Kultivator Terlarang

Kultivator Terlarang

last updateÚltima actualización : 2026-09-25
Por:  Cahaya Actualizado ahora
Idioma: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
1 calificación. 1 reseña
10Capítulos
14vistas
Leer
Agregar a biblioteca

Compartir:  

Reportar
Resumen
Catálogo
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP

Dikhianati secara kejam oleh wanita yang paling dicintainya dan dibantai di atas altar Sekte Ortodoks, Lu Chen mati membawa dendam yang membakar. Namun jiwanya begitu kotor dan terutuk hingga Langit menolak reinkarnasinya, sementara Neraka melempar jiwanya kembali karena takut akan bencana yang dibawanya. Terjebak di batas gaib, Lu Chen membangkitkan tubuhnya yang setengah membusuk menggunakan Teknik Tabu: Kultivasi Ganda iblis. Untuk bertahan hidup dari kejaran iblis Neraka dan Sekte Ortodoks yang haus darah, Lu Chen harus menyerap energi kehidupan melalui penyatuan intim yang mematikan. Di dunia yang dingin dan penuh tatanan suci palsu ini, setiap sesi kultivasi ganda adalah perjudian nyawa. Satu kesalahan kecil, atau jika fokus terpecah oleh bisikan hantu dari alam gaib, tubuh mereka akan meledak menjadi gumpalan daging atau berubah menjadi monster mengerikan. Bersama para wanita terbuang yang sama-sama berdiri di ambang kematian, Lu Chen menapaki jalan bertumpah darah. Bukan untuk menjadi dewa, melainkan untuk meruntuhkan Langit yang munafik dan menyeret para penguasa suci ke dalam neraka buatannya sendiri. Setiap sentuhan adalah kehidupan. Setiap sentuhan adalah maut.

Ver más

Capítulo 1

Bab 1 Kebangkitan dari Kuburan Darah

Lu Chen muntahkan cairan kental berwarna kehitaman.

"Hah... hah..."

Napasnya berat, serak, dan pecah.

“Lu Chen, Sekte Ortodoks Teratai Putih tidak butuh benalu yang menampung tulang iblis.”

Suara Lin Xue. Jernih. Dingin. Tanpa getaran sedikit pun saat belati tulang berukir mantra ritual menusuk tepat ke tengah dadanya, memutus fondasi cultivation yang dibangun selama seratus tahun.

Plak.

Sebuah ujung sepatu keras menekan pipi kanan Lu Chen, membenamkan wajahnya lebih dalam ke dalam tumpukan cairan lengket.

"Masih ada yang belum sepenuhnya membusuk?" suara seorang pria terdengar dari atas, serak dan malas. Ada ketukan logam yang saling berbenturan ujung tombak besi yang diseret di atas tumpukan tulang.

"Cepat selesaikan, saudara Zhao. Bau di sini membuatku mual," jawab suara kedua, agak jauh, disertai bunyi ludah yang dibuang kasar.

"Ingat, tusuk bagian kepala. Kita tidak ingin ada mayat yang mendadak membangkitkan energi tersembunyi."

"Hmph, bahkan jika jiwa iblis menempel padanya, kultivasinya sudah hancur total. Dantiannya tumpah ke tanah," sahut prajurit bernama Zhao.

Lu Chen tidak bergerak. Matanya yang mati, memerah penuh pembuluh darah yang pecah, terbuka selebar mungkin.

Langkah kaki prajurit itu mendekat. Gesekan besi tombak semakin keras.

"Biar kuperiksa dulu," gumam prajurit Zhao. Ujung tombaknya menekan leher Lu Chen, menahan posisinya agar tidak bergeser.

Prajurit itu membungkuk. Tapi dengan kecepatan yang tidak masuk akal

Sret!

Jemari kelabu Lu Chen kaku seperti cakar mayat mencengkeram tenggorokan prajurit itu.

"Ugh—!"

Prajurit Zhao tersedak, matanya melotot selebar piring.

Lu Chen tidak bersuara. Dia memutar tubuhnya yang hancur, dengan sisa tenaga dari kemarahan jiwanya.

Krek!

Tulang rusuk Lu Chen sendiri berderit dan patah saat ia memaksa tubuhnya berbalik, tetapi genggamannya di leher Zhao tidak mengendur sedikit pun. Kulit leher prajurit itu meletup di bawah tekanan jemari Lu Chen yang menghitam oleh darah mati.

"Hei! Zhao! Ada apa?!"

Prajurit kedua berteriak, bunyi langkah kakinya panik mendekat.

Prajurit Zhao mencoba memukul dada Lu Chen dengan siku, tetapi Lu Chen menyeret tubuhnya naik, menindih prajurit itu.

"Mati..." bisik Lu Chen. Suaranya bukan lagi suara manusia, melainkan seperti dua batu tajam yang digesekkan.

"Lepas...!"

Prajurit Zhao meraba pinggangnya, mencabut pisau belati pendek dan menancapkannya berkali-kali ke bahu Lu Chen. Cles! Cles!

Darah segar menyembur ke wajah Lu Chen. Dia tidak meringis. Rasa sakit fisik ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kehancuran meridiannya. Dengan gerakan patah-patah, Lu Chen memutar tangannya yang mencengkeram leher Zhao.

KREK!

Sendi leher prajurit itu patah ke arah yang tidak alami. Mata Zhao mendelik ke atas, matinya menyisa kejang singkat sebelum seluruh tubuhnya melemas.

"Setan! Dia... dia bangkit lagi!"

Prajurit kedua berteriak hysteria. Tombaknya diangkat, bergetar hebat.

"Tombak Pembelah Angin!"

Udara berdesing. Ujung tombak besi meluncur dengan kecepatan penuh, mengincar dada kiri Lu Chen.

Lu Chen tidak melompat ia menggunakan mayat Zhao sebagai tameng. Tombak besi menghantam punggung Zhao dengan dentuman keras, menembus daging dan berhenti tepat beberapa sentimeter dari mata Lu Chen.

Prajurit itu terhuyung mundur, melangkah pada lengan mayat lain dan hampir terjatuh.

"Bagaimana mungkin... Dantianmu sudah pecah! Kau seharusnya sudah mati!"

Lu Chen merayap keluar dari bawah tubuh Zhao. Dia menarik pisau belati yang masih menancap di bahunya sendiri. Darah hitam menetes dari ujung pisau.

"Teratai... Putih..." kata Lu Chen pelan. Setiap kata membawa batuk kental yang menyemburkan gumpalan darah ke tanah.

"Gila! Dia sudah gila!"

Prajurit kedua memutar tombaknya, mencoba mengambil jarak.

"Pedang Teratai Membelah Iblis"

Sebelum seruan jurus itu selesai, Lu Chen melempar belati di tangannya. Belati itu tidak terbang secara lurus seperti serangan kultivator tingkat tinggi; belati itu berputar kikuk, menancap tepat di paha prajurit tersebut.

"AAAKH!" Prajurit itu memegang pahanya, terjatuh berlutut.

Lu Chen menyeret kaki kirinya yang terkulai patah, bergerak seperti binatang melata. Dia menerjang. Kedua tangannya mengunci kepala prajurit itu dari belakang. Dengan sisa rasa benci yang tersisa di dalam sumsum tulangnya, Lu Chen membenamkan kepalanya sendiri ke wajah prajurit itu.

TAK!

Hidung prajurit itu hancur. Lu Chen menyundul lagi. Dan lagi. Tulang dahi beradu dengan tulang dahi hingga darah memenuhi pandangan keduanya.

"Ampun... ampun...."

KREK.

Lu Chen memutar leher prajurit kedua hingga suaranya terputus total.

Dia ingin tertawa, tetapi yang keluar dari tenggorokannya hanyalah bisikan darah.

Sialan.

Lin Xue. Tetua Sekte Teratai Putih. Semua orang yang berdiri di atas altar hari itu sambil tersenyum saat meridiannya dicabut satu per satu.

Jemarinya yang gemetar dan basah oleh darah kebetulan menyentuh bagian dalam lipatan baju zirah prajurit Zhao yang berada paling dekat dengannya. Kulit dadanya yang terkoyak bergeser menempel pada selembar bahan keras di dalam kantong rahasia pakaian prajurit itu.

Bahan itu dingin. Sangat dingin.

Lu Chen meraba-raba dengan jari-jarinya yang kaku. Tangannya yang berlapis lumpur dan darah kering menarik keluar sebuah benda.

Sebuah gulungan kitab.

Bahannya bukan kertas, bukan pula sutra. Rasanya seperti kulit manusia yang dikeringkan. Tidak ada tinta pada permukaannya, tetapi ada guratan-guratan halus yang terasa menimbul saat disentuh jemari.

Begitu jemari Lu Chen yang berdarah mengusap permukaan gulungan itu, darahnya terserap seketika. Guratan kusam itu mendadak menyala dengan warna merah pekat yang membakar.

WUSH....

Suara bisikan tanpa wujud tiba-tiba bergema tepat di tengah kepalanya. Suara itu tidak masuk melalui telinga, melainkan terbit dari kedalaman jiwanya yang paling gelap, bergema dengan ribuan nada yang saling tumpang tindih suara jeritan, tangisan, dan tawa berbisik yang dingin.

“Darah yang ditolak oleh Langit... Jiwa yang dibuang oleh Neraka...”

Lu Chen membelalakkan matanya. Bisikan itu membuat kepala bagian dalamnya serasa dihantam palu besi. Rasa sakit pada meridiannya yang hancur mendadak terhenti, tergantikan oleh sensasi mengerikan seperti ada ribuan ulat es yang merayap masuk melalui luka-lukanya, menjahit kembali serat-serat meridian yang putus menggunakan benang kegelapan.

“Teknik Tabu Alam Baka... Penguasa Sembilan Jurang...”

Krek! Krek!

Tulang-tulang rusuknya yang patah bergeser kembali ke posisi semula secara paksa, menimbulkan rasa sakit luar biasa yang membuat Lu Chen menjerit tanpa suara. Darah hitam menyembur dari matanya, menetes ke atas gulungan kitab terlarang tersebut.

Bisikan di dalam kepalanya semakin keras, semakin bergemuruh, seolah ribuan iblis sedang berbisik langsung di samping telinganya.

“Serahkan jiwamu... dan biarkan Alam Baka membalas dendammu...”

Expandir
Siguiente capítulo
Descargar

Último capítulo

Más capítulos

A los lectores

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reseñas

Cahaya
Cahaya
Update 3 Bab per Hari jam 17.00 -18.00 Wib
2026-09-25 23:39:41
0
0
10 Capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status