LOGINGiska akhirnya menyerah setelah bertahun-tahun merasa kesepian dalam pernikahannya dengan Brian. Bukan hanya karena pekerjaan yang selalu menjadi prioritas sang suami, tetapi juga keengganan Brian untuk memiliki anak dan perbedaan harapan tentang rumah tangga mereka. Perceraian pun menjadi jalan terakhir yang dipilih Giska. Namun, sebuah kecelakaan membuat Brian kehilangan ingatan tentang kehancuran pernikahan mereka. Saat terbangun, ia masih memandang Giska dengan kasih sayang yang sama seperti dulu, tanpa mengerti mengapa istrinya begitu jauh dan tak lagi ingin mempertahankan pernikahan mereka. Jika Brian kembali menjadi suami yang selama ini Giska harapkan, apakah itu cukup untuk membuatnya bertahan?
View More“Tanda tangan.”
Giska mendorong selembar dokumen ke hadapan Brian lalu menaruhnya di atas meja.
Pria itu yang semula tengah membetulkan letak kacamatanya, menghentikan gerakan tangannya. Tatapannya turun ke kertas di atas meja, lalu beralih kepada Giska yang duduk di seberangnya.
Brian mengangkat dokumen itu, membaca halaman pertama, lalu membaliknya. Ekspresinya nyaris tidak berubah ketika menemukan nama mereka tercetak berdampingan di bagian atas.
“Kamu membawa ini ke sini?” tanya Brian melihat sekelilingnya. Pasalnya, mereka kini berada di acara keluarga.
Giska mengangguk. “Aku sudah mengirimkan salinannya kepadamu minggu lalu.”
Brian meletakkan dokumen itu kembali ke meja. “Kita bisa membicarakannya nanti, Giska.”
Kalimat itu.
Kalimat yang sama yang selalu digunakan Brian selama empat tahun terakhir, sejak setahun setelah pernikahan mereka dia diangkat menjadi Direktur Pelaksana perusahaan keluarganya.
Nanti setelah rapat, nanti setelah urusan kantor selesai, nanti setelah akhir pekan yang seharusnya mereka habiskan bersama kembali dibatalkan.
Awalnya, Giska memahami kesibukan itu. Dia tahu Brian memikul tanggung jawab besar sebagai pewaris keluarga. Namun, lima tahun pernikahan telah mengajarinya bahwa selalu ada sesuatu yang lebih penting daripada dirinya.
Selalu ada sesuatu yang harus diselesaikan Brian sebelum mereka bisa membicarakan pernikahan sendiri.
Giska menarik napas pelan. “Aku tidak mau menundanya lagi.”
“Setidaknya bisa nanti setelah—”
“Setelah apa?” potong Giska, suaranya masih terkendali. “Mencari waktu luang di jadwalmu?“
Brian terdiam.
“Kenapa tidak pernah membelaku di depan keluarga besarmu kapan kita akan memiliki anak?” ujar Giska menghela, rambutnya yang ia kibaskan sengaja ia tutup ke wajahnya yang kini memerah.
Tadi, sebelum mereka menginjakkan ke acara keluarga besar yang selalu dihadiri di akhir pekan. Makanan yang dihidangkan adalah pertanyaan kapan mereka memiliki anak.
“Aku cuma ingin tahu apakah kita menginginkan masa depan yang sama. Kamu sendiri tidak bisa menjawabnya kan?”
Tutur katanya Giska biarkan gemetar.
Giska sebenarnya tidak ingin mempermalukan Brian di depan keluarga mereka. Dia pernah membela Brian di depan orang tuanya sendiri, perkara penundaan anak yang akan mereka miliki. Masalahnya, pria itu enggan membahasnya.
Apalagi, setiap kali dia membutuhkan Brian, selalu ada alasan yang masuk akal untuk ketidakhadiran laki-laki itu.
Jadi ketika ia mendapati celah bahwa pria itu tengah sendiri di acara makan keluarga di akhir pekan. Giska mendesaknya dalam tempat yang genting.
Karena, setiap kali mereka membicarakan hubungan berdua, Brian selalu meminta waktu. Giska tidak tahu lagi bagaimana caranya membuat Brian mengerti bahwa kali ini dia sungguh-sungguh.
Brian menatapnya cukup lama. “Kamu benar-benar ingin berpisah?”
Pertanyaan itu nyaris membuat Giska tertawa. Bukan karena lucu, melainkan karena Brian masih perlu menanyakannya setelah semua yang terjadi. Setelah kesepian yang Giska temani.
Dulu, dia akan menunggu Brian pulang, menanyakan alasan keterlambatannya, lalu kecewa ketika mendengar jawaban yang hampir selalu sama.
Dia akan mengingatkan Brian tentang janji makan malam mereka, tentang akhir pekan yang sudah direncanakan, tentang handuk yang ia biarkan basah di kasur, bagaimana keinginan memiliki anak yang enggan ia bahas, atau, keinginannya kembali bekerja.
Sekarang, dia bahkan tidak lagi berharap Brian mengingatnya. Terlalu lama jika hubungan ini salah.
“Aku sudah memikirkannya baik-baik,” lanjut Giska. “Aku tidak ingin terus menjalani pernikahan seperti ini.”
Brian melepaskan kacamatanya. Untuk sesaat, dia tampak hendak mengatakan sesuatu. Namun, ketika matanya kembali tertuju pada dokumen itu, dia justru mengambil pena yang tergeletak di sampingnya.
“Kalau ini memang keputusanmu,” katanya pelan, “aku tidak akan memaksamu bertahan.”
Brian membubuhkan tanda tangan pada kolom yang telah disediakan. Setelah selesai, dia meletakkan pena dan menggeser dokumen itu kembali kepada Giska.
“Kabari aku kapan persidangan pertama.”
Anehnya, justru itu yang membuat dada Giska terasa sesak.
Dia pernah membayangkan berbagai kemungkinan ketika Brian akhirnya bersedia membicarakan perceraian mereka. Dia pernah membayangkan pria itu akan marah, menolak, atau setidaknya berusaha mempertahankan hubungan mereka. Dan alasan sekecil apapun yang akan mempertahankan alasan dibalik kesepian yang Giska alami.
Namun, Brian hanya menandatangani selembar kertas.
Tanpa pamit, Giska meraih kertas yang sudah ia berikan. Lalu melenggang pergi tanpa pamit dari keluarga besar Brian.
Sebelum Giska membuka ponsel, klakson mobil menyadarkannya. Di seberangnya, pria itu sudah di mobil.
“Rumah kita masih sama, Giska.” ujarnya setengah memekik. “Naik.”
Giska ingin menolak. Namun, barang-barangnya memang masih di dalam rumah yang sama. Akhirnya, dia masuk ke kursi penumpang tanpa berkata apa-apa.
Mobil bergerak meninggalkan kediaman keluarga besar Brian. Beberapa menit pertama berlalu dalam keheningan. Lampu jalan memantul di kaca jendela, sementara Giska menatap gedung-gedung yang lewat tanpa benar-benar memperhatikannya.
“Aku minta maaf jika pernikahan ini menyakitimu.” Brian menghembuskan napas. “Aku tidak pernah berniat membuatmu merasa seperti ini.”
Giska kembali menatap jalan. “Bukankah selama ini kamu yang tidak pernah menjelaskan apapun?”
“Kenapa kamu bicara seolah-olah aku tidak pernah berusaha?” Rahang pria itu mengeras.
“Karena aku tidak bisa terus hidup hanya dari usahamu yang tidak pernah sampai.”
Jawaban itu mampu membuat jari-jari Brian mengencang pada kemudi. “Aku bekerja untuk perusahaan, Giska. Bukan karena aku ingin mengabaikanmu. Kamu tahu bagaimana beban keluargaku mempercayakan tanggung jawab itu kepadaku.”
Dulu, Giska akan berusaha menjelaskan lebih jauh. Sekarang, dia membiarkan keheningan itu tinggal di antara mereka. Dia tidak ingin lagi membuktikan bahwa kebutuhannya layak dipenuhi.
Sebuah cahaya menyilaukan muncul dari sisi kanan. Brian membanting setir, tetapi benturan keras menghantam mobil mereka.
BRAK!
Ketika Giska membuka mata, cahaya putih menyilaukan pandangannya. Suara sirene meraung di telinganya. Dia terbaring di dalam ambulans, dengan seorang perawat memintanya untuk tidak bergerak.
“Brian?”
Dia menoleh dengan susah payah. Di tandu sebelahnya, Brian terbaring dengan darah di pelipis dan kemejanya. Giska berusaha meraih tangannya, mengabaikan rasa sakit yang menjalar dari bahunya.
Beberapa detik kemudian, Brian bergerak. Kelopak matanya terbuka perlahan sebelum tatapannya menemukan wajah Giska.
“Istriku?”
Brian justru berusaha meraih tangannya lebih erat. “Kamu yang tidak apa-apa? Kepalamu sakit?”
Giska membeku.
Ada kekhawatiran dalam suara itu, begitu akrab sekaligus begitu asing setelah bertahun-tahun dia terbiasa menghadapi semuanya sendirian.
Brian mengamati sekeliling dengan bingung. “Kenapa kita ada di ambulans?”
“Kita mengalami kecelakaan.”
“Kecelakaan?” Brian mengulang pelan, lalu kembali menatapnya. “Istriku, kamu yakin tidak terluka?”
Giska tidak sanggup menjawab. Panggilan itu sudah lama tidak terdengar dari bibir Brian.
“Brian,” bisiknya, “kamu ingat apa yang terjadi sebelum kecelakaan?”
Brian mengernyit. “Kita pulang dari makan malam, kan?”
Dia mengusap punggung tangan Giska dengan ibu jarinya, persis seperti yang biasa dilakukannya pada awal pernikahan mereka.
“Kepalamu sakit sayang?”
Pria itu… tidak ingat apapun?
“Aku cuma mau kehadiran kamu.”Brian mengangkat wajah, menanti penjelasan kalimat singkat itu.Giska menerawang lurus, sebisa mungkin menghindari tatapan suaminya. “Ketika aku mengajakmu makan malam, aku ingin kita benar-benar makan malam. Ketika aku bilang aku sedang punya masalah, aku ingin kamu mendengarkan sebelum memutuskan bahwa masalah itu bisa menunggu. Ketika keluargamu bertanya tentang anak, aku ingin kamu berdiri di sampingku dan menjelaskan bahwa itu urusan kita berdua.” Suaranya mulai bergetar, tetapi gadis itu tetap melanjutkan ucapan yang telah lama terpendam.“Aku tidak mau terus menjawab pertanyaan mereka sendirian. Aku tidak mau terus menebak-nebak apa yang sebenarnya kamu pikirkan. Dan aku tidak mau menghabiskan sisa hidupku dengan menunggu kamu punya waktu untuk menjadi suamiku.”Laki-laki yang kini duduk di sofa itu menunduk. Untuk pertama kalinya sejak menemukan dokumen itu, ia kehabisan kata-kata. “Aku tidak tahu kalau kamu merasa seperti itu,” ucapnya dengan pe
“Kesepakatan perceraian?”Brian membaca ulang tulisan di tangannya seolah-olah dengan membacanya sekali lagi, kalimat itu akan berubah menjadi sesuatu yang lebih masuk akal. Ia membalik halaman pertama, lalu kembali ke halaman sebelumnya. Brian Kaleandra. Nama lengkapnya tercetak jelas di sana. Begitu pula nama Giska Anastasia, tanggal penyusunan dokumen, dan tanda tangan yang tampak sangat dikenalnya.Itu tanda tangannya sendiri. Brian mengangkat wajah, mengulang pertanyaan yang sama. “Giska, ini maksudnya apa?”Giska berdiri beberapa langkah dari Brian dengan tas yang masih tersampir di bahu. Wajahnya mendadak pucat seperti seseorang yang baru menyadari bahwa pintu yang selama ini berusaha ditahannya akhirnya terbuka juga. “Letakkan kembali,” ucapnya dengan tatapan datar.Laki-laki itu menyela dengan cepat, tetapi tetap dengan nada rendah. “Jawab pertanyaanku dulu, Giska.”Giska hanya mampu menghela napas berat. “Brian, kamu baru pulang dari rumah sakit.”“Aku tahu.” Laki-laki yang
Giska terbangun lebih awal daripada biasanya. Bukan karena dia ingin menyiapkan sarapan untuk pria yang tak pernah menyentuh makanannya lagi, melainkan karena sejak semalam dia belum menemukan cara untuk menjalani hari-hari berikutnya tanpa membuat keadaan semakin rumit.Di meja makan, dua piring sudah tertata. Segelas air putih dan obat-obatan Brian diletakkan di sampingnya, sesuai instruksi dokter. Giska baru saja hendak membawa cangkir kopinya ke ruang tengah ketika suara langkah terdengar dari arah kamar.“Pagi, istriku.”Giska menoleh.Istriku?Tangan Giska yang tengah menuangkan air berhenti sejenak. Sapaan itu masih terdengar asing di telinganya, terlebih setelah sekian lama dia terbiasa mendengar Brian hanya mengucapkan hal-hal seperlunya sebelum berangkat kerja.Brian menarik kursi, lalu duduk di meja makan. Dia memperhatikan hidangan di hadapannya sebelum menoleh kepada Giska yang masih berdiri di dekat meja dapur.Brian melirik kursi kosong di seberangnya. “Kamu nggak iku
Benar. Sebelum berangkat ke acara keluarga Brian, dia memang sudah membawa sebagian besar barang pribadinya keluar dari rumah. Surat cerai yang dia bawa pun masih tersimpan di dalam tas.Sekarang semua rencana itu berantakan.“Aku belum sempat mengembalikannya,” jawab Giska akhirnya.Brian mengernyit bingung. “Mengembalikan?”“Ke rumah orang tuaku.” kata Giska menggigit bibirnya.“Kenapa?”Giska menoleh. “Karena aku pikir kita akan lebih sering tinggal di sana.”Jawaban itu membuat Brian diam beberapa saat. Dia seperti mencoba mencari sesuatu dari wajah istrinya, tetapi tidak menemukan apa-apa.Kemudian pandangannya turun ke jemari Giska. “Cincin kamu kemana?”Giska refleks menyembunyikan tangan kirinya di belakang tubuh. Terlambat. Brian sudah melihat jari manisnya yang kosong.“Kamu lepas?”Giska menelan ludah. “A–aku– Cincinnya sedang disimpan.”Pertanyaan itu sederhana. Namun, justru itulah yang membuat Giska kesulitan menjawab.Karena cincin itu sudah dia lepaskan beberapa hari






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.