Home / Rumah Tangga / Kontrak Pernikahan 365 Hari / 31. Telepon Tak Terduga

Share

31. Telepon Tak Terduga

last update Huling Na-update: 2024-11-09 17:17:06

Derana menatap inisial itu dengan penuh kebingungan, “A?”

Inisial itu bisa berarti banyak hal, tapi yang paling mengganggunya adalah kemungkinan bahwa itu adalah singkatan dari nama seseorang yang sangat ia kenal, pikirannya langsung melayang ke beberapa nama.

“Arash?” Dia terkekeh, “Tidak mungkin.”

Tapi bagaimana jika itu adalah pesan dari seseorang yang ingin memperingatkannya tentang Arash? Atau mungkin itu adalah nama seseorang yang terlibat dalam rencana besar?

Derana mencoba mengabaikan pikiran itu, lalu menghela napas sembari melipat surat tersebut kembali, mungkin terlalu banyak risiko jika Arash mengetahui apa yang baru saja ditemukannya.

“Derana.”

Suara itu membuatnya tersentak. Derana berbalik dan refleks menyembunyikan benda itu di belakang tubuhnya. Senyum tipis terpatri di wajahnya, berusaha tenang menutupi kegugupannya.

Sementara itu, Arash berdiri sembari menggaruk tengkuknya, sebuah kebiasaan yang selalu muncul saat ia merasa tidak nyaman.

“Kamu sedang sibuk, ya?”
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Kontrak Pernikahan 365 Hari   40. Titik Didih

    Udara di koridor itu seolah membeku, terperangkap dalam ruang hampa di mana hanya suara detak jantung Derana yang terdengar—cepat, berisik, dan memuakkan. Moncong hitam pistol di tangannya tidak lagi bergetar. Logam dingin itu kini terasa hangat, seolah menyerap api amarah yang menjalar dari pembuluh darahnya.Haka terpaku. Senyum menyeringai yang tadinya menghiasi wajahnya kini melorot, digantikan oleh kerutan sanksi yang perlahan berubah menjadi horor. Ia menelan ludah, jakunnya naik-turun dengan susah payah.“Kau tidak akan berani, Derana,” suara Haka pecah, mencoba memungut sisa-sisa keberaniannya. “Kau hanyalah gadis kecil yang menangis saat aku membunuh kecoa. Kau tidak punya nyali untuk menembak manusia.”Derana tidak berkedip. Matanya yang dingin menatap tepat ke dalam pupil mata Haka yang mulai mengecil karena ketakutan. “Kau benar, Haka. Aku tidak akan menembak manusia,” bisik Derana, suaranya halus namun tajam seperti silet. “Aku hanya akan membuang sampah ke tempatnya.”Di

  • Kontrak Pernikahan 365 Hari   39. Retakan di Atas Kaca

    Ujung jemari Derana memutih, mencengkeram tas kulitnya begitu erat hingga buku-buku jarinya menonjol. Napasnya memburu, meninggalkan uap tipis yang segera menghilang di udara dingin lorong apartemen yang remang. Setiap langkah kakinya yang gemetar terasa seperti berjalan di atas hamparan pecahan kaca—tajam, menyakitkan, dan siap menghancurkannya kapan saja.Di ujung koridor, bayangan pria berjaket hitam tampak berdiri diam seperti malaikat maut yang menunggu mangsa. Derana membeku, ia tahu pria itu bukan penjaga keamanan. Tatapan pria itu terkunci pada wajahnya, dingin tanpa emosi, persis seperti foto target yang baru saja Haka lemparkan di meja eksekusi.Derana berbalik, hendak lari menuju lift, namun jantungnya nyaris melompat keluar saat sebuah tangan kekar tiba-tiba menyambar bahunya. Sebelum ia sempat berteriak, tubuhnya ditarik paksa masuk ke dalam sebuah unit apartemen yang pintunya terbuka sedikit.“Diam jika kau masih ingin melihat matahari esok pagi,” bisikan itu rendah, ser

  • Kontrak Pernikahan 365 Hari   38. Rahasia Haka

    “Kamu akan berakhir sama seperti ayahmu.”“Takdirmu ada di tanganku,”Dalam diam, Haka berjanji pada dirinya sendiri. Dendamnya menguar begitu pekat, dengan kegetiran yang tak terucapkan, hingga terasa menguasai setiap helaan napas di sekitarnya.Ia menyeringai, mengingat setiap penghinaan yang pernah diterimanya di masa lalu yang mendorongnya untuk bertindak berani. Ia membayangkan bagaimana hidupnya telah berubah setelah balas dendamnya terwujud—meski begitu, bayangan gelap itu selalu mengikutinya, tak pernah memberinya kedamaian.Pada waktu itu, saat dirinya berdiri di ruang tamu yang megah, Haka memerintahkan pembantu rumah tangganya dengan suara tegas.“Suguhkan teh ini untuk ayah!” Pembantu itu, tanpa curiga, mengambil cangkir teh yang telah disiapkan Haka dengan hati-hati. Teh itu bukan sekadar teh biasa; di dalamnya, Haka telah mencampurkan sesuatu yang mematikan.Haka menyaksikan dengan puas saat ayah Derana menerima cangkir teh itu dengan senyum ramah, tidak menyadari baha

  • Kontrak Pernikahan 365 Hari   37. Kenyataan Dalam Kenyataan

    “Ternyata selama ini...” Sembari membekap mulut, Derana berlari sekuat yang dia bisa. Ketika kenyataan pahit itu menghantamnya. Namun, yang lebih menyakitkan adalah ketika kenyataan itu datang untuk kedua kalinya, menghancurkan sisa-sisa harapan yang masih tersisa. Hatinya yang sudah retak kini hancur berkeping-keping, seolah tak ada lagi yang bisa diselamatkan. “Aku hidup dengan pembohong?” pikirnya, tak percaya dengan kenyataan yang baru saja terungkap. Selama ini, orang yang ia percayai dan cintai ternyata adalah sumber dari semua kesulitan yang ia alami. Bagaimana mungkin ia bisa begitu buta? Bagaimana mungkin ia tidak melihat tanda-tanda pengkhianatan itu? Kini, ia harus menghadapi kenyataan pahit bahwa musuh terbesarnya adalah orang yang paling dekat dengannya.Tidak ada alasan lagi untuk dirinya tinggal bersama pembohong itu. Semua kepercayaan telah hancur, dan setiap kenangan manis kini terasa pahit. Tanpa berpikir panjang, ia memutuskan untuk pergi“Ya! Teror yang selama i

  • Kontrak Pernikahan 365 Hari   36. Pengakuan

    Derana ingin berteriak, namun suaranya tertahan di tenggorokan, hanya menghasilkan suara gemuruh yang nyaris tak terdengar. Panik mulai merayapi dirinya, jantungnya berdetak semakin cepat.Dengan sekuat tenaga, Derana berusaha melepaskan diri. Ia menggeliat dan meronta, menggunakan seluruh kekuatannya untuk melawan cengkeraman yang menahannya. Akhirnya, ia berhasil melepaskan diri dan berbalik badan dengan cepat. Tatapan matanya langsung berkaca-kaca saat melihat sosok di depannya.“Arash,” Satu tetes air matanya jatuh, mengalir perlahan di pipinya. Derana tertangkap basah. Namun, alih-alih merasa takut, perasaan kalut menguasai hatinya. Mereka saling menatap dalam kebisuan, membiarkan mata mereka berbicara lebih banyak daripada kata-kata yang bisa diucapkan. Derana bisa melihat keterkejutan serta kekhawatiran melalui pantulan bening lelaki itu. Keheningan yang mencekam menyelimuti keduanya, seolah waktu ikut berhenti sejenak.Namun setelahnya, isak tangis sang wanita yang memecah su

  • Kontrak Pernikahan 365 Hari   35. Lorong Rahasia

    Gelapnya malam perlahan-lahan tersingkir oleh cahaya keemasan yang menyebar dari timur. Matahari bergerak cepat di langit, dan sebelum menyadarinya, senja tiba dengan warna-warna indahnya.Hari itu berlalu dalam kabut kelelahan. Ketika akhirnya matahari mulai tenggelam, Derana merasa seperti pelaut yang akhirnya melihat daratan setelah berhari-hari terombang-ambing di lautan.Langkah kaki lelah itu menggema di koridor kantor, suasana sepi semakin terasa saat dirinya tiba di basement. Hanya beberapa mobil yang tersisa, berjejer seperti saksi bisu dari hiruk-pikuk hari yang telah berlalu. Keheningan malam menyelimuti tempat itu, membuat setiap suara kecil terdengar jelas dan menggema di ruang kosong.Degh.Langkahnya terhenti, seiring dengan detak jantungnya yang mengikuti. Spontan, derap langkahnya pun memantul di dinding beton—mengundang langkah kaki lain juga ikut terhenti, seolah pemiliknya mendengar dan merespons kehadirannya—dia sigap menoleh. Dua figur itu membuat Derana berdiri

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status