LOGINDEWASA / 18+] Kesalahan satu malam yang mereka lakukan telah melahirkan obsesi dalam diri Sebastian Winter. Ia menjadi dahaga pada sosok Rana, ia ingin menjadikan wanita itu miliknya. Pertanyaannya adalah, akankah dahaga itu bersifat sementara, atau akankah dahaga itu tumbuh menjadi suatu rasa yang berbeda, sesuatu yang lebih serius dan mungkin, lebih gila? Mampukah Rana dengan segala kewarasannya menghentikan obsesi Sebastian sebelum ia kehilangan segalanya—termasuk akal sehatnya? Atau, akankah Rana membiarkan dirinya terjerumus dalam api gairah pria itu dan melupakan rasionalitasnya?
View More"Kita akan bicara nanti," kata Sebastian padaku, setelah membantuku memakai kembali piamaku.Ekspresi yang terlukis di wajah pria itu adalah kemenangan dan kelicikan. Ia nampak begitu puas telah membuatku klimaks untuk ketiga kalinya. Sungguhan, pria itu gila, dan aku, aku lebih gila darinya.Bagaimana bisa aku membiarkan Sebastian Winter menyentuhku lagi, membuatku klimaks, setelah aku memintanya untuk melupakan segalanya? Kemana perginya harga diriku ketika alih-alih meninju wajahnya atau menendang selangkangannya, aku malah mengerangkan namanya?Mengapa aku begitu mudah?Setiap berada di hadapan Sebastian, aku sepertinya kehilangan kontrol diriku. Pria itu seperti menyihirku, mengendalikanku. Ia merenggut akal sehat dari kepalaku, dan membuatku luluh sepenuhnya dalam sentuhannya."Ki-kita akan bicara nanti," sahutku, tidak bisa menahan diri tergagap. Aku bahkan tergagap di depannya. Memalukan. "Bicara yang benar-benar bicara
Sesuatu terjadi pada Rana, entah apa. Beberapa hari ini, ketika ia berkunjung ke mansion kami untuk menghabiskan waktu dengan Ara, aku kerap merasakan tatapannya jatuh kepadaku. Seakan-akan ia mengintaiku.Ketika aku membalas tatapannya, ia akan membuang muka dan berpura-pura tidak memperhatikanku. Yang tidak Rana ketahui adalah, dia buruk dalam berpura-pura. Dia juga buruk dalam pengintaian. Dia begitu kentara, aku bisa merasakan tatapannya mengebor tengkukku. Bahkan saat ini—saat aku mengambil air mineral dari lemari dingin, aku bisa merasakan matanya tertuju padaku.Aku baru menyelesaikan lari pagiku, dan di meja makan, Dahlia, Ara, dan Rana duduk bersantai menikmati jus jeruk dan beberapa menu sarapan.Menilai dari penampilan Ara, Dahlia, dan Rana yang masih mengenakan piama, mereka pasti menginap di sini tadi malam."Sebastian, ayo sarapan bersama kami," ajak Ara.Aku menghampiri meja makan dan menempa
Situasiku dengan Sebastian, 'kesalahan kedua' kami menyebutnya, tinggal di benakku hingga fajar tiba.Sulit bagiku untuk memejamkan mata ketika yang kuingat dan kurasakan adalah Sebastian. Napas pria itu yang berembus di depan wajahku, sentuhan jemarinya yang menyusuri tulang belakangku, sapuan lidahnya di kulitku, segala hal tentang pria itu bergentayangan di benakku.Seringainya. Mata hijaunya. Suaranya. Sentuhannya.Aku memikirkan bagaimana seorang Sebastian, pria yang selama ini kupandang tak kurang dan tak lebih sebagai kakak Ara dan seorang CEO muda, berhasil membuatku klimaks hanya dengan tangannya. Apa aku begitu kesepian selama ini hingga sentuhan Sebastian mempengaruhiku sebegitu besarnya?Padahal, dengan mantan terakhirku, aku tidak pernah terpuaskan semudah itu. Kami berhubungan badan, dan aku mengerang dengan kepalsuan yang menyedihkan. Aku bisa menjadi aktris Hollywood dari seberapa hebat aku memalsukan klimaksku.Aku seharusnya tidak semudah itu di depan Sebastian, tapi
Aku tidak berbohong ketika aku mengatakan Rana telah mengubahku menjadi binatang. Binatang buas yang haus dan lapar akan dirinya.Aku sudah berciuman dengan banyak wanita, tidur dengan beberapa, dan tentunya, aku bukan baru dalam hal bercinta. Aku seharusnya lebih terkendali dan dewasa. Namun, malam ini, bersama Rana dan menciumnya, aku seperti kehilangan kendali diri.Keserakahan memenuhiku, nafsuku menggebu-gebu aku pikir akan meledak saat itu.Aku pikir aku akan menakuti Rana dengan betapa lapar aku memangsanya, tapi sepertinya ia sangat menikmati bagaimana caraku mendominasinya.Ia seperti mencair di dalam dekapanku, leher dan wajahnya merah bersemu. Bibirnya bengkak dan merah akibat ciumanku. Peluh menyeruak samar dari pori-pori kulitnya, membuat ia terlihat mengkilap dan berlumur dosa."Sebastian..." ucapnya lagi, jari-jemari lentiknya bertumpu di lenganku, menahanku dari menyentuh pusat tubuhnya yang sudah basah.Aku tak m
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews