LOGIN“Kamu tanya aku?”Salsa berbalik dan malah kembali bertanya kepada Indra dengan mata yang berkaca-kaca. Dia seperti menahan tangisnya.“Iyalah, tanpa kamu jelaskan aku tidak tahu apa masalahmu, Sayang,” jawab Indra mendekat dan membimbing Salsa kembali ke pembaringan.“Kamu tahu apa yang aku maksud, kenapa kamu bertanya lagi padaku?”Indra memegang kepalanya, dia menebak kalau Leo memberitahukan tentang kejadian di mobil itu. Sungguh lelaki itu sangat licik, padahal dia tidak tahu apa-apa. Dia hanya melihat sekilas saja.“Aku tidak melakukan apapun bersama Anes, kami murni melakukan kerjasama. Kami datang dengan mobil terpisah. Tapi, kalau kamu penasaran dengan apa yang aku lakukan di mobil, kemarin aku sempat berhenti di pinggir jalan. Itu saja,” jawab Indra.Salsa menatap Indra tidak percaya kalau suaminya mengakuinya.“Tapi, aku tidak melakukan apapun, Sayang. Tapi, kalau kamu tidak percaya padaku, apa yang bisa aku lakukan?”“Kamu sempat bertemu Leo?” tanya Salsa.“Iya, temanmu it
“Kamu sudah pulang?” tanya Salsa gugup.“Sudah, dan ini Juna mau ngajak ke taman. Tapi, kamu seharian ini ke salon? Tadi aku telepon kamu gak bisa-bisa. Kenapa ponselnya dimatikan?”Indra menjawab pertanyaan Salsa juga dengan sebuah pertanyaan. Meskipun Juna sudah tidak sabar ingin segera ke taman, tapi dia masih penasaran melihat penampilan Salsa.“Ah, ini aku—““Sayang, kamu kok kayak gak dari salon? Apa aku yang salah lihat?” tanya Indra memotong ucapan Salsa.“Aku tadi bertemu teman, jadi malah lupa ke salonnya,” jawab Salsa dengan cepat.“Siapa?”“Sintya, temanku waktu kecil dulu. Gak sengaja saat antri di salon, akhirnya kami mencari tempat nongkrong,” jawab Salsa.“Kamu banyak bertemu teman lama ya akhir-akhir ini.”Indra akhirnya berpamitan meninggalkan rumah, sebab Juna dan Amara sudah duduk menunggu di mobil. Keduanya sudah tidak sabar untuk pergi ke taman.“Let’s goo,” ujar Indra setelah duduk dibalik kemudi.“Kak Indra, aku titip makanan ya!” teriak Dira dari dalam dengan
Salsa memejamkan matanya."Tapi...""Apa yang kamu pikirkan, Salsa? Mana ada lelaki yang tidak tertarik dengan perempuan yang datang menyerahkan dirinya dengan sukarela?"Pertanyaan itu, benar-benar menghantam pertahanan Salsa. Perlahan, kata-kata menyusup ke dalam hatinya dan menggoyahkan pertahanannya.Leo memanfaatkan kesempatan itu, saat Salsa berada dalam ambang keraguan, Leo langsung naik ke atas tubuh Salsa dan mengarahkan miliknya masuk ke dalam lubang kenikmatan Salsa.Blussh!Sebuah benda tumpul masuk menembus pertahanan Salsa. "Ahhh..." rintih Salsa mendapatkan serangan secara tiba-tiba itu.Benda yang besar dan panjang itu kemudian bergerak menekan lebih dalam dan semakin dalam membuat Salsa akhirnya mendesah dan menikmati setiap gerakan Leo.Dan jujur, Salsa merasakan milik Leo lebih besar dan panjang daripada milik Indra. Apalagi gerakan Leo tampak tergesa-gesa, semakin membuat Salsa tidak tahan.Tangannya mencengkram bahu Leo."Ah Leo... Kenapa ini nikmat sekali?""Ka
“Aku mau melihat rekaman kamera yang kamu katakan itu,” ujar Salsa mencoba menolak.“Santai, Salsa. Aku punya dua rekamannya. Satu yang dari ponselku dan satunya dari dashcam.”“Tapi, apa kamu yakin itu Indra?” tanya Salsa.“Aku awalnya hanya merasa terganggu dengan yang mereka lakukan di pinggir jalan. Untuk apa punya mobil bagus kalau hotel aja tidak mampu sewa hanya untuk menuntaskan hasrat,” jawab Leo.Akhirnya Salsa mengikuti Leo berkeliling villa itu, menikmati hamparan daun teh yang menghijau sepanjang mata memandang.Angin yang berembus menerbangkan rambut Salsa yang panjang sebahu. Dia begitu menyukai tempat ini, apalagi ketika angin yang datang membelai wajahnya.“Kamu suka?” tanya Leo memeluknya dari belakang.Salsa terkejut, dia ingin berontak, tapi Leo memeluknya begitu erat dan berbisik di telinganya. “Kenapa? Apa kamu pikir Indra sangat setia padamu?”Salsa tersentak, dia terbuai dengan begitu mudah percaya dengan ucapan Leo, sehingga akhirnya dia membiarkan Leo mengera
"Beneran ini mobil Indra?"Salsa bergumam, berkali-kali video yang dikirimkan Leo itu diputarnya. Dan dia yakin itu video asli, bukan editan ataupun hasil AI."[Itu aku rekam tadi siang, ketika aku mau menuju resto Suasana Alam Kampung.]"Kembali pesan dari Leo masuk, dan apa yang Leo katakan itu membuat Salsa menahan nafasnya.Tadi siang, Indra memang janjian bertemu temannya disana. "Apakah artinya Indra dan temannya bermain di mobil?"Salsa tidak bisa tidur. Ini benar-benar membuatnya kepikiran. Kalau sudah melihat ini, apa dia akan tetap berpikir positif? Rasanya sulit sekali.Apalagi, Indra tadi siang tidak bisa ikut menonton hanya karena alasannya temannya ribet."Ribet atau tanggung?" tanya Salsa.Hingga tidak berapa lama, terdengar suara langkah kaki mendekat. Salsa segera menyimpan ponselnya dan menarik selimut. Dia pura-pura sudah tidur.Kriet!Indra masuk ke kamar. Dia heran dengan lampu yang belum dimatikan, sedangkan Salsa sudah tidur di balik selimutnya."Capek banget
Salsa dan Indra kini berada di dalam kamar, keduanya saling berdiam diri dan duduk saling berjauhan.“Sayang, aku tidak bohong. Aku tidak menggoda Selira,” ujar Indra menatap sang istri dengan penuh harapan.“Tapi, kenapa kamu gak cerita? Kenapa kamu mengambil inisiatif untuk memecatnya dan memberikannya uang?” tanya Salsa.Indra memegang kepalanya. “Sudah aku katakan, aku ingin dia segera pergi dari sini, Sayang. Dan aku tidak cerita ke kamu, karena aku buru-buru akan pergi. Bukan tidak mau cerita, tapi belum sempat.”Salsa menatap Indra, seperti biasanya, tidak ada kebohongan di mata itu. Tapi, dia menjadi sedikit ragu. Sebab, waktu Indra dari desa yang katanya dia terjebak karena mobilnya macet, Salsa menemukan satu buah tanda merah yang agak samar di leher Indra.Sejak saat itu, Salsa selalu merasa curiga kalau Indra menduakannya.Tapi, hari ini juga ada kesaksian dari Bi Inah, tidak mungkin wanita paruh baya itu berbohong. Apalagi Bi Inah memiliki beberapa video tentang Selira. D







