INICIAR SESIÓNDikhianati secara kejam oleh wanita yang paling dicintainya dan dibantai di atas altar Sekte Ortodoks, Lu Chen mati membawa dendam yang membakar. Namun jiwanya begitu kotor dan terutuk hingga Langit menolak reinkarnasinya, sementara Neraka melempar jiwanya kembali karena takut akan bencana yang dibawanya. Terjebak di batas gaib, Lu Chen membangkitkan tubuhnya yang setengah membusuk menggunakan Teknik Tabu: Kultivasi Ganda iblis. Untuk bertahan hidup dari kejaran iblis Neraka dan Sekte Ortodoks yang haus darah, Lu Chen harus menyerap energi kehidupan melalui penyatuan intim yang mematikan. Di dunia yang dingin dan penuh tatanan suci palsu ini, setiap sesi kultivasi ganda adalah perjudian nyawa. Satu kesalahan kecil, atau jika fokus terpecah oleh bisikan hantu dari alam gaib, tubuh mereka akan meledak menjadi gumpalan daging atau berubah menjadi monster mengerikan. Bersama para wanita terbuang yang sama-sama berdiri di ambang kematian, Lu Chen menapaki jalan bertumpah darah. Bukan untuk menjadi dewa, melainkan untuk meruntuhkan Langit yang munafik dan menyeret para penguasa suci ke dalam neraka buatannya sendiri. Setiap sentuhan adalah kehidupan. Setiap sentuhan adalah maut.
Ver másLu Chen muntahkan cairan kental berwarna kehitaman.
"Hah... hah..." Napasnya berat, serak, dan pecah. “Lu Chen, Sekte Ortodoks Teratai Putih tidak butuh benalu yang menampung tulang iblis.” Suara Lin Xue. Jernih. Dingin. Tanpa getaran sedikit pun saat belati tulang berukir mantra ritual menusuk tepat ke tengah dadanya, memutus fondasi cultivation yang dibangun selama seratus tahun. Plak. Sebuah ujung sepatu keras menekan pipi kanan Lu Chen, membenamkan wajahnya lebih dalam ke dalam tumpukan cairan lengket. "Masih ada yang belum sepenuhnya membusuk?" suara seorang pria terdengar dari atas, serak dan malas. Ada ketukan logam yang saling berbenturan ujung tombak besi yang diseret di atas tumpukan tulang. "Cepat selesaikan, saudara Zhao. Bau di sini membuatku mual," jawab suara kedua, agak jauh, disertai bunyi ludah yang dibuang kasar. "Ingat, tusuk bagian kepala. Kita tidak ingin ada mayat yang mendadak membangkitkan energi tersembunyi." "Hmph, bahkan jika jiwa iblis menempel padanya, kultivasinya sudah hancur total. Dantiannya tumpah ke tanah," sahut prajurit bernama Zhao. Lu Chen tidak bergerak. Matanya yang mati, memerah penuh pembuluh darah yang pecah, terbuka selebar mungkin. Langkah kaki prajurit itu mendekat. Gesekan besi tombak semakin keras. "Biar kuperiksa dulu," gumam prajurit Zhao. Ujung tombaknya menekan leher Lu Chen, menahan posisinya agar tidak bergeser. Prajurit itu membungkuk. Tapi dengan kecepatan yang tidak masuk akal Sret! Jemari kelabu Lu Chen kaku seperti cakar mayat mencengkeram tenggorokan prajurit itu. "Ugh—!" Prajurit Zhao tersedak, matanya melotot selebar piring. Lu Chen tidak bersuara. Dia memutar tubuhnya yang hancur, dengan sisa tenaga dari kemarahan jiwanya. Krek! Tulang rusuk Lu Chen sendiri berderit dan patah saat ia memaksa tubuhnya berbalik, tetapi genggamannya di leher Zhao tidak mengendur sedikit pun. Kulit leher prajurit itu meletup di bawah tekanan jemari Lu Chen yang menghitam oleh darah mati. "Hei! Zhao! Ada apa?!" Prajurit kedua berteriak, bunyi langkah kakinya panik mendekat. Prajurit Zhao mencoba memukul dada Lu Chen dengan siku, tetapi Lu Chen menyeret tubuhnya naik, menindih prajurit itu. "Mati..." bisik Lu Chen. Suaranya bukan lagi suara manusia, melainkan seperti dua batu tajam yang digesekkan. "Lepas...!" Prajurit Zhao meraba pinggangnya, mencabut pisau belati pendek dan menancapkannya berkali-kali ke bahu Lu Chen. Cles! Cles! Darah segar menyembur ke wajah Lu Chen. Dia tidak meringis. Rasa sakit fisik ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kehancuran meridiannya. Dengan gerakan patah-patah, Lu Chen memutar tangannya yang mencengkeram leher Zhao. KREK! Sendi leher prajurit itu patah ke arah yang tidak alami. Mata Zhao mendelik ke atas, matinya menyisa kejang singkat sebelum seluruh tubuhnya melemas. "Setan! Dia... dia bangkit lagi!" Prajurit kedua berteriak hysteria. Tombaknya diangkat, bergetar hebat. "Tombak Pembelah Angin!" Udara berdesing. Ujung tombak besi meluncur dengan kecepatan penuh, mengincar dada kiri Lu Chen. Lu Chen tidak melompat ia menggunakan mayat Zhao sebagai tameng. Tombak besi menghantam punggung Zhao dengan dentuman keras, menembus daging dan berhenti tepat beberapa sentimeter dari mata Lu Chen. Prajurit itu terhuyung mundur, melangkah pada lengan mayat lain dan hampir terjatuh. "Bagaimana mungkin... Dantianmu sudah pecah! Kau seharusnya sudah mati!" Lu Chen merayap keluar dari bawah tubuh Zhao. Dia menarik pisau belati yang masih menancap di bahunya sendiri. Darah hitam menetes dari ujung pisau. "Teratai... Putih..." kata Lu Chen pelan. Setiap kata membawa batuk kental yang menyemburkan gumpalan darah ke tanah. "Gila! Dia sudah gila!" Prajurit kedua memutar tombaknya, mencoba mengambil jarak. "Pedang Teratai Membelah Iblis" Sebelum seruan jurus itu selesai, Lu Chen melempar belati di tangannya. Belati itu tidak terbang secara lurus seperti serangan kultivator tingkat tinggi; belati itu berputar kikuk, menancap tepat di paha prajurit tersebut. "AAAKH!" Prajurit itu memegang pahanya, terjatuh berlutut. Lu Chen menyeret kaki kirinya yang terkulai patah, bergerak seperti binatang melata. Dia menerjang. Kedua tangannya mengunci kepala prajurit itu dari belakang. Dengan sisa rasa benci yang tersisa di dalam sumsum tulangnya, Lu Chen membenamkan kepalanya sendiri ke wajah prajurit itu. TAK! Hidung prajurit itu hancur. Lu Chen menyundul lagi. Dan lagi. Tulang dahi beradu dengan tulang dahi hingga darah memenuhi pandangan keduanya. "Ampun... ampun...." KREK. Lu Chen memutar leher prajurit kedua hingga suaranya terputus total. Dia ingin tertawa, tetapi yang keluar dari tenggorokannya hanyalah bisikan darah. Sialan. Lin Xue. Tetua Sekte Teratai Putih. Semua orang yang berdiri di atas altar hari itu sambil tersenyum saat meridiannya dicabut satu per satu. Jemarinya yang gemetar dan basah oleh darah kebetulan menyentuh bagian dalam lipatan baju zirah prajurit Zhao yang berada paling dekat dengannya. Kulit dadanya yang terkoyak bergeser menempel pada selembar bahan keras di dalam kantong rahasia pakaian prajurit itu. Bahan itu dingin. Sangat dingin. Lu Chen meraba-raba dengan jari-jarinya yang kaku. Tangannya yang berlapis lumpur dan darah kering menarik keluar sebuah benda. Sebuah gulungan kitab. Bahannya bukan kertas, bukan pula sutra. Rasanya seperti kulit manusia yang dikeringkan. Tidak ada tinta pada permukaannya, tetapi ada guratan-guratan halus yang terasa menimbul saat disentuh jemari. Begitu jemari Lu Chen yang berdarah mengusap permukaan gulungan itu, darahnya terserap seketika. Guratan kusam itu mendadak menyala dengan warna merah pekat yang membakar. WUSH.... Suara bisikan tanpa wujud tiba-tiba bergema tepat di tengah kepalanya. Suara itu tidak masuk melalui telinga, melainkan terbit dari kedalaman jiwanya yang paling gelap, bergema dengan ribuan nada yang saling tumpang tindih suara jeritan, tangisan, dan tawa berbisik yang dingin. “Darah yang ditolak oleh Langit... Jiwa yang dibuang oleh Neraka...” Lu Chen membelalakkan matanya. Bisikan itu membuat kepala bagian dalamnya serasa dihantam palu besi. Rasa sakit pada meridiannya yang hancur mendadak terhenti, tergantikan oleh sensasi mengerikan seperti ada ribuan ulat es yang merayap masuk melalui luka-lukanya, menjahit kembali serat-serat meridian yang putus menggunakan benang kegelapan. “Teknik Tabu Alam Baka... Penguasa Sembilan Jurang...” Krek! Krek! Tulang-tulang rusuknya yang patah bergeser kembali ke posisi semula secara paksa, menimbulkan rasa sakit luar biasa yang membuat Lu Chen menjerit tanpa suara. Darah hitam menyembur dari matanya, menetes ke atas gulungan kitab terlarang tersebut. Bisikan di dalam kepalanya semakin keras, semakin bergemuruh, seolah ribuan iblis sedang berbisik langsung di samping telinganya. “Serahkan jiwamu... dan biarkan Alam Baka membalas dendammu...”"Suara rantai itu... Tetua Gu?" Ye Qingyu mundur setengah langkah, pedangnya bergetar hingga beradu kaku dengan sarung di pinggangnya. Bau minyak wangi mahal bertabrakan dengan uap amis darah anak-anak di dalam tabung, memicu rasa mual yang melilit perutnya. Dari balik bayangan kompor pemurnian raksasa, Tetua Gu melangkah keluar. Pria tua berpakaian jubah putih bersulam benang emas itu memutar dua buah bola giok di telapak tangan kirinya dengan gerakan tenang. "Qingyu...," suara Tetua Gu terdengar begitu lembut, seolah sedang menyapa di ruang latihan puncak gunung. "Aku tidak menyangka kau akan menyusup sampai ke ruangan pemurnian pribadi ini bersama bangkai bergerak itu." "Tetua... ini semua..." Ye Qingyu menunjuk tabung kaca dengan jari gemetar, suaranya tercekat dan pecah. "Anak-anak ini... Sekte Teratai Putih... jalan ortodoks yang kita bela..." Tetua Gu terkekeh pelan, menghentikan putaran bola giok di t
Bab 9: Buronan Berdarah "Kunci semua pintu gerbang! Jangan biarkan seekor lalat pun keluar!" Teriakan panglima pengawal Sekte Teratai Putih bergema dari atas gerbang benteng, memotong suara jeritan warga fana yang berlarian di jalanan. "Lu Chen, formasi pelindung kota sudah aktif sepenuhnya!" bisik Ye Qingyu sambil merapatkan tubuhnya ke dinding lorong parit yang berlendir. "Semua gerbang utama dijaga oleh sepuluh tetua luar. Kita terjebak di dalam!" Lu Chen sama sekali tidak melambatkan langkahnya saat keluar dari mulut parit pembuangan.. Ia menancapkan jari-jari tangan kirinya lurus ke dalam tanah lumpur di bawah kakinya. "Pengumpulan Mayat: Bangkitnya Penghuni Kegelapan!" Brak! CRASH! Tanah parit dan papan-papan drainase kota meledak mendadak. Dari balik lumpur hitam dan selokan yang membusuk, puluhan tangan manus
"Pengawal kota tidak akan pernah sampai tepat waktu untuk menyelamatkan nyawamu!" Surya, pemilik kedai, berteriak dari balik asap keunguan yang mengepul dari lubang atap. Melihat kembang api sinyal bahaya menyala di luar, ia mengayunkan pisau daging tebalnya yang lengket oleh minyak tengik, memimpin dua perampok tersisa untuk merangsek maju. "Bos, lihat dia! Racun Pemutus Nadi sudah memenuhi paru parunya saat dia melangkah keluar!" jerit perampok bertubuh kekar. "Serangga ini cuma menggertak! Ratakan dia!" "Dobrak dan cincang!" raung Zhao. BRAK! Perampok bertubuh kekar melompat paling depan, memanfaatkan pedang Lu Chen yang masih terseret di lantai kayu. Bilah kait membelah asap racun, menyambar lurus ke leher Lu Chen. Namun, sebelum besi dingin itu menyentuh kulitnya, tangan kiri Lu Chen melesat memotong jalur serang seperti kilat hitam. Sret! KRAK! "Uk
"Tolong..... kami sudah menyerahkan setengah mangkuk darah bulan ini...." "Jatuh tempo upeti energi spiritual untuk lingkaran formasi Kota Asel adalah tiga cawan penuh. Kurang satu tetes, urat nadimu yang kami potong!" Krek! Murid sekte itu memutar pergelangan kaki sang ayah hingga patah melintir. Jeritan melengking memecah udara, bercampur dengan dentang kepingan uang tembaga yang berhamburan dari kantong kain yang robek. Ye Qingyu mempercepat langkahnya, "Mereka... mengambil darah rakyat biasa setiap bulan?" bisik Ye Qingyu, nadanya bergetar menahan gejolak di dada. "Atas nama pemeliharaan formasi pelindung kota?" Tapi ini hukum Sekte seharusnya...." "Sekta butuh bahan bakar," potong Lu Chen datar. "Darah orang biasa lebih murni karena tidak tercemar hawa murni liar. Bagi mereka, kota ini cuma kandang ternak." "Kau... sudah tahu dari awal?" tanya Ye Qing






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reseñas