LOGIN“Pasien mengalami amnesia parsial retrograde.”
Kalimat dokter terngiang di benak Giska saat dirinya berada di UGD.
Amnesia.. apalah itu, kondisi ketika seseorang kehilangan akses terhadap sebagian ingatan yang terbentuk sebelum kecelakaan.
Brian masih mengingat identitas dirinya, pekerjaannya, dan Giska sebagai istrinya. Ia bahkan masih mampu mengingat sejumlah kenangan dari awal pernikahan mereka.
Namun, ingatannya tentang pengalaman pribadi dalam dua tahun terakhir tampak samar atau hilang, termasuk berbagai peristiwa yang perlahan meretakkan hubungan mereka.
Seolah-olah, bagi Brian, pernikahan mereka masih berada pada masa ketika keduanya saling mencintai tanpa dibebani masalah yang akhirnya membawa mereka ke ambang perceraian.
Meski begitu, Giska tahu bahwa kondisi tersebut masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut dan belum bisa dipastikan apakah ingatan Brian akan kembali sepenuhnya.
“Tidak ada obat yang bisa membuat ingatannya kembali.”
Sementara Giska sibuk mencari solusi. Otaknya bekerja keras untuk meminimalkan interaksi dengan Brian.
Masalahnya, perceraian itu hanya mereka berdua yang tahu. Memberitahu keluarganya sama saja bunuh diri.
Langkah kaki Giska terhenti begitu ia membelok ke lorong rumah sakit yang sepi. Angin dari ruang terbuka hijau di salah satu sisi berembus pelan, menampar kulitnya yang terasa panas.
Ia menyandarkan punggungnya di dinding bercat putih pudar itu, lalu memejamkan mata rapat-rapat sambil mengatur napasnya yang memburu.
Kejadian setelah kecelakaan berputar ulang di kepalanya bagai kaset rusak. Tatapan penuh cinta, nada suara yang lembut, dan genggaman tangan hangat itu... semuanya terasa begitu nyata.
Namun, ingatan tentang malam-malam panjang ketika ia menangis sendirian di kamar langsung memukulnya kembali.
Ia tidak tahan atas kesendirian.
Giska membuka matanya. Ia merogoh tas jinjingnya, merasakan sudut kertas yang terlipat rapi di dalam sebuah amplop cokelat.
Surat kesepakatan cerai yang tinggal ia ajukan ke pengadilan. Surat yang membuktikan bahwa rasa lelahnya selama dua tahun terakhir bukan sekadar halusinasi.
Kakinya mendadak lemas hingga tak mampu menahan tubuhnya. Ia pun memeluk tubuhnya sendiri yang gemetar, merasa terjebak di dalam labirin waktu yang kejam.
Brian masa lalunya mencintainya, tetapi Brian masa kini adalah alasan mengapa ia ingin bebas.
Dan kini, takdir seolah mempermainkan mereka dengan mempertemukan wujud masa lalu di dalam tubuh seorang pria yang ingin ia tinggalkan.
***
“Istriku?”
Panggilan itu membuatnya mendongak. Panggilan yang dulu ia rindukan setelah lenyap dalam pernikahan. Giska menatap tajam pria itu yang kini tersenyum meski bagian kepalanya dan bahu diperban.
Pria itu tersenyum.
Lama sekali tak melihat garis matanya.
Yang Giska simpan dalam ingatan, pria itu selalu pulang larut malam.
“Kamu masih sakit?” tanya pria itu sekali lagi memastikan Giska yang daritadi tidak tanggap.
Giska mengalihkan pandangan ke jendela.
Brian lalu memperhatikannya selama beberapa saat. "Aku boleh tanya sesuatu?"
Tak menjawab, Giska hanya mengangguk singkat.
"Kenapa kamu kelihatan takut setiap kali aku mendekat?"
Pertanyaan itu membuat Giska terdiam. Menurutnya, Brian tidak mengatakannya dengan nada menuduh. Ia tampak benar-benar ingin memahami sesuatu yang menurutnya juga janggal. “Apa aku menyakitimu?”
Giska memotong percakapan itu demi menghindari suaminya yang bertanya lebih jauh. "Kamu baru mengalami kecelakaan. Istirahatlah.”
Brian terdiam. Senyum tipis yang sejak tadi menghiasi wajahnya perlahan memudar. Wajahnya berubah memelas, kepalanya menunduk lalu menepuk ranjangnya yang kosong. “Sini.”
“Aku… kangen kamu.”
Kalimat sederhana yang membuat Giska merasa sesak. Dahulu, ia pernah meminta hal yang sama dengan berbagai cara.
Ia pernah mengajak Brian makan malam, memintanya meluangkan satu hari penuh untuk mereka berdua, bahkan menyarankan agar mereka memiliki satu malam dalam seminggu tanpa urusan pekerjaan.
Brian memang selalu menyetujuinya. Namun, selalu saja ada sesuatu yang membuat rencana itu batal. Hingga ia lelah dengan sendirinya.
Giska tergugu, bagaimana harus menjelaskannya?
“Aku cuma mau kehadiran kamu.”Brian mengangkat wajah, menanti penjelasan kalimat singkat itu.Giska menerawang lurus, sebisa mungkin menghindari tatapan suaminya. “Ketika aku mengajakmu makan malam, aku ingin kita benar-benar makan malam. Ketika aku bilang aku sedang punya masalah, aku ingin kamu mendengarkan sebelum memutuskan bahwa masalah itu bisa menunggu. Ketika keluargamu bertanya tentang anak, aku ingin kamu berdiri di sampingku dan menjelaskan bahwa itu urusan kita berdua.” Suaranya mulai bergetar, tetapi gadis itu tetap melanjutkan ucapan yang telah lama terpendam.“Aku tidak mau terus menjawab pertanyaan mereka sendirian. Aku tidak mau terus menebak-nebak apa yang sebenarnya kamu pikirkan. Dan aku tidak mau menghabiskan sisa hidupku dengan menunggu kamu punya waktu untuk menjadi suamiku.”Laki-laki yang kini duduk di sofa itu menunduk. Untuk pertama kalinya sejak menemukan dokumen itu, ia kehabisan kata-kata. “Aku tidak tahu kalau kamu merasa seperti itu,” ucapnya dengan pe
“Kesepakatan perceraian?”Brian membaca ulang tulisan di tangannya seolah-olah dengan membacanya sekali lagi, kalimat itu akan berubah menjadi sesuatu yang lebih masuk akal. Ia membalik halaman pertama, lalu kembali ke halaman sebelumnya. Brian Kaleandra. Nama lengkapnya tercetak jelas di sana. Begitu pula nama Giska Anastasia, tanggal penyusunan dokumen, dan tanda tangan yang tampak sangat dikenalnya.Itu tanda tangannya sendiri. Brian mengangkat wajah, mengulang pertanyaan yang sama. “Giska, ini maksudnya apa?”Giska berdiri beberapa langkah dari Brian dengan tas yang masih tersampir di bahu. Wajahnya mendadak pucat seperti seseorang yang baru menyadari bahwa pintu yang selama ini berusaha ditahannya akhirnya terbuka juga. “Letakkan kembali,” ucapnya dengan tatapan datar.Laki-laki itu menyela dengan cepat, tetapi tetap dengan nada rendah. “Jawab pertanyaanku dulu, Giska.”Giska hanya mampu menghela napas berat. “Brian, kamu baru pulang dari rumah sakit.”“Aku tahu.” Laki-laki yang
Giska terbangun lebih awal daripada biasanya. Bukan karena dia ingin menyiapkan sarapan untuk pria yang tak pernah menyentuh makanannya lagi, melainkan karena sejak semalam dia belum menemukan cara untuk menjalani hari-hari berikutnya tanpa membuat keadaan semakin rumit.Di meja makan, dua piring sudah tertata. Segelas air putih dan obat-obatan Brian diletakkan di sampingnya, sesuai instruksi dokter. Giska baru saja hendak membawa cangkir kopinya ke ruang tengah ketika suara langkah terdengar dari arah kamar.“Pagi, istriku.”Giska menoleh.Istriku?Tangan Giska yang tengah menuangkan air berhenti sejenak. Sapaan itu masih terdengar asing di telinganya, terlebih setelah sekian lama dia terbiasa mendengar Brian hanya mengucapkan hal-hal seperlunya sebelum berangkat kerja.Brian menarik kursi, lalu duduk di meja makan. Dia memperhatikan hidangan di hadapannya sebelum menoleh kepada Giska yang masih berdiri di dekat meja dapur.Brian melirik kursi kosong di seberangnya. “Kamu nggak iku
Benar. Sebelum berangkat ke acara keluarga Brian, dia memang sudah membawa sebagian besar barang pribadinya keluar dari rumah. Surat cerai yang dia bawa pun masih tersimpan di dalam tas.Sekarang semua rencana itu berantakan.“Aku belum sempat mengembalikannya,” jawab Giska akhirnya.Brian mengernyit bingung. “Mengembalikan?”“Ke rumah orang tuaku.” kata Giska menggigit bibirnya.“Kenapa?”Giska menoleh. “Karena aku pikir kita akan lebih sering tinggal di sana.”Jawaban itu membuat Brian diam beberapa saat. Dia seperti mencoba mencari sesuatu dari wajah istrinya, tetapi tidak menemukan apa-apa.Kemudian pandangannya turun ke jemari Giska. “Cincin kamu kemana?”Giska refleks menyembunyikan tangan kirinya di belakang tubuh. Terlambat. Brian sudah melihat jari manisnya yang kosong.“Kamu lepas?”Giska menelan ludah. “A–aku– Cincinnya sedang disimpan.”Pertanyaan itu sederhana. Namun, justru itulah yang membuat Giska kesulitan menjawab.Karena cincin itu sudah dia lepaskan beberapa hari
Brian diperbolehkan pulang setelah dokter menilai kondisinya cukup stabil untuk melanjutkan pemulihan di rumah dengan pengawasan dan kontrol lanjutan. Dokter mengingatkan agar Brian tidak langsung kembali bekerja, menghindari aktivitas berisiko, serta segera kembali ke rumah sakit jika mengalami gejala yang memburuk.Giska datang menjemputnya bersama taxi online. Entah kemana mobil yang mereka kendarai kini berada.Ia tidak berniat menginap atau kembali tinggal bersama Brian. Mereka masih memiliki urusan hukum yang belum selesai, dan ia tidak ingin perhatian sesaat membuat batasan di antara mereka menjadi kabur.Namun, ketika Brian keluar dari kamar rawat dengan langkah perlahan, membawa tas kecil di tangan, Giska spontan menghampirinya. "Hati-hati."Brian tersenyum. "Terima kasih, Sayang."Giska menarik tangannya kembali. Panggilan itu masih terdengar terlalu akrab. Terlebih setelah sekian lama ia tidak mendengarnya secara langsung.Perjalanan menuju rumah berlangsung tenang. Brian
“Pasien mengalami amnesia parsial retrograde.”Kalimat dokter terngiang di benak Giska saat dirinya berada di UGD. Amnesia.. apalah itu, kondisi ketika seseorang kehilangan akses terhadap sebagian ingatan yang terbentuk sebelum kecelakaan.Brian masih mengingat identitas dirinya, pekerjaannya, dan Giska sebagai istrinya. Ia bahkan masih mampu mengingat sejumlah kenangan dari awal pernikahan mereka. Namun, ingatannya tentang pengalaman pribadi dalam dua tahun terakhir tampak samar atau hilang, termasuk berbagai peristiwa yang perlahan meretakkan hubungan mereka.Seolah-olah, bagi Brian, pernikahan mereka masih berada pada masa ketika keduanya saling mencintai tanpa dibebani masalah yang akhirnya membawa mereka ke ambang perceraian. Meski begitu, Giska tahu bahwa kondisi tersebut masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut dan belum bisa dipastikan apakah ingatan Brian akan kembali sepenuhnya.“Tidak ada obat yang bisa membuat ingatannya kembali.”Sementara Giska sibuk mencari solusi.







