LOGIN“Kenapa kamu sudah bebas?” tanya Aliman.Aliman tahu, seharusnya Gavin masih dikurung di dalam penjara menerima hukuman akibat apa yang dia lakukan.Sebenarnya Gavin juga tampak terkejut melihat Andira menggendong anak. Dia tahu kapan Andira menikah, tapi dia ingin bertanya tentu saja takut.“Aku mendapat keringanan dan membayar,” jawab Gavin pelan.“Ini bukan rumahmu, untuk apa kau pulang kesini?”“Aku minta maaf dan ingin memulai semuanya dari awal. Aku tahu aku salah, tidak seharusnya aku meninggalkan Andira saat pernikahan. Aku sudah menyadari kesalahanku.”Sedangkan Dira hanya diam, sedikitpun dia tidak ingin melihat lagi wajah Gavin. Dan dia tidak akan pernah mengenalkan kepada Sandi siapa ayah kandungnya. Biarlah yang Sandi tahu kalau ayahnya adalah Hasan.“Mas Hasan, ayo ke kamar,” ujar Dira memanggil Hasan.Hasan bingung, dia menatap Indra dan Aliman bergantian. Dia sekarang tahu siapa lelaki itu, sudah pasti itu Gavin. Lelaki yang telah meninggalkan Dira dan membuat keluarg
“Kamu malu gak punya mertua kayak gitu?” tanya Salsa kepada Indra.Indra menggeleng. “Ngapain malu.”“Kamu berasal dari keluarga yang jelas asal usulnya. Memiliki seorang ayah dokter dan berpengaruh, sedangkan aku? Papa hanya terkenal sebagai orang jahat,” jawab Salsa.Indra meraih tangan Salsa dan mengecupnya lembut. “Kamu kayak gak tau bagaimana perjuanganku mencari orang tua.”“Tapi, sekarang sudah ketemu. Dan aku yang tidak ada habisnya, hilang bertahun-tahun tanpa gangguan. Dan saat Papa ada merasa bakal dapat keuntungan dariku, dia akan muncul lagi.”“Jangan dipikirkan.”Keduanya kembali ke rumah, untuk hari ini Indra masih akan beristirahat di rumah. Besok, dia baru akan kembali ke kantor dengan segala permasalahan yang menanti.“Loh, mana Juna? Dirawat?” tanya Dira khawatir saat melihat Juna tidak ikut pulang.“Dia mau sama kakeknya, dia baru lihat kalau Papa itu dokter,” jawab Indra.“Jadi, tadi Papa langsung yang periksa dia?”“Iya. Dan Juna baru tahu kalau kakeknya dokter,
"Junaa!" "Sayang, Juna kenapa?" tanya Salsa yang segera menyusul Indra keluar kamar.Sementara Indra berlari menuruni tangga."Papa... Huuuu!"Juna terpeleset dan jatuh dari tangga. Wajah mungil itu menangis."Nak..." Indra langsung memeluk Juna dan memeriksa kepalanya, juga seluruh tubuhnya.Untungnya tidak ada yang luka."Bawa ke rumah sakit, Sayang. Kita periksa," ujar Salsa yang juga sudah tiba di bawah dengan air mata mengalir deras."Ini rusak..." ujar Juna menunjukkan burung dari kertas origami yang mau dia berikan kepada orang tuanya."Gapapa, Sayang.""Ini untuk Papa dan Mama."Indra kembali memeluk Juna, anaknya telah menyiapkan kado spesial yang dibuat oleh tangannya sendiri.Salsa dan Indra menerima hadiah itu dari Juna. Memang, hanya sebuah hadiah sederhana, tapi nilainya sangat berharga. "Terima kasih, Nak. Ini masih terlihat bagus kok. Mama suka," jawab Salsa."Nanti Juna buat lagi deh."Juna sudah tidak lagi menangis, ternyata tangisannya karena burung yang telah dia
“Salsa, tidak ada seorang ayah pun yang mau membuat anaknya menderita!” teriak Andy Marigo marah.“Oh ya?”“Kamu tidak mau percaya dengan Papa. Setiap ayah, ingin anaknya mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Kamu tidak mengerti dengan jalan pikiran Papa.”Salsa tersenyum kecut. “Kalau begitu, jangan campuri rumah tanggaku dengan Indra. Aku bahagia, bahkan sangat bahagia. Seperti yang Papa katakan, hanya ingin aku bahagia. Sekarang aku katakan, aku sudah bahagia.”Andy Marigo tidak menyerah. “Dengan suami mata keranjang kamu bahagia? Jangan membohongi dirimu sendiri, Salsa.”“Terserah kalau Papa tidak percaya.”Salsa berbalik meninggalkan sang ayah yang tampak mengepalkan tangannya.“Salsa, jangan menyesal!”“Tidak, aku tidak akan menyesal, Pa. Maaf,” jawab Salsa yang kembali menoleh ke belakang menatap sang ayah dengan pandangan tegas dan yakin.“Dia menerima kamu apa adanya, dia akan memberikan modal yang besar pada perusahaan Papa. Sekarang, saatnya kamu yang berbakti kepada Papa
“Siapa kamu?” tanya Leo kesal.“Vito.”“Saya tidak perlu nama! Untuk apa kamu kemari?”Vito duduk di hadapan Leo dengan santai. “Hanya ingin memberitahu kalau kamu tidak bisa lari kemana-mana.”“Apa maksudnya?”“Kamu salah pilih lawan, sebenarnya Indra dan Salsa ingin menghabisi kamu dengan tangannya sendiri. Tapi, jangan sampai mereka mengotori tangannya, biar aku saja,” jawab Vito.Bught!Dengan satu kali tendangan, Leo tersungkur di lantai.“Kau tahu siapa yang kau usik? Kau salah pilih lawan!”“Kau suruhan Indra?”“Itu tidak penting, sekarang nikmati saja.”Kembali lagi Vito menghajar Leo. Darah segar mengalir di sudut bibir Leo, anak buahnya ternyata tidak mampu menghadapi Vito. Hanya Vito seorang diri, mereka sudah babak belur.“Masuk!” teriak Vito setelah dia puas menghajar Leo dan memotretnya lalu dikirimkan kepada Aliman.Dua orang polisi masuk dan langsung meringkus Leo dan kedua anak buahnya. Tanpa adanya perlawan, Leo benar-benar kalah.“Beres satu,” ujar Vito sambil menge
“Ehm, jadi kakek tukang sapu ya?”Ternyata Aliman sudah berada di dalam ruangan rawat Salsa dan Indra. Sontak saja itu membuat Salsa dan Indra tergelak.“Kakek, Juna mau es cream.”Sekarang, Juna tahu tempatnya dia merengek minta es cream ke kakeknya. Dia pikir kalau menunggu Amara datang siang nanti pastinya akan lama. Dan kebetulan Aliman datang.Juna seolah tidak merasa bersalah telah salah mengira sang kakek.“Mau apa?” tanya Aliman yang kini sudah menggendong cucunya.Kehadiran Juna dalam hidup Aliman benar-benar membuat warna baru. Dia yang kehilangan cinta sejatinya dalam pernikahan yang bahkan tidak sampai seumur jagung, itu membuatnya bersedih. Tapi, Juna berhasil mengembalikan tawa sang kakek.Indra hanya menggeleng melihat anaknya yang begitu manja kepada Aliman. Dia yakin kalau ibunya melihat dari atas sana, Seva pasti sangat senang.“Es cream.”“Yaudah sebentar lagi kita turun ke bawah cari es cream. Tapi, kakek mau bicara sama papa dulu sebentar ya.”Juna mengangguk.Sal







