LOGIN"Hancur menjadi abu, bangkai haram!"
Tetua Gu meraung hysteris, menekan tongkat kayu Cendana ke lantai hingga retakan bercahaya merah meledak. KABOOM! Petir emas itu menghantam dada Lu Chen yang berlubang secara bertubi-tubi. Jleb! Jleb! KRAK! Kilatan hukum alam merangsek masuk, menembus raga kaku dan langsung membakar inti jiwanya. Bau sangit daging terbakar bertukar dengan aroma sengatan ozon yang tajam, memenuhi"Hancur menjadi abu, bangkai haram!" Tetua Gu meraung hysteris, menekan tongkat kayu Cendana ke lantai hingga retakan bercahaya merah meledak. KABOOM! Petir emas itu menghantam dada Lu Chen yang berlubang secara bertubi-tubi. Jleb! Jleb! KRAK! Kilatan hukum alam merangsek masuk, menembus raga kaku dan langsung membakar inti jiwanya. Bau sangit daging terbakar bertukar dengan aroma sengatan ozon yang tajam, memenuhi udara yang pengap oleh racun. Lu Chen menekuk kedua lututnya. Tulang paha kanannya berkerut patah akibat tekanan gravitasi formasi. KRAK! Darah hitam pekat menyembur keluar dari telinga dan celah matanya, menetes basah ke atas ubin batu yang panas. Namun, bibirnya yang pecah dan mengering perlahan terangkat. Sebuah seringai dingin melukis wajahnya yang pucat pasi. "Petir hukum?" Lu Chen berbisik parau, suara gesekan tenggorokannya ter
"Kalau ada yang bersuara, aku akan memotong lidahnya sendiri!" Tekanan jari Ye Qingyu yang kaku mendorong punggung seorang anak kecil menembus celah sempit di balik reruntuhan dinding. Bau tanah basah, jelaga kayu, dan debu batu hitam yang tajam menyengat hidung. Dari lorong bawah tanah yang gelap di belakang mereka, dengusan napas puluhan anak yang ketakutan beradu dengan gemercik air cuka yang menetes dari pakaian basah mereka. KRAK! "Serahkan anak-anak itu atau aku cincang lehermu!" Sesosok prajurit penjaga sekte mendadak melompat dari balik puing batu, mengayunkan golok besarnya lurus ke dada Ye Qingyu. Ye Qingyu tidak sempat menangkis sempurna. Bintik-bintik cahaya hitam menari liar di depan matanya saat rasa sakit dari tulang selangkanya yang patah berdenyut hebat. Ia memiringkan bahunya paksa. CRASH!
Cairan asam dari kabut darah mendesis kencang, mengikis pakaian kotor dan kulit dada Lu Chen yang mati hingga membumbungkan asap kelabu berbau busuk. Di tengah tirai merah kental yang membatasi jarak pandang hingga dua telapak tangan, suasana aula bawah tanah terasa begitu mencekam. Srrrt... KRAK! Di dalam genangan darah kental beberapa langkah di depan Lu Chen, tubuh Tetua Gu yang tadi dilemparkan tanpa nyawa mendadak berkedut liar. Retakan pada lehernya yang patah berbunyi gemeratak mengerikan. "Ukkkh... HAAAAHHH!" Tetua Gu tersedak hebat saat matanya yang tadinya meredup mendadak membelalak penuh urat darah. Biji mata itu memutar liar sebelum terkunci pada sosok Lu Chen. Jiwa dan pusat energi Fondasi Teratai milik sang tetua menolak mati begitu saja; ia menggunakan sisa teknik tabu pemurnian darah di dalam kolam untuk memaksa jantungnya berdetak kembali, mengubah sisa hidupnya menjadi histeria kematian yang brutal.
"Suara rantai itu... Tetua Gu?" Ye Qingyu mundur setengah langkah, pedangnya bergetar hingga beradu kaku dengan sarung di pinggangnya. Bau minyak wangi mahal bertabrakan dengan uap amis darah anak-anak di dalam tabung, memicu rasa mual yang melilit perutnya. Dari balik bayangan kompor pemurnian raksasa, Tetua Gu melangkah keluar. Pria tua berpakaian jubah putih bersulam benang emas itu memutar dua buah bola giok di telapak tangan kirinya dengan gerakan tenang. "Qingyu...," suara Tetua Gu terdengar begitu lembut, seolah sedang menyapa di ruang latihan puncak gunung. "Aku tidak menyangka kau akan menyusup sampai ke ruangan pemurnian pribadi ini bersama bangkai bergerak itu." "Tetua... ini semua..." Ye Qingyu menunjuk tabung kaca dengan jari gemetar, suaranya tercekat dan pecah. "Anak-anak ini... Sekte Teratai Putih... jalan ortodoks yang kita bela..." Tetua Gu terkekeh pelan, menghentikan putaran bola giok di t
Bab 9: Buronan Berdarah "Kunci semua pintu gerbang! Jangan biarkan seekor lalat pun keluar!" Teriakan panglima pengawal Sekte Teratai Putih bergema dari atas gerbang benteng, memotong suara jeritan warga fana yang berlarian di jalanan. "Lu Chen, formasi pelindung kota sudah aktif sepenuhnya!" bisik Ye Qingyu sambil merapatkan tubuhnya ke dinding lorong parit yang berlendir. "Semua gerbang utama dijaga oleh sepuluh tetua luar. Kita terjebak di dalam!" Lu Chen sama sekali tidak melambatkan langkahnya saat keluar dari mulut parit pembuangan.. Ia menancapkan jari-jari tangan kirinya lurus ke dalam tanah lumpur di bawah kakinya. "Pengumpulan Mayat: Bangkitnya Penghuni Kegelapan!" Brak! CRASH! Tanah parit dan papan-papan drainase kota meledak mendadak. Dari balik lumpur hitam dan selokan yang membusuk, puluhan tangan manus
"Pengawal kota tidak akan pernah sampai tepat waktu untuk menyelamatkan nyawamu!" Surya, pemilik kedai, berteriak dari balik asap keunguan yang mengepul dari lubang atap. Melihat kembang api sinyal bahaya menyala di luar, ia mengayunkan pisau daging tebalnya yang lengket oleh minyak tengik, memimpin dua perampok tersisa untuk merangsek maju. "Bos, lihat dia! Racun Pemutus Nadi sudah memenuhi paru parunya saat dia melangkah keluar!" jerit perampok bertubuh kekar. "Serangga ini cuma menggertak! Ratakan dia!" "Dobrak dan cincang!" raung Zhao. BRAK! Perampok bertubuh kekar melompat paling depan, memanfaatkan pedang Lu Chen yang masih terseret di lantai kayu. Bilah kait membelah asap racun, menyambar lurus ke leher Lu Chen. Namun, sebelum besi dingin itu menyentuh kulitnya, tangan kiri Lu Chen melesat memotong jalur serang seperti kilat hitam. Sret! KRAK! "Uk







