Share

Pengalihan yang Baik

last update Terakhir Diperbarui: 2022-04-04 15:21:53

Jangan bertanya pada Dani apa yang terjadi selanjutnya. Dia sangat ingin membersihkan sebagian otaknya yang dicemari. Memori bodoh yang terus diputar pikirannya setiap pijakan kaki ke rumah. 

Berengsek. Berengsek. Berengsek. 

"Lain kali aku akan menghindarinya.  Ini benar-benar terlalu banyak!" 

Umpatan Dani berakhir ketika ponselnya berbunyi. Bunyi yang beda dengan dering panggilan Dera. Dani merogoh sakunya, mulai menjawab. 

"Mobil plat nomor M 3387 akan tiba di hadapanmu sepuluh menit lagi. Pastikan kau masuk dan antar barang bawaannya dengan aman."

Sambungan langsung terputus begitu kalimat itu tiba di ujungnya. Dani merasa ada hawa bagus mengelilinginya. Napasnya kembali teratur dan serius. 

Ini pengalihan yang amat baik. 

Tepat di menit ke sepuluh, mobil itu berhenti di samping Dani. Pintunya dibuka, Dani segera masuk dan duduk. Melihat dua orang bersamanya, dua lagi di depan. Menunduk, Dani menemukan empat tumput paket narkoba yang siap diantar. 

Sesekali ini pekerjaan sampingan Darto ketika dia tergiur bayarannya. Pasang tarif selangit, barangmu akan sampai tanpa rintangan. Bahkan imigrasi bandara dapat dikecoh dengan mudah. Keempat orang ini jelas tahu bagaimana mengelabui petugas. 

"Berikan si kecil itu pistolmu." Si sopir memerintah orang berkepala plontos di samping Dani. Dia melirik Dani sekilas, mempertimbangkannya. 

"Tapi tidak ada pistol cadangan, Bos."

"Ya, aku tahu. Makanya berikan punyamu padanya." Nadanya meninggi. Kontras dengan mobil yang berjalan lambat, memasuki area pabrik. 

Si botak tidak membantah lagi. Menyerahkan pistol satu-satunya pada Dani. 

"Tidak. Aku membawanya." Dani mengangkat sedikit celananya, memperlihatkan pisau yang melilit di betis. 

Si bos yang melihat itu menggedikkan bahu. "Terserah." 

Dua anak buah di samping Dani menatap sangsi melihat pisau bergerigi di betis Dani yang kini sudah berpindah ke tangannya. 

Mana bisa hanya membawa pisau? 

Tetapi mereka juga tidak menghiraukan. Itu urusan pribadi masing-masing. 

Mobil berbelok ke kanan, lalu berjalan lurus menuju tanah lapang yang juga ada satu mobil dengan lampu menyorot terang. Dua orang berdiri di depan mobil itu, membawa uang mereka sebagai pertukaran.

Dani dan kelompoknya meloncat turun, menaruh empat paket narkoba itu di kap mobil depan. Si bos dan salah satu dari mereka maju, berbicara serius terkait pertukaran yang sudah dijanjikan. 

Meski ini 'hanya' mengantar narkoba milik orang, tidak ada yang tahu jika salah satunya akan berbuat curang atau ingin memiliki semuanya dan bertindak ceroboh. Itu kenapa Dani ada di sini sekarang. 

Memastikan paketnya aman, uangnya juga. 

Dani melihat pembicaraan itu berjalan alot. Raut pihak penerima makin rumit saat samar-samar si bos mengatakan sesuatu. Tangannya bergerak halus menurunkan sesuatu dari dalam lengannya. 

Dani yang melihat gerakan itu berjalan santai mendekati si bos, pura-pura akan membisikkannya sesuatu, tetapi pihak lawan lebih dulu menyerang. Bergerak cepat menusukkan pisaunya. 

Dani mendorong si bos menjauh sebelum pisau di depannya menusuk dadanya, berganti mengenai tangan Dani yang menahannya. 

Luka yang mengering di tangannya terbuka lagi, mengalirkan darah lebih banyak. Dani tidak berkedip. Dia memutar pisaunya sendiri di tangan yang bebas, melempar pada satu anak buah lawan di belakang yang bersiap menarik pelatuk. 

Orang itu terkapar di tanah saat pisau Dani menancap di dadanya. 

Tangan Dani yang terluka menarik kasar pisau yang masih digenggamnya, lalu menusuk pundak orang di depannya, membuatnya mengerang kesakitan. Kaki si lawan yang masih lolos, bergerak menendang Dani, tetapi tubuhnya lebih dulu dibanting keras ke tanah. 

Dia berteriak lagi. Merasakan punggungnya menusuk sesuatu yang sangat tajam hingga tembus ke perut. Dani menyeringai. Dia mengarahkan pisau ke bawah punggung di detik yang sama, saat tubuh lawannya akan menyentuh tanah.

Masih bernapas. Perutnya masih naik turun meski tertusuk. 

Dani mundur, mengelilingi tubuhnya yang penuh darah. 

Empat orang yang sedari tadi mematung di belakang Dani, hanya menonton dengan wajah mengerikan. Mereka sama-sama pembunuh dari tempat yang sama seperti Dani, tetapi kepekaan dan kecepatan Dani akan bahaya terlalu di luar nalar. 

Dia memang masih sangat muda, tetapi instingnya terlatih. Tangannya dengan praktis membunuh dua orang tanpa bantuan empat orang dewasa di belakangnya. 

Dua anak buah yang duduk bersama Dani meneguk ludah kasar. 'Maklum dia hanya membawa pisau. Dia bisa meringkus mereka dengan mudah.' Begitulah kira-kira yang tergambar di wajah mereka. 

Ternyata desas-desus kalau Dani dinobatkan sebagai monster dan tangan kiri bos itu bukan omong kosong. Mata mereka berani disumpah mati sebagai bukti. 

"Katakan. Siapa?" Dani menjilat bibirnya yang kering, menekan luka di perut lawannya, membuat jeritan lagi-lagi lolos. 

Sangat lemah. 

Dani menendang perutnya. 

Tidak bicara. 

Dani menendang lebih keras sampai orang itu batuk darah. 

Alis Dani terangkat. Tidak bicara juga? 

Mengambil ancang-ancang akan menendang kepalanya, orang itu akhirnya membuka mulut. 

"Ganjar." Batuk darah lagi. "Ganjar," ucapnya terakhir kali sebelum Dani mendongak dan berjalan menjauh. 

Ganjar. Nama itu lagi? 

Mereka berempat gemetar melihat Dani datang mendekat, merampas pistol, lalu menembak kepala orang yang terbaring di tanah itu hingga enam peluru di dalamnya habis. Dani melemparkan pistol itu kembali yang segera ditangkap. 

"Bereskan."

Dani masuk ke dalam mobil, membawa mobil itu pergi dari tempat dan melaju di aspal jalan. Membiarkan empat orang dungu itu membereskan kekacauan yang ada. Masa bodo bagaimana mereka akan melakukannya. Mereka juga tidak ada gunanya.

Itu kenapa juga markas mengirimkan anak kecil untuk mengawal mereka, karena Dani jelas jauh lebih bisa diandalkan. 

***

Ponsel yang tertinggal di dasbor mobil berbunyi. Dani meliriknya sekilas, melihat nama Darto di sana. Dani sedang malas bicara dengan orang itu. Tidak lagi melihat ponsel yang begitu berisik di telinganya, terus mengebut di jalanan. 

Tidak mau berhenti, Dani dengan malas mengangkatnya, menyalakan speaker. 

"Bagaimana? Uangnya banyak bukan?"

"Bodoh," jawab Dani rendah. 

"Hei! Apa kau bilang?! Kau pikir dengan siapa kau bicara? Kau bilang apa tadi, hah?"

"Ya kau memang bodoh," balas Dani jengkel. 

"Kau-"

"Terlalu bodoh sampai Ganjar menipumu."

Darto di seberang terdiam. Mencerna informasi yang didengarnya dan dengan siapa dia bicara. Setelah yakin, dia bicara lagi. 

"Dani?"

"Ya, bodoh. Berhenti bicara dan tutup bisnis busukmu itu. Kau hanya selalu rugi dan tertipu."

Setelah memikirkannya lagi ... memang hanya anak ini yang berani mengumpat padanya. 

"Ke mana anak buahku yang lain?"

"Tidak berguna. Mereka hanya sekumpulan ngengat di antara mayat."

Darto menghela napas kasar. Tahu maksud Dani dan apa yang terjadi di sana. Darto tidak menutup-nutupi kalau dia gusar. Di ruangannya, di mondar-mandir, mengelus dagunya jengkel. 

"Kau dapat uangnya?"

"Tidak ada uang. Hanya sekumpulan kertas." Tanpa memeriksanya pun Dani tahu tidak ada uang di sana. Isinya mungkin sebagian lagi adalah kertas poker. "Berhentilah, Darto." Dani mendesis tidak tahan. 

Darto di sana mengusap rambutnya kasar. Sudah tidak tahu mau menanggapi apa jika Dani sudah serius menyebut namanya. Bulu kuduknya saja merinding. 

Hei, dia hanya seorang bocah! 

Tetapi begitu mengintimidasi sampai dasar. 

"Cari bisnis lain jika uang memang membutakanmu."

Dani menjatuhkan ponselnya ke bawah, menginjaknya hingga hancur. Lelah menghadapi pak tua satu itu yang selalu memikirkan uangnya tanpa melihat dengan siapa dia menabur kontrak. 

Pikirannya hanya uang, uang, dan uang. 

Dani berhenti tak jauh dari pom bensin yang masih buka larut malam begini. Ada beberapa penjaga dan satu-dua orang yang mengisi bensin. Tempat itu masih hidup meski hanya sedikit aktivitas. 

Dani turun dari mobil. Setelah membocorkan tempat bensin, Dani meledakkannya seperti motor waktu itu untuk menghilangkan jejak, sedangkan dirinya berjalan santai, menjauh. 

Pihak pom bensi yang melihat kebakaran mendadak itu panik bukan kepalang. Api terlanjur membesar saat mereka tergopoh-gopoh membawa tabung pemadam kebakaran, terlambat memadamkannya. Mobil itu sempurna dilahap api hingga hangus. 

Dani di kejauhan meremas darah di tangan kanannya, berjalan pelan menuju rumah. Kekesalannya setelah bersama Dera lenyap terganti kepuasan. 

Ah, ini sungguh penutup hari yang sempurna. 

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kubuat Kau Mencintaiku!   Pacar

    "Maafin Dera ya, Dani.""Lagi?"Jemari Dani bergerak menggenggam milik Dera yang awalnya hanya dipegang, membawanya ke atas, mengirim kecupan hangat."Jangan bilang maaf lagi, oke? Aku yang salah dan itu udah selesai. Jangan bahas lagi."Dera masih diam. Menekuri rumput depan rumahnya dengan perasaan gamang. Sesuatu masih mengganggunya. "Hei."Dera mendongak, hanya untuk melihat manik cokelat kehitaman Dani yang begitu memerangkap, mendapatkan Dera sepenuhnya. "Kamu harus terbiasa melupakan hal yang bukan salah kamu. Kamu harus terbiasa tidak merasa terbebani pada apa pun yang tidak ada hubungannya dengan kamu." Dani mengusap rambut Dera perhatian. "Kamu berhak bebas sama pikiran kamu sendiri. Bukan selalu menderita dengan pikiran orang lain. Bisa?"Dera mengangguk paham. "Janji?""Janji."Dani tersenyum. Senyum yang menjadi favorit Dera saat ini. Mungkin ... selamanya. "Masuk sana.""Dani juga hati-hati di jalan. Jangan ngebut.""Iya.""Beneran jangan ngebut, ya!""Iya, Sayang."

  • Kubuat Kau Mencintaiku!   Selalu Ada Pengganti Terbaik

    Guru perempuan berbada ramping itu asik menjelaskan pelajaran kimia dengan wajah semringah. Berbanding terbalik dengan keadaan para muridnya yang berasap dan mengantuk. Sangat tidak menyukai pelajaran aksi-reaksi satu itu. Meski seluruh jendela di kelas telah dibuka lebar-lebar, membiarkan angin mengisi seluruh ruangan, panas matahari masih saja terasa. Terlebih di dua bangku dari belakang. Panasnya lebih kentara karena keberadaannya dua kali lebih dekat dari siapa pun. Dera melirik Dani takut-takut. Figurnya masih tampak menawan meski sedang serius mendengarkan penjelasan guru. Rahang kokoh yang jarang dimiliki anak seusia mereka, rambut diikat tinggi, hidung mancung disertai tahi lalat, membuatnya terlihat manis juga ... ah, bagaimana Dera mengatakannya? Dera pura-pura mengusap pipi ketika kepala Dani bergerak, mencatat sesuatu di kertas. "Sshh, hampir aja ketahuan," gumam Dera sepelan mungkin. Pura-pura mencatat sesuatu

  • Kubuat Kau Mencintaiku!   Sakit di Segala Tempat

    "Kau ingin membunuhku?"Tubuh Dera bergetar bukan main merasakan tatapan menusuk Dani. Jelas menuduh dan sama sekali tidak ingin diafirmasi. Dera ketakutan. Itu yang pertama kali tiba di alam sadarnya. Otaknya memerintahkan mundur, tetapi hatinya lebih cepat menyela. "Dani ... kenapa?" Masih perhatian menanyakan keadaan sang pujaan hati walau suaranya mirip tikus terjepit. Dani berdiri begitu saja tanpa kata, menatap Dera lewat lirikan mata, meninggalkannya di sana. Tangan Dani terkepal kuat hingga berdarah karena tergores kuku sendiri. Tidak tahan. Inginnya Dani akan menghantam kepala Dera saat itu juga saat masa kelamnya bangkit tanpa aba-aba. Tanpa rambu peringatan.Telinga Dani berdenging, menghentikan langkah lebarnya. Sakit di kepalanya kembali lagi. "Sialan!"Tidak mendengarkan teriakan tubuhnya yang kesakitan, Dani tegap berjalan ke arah parkiran. Kepalannya yang berdarah beralih mencengkeram ulu hati erat. L

  • Kubuat Kau Mencintaiku!   Taman Bermain

    Jalanan kota sore itu tidak sepadat biasanya. Agak lengang dan berjalan lancar. Semilir angin bertiup landai, asik bercengkrama syahdu dengan dedaunan. Dera dan Dani mampir di warung makan pinggir jalan karena si ratu berteriak lapar. Akhirnya sang raja mau tak mau menghentikan motor di tempat makan mana saja. Awalnya Dani akan membawa Dera ke resto, tetapi cewek itu segera membelokkan Dani di warung makan pinggir jalan yang baru buka. Baru memulai dagangannya. "Dera sering makan di sini dulu sama ayah, ibu, tapi udah jarang sekarang. Soalnya ayah sibuk."Mereka duduk berhadapan di kursi plastik tanpa sandaran dan dibatasi meja panjang yang cukup menampung sepuluh orang. Dani baru tahu fakta satu itu. Maklum keparat itu tidak ada di rumah tadi. Sibuk? Sibuk menghancurkan hidup orang maksudnya? "Kerja apa Ayahmu?" Dani bertanya karena murni ingin tahu. Sebagian karena dendam, sebagian karena misi, sebagiannya lagi agar Dera m

  • Kubuat Kau Mencintaiku!   Kesayangan Dera

    Motor Dani terparkir di depan rumah minimalis bercat putih. Tidak besar, tetapi terlihat nyaman dan asri dengan beberapa pot tanaman di sekitar pagar kayu yang juga putih. Seketika uforia dalam dada Dani naik. Mengalir ke tangannya yang mengepal erat, tidak sabar bertemu bandit besar dalam rumah itu. Gunawan. Inti dari misi payah ini. Dani menggeser pagar kayu, masuk ke halaman, lalu mengetuk pintu. Tepat diketukan ketiga, pintu terbuka, menampilkan figur wanita tiga puluhan dengan baju rumah. Wajahnya khas keibuan. Rambut kecokelatan hasil diwarnai yang digulung ke atas, mirip konde. Dia tersenyum ramah, bertanya, "Cari siapa, Nak?"Dani menarik senyum, menyalami tangannya. "Ada Dera, Tante? Saya teman sekolahnya." Mencoba terdengar hangat dan dekat. "Ah, teman Dera yang namanya Dani?" Dani tidak menjawab, hanya mengangguk. Tidak kaget melihat ibu Dera sudah tahu tentangnya. "Ayo masuk, masuk. Panggil aja tante Ma

  • Kubuat Kau Mencintaiku!   Ejekan Dee Tentang Ciuman Dani

    Selasa malam. Dani kedatangan tamu spesial di rumahnya. Dee sungguhan datang secara nyata menemui Dani setelah sebelum-sebelumnya hanya berkomunikasi jarak jauh. Duduk nyaman di sofa sembari melihat-lihat interior rumah anak asuhnya yang glamor, tetapi sepi di saat yang sama. Perabotannya hanya sedikit, namun berkelas dan gemerlap. Jika orang yang melihat tahu akan kualitas barang serta harganya, pasti akan mengira Dani orang kaya tujuh turunan. Kamuflase dari Darto tidak pernah main-main. "Ke mana robotmu itu?" tanya Dee melihat Dani membawa dua kaleng kopi tanpa nampan. Ah, untuk nampannya itu, anak asuhnya memang tidak tahu sopan santun. Dee mengakuinya. Dani meletakkan satu kaleng kopi di meja, membuka miliknya, lalu diteguk sedikit. "Kumatikan. Kerjanya lambat dan mengganggu."Dee mencebik, ikut membuka kopi kalengnya. "Bagaimana misimu?"Dani melirik Dee sinis. Dia tahu kedatangan Dee memang untuk menanyakan hal itu, tetapi tidak langsung-langsungan b

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status