Compartilhar

BAB 14

Autor: Riichan
last update Data de publicação: 2026-04-27 14:28:45

“…aku tidak sendirian… kan?”

Maris tidak bergerak. Tubuhnya tetap setengah tersembunyi di bawah permukaan dan di dekat batu karang besar di tepian pantai, hanya matanya yang perlahan menyapu sekeliling. Riak kecil muncul lebih dekat, memecah sunyi yang terasa terlalu utuh.

Permukaan air bergetar pelan, seolah sesuatu baru saja menyentuhnya. Bayangan samar terbentuk di antara pantulan cahaya bulan, bergerak perlahan mendekat. Maris menegang, jemarinya tanpa sadar mencengkeram batu di dekatnya.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 34

    Pagi itu terasa berbeda. Tidak ada yang benar-benar berubah dari bentuk rumah, arus yang mengalir di sekitarnya, atau rutinitas yang biasa terjadi. Namun suasananya tidak lagi sama—lebih sunyi, lebih kaku, dan entah kenapa… lebih sempit.Maris merasakannya sejak ia membuka mata. Ada sesuatu yang terasa menekan bahkan sebelum ia benar-benar sadar sepenuhnya.“…mereka tahu,” gumamnya lirih.Ia tidak perlu menebak apa penyebabnya. Ibunya pasti sudah berbicara pada ayahnya, dan ia menyadarinya bahkan tanpa mendengar langsung percakapan mereka.Maris berada di depan jendela kamarnya. Tatapannya tertuju pada rantai tipis berwarna gelap yang kini melintang di bagian luar, terpasang dari sisi ke sisi seperti batas yang sengaja dipertegas.“…jadi sampai sejauh ini,” gumamnya pelan.Ia mengangkat tangan dan menyentuh permukaan kaca di depannya. Dingin, seperti biasanya—namun kali ini bukan itu yang paling ia rasakan.Ada sesuatu yang lebih berat dari sekadar suhu laut yang menempel di sana. Ses

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 33

    “Aku ingin kembali.”Kalimat itu masih tertinggal di pikirannya bahkan setelah tubuhnya sudah melewati ambang jendela. Air laut menutup kembali ruang di belakangnya saat Maris masuk perlahan, gerakannya hati-hati, hampir tanpa suara. Ia mendorong jendela hingga tertutup rapat.Tangannya masih bertahan di sana beberapa detik, seolah memastikan semuanya kembali seperti semula dan tidak ada yang berubah. Atau setidaknya begitu. Maris menarik napas pelan, bersiap menjauh dari jendela.Namun—“Kau dari mana… tengah malam begini?”Suaranya pelan, tidak keras, namun cukup untuk menghentikan seluruh gerakannya. Maris membeku sesaat sebelum perlahan menoleh ke belakang.“Oh…tidak,” ucap Maris dalam hati.Ibunya berada di ambang pintu, tidak jauh dari sana. Ia tidak mendekat dan tidak terlihat terburu-buru, hanya diam menatapnya dengan sorot yang sulit dibaca. Tatapan itu tidak tajam, namun juga tidak lembut—lebih seperti… menilai.Maris tidak langsung menjawab. Jantungnya berdetak lebih cepat,

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 32

    Mereka tidak langsung berpisah. Keheningan yang sempat menggantung perlahan berubah menjadi sesuatu yang lain—lebih tenang, namun tidak lagi canggung sepenuhnya. Maris masih berada di tempatnya, dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa perlu mencari alasan untuk pergi. Lycander juga tidak bergerak. Jarak di antara mereka tetap sama. Cukup dekat untuk saling melihat, namun masih menyisakan ruang yang tidak mereka lewati. “…kau selalu datang saat malam,” ucap Lycander akhirnya. Nada suaranya tetap tenang, tidak terdengar menyelidiki atau menekan, lebih seperti menyusun pola yang sudah ia perhatikan sejak awal. Kalimat itu sederhana, namun cukup untuk membuat kebiasaan yang sebelumnya tidak disadari kini terasa jelas di antara mereka. Maris mengangkat pandangannya sedikit. “Iya…” jawabnya pelan. Ia sempat ragu. Namun tidak mengalihkan pembicaraan. “Siang terlalu… ramai,” tambahnya setelah jeda. Kalimat itu sederhana, namun terasa lebih jujur dari yang ia kira. Seolah tan

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 31

    Mereka tetap di tempat masing-masing. Tidak ada yang bergerak sejak kalimat itu diucapkan. Laut di sekitar mereka tenang, hanya riak kecil yang terbentuk dari gerakan napas dan tubuh yang tertahan.“Kau kembali.”Kalimat itu masih menggantung di antara mereka. Maris tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap pada sosok di depannya—pada mata berwarna emas yang kini tidak lagi hanya menjadi bayangan.Nyata dan terlalu dekat. Jantungnya berdetak cepat. Ia bisa merasakannya sendiri, jelas, tanpa bisa ia sembunyikan. Namun ekornya tidak bergerak mundur ataupun mendekat.“…aku hanya lewat,” ucapnya akhirnya.Pelan, hampir ragu, dan jelas tidak meyakinkan.Lycander tidak langsung menanggapi. Tatapannya tidak berubah, tetap tenang dan tertuju padanya, seolah sedang membaca sesuatu yang tidak diucapkan.“…kau tidak percaya,” pikir Maris tanpa sadar.Lycander tidak memotong, tidak menyangkal, namun juga tidak menunjukkan bahwa ia mempercayai sepenuhnya. Sikapnya tetap tenang, seolah memberi ruan

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 30

    Malam itu datang dengan cara yang sama—tanpa tanda, tanpa alasan yang jelas. Maris sudah berdiam di depan jendela bahkan sebelum ia benar-benar menyadarinya, seolah tubuhnya lebih dulu bergerak dibanding pikirannya. Tidak ada lagi pertanyaan seperti sebelumnya, tidak ada lagi usaha untuk menahan diri.Ia hanya diam beberapa saat, menatap ke luar dengan tatapan yang terlalu lama tertahan. Tidak ragu, tidak juga tergesa—hanya memastikan sesuatu yang sudah ia ketahui sejak awal.“…aku tahu,” bisiknya pelan.Seolah menjawab sesuatu yang tidak terdengar. Tangannya terangkat, membuka jendela tanpa ragu. Air laut langsung menyentuh wajahnya, dingin—namun tidak lagi mengagetkan.Kali ini, ia tidak berhenti. Tidak ada jeda yang menahannya di ambang, tidak ada keraguan yang membuatnya berpikir ulang. Maris langsung keluar, membiarkan tubuhnya berenang mengikuti arus.“…aku tidak akan menahan diri lagi,” bisiknya pelan.Perjalanannya terasa lebih singkat. Atau mungkin ia hanya tidak memperhatika

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 29

    Maris tidak melambat. Ia terus berenang naik menuju permukaan, mengikuti dorongan yang sejak tadi tidak memberinya ruang untuk berpikir. Cahaya bulan kini sudah sangat dekat, membelah air di atasnya menjadi bayangan berkilau yang bergerak pelan.Napasnya mulai tidak teratur. Bukan karena lelah, melainkan karena sesuatu yang terasa semakin dekat dan semakin nyata.“…sedikit lagi,” bisiknya pelan.Ia tidak tahu apa yang ia cari. Namun tubuhnya bergerak seolah sudah tahu, seolah ada sesuatu yang menariknya dari atas sana tanpa perlu dijelaskan.“Akhirnya… permukaan,” gumamnya. Permukaan laut akhirnya menyambutnya. Maris muncul perlahan, hanya setengah tubuhnya yang naik, air mengalir turun dari rambutnya sementara tatapannya langsung menyapu sekitar.Terlalu sunyi. Ia menoleh ke kanan, lalu ke kiri, namun tidak ada siapa pun di sana. Tidak ada gerakan, tidak ada suara—hanya laut yang tampak sama seperti biasanya.“…lagi?” gumamnya lirih.Ia tidak langsung pergi. Ada jeda, lebih lama dar

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status