Bibir Lovelle menyentuh bibir Xeyren. Hangat, lembut, dan sepenuhnya tidak terduga. Untuk sesaat, waktu seolah berhenti bergerak. Tangan Xeyren yang mencengkeram lehernya pun membeku di tempat. Tekanan yang tadi hampir mematahkan napas Lovelle tidak serta-merta hilang, tetapi kini terasa lebih longgar. Tubuh pria itu kaku, pikirannya membutuhkan beberapa detik untuk memproses apa yang baru saja terjadi. Lovelle sendiri hampir tidak percaya dengan tindakannya. Tapi jika ia diam, ia akan mati. Jika ia berontak, tetap saja ia akan mati. Maka ia pun tidak lagi berpikir, hanya bertindak berdasarkan insting belaka. Lovelle bisa merasakan detak jantungnya yang berdetak keras di dada, seiring dengan napasnya yang tersendat. Bibir mereka hanya bersentuhan selama beberapa detik, tetapi rasanya jauh lebih lama dari itu. Kemudian perlahan, Lovelle pun menjauh. Udara langsung menyerbu paru-parunya ketika tekanan di lehernya sedikit mengendur. Ia menarik napas dengan rakus, dadany
Last Updated : 2026-03-14 Read more