INICIAR SESIÓNSunyi beberapa detik… sebelum akhirnya Xeyren kembalii berucap datar hanya satu kata, namun mampu membuat udara di ruangan itu kembali menegang. “Portal.” Albrecht Varyn menelan ludah. “Apa maksudmu…?” Xeyren pun sedikit memiringkan kepalanya. “Jalan penghubung,” lanjutnya pelan. “Jika dua dunia itu benar-benar ada, maka pasti ada cara untuk memasukinya, bukan? Tatapan Xeyren langsung menusuk ke arah ilmuwan itu. “Apakah itu bisa?” Napas Albrecht semakin memburu. Pertanyaan itu… terlalu spesifik. Terlalu berbahaya. Sejenak ia ragu, namun ia tahu bahwa diam bukanlah pilihan. “Ada… teori tentang itu,” jawab Albrecht hati-hati. Xeyren tidak mengatakan apa pun, namun tatapannya menyuruh pria itu untuk melanjutkan. “Beberapa ilmuwan menyebutnya sebagai interdimensional rift… semacam celah di antara dua realitas,” lanjut Albrecht dengan suaranya yang masih bergetar. “Tapi… itu tidak stabil. Tidak bisa diprediksi. Tidak bisa dikendalikan dengan teknologi biasa.” “Jawa
Malam itu, Xeyren tidak kembali ke kamar Lovelle. Ia berdiri diam di atas balkon Mansionseraya memandang hamparan salju yang membeku di bawah sana, sementara satu kalimat terus berputar di kepalanya. "Dunia lain." Hal yang terdengar tidak masuk akal, tapi tidak bisa ia abaikan. Xeyren sangat tidak percaya pada segala hal yang kebetulan. Terlebih lagi, pada sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan. Dan Lovelle? Ada terlalu banyak kejanggalan pada diri gadis itu. Terlalu banyak celah, dan alasan itu cukup untuk membuatnya segera bertindak. Ia segera meraih ponsel dari saku, lalu menekan nomor pengawal terpercayanya. "Cari jurnal tentang dunia paralel, lalu selidiki tentang penelitiannya. Cari tahu siapa saja orang-orang yang terlibat. Dan bawa mereka ke hadapanku, hari ini juga," titahnya, sebelum kemudian menutup sambungan teleponnya dengan tenang.Tidak masuk akal? Sangat. Ia tidak percaya pada hal-hal non logis seperti itu. Tapi Xeyren juga tak dapat mengabaikan insting
Lovelle telah selesai mandi. Dan saat ini ia duduk di meja rias dengan mengenakan bath robe, sambil menyisir rambutnya yang gelap sepanjang leher. Sementara Xeyren duduk di ranjang sambil memandanginya dalam diam dengan melipat tangan di dada. Sisir itu berhenti bergerak ketika Lovelle menarik napas pelan. Pantulan dirinya di cermin tampak tenang, namun itu hanya di permukaan. Ia tahu pertanyaan tentang dirinya belum selesai, dan sekarang ia tidak bisa lagi menghindar. “Berhenti menyisir rambutmu,” suara Xeyren akhirnya terdengar memotong keheningan dengan nada yang rendah, tapi jelas memerintah. “Kamu sudah terlalu lama melakukannya.” Lovelle terdiam sejenak. Lalu perlahan, ia meletakkan sisirnya di atas meja rias. Manik biru pucatnya kembali terangkat, dan menatap Xeyren dari pantulan cermin. “Kemarilah,” titah Xeyren singkat. Lovelle pun berdiri, lalu melangkah pelan mendekat ke arah ranjang. Rasanya begitu berat saat melangkah, karena ia tahu bahwa percakapa
Lovelle langsung membeku di tempat. Air hangat yang seharusnya menenangkan, kini justru terasa aneh di kulitnya... ketika tatapan Xeyren yang begitu terang-terangan menguncinya dari jarak dekat. “Kamu serius?” guman Lovelle dengan alisnya berkerut tak percaya. Xeyren menyandarkan punggungnya dengan santai. Satu tangan bertumpu di sandaran sofa, sementara yang lain menopang dagunya. “Kenapa tidak?” balasnya ringan. “Toh aku pun sudah melihat semuanya. Juga mencicipi rasanya. Berkali-kali, bahkan.” Sialan. Bisa-bisanya Xeyren mengucapkan kalimat itu dengan nada yang terlalu datar seolah sedang membicarakan cuaca, bukan sesuatu yang membuat wajah Lovelle memanas seketika. “Tapi aku tidak nyaman,” potong Lovelle cepat, sambil berusaha menahan emosinya. Kedua tangannya menutup bagian depan tubuhnya secara refleks, meskipun tahu jika itu tidak banyak membantu. Tatapan Xeyren pun mengikuti gerakannya dengan seksama, seolah setiap reaksi kecil Lovelle adalah sesuatu yang
Pagi hari telah datang dalam kesunyian yang dingin. Cahaya pucat dari langit Islandia menyelinap masuk melalui celah gorden, lalu jatuh dengan lembut di atas ranjang besar yang berantakan itu Xeyren sudah terbangun, tapi ia tidak langsung bergerak. Tubuhnya tetap diam meskipun kedua manik kelabu gelapnya terbuka, menatap lurus ke arah sosok di sampingnya. Lovelle. Gadis itu masih tertidur lelap dalam napas yang pelan dan teratur. Wajahnya terlihat jauh lebih tenang dibandingkan saat ia terjaga, tanpa ada perlawanan atau pun kebencian di matanya. Untuk sesaat Xeyren hanya memandanginya tanpa berkedip, seolah sedang mempelajari sesuatu yang tidak bisa ia pahami sepenuhnya. Benaknya pun mulai bekerja. Aneh.... Ia sudah pernah bersama berbagai macam wanita, dan semua ia perlakukan sama. Digunakan, dan dibuang jika ia bosan. Tak ada yang meninggalkan kesan, tak ada yang membuatnya berpikir dua kali. Seharusnya memang sesederhana itu. Tatapan Xeyren sedikit menyipit,
Tiba-tiba Xeyren sedikit mengangkat tangannya, memberi isyarat singkat yang hanya dimengerti oleh orang-orangnya. “Bunuh dia.” Satu perintah yang dingin, tegas dan final keluar dari bibirnya, disusul oleh suara tembakan menggema keras di dalam aula yang sunyi. Tubuh wanita penyusup itu langsung terhentak ke belakang, sebelum jatuh terkapar di lantai marmer. Dan ia tak bergerak lagi. Darah perlahan menyebar di bawah tubuhnya, kontras dengan warna putih lantai yang bersih. Lovelle pun tersentak. Tanpa sadar ia menutup matanya rapat-rapat dan meringkuk ke dalam dada Xeyren, dengan jemarinya yang gemetar mencengkram jas pria itu. Napasnya memburu dan tubuhnya kaku. Ia tidak berani melihat. Dan Xeyren tidak mendorongnya. Sebaliknya, tangan pria itu justru terangkat untuk mengelus perlahan rambut gelap milik Lovelle. Gerakan lembut dan menenangkan yang begitu kontras, dengan perintah pembunuhan barusan yang tanpa ragu. “Bersihkan semuanya,” ucap Xeyren datar. Beberapa pr
Xeyren tidak berkata apa-apa. Namun dalam satu gerakan halus, tangannya masuk ke balik jasnya, dan sebuah hand gun tiba-tiba saja sudah berada dalam genggamannya. Senjata itu langsung terangkat dan mengarah lurus ke pintu. Sementara di belakang tubuh Xeyren, Lovelle refleks menutup mulutnya se
Beberapa saat kemudian, Lovelle terbangun. Awalnya hanya sedikit kelopak mata yang memicing, namun kemudian Lovelle membukanya dengan lebar karena terkejut, saat menyadari bahwa ia sudah tidak berada di dalam kabin pesawat lagi. Gadis itu pun beranjak bangun dan duduk di ranjang. Dimana ini
Lokasi : Reykjavic, Iceland. Mesin pesawat itu mulai melambat. Getaran halus pun terasa di seluruh kabin saat roda menyentuh landasan dengan mulus. Di luar jendela, cahaya pagi matahari yang menyambut terasa lembut, keemasan, dan memantul di antara pegunungan bersalju dan danau biru jernih ya
"Lihat aku," perintah Xeyren seraya menghentikan gerakannya sejenak, lalu memaksa Lovelle agar menatapnya dengan mencengkram dagu gadis itu. Seringai penuh kepuasan terlukis di wajah pria itu kala melihat bagaimana kulit lembut Lovelle yang merona merah muda di bawahnya. "Sekarang, mendesahlah s







