LOGINYan Zhiyao terbangun dalam tubuh Shen Ruoyao, seorang putri yang sakit-sakitan, wajah menua sebelum waktunya, dan nasib tragis yang telah ia ketahui dari novel yang pernah ia baca. Dalam cerita aslinya, Ruoyao hanyalah pion yang dilupakan, mati perlahan, tanpa pernah benar-benar memiliki kendali atas hidupnya sendiri. Zhiyao menolak takdir itu. Dengan ketenangan yang tak mencolok, ia mulai memahami racun yang menggerogoti tubuhnya, membongkar konspirasi yang tersembunyi di balik perawatan, dan perlahan mengambil kembali kendali atas nasibnya. Bagi Ling Xiaochen, Pangeran Perang yang ditakuti banyak orang, pernikahan ini tak lebih dari aliansi politik dengan seorang wanita lemah. Namun semakin lama ia mengamati istrinya, semakin sulit baginya untuk mengabaikan ketenangan berbahaya di balik kelembutan yang tampak rapuh. Zhiyao tidak pernah berniat menarik perhatiannya. Namun ketika sang pangeran mulai melindunginya dengan cara yang terlalu personal… ketika jarak di antara mereka semakin sulit dijaga… permainan berbahaya pun dimulai.
View More“Berita terkini! Istana Bai Ling mengonfirmasi kaburnya Putra Mahkota Ling Chenxiao beberapa jam sebelum penandatanganan pernikahan aliansi dengan Kerajaan Yancheng. Sumber internal menyebutkan bahwa sang pangeran menolak pernikahan tersebut karena ketidaksesuaian pribadi, bahkan secara terang-terangan menyebut calon pasangannya terlalu tua seperti tante-tante.”
Suara pembaca berita dari layar televisi raksasa di ruang tengah itu menggema, mengulang-ulang skandal kerajaan paling memalukan dekade ini.
“Tante-tante? Huh!” Yan Zhiyao mendengus pelan. “Apa aku benar-benar setua itu?” Nada kesalnya terdengar ringan, lebih mirip geli daripada hancur.
Tidak ada tangisan histeris ataupun bantingan barang. Sebagai seorang wanita berusia dua puluh tujuh tahun yang sejak lahir hidup di bawah ketatnya protokol kerajaan modern dan kejamnya sorotan kamera paparazzi, Zhiyao hanya menyesap air mineralnya dengan postur punggung yang tetap tegak sempurna.
Matanya kembali jatuh pada buku yang ia genggam sebagai pelarian malam itu. Judulnya sederhana, 'Cinta di Bawah Mahkota Hitam'.
Zhiyao baru saja menamatkannya beberapa menit lalu. Ceritanya memiliki alur yang jelas, dan seperti kebanyakan novel romansa fiksi, keadilan selalu berpihak pada protagonis. Namun, sejak halaman-halaman terakhir, ada perasaan aneh yang mengganjal di dadanya.
Tokoh antagonis dalam buku itu—Putri Ruoyao—terus terbayang di benaknya. Seorang putri yang dijodohkan demi aliansi kekaisaran kuno, berwajah pucat dan menua sebelum waktunya. Ia dibenci tanpa diberi kesempatan, lalu disingkirkan dengan cara paling efisien oleh sang Pangeran agar pria itu bisa bersatu dengan adik perempuan Ruoyao.
Entah mengapa, hati Zhiyao merasa iba. Nasib mereka berdua terlalu mirip. Sama-sama dijodohkan demi kepentingan takhta, sama-sama dianggap penghalang, dan sama-sama dicampakkan dengan alasan "tidak menarik".
"Pangeran kabur demi cinta sejati. Pangeran membunuh demi cinta sejati? Ckck. Para pria keturunan raja ini sungguh konyol!" decaknya sinis.
Tiba-tiba, udara di sekitarnya terasa hampa. Suara televisi mendadak senyap.
Zhiyao menunduk menatap buku di tangannya yang seketika terasa panas. Huruf-huruf emas pada sampul berkilau terang, berdenyut pelan seolah memiliki napas. Cahaya tipis merembes dari sela-sela halaman, menyerap cahaya dari lampu ruang tengah sedikit demi sedikit.
“Ah… Apa ini?" Zhiyao mengernyit.
Belum sempat ia berpikir rasional, dalam sekejap dunia di sekelilingnya seakan retak.
Prank!
Gelas kaca dalam genggamannya jatuh membentur lantai. Sebuah tarikan gravitasi yang tak kasat mata mencengkeram kesadarannya, menyeretnya jatuh menembus cahaya, huruf, dan cerita.
Ketika Yan Zhiyao membuka mata kembali, hal pertama yang ia rasakan adalah kelemahan yang absolut.
Tubuhnya terasa sangat ringan, namun rapuh seolah tulangnya terbuat dari kaca tipis. Napasnya dangkal. Ada nyeri samar di persendian, rasa dingin tak wajar yang merayap di kulit, dan bau seduhan obat herbal yang asing memenuhi udara.
Langit-langit di atasnya bukanlah plafon modern kediamannya, melainkan ukiran kayu kuno yang rumit.
“Yang Mulia Putri Ruoyao… Anda sudah sadar?”
Sebuah suara terdengar di dekatnya, lembut dan penuh kehati-hatian. Zhiyao membeku.
Ruoyao?
Nama itu terasa seperti sesuatu yang salah tempat. Napasnya tertahan. Pikirannya kosong selama beberapa detik, sebelum memori asing membanjiri otaknya. Ingatan milik Putri Ruoyao, sang antagonis tragis dari buku yang baru saja ia baca!
Perlahan, Zhiyao menurunkan pandangannya. Tangan yang terbaring di atas ranjang itu kurus, teramat pucat, dengan urat-urat halus yang menonjol di balik kulit. Ini jelas bukan tangannya yang rutin melakukan perawatan di klinik modern. Kesadarannya benar-benar jatuh pada satu kesimpulan gila: ia telah masuk ke dalam cerita novel itu.
“Ini nggak masuk akal…” suaranya serak, nyaris pecah.
Ia mencoba duduk lebih tegak, namun tubuhnya langsung limbung. Dunia terasa bergeser, membuatnya terdiam sejenak hanya untuk menahan pusing yang mendera.
Lalu, di tengah absurditas situasi yang bisa membuat siapa pun menjerit histeris itu, ujung bibirnya justru melengkung tipis.
“Dari semua tokoh di buku itu…” Ia menghela napas kecil, antara pasrah dan terhibur. Ada nada geli yang sulit disembunyikan. “Aku malah jadi antagonis yang menunggu jadwal kematian?”
Di sudut ruangan, pelayan itu menegang. Matanya melebar, jelas tidak mengerti mengapa Putri Ruoyao yang baru siuman dari pingsan di hari pernikahannya justru berbicara dengan nada aneh dan penuh geli.
Hari sudah malam. Udara dingin merayap masuk melalui jendela kertas yang sedikit terbuka, membuat Zhiyao menggigil. Ia menarik napas dalam, menyingkap selimut sutra, dan memaksa dirinya turun. Setiap gerakan terasa berat. Ia berjalan tertatih menuju meja rias.
Cermin perunggu di sana memantulkan wajah pucat dengan garis-garis halus. Tampak kusam dan berkerut untuk ukuran seorang gadis berusia delapan belas tahun.
“Benar-benar… seperti orang tua,” gumam Zhiyao santai. Ia menahan tawa kecil.
Tatapannya menajam saat menyapu deretan botol porselen di atas meja rias: krim wajah, ramuan, dan parfum. Naluri politiknya dari dunia modern yang penuh intrik berbunyi nyaring.
“Aku harus memeriksa semuanya satu per satu.” Matanya menyipit dingin. “Tidak boleh ada yang lolos dari perhatianku.”
Pelayan di sudut ruangan menahan napas, tampak bingung sekaligus canggung. Akhirnya ia tak tahan untuk tidak berbicara.
“Ah… Yang Mulia… Anda benar-benar… berbeda malam ini.”
Zhiyao menoleh melalui bahunya, senyum setengah menghiasi wajahnya. Matanya kini tidak memancarkan keputusasaan, melainkan tatapan tajam yang mengintimidasi. "Orang yang menyentuh ambang kematian akan belajar cara memandang dunia dengan cara yang berbeda."
Pelayan itu menggigit bibirnya, ragu-ragu dan sedikit ketakutan. “Yang Mulia… apakah Anda benar-benar baik-baik saja?”
Zhiyao hanya mengembuskan napas dan memutar matanya ke arah pintu kamar.
Peran barunya di dunia ini jelas jauh lebih rapuh dibanding dirinya yang dulu. Namun, Zhiyao menyadari satu hal. Tubuh ini mungkin hancur, tapi jiwanya? Jiwanya adalah bangsawan yang telah bertahan dari kejamnya politik istana modern. Menghancurkan alur cerita klise ini hanyalah masalah waktu.
Baru saja ia melirik tirai jendela, suara langkah kaki berat dan berirama terdengar dari koridor luar. Jantung lemahnya merespons dengan berdetak lebih cepat.
Ada aura yang mendekat. Aura dominasi yang terasa familiar sekaligus menakutkan.
Engsel tua itu berderit tajam. Saat pintu kamar terbuka, refleks Yan Zhiyao langsung bekerja. Di dunia asalnya, ia tahu persis bagaimana cara menyembunyikan kelemahan dari publik dan musuh politik. Tangannya bergerak cepat, meraih selendang tipis yang tergantung di sisi ranjang. Dengan satu gerakan lincah yang mengejutkan untuk tubuh selemah itu, ia menarik kain tersebut untuk menutupi separuh wajahnya.
'Tidak. Jangan biarkan dia melihat wajah ini terlalu jelas.'
Seorang pria berdiri di ambang pintu. Tinggi menjulang, mengenakan jubah kebesaran dengan pedang besar tersarung di pinggangnya, memancarkan tatapan dingin yang seolah mampu membekukan darah.
Dialah sang Pangeran Perang Cangwu yang terkenal bengis, Ling Xiaochen.
Pria yang di dalam naskah aslinya, bertugas mencabut nyawanya. Dan sekarang… sang algojo berdiri tepat di hadapannya.
GELUDUK!Suara guntur yang membelah langit siang berawan di atas Istana Bai Ling membuat dua sosok di atas ranjang sutra itu tersentak bangun secara bersamaan.Napas Zhiyao terengah-engah. Matanya melebar, menatap langit-langit kamar yang dihiasi lampu kristal mewah. Tidak ada lagi bau anyir darah. Tidak ada lagi lantai marmer dingin Paviliun Langit. Yang ada hanyalah kehangatan sisa perapian dan suara rintik hujan sisa semalam yang membasahi kaca jendela raksasa.Di sebelahnya, Ling Chenxiao langsung terduduk dengan napas memburu. Hal pertama yang dilakukan oleh Jenderal itu bukanlah mengecek senjata, melainkan meraba perutnya sendiri dengan kecepatan kilat.Saat jemari kasarnya menyentuh otot six-pack yang sekeras papan cuci dan dada bidangnya yang penuh bekas luka kebanggaan, Chenxiao mengembuskan napas lega yang luar biasa panjang hingga ia nyaris menjatuhkan diri kembali ke kasur."Aku... aku bukan babi buncit lagi," gumam Chenxiao dengan suara bariton aslinya yang berat dan berwi
KRAAAK!Suara retakan tulang yang luar biasa keras bergema di sekujur Paviliun Langit Utama, menenggelamkan isak tangis tertahan dari Selir Agung Wan yang bersembunyi di balik pilar.Kaisar Ling Ye, sang penguasa mutlak yang selama dua dekade menebar teror di Kekaisaran Cangyue, kini menjerit melengking dengan suara yang pecah dan menyayat. Sepatu bot Ling Chenxiao yang berlapis besi baru saja meremukkan tempurung lutut kirinya tanpa ampun.Tidak ada belas kasihan. Tidak ada jeda. Sang Jenderal Naga melangkah dengan tenang, memindahkan tumpuan kakinya ke atas pergelangan tangan kanan Ling Ye yang masih memegang erat ujung jubah naganya."Ini untuk setiap napas ibuku yang kau curi," bisik Chenxiao sebagai Ling Yi dengan suara bariton yang begitu dingin, lebih beku dari es di puncak Pegunungan Utara.KRAK!Tulang pergelangan tangan sang kaisar remuk menjadi serpihan kecil di bawah tekanan fisik murni Chenxiao. Ling Ye menggelepar hebat layaknya cacing yang disiram air garam. Mata k
BOOOOOOOOOOMMMM!!!Suara ledakan yang luar biasa memekakkan telinga merobek keheningan Paviliun Langit Utama.Pintu mahoni raksasa berlapis baja setebal tiga inci yang diklaim mampu menahan hantaman kereta pelantak, hancur berkeping-keping seolah baru saja ditabrak oleh meteor yang jatuh dari langit!Tiga balok kayu ulin penguncinya patah menjadi serpihan debu. Pecahan pelat baja tajam dan bongkahan kayu seukuran batang pohon terlempar ke dalam paviliun dengan kecepatan peluru, menghantam telak formasi barisan depan Pasukan Bayangan Bulan.CRASSSHH! KRAAAK!Belasan master elit di garis depan tewas seketika dengan tubuh tertembus serpihan pintu sebelum mereka sempat melepaskan tali busur panah. Formasi Pertahanan Kura-kura Besi hancur berantakan dalam satu kedipan mata.Debu tebal dan asap mengepul menutupi pintu masuk. Dari balik kabut reruntuhan itu, sesosok raksasa melangkah masuk dengan ritme yang lambat dan mematikan.Ling Chenxiao berdiri tegak di ambang pintu. Api hitam
Jeritan melengking dari dalam Kuil Leluhur perlahan-lahan mereda, berubah menjadi rintihan serak, lalu akhirnya ditelan sepenuhnya oleh derak kayu yang terbakar.Api neraka berkobar liar, merayap naik menjilati pilar-pilar ulin hitam dan membakar habis ratusan papan nama leluhur bersepuh emas. Di tengah lautan api tersebut, tubuh Janda Permaisuri Agung He telah berubah menjadi gumpalan arang hitam yang tak lagi berbentuk. Bau daging yang hangus bercampur dengan lelehan sutra mahal menciptakan aroma kematian yang sangat memuakkan.Mantan Kaisar Ling Tian berdiri bergeming di ambang pintu kuil. Hawa panas dari kobaran api menerpa wajahnya, namun sepasang mata elang pria paruh baya itu terasa sangat dingin.Tangannya yang kasar naik, menyentuh pelan rahang dan pipinya yang kini telah mulus tanpa bekas luka bakar. Ingatan tentang malam kudeta belasan tahun lalu di mana ia merangkak keluar dari tumpukan mayat prajurit setianya dengan kulit yang meleleh, kini tumpang tindih dengan peman
Tubuh pelayan itu membentur lantai batu dengan suara tumpul yang menghentak kesadaran semua orang.Dalam hitungan detik, jamuan yang elegan itu berubah menjadi arena kepanikan. Beberapa bangsawan secara refleks melangkah mundur hingga kursi mereka terguling. Jeritan tertahan terdengar dari deretan
Keheningan yang mengikuti perintah itu jauh lebih memekakkan telinga daripada dentang lonceng istana mana pun.Aula yang tadinya dipenuhi tawa tertahan dan denting gelas kini membeku sepenuhnya. Di meja utama, pelayan yang membawa nampan perak itu mulai gemetar hebat. Nampannya berderik pelan, meng
Suasana di sekitar meja utama terasa semakin berat, meskipun senyum palsu masih menghiasi wajah para bangsawan.Xiaochen menatap lurus ke depan, namun seluruh instingnya terfokus pada perempuan di sebelahnya. Sejak awal jamuan, Ruoyao hampir tidak bersuara. Namun, satu kalimat balasan pasif-agresif
“Beradaptasi?” ulang Xiaochen pelan. Alisnya berkerut tajam. “Tubuh manusia bukan binatang percobaan.”Tabib Shan menghela napas pendek sebelum menjelaskan dengan sangat hati-hati.“Racun di dalam tubuh Putri Shen tidak bekerja seperti racun mematikan pada umumnya, Yang Mulia.” Tabib tua itu berh






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore