LOGINLep!Semua lampu padam. Dan Dira baru menyadari kalau saat ini di restoran ruangan VIP itu hanya mereka berdua."Ini ada apa?" tanya Dira.Dan kemudian lampu perlahan menyala dengan cahaya yang tidak terlalu terang atau remang-remang diiringi dengan nyanyian lagu romantis.Semua orang terdiam, menunggu momen apa yang akan terjadi, termasuk Indra. Dia tidak tahu apa-apa untuk rencana ini.Hasan berlutut di depan Dira bersamaan dengan lampu kembali menyala."Dira, mungkin waktu kita menikah aku tidak sempat mengungkapkan perasaanku, izinkan sekarang aku menyatakan cinta. Jadilah istri dan ibu untuk anak-anakku selama-lamanya."Dira terharu.Dia tidak bisa menahan air matanya yang siap mengalir. Dira mengangguk dan menerima cincin yang diberikan Hasan.Dira langsung memeluk Hasan dengan erat. "Terima kasih sudah menerima aku apa adanya."Hasan memberikan kecupan lama di kening Dira dan juga Sandi membuat semuanya terharu melihat Hasan yang begitu tulus."Aku jadi malu, sekian lama menik
"Kamu tidak salah," ujar Indra kemudian setelah mendengar semua cerita dari Salsa.Indra tidak menyalahkan Salsa. Bagi Indra, kalau misalnya itu terjadi padanya bisa jadi dia juga akan melakukan hal yang sama dengan Salsa.Hamil anak yang bukan keinginannya pasti juga tidak mudah bagi Salsa."Apakah setelah tahu aku seperti itu, kamu membenciku?" tanya Salsa kepada Indra.Dan Salsa siap menerima apapun yang akan dihadapinya. Kalaupun setelah mendengar ceritanya Indra membencinya, itu adalah konsekuensinya.Dia memang seharusnya menebus semuanya.Indra menggeleng. "Kenapa aku harus membencimu? Itu bukan kesalahanmu. Dan pastinya, apapun yang kamu lakukan itu ada alasannya.""Dan, bukankah sama saja aku seorang pembunuh?""Kamu juga tidak punya pilihan lain, kan?"Salsa menggeleng. Kejadian itu adalah salah satu penyesalan terbesar dalam hidupnya. Dia tidak mau mengungkitnya lagi. Karena bagaimanapun, dia telah menghilangkan harapan anaknya untuk lahir ke dunia ini."Ada pilihan lain ka
“Serunya, menikmati sore dengan mie instan dan mengungkit masa lalu,” ujar Andira sambil mendorong stroller Sandi mendekati ayah dan kakaknya.“Hasan mana?” tanya Indra.“Teler dia,” jawab Andira tertawa.“Kamu apain? Kuat banget kamu, padahal baru juga tiba sudah membuat Hasan teler,” goda Indra.Pletak!Andira menepuk lengan Indra yang membuat Aliman tertawa. Aliman bangga melihat kedekatan anak-anaknya. Dulu, dia sempat mengatur Indra tinggal terpisah, karena takut kalau Andira dan Amara tidak bisa menerima kehadiran Indra.Tapi, sekarang semua kekhawatiran itu lenyap begitu saja. Anak-anaknya begitu dekat,Indra juga selalu menjadi seorang kakak yang selayaknya. Dia melindungi adik-adiknya. Dan ketika Andira diketahui hamil saat itu Indra malah merasa bersalah karena merasa telah abai dalam menjaga Andira.“Emangnya aku apaan. Dia kecapekan tuh nyetir mobil sejauh ini tempat pilihan kak Indra. Sejak semalam dia begadang menyiapkan semua perlengkapan diam-diam jangan sampai aku tahu
“Eh…” Salsa terkejut saat mendengar ada yang memanggil namanya.Sementara Indra dengan cepat berdiri di depan anak dan istrinya, bersiap untuk melindungi mereka dari gangguan luar.Salsa mengernyit saat melihat seorang lelaki paruh baya tersenyum ke arahnya, tapi senyuman itu dia tahu bukanlah senyum tulus. Melainkan senyuman mengejek.“Pa—“ sapa Salsa ragu.“Aku bukan Papamu, tentu saja kau tidak perlu menyapa begitu.”“Hai, pak Limo,” sapa Aliman akhirnya saat melihat kecanggungan dari salsa.“Anda siapa?” tanya lelaki itu heran menatap kearah Aliman.Entah benar-benar tidak kenal atau memang tidak kenal.“Ah, saya hanyalah ayah mertua Salsa yang sekarang. Saya bukan siapa-siapa hanya kebetulan saja pernah melihat wajah Anda di layar televisi jadi kenal. Maafkan atas kelancangan saya.”Indra mengerti, ternyata lelaki itu adalah ayah Rick Limo, atau mantan mertua Salsa. Tapi, mengapa pandangannya kepada Salsa itu tampak seperti mengejek tapi juga ada dendam. Padahal Salsa dan anaknya
“Kak, ayo kita pergi,” ajak Dira segera menarik lengan Indra, untuk menghindari konfrontasi lebih lanjut.Indra menggeleng. “Kakak cum mau tanya, ada masalah apa mereka sama kamu. Sampai nama kamu disebut sebagai contoh. Apa mau akreditasi jurusan ini di cabut?”Dosen yang tadi langsung memucat. “Maaf, Pak. Ini ada kesalahpahaman saja.”“Saya, sejak tadi berdiri disana. Dan saya mendengar semuanya,” jawab Indra.Iya, Indra memang sejak tadi menunggu Andira. Mereka akan segera ke restoran untuk makan bersama, acara selesainya Dira kuliah. Tapi, tadi Dira dipanggil diajak kumpul oleh teman-temannya untuk foto bersama dosen-dosennyaKarena sudah cukup lama menunggu dan Sandi mulai rewel, Indra menyusul Dira kesana, malah mendengar pesan bijak dari dosennya dan menjadikan Andira sebagai contoh.Semua orang tahu apa kesalahan Dira. Dia memiliki hubungan dengan dosennya sendiri. Dan tidak semua orang tahu kalau Dira hamil dari hubungan itu, yang mereka tahu hanya Gavin pergi saat hari perni
"Dira, kamu kok diam aja sih. Kita semua kan penasaran," sambung Rinda lagi.Dira tidak peduli dia tetap duduk di kursinya, bersiap untuk mengikuti acara wisuda. Memang tidak banyak lagi teman-teman seangkatan dengannya yang wisuda saat ini.Karena sudah banyak yang wisuda lebih dulu, dan mungkin kini sudah bekerja."Bayar berapa dapat suami sekaligus pengasuh?" tanya Rinda lagi.Sialnya, Rinda malah duduk di sebelah Dira."Rin, aku tidak ada keharusan berbicara denganmu. Kita tidak akrab, jadi urus saja urusanmu sendiri," jawab Dira."Aku penasaran sih sama anak Pak Gavin.""Itu bukan anak Gavin, jadi kamu tidak perlu penasaran.""Wow, benarkah?"Sejak dulu, semua orang sudah tahu kalau Rinda menyukai Gavin. Dia sering sekali berusaha menarik perhatian Gavin.Apalagi saat di kelas, Rinda akan sangat aktif bertanya bahkan kadang hal yang sudah tahu jawabannya. Tapi, sayangnya semua usahanya itu tidak membuahkan hasil. Gavin malah menyukai Andira.Dan ketika Gavin dan Andira semakin







