LOGIN(Warning 🔞) “Dari semua pria… kenapa kamu menciumku?” --Xeyren. “Karena kurasa, dunia ini telah salah menentukan tokoh antagonisnya.” --Lovelle. *** Lovelle White tewas setelah bunuh diri karena terjun dari jembatan, saat tiga orang pria hendak memperkosanya. Namun alih-alih mati, Lovelle justru masuk ke dalam dunia novel yang belum selesai ia baca, dan terbangun di dalam tubuh salah satu tokoh bernama Daniela. Daniela adalah pelayan sekaligus mata-mata yang bertugas mengawasi Xeyren Crow, sang tokoh antagonis sekaligus pria paling berbahaya dalam cerita. Namun masalahnya, Daniela pun mati di halaman ke-lima, dan di tangan Xeyren. Maka untuk mengubah takdir tragis itu, Lovelle pun melakukan sesuatu... Yaitu mencium Xeyren. Dan malam itu, Lovelle selamat dari kematian. Namun alur cerita yang semakin melenceng jauh membuat Lovelle terjebak bersama Xeyren dan dunianya yang gelap. Lalu apa yang terjadi saat Luca Montclair, sang tokoh protagonis sekaligus karakter utama dalam buku, juga menginginkan Lovelle? Terjebak dalam dunia novel, di antara penjahat dan pahlawan, Lovelle pun semakin yakin bahwa cerita ini memang sudah salah... Sejak awal mulanya. ***
View MoreUdara malam yang dingin di kota kecil itu terasa menggigit. Setelah tengah malam, hampir tidak ada kehidupan yang tersisa di jalanan.
Namun saat itu, suara langkah kaki yang berlari cepat memecah kesunyian. Lovelle White berlari sekuat tenaga. Sepatu kerjanya menghantam aspal dengan ritme yang cepat. Napasnya tersengal-sengal dan paru-parunya terasa seperti terbakar, setelah berlari tanpa henti sejak turun dari bus terakhir di halte yang berjarak beberapa blok dari apartemennya. Ia seharusnya sudah berada di rumah sekarang. Namun sejak turun dari bus, tiga pria mabuk mulai mengikutinya. Awalnya mereka hanya bersiul menggoda dan tertawa keras, tapi langkah mereka semakin cepat ketika melihat Lovelle berjalan sendirin di trotoar yang sepi. “Hey, tunggu sebentar, Cantik!” salah satu dari mereka berteriak dengan suara berat yang dipenuhi tawa menjijikkan. Lovelle tidak menoleh. Ia mempercepat langkahnya, berharap mereka hanya iseng dan akan menyerah setelah beberapa meter. Namun harapan itu pun segera hancur. “Hei, jangan lari!” pria lain berteriak. “Kami cuma mau bersenang-senang sedikit!” Tawa mereka kembali pecah, kasar dan kotor. “Tenang saja, kami juga akan membuatmu menikmatinya!” Kata-kata itu membuat darah Lovelle terasa membeku. Sepanjang jalan yang sepi itu tidak ada satu pun mobil yang lewat. Jendela-jendela rumah di kiri kanan jalan tertutup rapat, sebagian lampunya bahkan sudah padam. Kota kecil ini selalu redup lebih cepat dari kota besar. Tidak ada orang yang berjalan di trotoar, tidak ada toko yang masih buka. Hanya Lovelle dan tiga pria yang kini mengejarnya dengan langkah goyah namun cepat. “Dia melarikan diri!” salah satu dari mereka berseru dengan nada gembira yang membuat perut Lovelle mual. “Aku suka yang seperti ini. Lebih seru!” Langkah kaki mereka semakin dekat. Tanpa berpikir panjang, Lovelle berbelok ke arah jembatan tua yang melintasi sungai di pinggir kota. Angin malam terasa semakin dingin di sana, menerpa wajahnya hingga membuat matanya berair. Ia tahu tempat ini. Jembatan itu jarang dilalui orang pada malam hari, namun Lovelle tidak punya pilihan lain. Ketika ia sampai di tengah jembatan, napasnya sudah hampir habis. Kakinya gemetar, paru-parunya terasa seperti akan meledak. Lalu suara langkah kaki di belakangnya berhenti. Lovelle berbalik, dan menatap nanar pada tiga pria yang berdiri beberapa meter darinya dengan posisi menyebar perlahan seperti pemburu yang mengepung mangsa. Salah satu dari mereka menyeringai lebar. “Kamu telah membuat kami berlari jauh sekali,” katanya sambil menyeka mulutnya dengan punggung tangan. “Tapi tidak apa-apa. Malam ini masih panjang.” Pria lain memandangi tubuh Lovelle denganl tatapan penuh nafsu. “Tidak ada orang di sini,” ucapnya santai. “Tidak ada yang akan mendengar kalau pun kamu berteriak.” "Pergi!" Lovelle mundur selangkah hingga punggungnya menyentuh pagar besi jembatan yang dingin. Lalu ia menoleh ke belakang. Di bawah sana, sungai yang gelap mengalir dingin, memantulkan cahaya lampu jalan seperti pecahan kaca. “Jangan takut,” pria pertama berkata sambil melangkah maju. “Kami hanya ingin bersenang-senang sedikit.” Tawa mereka kembali pecah, sementara Lovelle merasakan jantungnya berdegup begitu keras hingga terasa sakit. Ia tahu apa yang mereka inginkan, dan ia pun tahu bahwa ia tidak akan mampu melawan tiga pria dewasa sendirian. Tangannya menggenggam pagar besi di belakangnya. Dalam satu detik yang panjang dan sunyi, Lovelle pun telah membuat keputusan. Ia lebih memilih mati, daripada disentuh oleh tangan menjijikkan mereka. Tanpa berkata apa pun, Lovelle memanjat pagar jembatan itu. “Hey!” salah satu pria berseru kaget, namun sudah terlambat. Tubuh Lovelle telah terjun ke dalam kegelapan. Air sungai menyambutnya dengan benturan keras yang langsung merenggut napasnya. Dingin. Sangat dingin. Air itu terasa seperti ribuan jarum yang menghujam kulitnya sekaligus. Tubuh Lovelle langsung kehilangan kendali ketika arus sungai menyeretnya. Otot-ototnya kaku, paru-parunya yang terasa kejang mencoba menarik napas yang sia-sia. Ia mencoba bergerak, namun tubuhnya seolah menolak. Air yang membeku terasa menusuk ke dalam tulangnya, seketika membuatnya mati rasa. Pandangan Lovelle mulai menggelap. Namun di tengah kegelapan itu, ia melihat sesuatu. Sebuah cahaya. Cahaya putih yang menyilaukan, muncul entah dari mana di dalam air yang gelap. Dan cahaya itu pun terlihat semakin terang, semakin dekat. Detik berikutnya saat Lovelle membuka mata, tiba-tiba saja... ia sudah tidak lagi berada di dalam sungai. ***Ruangan bawah tanah itu dipenuhi suara dengung rendah dari mesin-mesin yang terus bekerja tanpa henti. Cahaya dari monitor berpendar redup, memantulkan bayangan dingin di wajah orang-orang yang berdiri di dalamnya. Di tengah ruangan, sebuah perangkat besar berbentuk lingkaran logam berdiri aktif. Kabel-kabel hitam menjulur dari bagian bawahnya, terhubung pada panel data yang terus bergerak cepat. Gelombang frekuensi berdenyut pelan dari inti alat itu. Professor Albrecht Varyn menatap layar di depannya dengan mata berbinar penuh gairah. “Luar biasa…” gumannya pelan. “Respon sinkronisasinya jauh lebih stabil dibanding simulasi.” Tak jauh darinya, tampak Xeyren Crow yang duduk tenang di kursi kulit hitam, dengan satu kaki menyilang. Tatapan kelabu pria itu tertuju lurus pada layar koordinat yang terus bergerak. Tidak ada keraguan sedikit pun di wajahnya. Karena sejak awal… ide tentang alat itu memang berasal darinya. Xeyren yang pertama kali menyadari satu hal sederhan
Alistair belum benar-benar pergi ketika perangkat komunikasinya bergetar singkat. Ia menoleh untuk membaca pesan yang masuk, lalu berhenti sepersekian detik. “Ada tambahan?” tanya Luca tanpa menoleh. Alistair mengangkat pandangan. “Ya, Tuan.” “Tim menemukan sesuatu di laboratorium,” lanjutnya tenang. “Bukan pada peralatan utamanya… tapi pada sistem cadangan.” Luca akhirnya berbalik menatapnya. “Jelaskan.” “Beberapa server sengaja dibiarkan aktif,” ujar Alistair. “Seolah-olah ditinggalkan terburu-buru. Tapi setelah dianalisis… ternyata data intinya kosong.” Alis Luca sedikit berkerut. “Dihapus dengan sengaja?” Alistair menggeleng tipis. “Bukan dihapus, Tuan. Tapi dipindahkan secara sistematis dan bersih. Juga tidak ada jejak yang mengindikasikan dilakukan dengan terburu-buru.” Beberapa detik kemudian, ekspresi Luca terlihat berubah. “…jadi ini bukan penggerebekan yang terlambat,” gumannya pelan. Alistair mengangguk. “Lebih tepatnya… kita justru diarahkan ke sana.
Pintu kamar itu kembali terbuka tanpa diketuk sebelumnya. Lovelle berdiri di dekat jendela saat Luca masuk. Cahaya dari luar jatuh ringan di wajahnya, membuat ekspresinya sulit dibaca. Gadis itu menoleh perlahan, dan tatapan mereka pun seketika bertemu. “Duduk,” titah Luca singkat. Lovelle tidak langsung bergerak. Namun beberapa detik kemudian, ia tetap melangkah ke tepi ranjang dan duduk dengan tenang. “Pernah dengar nama Albrecht Varyn?” tanyanya langsung, tidak membuang waktu. Alis Lovelle sedikit berkerut. “Tidak,” jawabnya singkat namun tegas, membuat Luca diam untuk menilai. Lovelle sedikit menyipitkan mata. “Siapa dia?” Tampak tidak ada kepura-puraan dalam pertanyaan gadis itu. Luca pun lalu melangkah lebih dekat. “Seorang ilmuwan,” jawabnya tenang. “Fisikawan teoretis.” Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih rendah. “Dia meneliti sesuatu yang tidak biasa. Tentang kemungkinan… adanya lebih dari satu realitas. Dunia lain yang berjalan
Jarak di antara mereka kini hanya tinggal sejengkal. Napas Luca terasa hangat dan teratur… terlalu tenang untuk seseorang yang jelas sedang menguji batas. Sementara di dalam tubuh gadis itu, ada dua reaksi yang saling bertabrakan. Daniela yang diam dan menunggu, dan Lovelle yang menolak. Namun kali ini Lovelle tidak mundur. Sebaliknya, dagunya justru terangkat sedikit, menantang jarak yang semakin menipis itu. “Silakan,” ucapnya pelan. Kalimat itu keluar dengan tenang, tapi terasa penuh dengan lapisan. Seketika Luca berhenti bergerak, karena respons itu tidak sesuai ekspektasinya. Alisnya yang coklat terang serta-merta terangkat samar. “Kamu tidak menolak?” gumannya rendah. Lovelle menyunggingkan senyum tipis. “Bukankah itu yang kamu inginkan?” balasnya. “Daniela yang patuh dan Daniela yang tidak melawan?” Saat itu juga tatapan Luca berubah menjadi lebih tajam. Tangannya yang mencengkeram pergelangan Lovelle sedikit menguat. “Jangan bermain-main denganku,”
“Siapa yang menyuruhmu keluar, Lovelle?” Lovelle menelan ludah dan seketika tersadar, bahwa meski ia berhasil selamat dari takdir kematian di halaman ke-lima, tapi di sini ia masih dalam permainan yang jauh lebih berbahaya dan kompleks. Xeyren perlahan melangkah mendekat dengan langkah yang be
Beberapa hari kemudian, di malam lelang... Gedung tua bergaya klasik itu berdiri megah di tengah kota. Tampak tenang dari luar, namun di dalamnya dipenuhi aura ketegangan. Di sana, sekitar lima belas orang telah berkumpul. Mereka adalah tokoh-tokoh berpengaruh di dunia gelap, masing-masing me
Xeyren tidak berkata apa-apa. Namun dalam satu gerakan halus, tangannya masuk ke balik jasnya, dan sebuah hand gun tiba-tiba saja sudah berada dalam genggamannya. Senjata itu langsung terangkat dan mengarah lurus ke pintu. Sementara di belakang tubuh Xeyren, Lovelle refleks menutup mulutnya se
“Daniela,” panggil Luca pelan. Sekarang Lovelle pun tidak berpikir lagi, dan langsung berlari ke arahnya. Pria ini adalah tokoh protagonis dalam novel. Satu-satunya pria yang harus ia percaya, alih-alih Xeyren Crow yang jelas-jelas penjahatnya. "Kamu baik-baik saja?" Luca masih memegangi






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore