LOGINSekar Andita perempuan 25 tahun,tidak pernah menyangka hidupnya berubah ketika ia memutuskan mengadopsi seorang bayi yang ditinggalkan tanpa nama dan masa depan.Keputusan itu ia ambil bukan sebagai perempuan yang sedang jatuh cinta,melainkan sebagai seseorang yang ingin menyelamatkan satu nyawa,walaupun harus kehilangan banyak hal setelahnya. Hubungan dengan Arga Pratama pria yang ia cintai selama 2 tahun mulai retak.Keluarga Arga menolak perempuan yang telah memilih menjadi Ibu bagi anak yang bukan darah daging.Sekar dipaksa memilih melepaskan anak itu atau kehilangan Arga selamanya. Disaat luka itu belum sembuh,masa lalu Sekar kembali mengetuk dengan cara paling menyakitkan.Riko Malvin Caleb yang pernah menghilang tanpa penjelasan,muncul sebagai ayah biologis dari anak yang kini menjadi putranya. Cinta yang pergi karena restu,masa lalu yang kembali karena darah,dan seorang perempuan yang harus memilih bukan sebagai kekasih melainkan sebagai Ibu.Karena tidak semua luka tercipta dari kebencian,sebagian lahir dari cinta yang datang terlambat.
View MoreSekar Andita duduk di kursi tunggu rumah sakit sejak pukul dua dini hari.
Lampu putih di lorong itu terlalu terang untuk mata yang sudah lelah, terlalu sunyi untuk hati yang gelisah. Tangannya saling menggenggam di atas pangkuan, dingin, meski udara di dalam ruangan terasa pengap. Sejak pukul 02.30, Luna—teman sekamarnya hampir dua tahun terakhir—mengeluh nyeri di perut. Rasa sakit yang datang bergelombang, semakin sering, semakin kuat. Sekar tahu, ini bukan sekadar sakit biasa. Ini waktunya melahirkan. Sekar belum pernah menghadapi situasi seperti ini sebelumnya. Ia belum pernah melihat seorang perempuan berjuang di ujung hidupnya demi melahirkan kehidupan baru. Namun sejak sembilan bulan terakhir, dialah yang paling sering berada di sisi Luna. Menemani kontrol ke dokter, membelikan makanan saat ngidam aneh-aneh, memijat punggung ketika nyeri datang tanpa ampun. Luna hamil sembilan bulan tanpa suami. Pacarnya, Riko, pergi begitu saja saat tahu Luna mengandung. Lelaki itu menolak bertanggung jawab, menghilang tanpa jejak, seolah bayi yang dikandung Luna bukan darah dagingnya sendiri. Sekar sering mendengar cerita seperti itu. Lelaki datang, menikmati, lalu pergi. Namun menyaksikannya dari jarak sedekat ini tetap membuat dadanya sesak. “Lun, kamu harus kuat,” bisik Sekar pelan, mondar-mandir di depan pintu ruang bersalin. “Kamu harus baik-baik saja… demi anak kamu.” Tangannya gemetar. Pikirannya dipenuhi ketakutan yang tidak bisa ia namai. Sekar bahkan tidak tahu harus berdoa dengan kata-kata apa. Bunyi pintu terbuka memecah keheningan. Cklek. Seorang perawat keluar, wajahnya tenang tapi matanya menyimpan sesuatu yang membuat jantung Sekar berdegup lebih cepat. “Permisi, Mbak. Wali pasien?” Sekar langsung mendekat. “Iya, Sus. Teman saya bagaimana? Bayinya sehat, kan?” Perawat itu mengangguk pelan. “Bayinya selamat. Sehat. Laki-laki.” Napas Sekar tertahan. “Tapi…,” lanjut perawat itu dengan suara lebih pelan, “kami mohon maaf, Mbak. Ibunya mengalami pendarahan hebat. Tidak tertolong.” Kalimat itu jatuh seperti palu. Sekar merasa dadanya runtuh. Udara mendadak terasa terlalu berat untuk dihirup. Ia berdiri mematung, tidak mampu berkata apa pun, sementara air mata mengalir tanpa suara, membasahi pipinya. Luna pergi. Pergi setelah mempertaruhkan hidupnya untuk melahirkan seorang anak yang bahkan belum sempat ia peluk. Sekar menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya bergetar. Di kepalanya terngiang suara Luna beberapa hari lalu, bercanda sambil mengeluh lelah. “Kalau anak aku cowok, jangan sampai mirip aku ya, Sekar. Aku udah capek banget.” Sekar tersenyum getir di tengah tangisnya. “Lun… anak kamu cowok,” gumamnya lirih. “Aku belum lihat, tapi jangan-jangan malah mirip aku. Soalnya selama di perut, dia lebih sering nyusahin aku daripada kamu.” Tak ada jawaban. Hanya sunyi. Satu jam berlalu sejak kepergian Luna. Sekar masih duduk di kursi yang sama, menatap bayi mungil di balik kaca ruang bayi. Tubuh kecil itu terbungkus selimut putih, tidur tenang, seolah dunia belum sempat menyentuhnya dengan kejam. Pertanyaan itu datang pelan, lalu menghantam keras. Siapa yang akan merawat bayi ini? Luna sudah lama tidak diperbolehkan pulang oleh keluarganya. Kehamilannya dianggap aib. Sekar tahu, kemungkinan besar bayi itu juga akan dianggap sama. Dan benar saja. Dari kejauhan, Sekar mendengar perdebatan dua perempuan paruh baya—keluarga Luna. Suara mereka ditahan, tapi nada penolakan itu jelas. Mereka tidak menginginkan bayi itu. “Bu… permisi,” Sekar memberanikan diri mendekat. “Saya Sekar, yang tadi menelepon.” Perempuan itu menoleh. Wajahnya letih, matanya sembab. “Iya, Nak. Saya ibunya Luna.” Sekar menelan ludah. “Kalau Ibu… tidak bisa merawat bayinya, biar saya saja yang mengurus.” Dua pasang mata menatapnya bersamaan, terkejut. “Namanya Sagara Biru, Bu,” lanjut Sekar pelan. “Itu nama yang Luna pilih.” Salah satu perempuan yang lebih tua mendengus sinis. “Sudah ada yang mau adopsi anak haram itu. Beres urusan kita.” Ibu Luna terdiam. Tangannya bergetar. “Dia tetap cucu saya,” katanya lirih. “Cucu haram yang tidak jelas bapaknya!” bentak perempuan itu. “Jangan bikin malu keluarga!” Sekar melangkah maju, suaranya tegas meski dadanya bergetar. “Sagara biar saya rawat saja, Bu.” “Kamu sudah menikah?” tanya ibu Luna ragu. “Belum,” jawab Sekar jujur. “Tapi selama hamil, Luna selalu sama saya. Saya siap bertanggung jawab.” Hening. Akhirnya, ibu Luna mengangguk pelan, air mata jatuh tanpa bisa ia tahan. “Terima kasih, Nak. Ibu malu… tidak bisa memperjuangkan cucu Ibu sendiri.” Sekar menggeleng. “Ibu tidak perlu malu. Kalau suatu hari ingin bertemu Sagara, hubungi saya.” Setelah keluarga Luna pergi, Sekar kembali duduk sendirian. Pandangannya tertuju pada bayi itu lagi. Perasaan ragu datang, menghimpit dadanya. Keputusan ini besar. Terlalu besar untuk seorang perempuan dua puluh lima tahun yang bahkan belum siap dengan hidupnya sendiri. Namun saat Sekar menatap wajah mungil itu, hatinya menguat. “Lun,” bisiknya dalam hati, “aku akan merawat anakmu. Seperti anakku sendiri. Apa pun yang terjadi.” Air mata jatuh lagi, tapi kali ini berbeda. Bukan hanya duka—ada tekad di sana. Sekar tahu, sejak hari itu, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Rencana masa depan yang selama ini ia susun rapi akan berubah total. Dan di benaknya muncul satu nama. Arga. Akankah lelaki itu menerima kenyataan ini? Ataukah ia harus kembali memilih—dan kehilangan? Sekar memejamkan mata, menahan gemetar di dadanya. “Arga,” bisiknya pelan, “aku harap kamu cukup kuat untuk tetap di sisiku.”Pagi itu tidak benar-benar tenang, meskipun langit di atas perumahan terlihat cerah.Sekar duduk di lantai karpet ruang tamu, menemani Gara menyusun mobil-mobilan plastik kesayangannya. Anak itu tertawa kecil setiap kali dua mobil sengaja ditabrakkan, suara polos yang biasanya mampu mencairkan kecemasan apa pun. Tapi kali ini tidak. Karena mata Sekar, sesekali, melirik ke jendela.Mobil hitam itu masih terparkir di seberang jalan, persis seperti kemarin. Sejak mereka pindah ke rumah kontrakan ini, mobil itu sudah ada di sana. Tidak mendekat. Tidak mengganggu. Tapi juga tidak pernah pergi. Keberadaannya seperti bisikan ancaman yang tak bersuara.“Mama” Gara mengangkat mobil merah kesayangannya tinggi-tinggi.Sekar langsung tersenyum, memaksa hangat merambat di wajah yang mulai kaku. “Wah, keren banget, Sayang.” Ia mengusap rambut halus anak itu, tapi pikirannya melayang jauh. Ini bukan kebetulan. Bukan sekadar mobil yang parkir sembarangan. Ini adalah mata yang terus mengawasi.Tok.To
Pagi di apartemen terasa asing.Tidak ada suara panci dari dapur. Tidak ada langkah kecil Gara yang berlarian di ruang tamu.Sepi.Malvin berdiri di ambang kamar. Kosong.Lemari yang semalam masih setengah terbuka kini sudah rapi. Tidak ada lagi tas kecil milik Sekar. Tidak ada baju anak-anak yang tergantung sembarangan.Hanya tersisa… ruang.Di atas meja, secarik kertas. Tulisan tangan yang ia kenal.Vin,Aku pergi. Jangan cari aku dulu.Aku butuh tenang. Bukan cuma untuk aku… tapi juga untuk Gara.—SekarTangan Malvin gemetar saat membacanya.Dada yang semalam sudah berat… kini terasa benar-benar kosong.Ia duduk perlahan di sofa. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia harus kehilangan lagi. Tapi kali ini… bukan karena papanya. Melainkan karena dirinya sendiri.***Hari itu juga, Malvin berdiri di depan gedung yayasan keluarga.Bangunan tinggi dengan kaca besar yang memantulkan bayangannya sendiri. Rapi. Dingin. Dan penuh tuntutan.Ia menarik napas panjang, lalu melangkah
Malam turun perlahan di balik jendela apartemen.Lampu kota berpendar, tapi suasana di dalam justru terasa lebih gelap.Sekar sudah berada di dalam kamar, menemani Gara yang masih tertidur.Malvin berdiri sendiri di balkon. Siku bertumpu pada pagar besi yang dingin. Angin malam membawa bau kota—aspal, asap, dan sesuatu yang tak bernama. Ia menatap kosong ke arah jalanan di bawah, tapi tidak benar-benar melihat apa-apa.Yang ada di kepalanya hanya satu suara.Satu langkah salah, dan semuanya bisa runtuh.Ponselnya kembali bergetar.Papa.Dulu, getaran ini selalu membuatnya cemas. Membuatnya mencari alasan, membuatnya menunda, membuatnya tunduk.Tapi kali ini—Malvin tidak ragu.Ia langsung mengangkat.Kali ini… Malvin tidak ragu.Ia langsung mengangkat.“Aku mau ketemu, Pa.”Tidak ada basa-basi.Di seberang sana, terdengar suara napas berat yang kemudian berubah menjadi tawa tipis.“Akhirnya kamu sadar juga.”“Besok. Kita ketemu.”***Keesokan harinya.Pagi datang dengan langit kelabu.
Bau apek khas basement apartemen menyambut begitu mesin mati. Senyap. Mobil berhenti di basement apartemen.Mesin dimatikan, tapi tidak ada yang langsung turun.Hening.Hanya suara napas yang masih belum benar-benar stabil setelah perjalanan tadi.Sekar memeluk Gara yang sudah tertidur di pangkuannya. Wajah kecil itu tenang, seolah dunia tidak sedang mengancamnya.“Sudah sampai,” ucap Malvin pelan.Sekar mengangguk, tapi tidak bergerak.Matanya justru menatap ke depan kosong.Tempat ini…Bukan sekadar apartemen.Ini adalah tempat yang dulu hampir menjadi rumah mereka.Lift bergerak naik perlahan.Setiap angka yang berubah seperti menarik satu kenangan lama ke permukaan.Sekar berdiri diam, memeluk Gara. Sementara Malvin sesekali melirik ke arahnya, tapi tidak berani berkata apa-apa.Ting.Pintu lif terbuka.Langkah Sekar terhenti tepat di ambang pintu.Unit apartmen itu masih sama.Tidak banyak berubah.Aroma ruangan, tata letak, bahkan sofa abu-abu di sudut ruang tamu… semuanya teras






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.