Sebelum Kau Diraih Dia

Sebelum Kau Diraih Dia

last updateTerakhir Diperbarui : 2026-10-19
Oleh:  Erdin XesBaru saja diperbarui
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Belum ada penilaian
8Bab
7Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Melihat rumah tangga sang mantan, Ayu hancur. Fikri pun mencoba kembali ke 15 tahun yang lalu. Dia memperbaiki semua yang selama ini membuat Ayu menderita. Apa saja yang Fikri lalukan untuk memperbaiki semuanya?

Lihat lebih banyak

Bab 1

Persidangan

"Dia memaksaku untuk menjilat setiap inci bagian intimnya," suara Ayu bergetar saat memberikan kesaksian di ruang persidangan.

Pengacara Ramli, kuasa hukum dari Ayu berusaha menenangkannya. Duduk disamping Ayu, ia mengelus lembut pundak Ayu. Memberikan semangat untuknya.

Air mata Reno, ayah dari Ayu tidak henti mengucur. Pernikahan mengerikan dari Ayu, tidak mungkin terjadi jika ambisinya saat itu tidak ada. Setiap tetes air mata, menjadi gambaran penyesalan mendalam yang dirasakan.

"Maafkan Ayah Nak, semua ini kesalahan Ayah."

Semua teman Ayu yang hadir didalam ruangan. Mual mendengar fantasi liar dari suami Ayu. Memaksa Ayu menjadi objek fantasi liarnya.

Dengan cucuran air mata, Ayu kembali bercerita rumah tangganya yang menyeramkan. Tentang kekerasan yang dilakukan oleh Ibrahim, sang suami padanya.

"Sekalipun aku berkata sakit. Itu tidak membuat Baim menghentikan penyiksaannya. Ia terus melakukannya. Sampai, aku tidak bisa merasa apapun lagi. Ini gila, tapi aku bertahan dalam rasa sakit ini,"

Seluruh audien didalam ruang sidang serempak meneriaki Baim bajingan.

"Huuuuuu,"

"Iblis,"

"Jelmaan Fir'aun,"

"Monster,"

Hakim Ketua mengetukkan palunya tiga kali dengan tegas, mencoba mengendalikan riuh amarah yang membakar ruang sidang. "Harap tenang! Tertib atau Anda semua diperintahkan keluar dari ruang sidang!" Perintah itu menggema, perlahan meredam teriakan pengunjung, meski hawa kemarahan di udara masih terasa pekat.

Di kursi terdakwa, Baim hanya menunduk. Tidak ada riak penyesalan di wajahnya, melainkan kepatuhan semu yang sengaja ia tunjukkan di depan Majelis Hakim untuk menarik simpati.

Ayu melanjutkan pengakuannya. Namun trauma yang dialaminya, terasa berat bagi Ayu untuk sekedar berbicara didepan majelis hakim. Tangisnya tidak terbendung, kembali mengingat bagaimana perlakuan Baim tiga tahun terakhir padanya.

Ramli menyodorkan segelas air putih kepada Ayu. "Tarik napas dalam-dalam, Ayu. Kamu aman di sini. Kamu sedang membela dirimu sendiri," bisik Ramli dengan suara bariton yang menenangkan.

Setelah meneguk air dan mengusap air matanya dengan tisu yang gemetar, Ayu mendongak. Sorot matanya yang semula layu, perlahan memancarkan sisa-sisa keberanian yang ia kumpulkan dari lubuk trauma terdalamnya.

"Dua tahun, pernikahan kami berjalan indah. Semuanya nyaris sempurna. Baim bertanggung jawab sebagai suami," tutur Ayu dengan tegas.

Ayu menoleh sejenak kearah Baim. Melanjutkan pengakuan terbesarnya.

" Tapi, setelah itu. Tiga tahun, Yang Mulia," suara Ayu kini terdengar semakin jernih, meski masih ada getaran pilu di sana. "Setiap kali saya mencoba melarikan diri, dia selalu mengancam akan menghancurkan karier Ayah dan menyebarkan video intim kami yang direkamnya tanpa izin saya. Saya dijadikan budak di rumah saya sendiri."

Di barisan kursi pengunjung, Reno menyembunyikan wajahnya di kedua telapak tangannya. Bahunya terguncang hebat. Kalimat Ayu bagai belati yang mengoyak jantungnya. Ambisi bisnisnya dulu yang menjodohkan Ayu dengan Baim, kolega anak kolega bisnisnya. Justru membawa sang putri merasakan neraka berpindah tempat ke dunia. Ia yang mendorong Ayu merasakan neraka jahanam. Diperlakukan buruk oleh iblis, bernama Baim. Nestapa yang tidak pernah dibayangkan Reno sebelumnya.

"Apakah terdakwa juga melakukan kekerasan fisik di luar hubungan seksual, Saudari Saksi?" tanya Hakim Anggota wanita dengan nada penuh empati namun tetap formal.

Ayu mengangguk pelan. Ia perlahan menggeser kerah blazer yang dikenakannya, memperlihatkan sebuah bekas luka bakar melingkar yang samar di dekat tulang selangkangnya.

"Jika fantasinya tidak terpenuhi, dia akan menyundutkan puntung rokok ke tubuh saya. Dia bilang... itu adalah tanda kepemilikan," ungkap Ayu, memicu desas-desus ngeri di antara teman-temannya yang duduk di bangku belakang.

Ramli kemudian berdiri, membawa seberkas dokumen tebal ke hadapan meja Majelis Hakim. "Yang Mulia, kami juga menyerahkan bukti visum et repertum dari rumah sakit, laporan psikologis klinis yang menunjukkan trauma berat tingkat lanjut pada korban, serta rekaman percakapan ancaman yang dikirimkan terdakwa kepada korban."Ramli berbalik, menatap tajam ke arah Baim yang masih bergeming. "Kami memohon kepada Majelis Hakim yang terhormat, agar menjatuhkan hukuman seberat-beratnya berdasarkan pasal berlapis tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan kekerasan seksual. Ini bukan lagi sekadar retaknya rumah tangga, melainkan penghancuran kemanusiaan seorang wanita secara sistematis."

Suasana sidang mendadak hening, menunggu respons dari Majelis Hakim yang mulai memeriksa berkas-berkas mengerikan tersebut. Di tengah keheningan itu, Ayu menggenggam jemari ayahnya yang melangkah maju untuk memeluknya dari belakang. Perjalanan menuju keadilan memang masih panjang, namun hari itu, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, Ayu merasa rantai tak kasat mata yang mengikatnya mulai terlepas.

Baim tidak bisa menyangkal, ia mengakui semua aksinya pada sang istri. Ikhlas dengan hukuman yang mungkin akan dijatuhkan padanya. Ada rasa sesal, tetapi itu tidak cukup untuk membuat semuanya berubah. Menunggu vonis yang akan dijatuhkan.

Fikri berdiri di sudut paling belakang ruang sidang, bersandar pada dinding kayu yang dingin. Setelan jas biru muda yang dikenakannya tampak kontras dengan atmosfer ruangan yang kelam dan sarat emosi. Di balik kacamata hitam besarnya, sepasang matanya menghangat oleh air mata yang mati-matian ia tahan. Kacamata itu bukan untuk bergaya, melainkan tameng agar dunia tidak melihat hancurnya pertahanan seorang pria yang menyaksikan cinta pertamanya dikuliti oleh trauma.

Setiap patah kata yang keluar dari bibir Ayu yang bergetar terasa seperti hantaman godam di dada Fikri. Bayangan Ayu yang dulu, gadis ceria dengan tawa renyah yang selalu menyemangati hari-harinya. Kini melebur, digantikan oleh sosok wanita rapuh yang duduk di kursi pesakitan, membeberkan neraka yang dialaminya selama tiga tahun terakhir.

Andai saja dulu aku tidak menyerah, batin Fikri berkecamuk. Penyesalan itu datang terlambat, mengalir deras menghentak kesadarannya.

"Jika aku lebih rajin dulu... Jika saja aku sukses lebih cepat," bisik Fikri dengan suara yang tercekat di tenggorokan, nyaris tak terdengar di antara riuh kemarahan pengunjung sidang. "Mungkin kamu tidak akan pernah merasakan semua ini, Yu. Maafkan aku... Maafkan ketidakberdayaanku dulu."

Ingatannya berputar pada masa lalu. Saat ayah Ayu, Reno, menolak mentah-mentah kehadirannya hanya karena ia seorang pemuda biasa yang belum punya apa-apa. Fikri yang terluka memilih mundur, membiarkan ambisi Reno menjodohkan Ayu dengan Baim yang kaya raya. Siapa yang mengira, pria mapan pilihan keluarga itu ternyata adalah monster berwajah manusia.

Dari kejauhan, Fikri melihat Ayu yang sedang ditenangkan oleh pengacaranya dan didekap oleh Reno yang menangis penyesalan. Ada dorongan kuat di dalam hati Fikri untuk berlari ke depan, memeluk Ayu, dan menyembunyikannya dari semua pandangan orang. Namun, ia tahu batas diri. Saat ini, ia hanyalah bagian dari masa lalu yang tak punya hak untuk berada di sampingnya.Ketika Majelis Hakim memutuskan untuk menunda persidangan hingga pekan depan, para pengunjung mulai membubarkan diri dengan kasak-kusuk yang masih panas. Fikri tetap bergeming di tempatnya.

Saat Ayu berjalan keluar didampingi tim hukumnya, langkah wanita itu mendadak melambat. Entah karena ikatan batin yang pernah ada atau sekadar kebetulan, pandangan Ayu yang sembap sedetik berpapasan dengan arah berdiri Fikri. Meski wajah Fikri tertutup kacamata hitam, detak jantung keduanya seolah berhenti di satu titik yang sama.

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
8 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status