“Kesepakatan perceraian?”Brian membaca ulang tulisan di tangannya seolah-olah dengan membacanya sekali lagi, kalimat itu akan berubah menjadi sesuatu yang lebih masuk akal. Ia membalik halaman pertama, lalu kembali ke halaman sebelumnya. Brian Kaleandra. Nama lengkapnya tercetak jelas di sana. Begitu pula nama Giska Anastasia, tanggal penyusunan dokumen, dan tanda tangan yang tampak sangat dikenalnya.Itu tanda tangannya sendiri. Brian mengangkat wajah, mengulang pertanyaan yang sama. “Giska, ini maksudnya apa?”Giska berdiri beberapa langkah dari Brian dengan tas yang masih tersampir di bahu. Wajahnya mendadak pucat seperti seseorang yang baru menyadari bahwa pintu yang selama ini berusaha ditahannya akhirnya terbuka juga. “Letakkan kembali,” ucapnya dengan tatapan datar.Laki-laki itu menyela dengan cepat, tetapi tetap dengan nada rendah. “Jawab pertanyaanku dulu, Giska.”Giska hanya mampu menghela napas berat. “Brian, kamu baru pulang dari rumah sakit.”“Aku tahu.” Laki-laki yang
Dernière mise à jour : 2026-10-21 Read More