaan?” David berjalan mendeka
Panggilan dari Juno masih bergetar di atas meja makan yang sunyi. Dengan gerakan cepat Joshua menekan tombol hijau.“Gimana, Juno?” desak Joshua tak seperti pria itu yang biasanya tampak tenang.“Ketemu, Pak. Bu Kiara menginap di salah satu hotel jauh dari perkotaan. Terpantau dari cctv bahwa, sejak kemarin mobil Bu Kiara tidak keluar dari parkiran hotel tersebut. Saya akan kirim nomor kamar dan alamatnya ke anda, Pak.” jelas Juno panjang lebar.“Baik. Terima kasih, Juno.” Joshua memutus panggilan sepihak. Memeriksa alamat yang dikirimkan Juno. Mata Joshua terbelalak, itu jarak yang cukup jauh untuk Kiara mengemudi sendirian. Joshua memasukkan kotak bekal dari mertuanya ke dalam kulkas, lalu bergegas menuju parkiran.Mobil Joshua melaju dengan kecepatan di atas rata-rata membelah jalanan malam. Jarak yang seharusnya ditempuh dalam waktu dua jam, tapi Joshua tiba di parkiran hotel yang dimaksud Juno tadi hanya memakan satu jam perjalanan.Di meja resepsionis, dengan segala upaya yang
Beberapa jam sebelumnya— POV Kiara.Kiara membuka mata perlahan. Seluruh tubuhnya sulit digerakkan. Denyut di kepala Kiara tidak benar-benar hilang. Dengan susah payah ia mencoba duduk dan bersandar pada kepala ranjang.Ia melirik jam tangan di atas nakas. Menunjukkan pukul enam sore. Kiara beranjak dari ranjang. Membersihkan diri ke kamar mandi. Kiara menatap lamat wanita pada pantulan cermin. Mata sembab itu bukti kehancuran pertahanan Kiara.Akhirnya setelah dua hari mengurung diri dalam kamar hotel, Kiara berjalan keluar. Perutnya keroncongan dan ia butuh menghirup udara bebas.Di luar mulai gelap, malam telah membungkus senja. Setelah mengisi perut di salah satu rumah makan tak jauh dari hotel. Kiara berjalan menyusuri trotoar.Tiba-tiba kepalanya berdenyut, kali ini lebih sakit dari sebelumnya. Kaki Kiara tak mampu lagi menopang tubuhnya, besertaaan dengan perutnya yang memaksa ingin mengeluarkan semua makanan yang dia santap tadi.Lutut Kiara menghantam paving block merah, perl
Bab 39Joshua duduk di bangku kulit ruang kerjanya. Menekan tombol angka satu pada telepon kantor.“Juno, ke ruangan saya sekarang,” ujar Joshua saat panggilan itu diterima sekretaris pribadinya. “Baik, Pak.” jawab Juno cepat.“Ada yang bisa saya bantu, Pak?” tanya Juno saat tiba di depan meja Joshua.“Saya ingin kamu mencari keberadaan istri saya. Telusuri melalui cctv kemana arah mobilnya berhenti kemarin. Pakai semua koneksi saya untuk mempermudah pencarian.” tegas Joshua menatap Juno.“Baik, Pak. Anda bisa kirim nomor plat mobil, Bu Kiara dan rekaman cctv parkiran apartemen anda. Agar saya tahu harus dari mana mulai mencarinya,” ucap Juno profesional seperti biasa.“Baik. Tadi pagi saya sudah minta potongan cctv dari parkiran apartemen, akan saya kirim ke nomor kamu beserta nomor plat mobil Kiara.” Joshua langsung mengambil ponselnya.“Berapa lama waktu yang kamu butuhkan, Juno?” ucap Joshua tenang namun penuh penekanan.“Tergantung seberapa jauh mobil, Bu Kiara melaju, Pak. Tapi
“Pagi, sayang,” sapa Joshua di balik punggung Kiara, lalu memeluknya dari belakang. Saat Joshua ingin mencium pipi nya, Kiara mengelak, ia menarik tubuhnya keluar dari pelukan Joshua.Dengan cekatan Kiara menyajikan sarapan di atas meja. Gerakannya terlihat lebih bertenaga dari biasanya. “Kamu kenapa, Kia?” Joshua mencoba membujuk Kiara, mungkin istrinya marah karena ia pulang telat malam tadi.“Nggak kenapa-kenapa,” ketus Kiara singkat.Joshua menghela napas tipis. Beberapa minggu belakangan, ia perhatikan mood Kiara memang mudah berubah-ubah. Jadi dia memilih untuk memberi Kiara ruang. Tidak lagi bertanya apa pun.Kiara menyelesaikan sarapannya dengan cepat. “Aku berangkat duluan, ya. Nanti sore kamu nggak perlu jemput aku. Aku nyetir sendiri,” ucap Kiara tegas, lalu beranjak dari meja makan, meraih kunci mobilnya.Belum sempat Joshua menjawab, punggung Kiara sudah terlihat menjauh dari sana. Joshua mengernyit. Mencoba mengingat salah apa yang dia buat sampai Kiara semarah ini.Kia







