Share

BAB 34

Penulis: Riichan
last update Tanggal publikasi: 2026-05-07 20:35:42

Pagi itu terasa berbeda. Tidak ada yang benar-benar berubah dari bentuk rumah, arus yang mengalir di sekitarnya, atau rutinitas yang biasa terjadi. Namun suasananya tidak lagi sama—lebih sunyi, lebih kaku, dan entah kenapa… lebih sempit.

Maris merasakannya sejak ia membuka mata. Ada sesuatu yang terasa menekan bahkan sebelum ia benar-benar sadar sepenuhnya.

“…mereka tahu,” gumamnya lirih.

Ia tidak perlu menebak apa penyebabnya. Ibunya pasti sudah berbicara pada ayahnya, dan ia menyadarinya bahk
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 121

    Beberapa hari telah berlalu sejak pertemuan terakhir mereka. Nerion kembali menjalankan tugasnya menyelidiki anomali arus, namun pikirannya sesekali masih kembali pada satu hal yang samaㅡMaris.Keganjilan yang ia rasakan saat bertemu dengannya belum benar-benar hilang. Semakin ia mencoba mengabaikannya, semakin sering perasaan itu muncul kembali."..."Suatu sore, Nerion melihat Seraphine sedang sendirian di depan rumahnya. Duyung itu tampak fokus sedang merangkai bunga laut seperti biasanya."Seraphine."Seraphine menoleh dan tersenyum."Nerion."Nerion berenang mendekat dan ikut duduk tidak jauh darinya. Untuk beberapa saat, mereka hanya berbicara tentang hal-hal biasa. Tentang pemukiman, arus laut, dan beberapa kabar terbaru."Kau terlihat lelah,” ucap Seraphine yang akhirnya berhenti merangkai bunga."Apa separah itu?" tanya Nerion. "Lumayan."Seraphine tertawa kecil."Kalau begitu, aku harus mulai lebih sering beristirahat,” ucap Nerion sambil mengangguk pelan.Namun setelah itu

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 120

    Kesadaran Lycander kembali perlahan. Tubuhnya terasa berat dan nyeri di berbagai bagian. Bau darah yang samar masih tertinggal di indera penciumannya.Saat membuka mata, ia mendapati dirinya berada di sebuah pondok kecil di wilayah kawanan. Cahaya sore masuk melalui jendela dan membuat ruangan itu tampak sunyi.“Kau akhirnya bangun.”Suara Robert terdengar dari sudut ruangan. Lycander menoleh dan melihat sahabatnya sedang duduk sambil menyilangkan tangan.“Apa kau yang membawaku kesini?” tanyanya. “Pertanyaan konyol macam apa itu? Siapa lagi yang membawamu kesini selain aku?” jawab Robert sarkas. “Ya kau benar. Lalu berapa lama aku tidak sadarkan diri?” tanya Lycander lagi.“Tidak terlalu lama.”Robert terdiam sesaat.“Tapi cukup lama untuk membuatku memikirkan banyak hal.”Lycander menghela napas pelan. Ia sudah bisa menebak apa yang ingin dibicarakan Robert.Keheningan turun selama beberapa saat sebelum Robert akhirnya kembali berbicara.“Kau mengalahkan lima beruang hitam sendiri

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 119

    “Kenapa kau menjaga jarak, Lycander?” tanya salah satu rekannya. Beberapa rekan lain menoleh ke arah Lycander dan ikut mengangguk. Lycander masih terdiam, ia tetap kepikiran dengan mimpinya semalam. Perasaan tak nyaman atau lebih tepatnya bersalah masih membekas dalam dirinya. “Padahal hanya mimpi, tapi rasa bersalahku terasa sangat nyata,” batinnya. Robert yang juga berada di sana sesekali menatap ke arah Lycander. Memastikan tak ada perubahan pada dirinya. “Hey, Rob! Akhir-akhir ini kenapa kau selalu meminta dipasangkan dengan Lycander setiap kali mendapatkan giliran patroli?” tanya salah seorang rekan. Lycander mendengar obrolan itu, ia juga penasaran alibi apa yang akan dilontarkan oleh Robert pada rekan-rekan lain. Mengingat Robert masih diam-diam mengawasinya. “Lycander, satu-satunya rekan yang tak berisik seperti kalian,” jawab Robert. Jawaban Robert itu justru membuat Lycander sedikit tergelitik, sebab Robert pun juga seberisik rekan-rekan yang lainnya. “Konyol sekal

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 118

    Malam itu langit tampak cerah hingga bintang-bintang terlihat sangat jelas. Maris menikmati momen itu bersama dengan Lycander yang duduk di sampingnya.“Kau beruntung, Lycander!” ucap Maris. Lycander mengangkat alisnya sedikit terkejut mendengar pernyataan Maris itu. Melihat ekspresi Lycander yang seperti itu membuat Maris tersenyum sambil menatap langsung ke arah mata emas Lycander yang sedang menatapnya. “Ya, kau beruntung. Kau bisa menatap langit malam ini semaumu dan dari mana pun selama di daratan. Sedangkan aku…” sebelum Maris menyelesaikan ucapannya itu, Lycander memotong.“Shhhhhh,” bisiknya.Jari telunjuk Lycander tepat di depan bibir Maris seolah ingin menghentikan Maris bicara.“Kau lebih beruntung,” ucapnya akhirnya. Mata Maris sedikit membesar karena terkejut sekaligus penasaran dengan apa yg didengarnya itu.“Bagaimana aku lebih beruntung?” tanyanya.Pandangan Lycander beralih ke arah langit dan tersenyum lalu senyum itu sedikit menghilang saat ia memandang air laut y

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 117

    "Aku harus melakukan sesuatu."Kalimat itu terus terngiang di dalam benak Seraphine selama beberapa hari berikutnya. Bahkan ketika ia sedang sendirian atau ketika ia berusaha mengalihkan pikirannya pada hal-hal lain.Namun semakin ia mengingat pertemuan beberapa hari lalu, semakin sulit baginya untuk melupakan tatapan Nerion. Tatapan yang berubah semakin serius saat melihat kegugupan kecil Maris. Dan hal itu membuat hati Seraphine tidak tenang."..."Karena yang ia inginkan justru sebaliknya. Ia ingin Nerion berhenti melihat Maris.Selama ini, Seraphine selalu percaya bahwa jika Maris berubah, semuanya akan berubah pula. Ia mengira Nerion pada akhirnya akan berhenti memperhatikannya. Ternyata yang terjadi justru kebalikannya.Semakin ada sesuatu yang salah pada Maris… semakin Nerion terlihat memperhatikannya. Hal itu membuat dadanya terasa sesak."Kenapa?" pikirnya."Kenapa kau selalu melihatnya, Nerion?" gumamnya sendiri. Beberapa hari berikutnya, Seraphine kembali fokus memperhatik

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 116

    Beberapa hari setelah mimpi yang bahkan tidak dapat diingatnya, Maris kembali menjalani hari-harinya seperti biasa. Ia masih bertemu Seraphine hampir setiap hari, dan seperti biasa pula, Nerion yang baru kembali dari penyelidikannya tanpa sengaja bertemu dengan keduanya."Hai, apa kabar?" sapanya. Suara tenang itu membuat keduanya langsung menoleh. Seraphine tersenyum kecil. "Nerion!" seru Seraphine."Kau akhirnya kembali," lanjutnya. Nerion mengangguk pelan."Ya, aku kembali."Namun setelah mengatakan itu, tatapannya justru berhenti pada Maris."..."Perasaan aneh itu muncul lagi. Perasaan yang sama yang telah beberapa kali mengganggunya akhir-akhir ini. Dan entah kenapa, Nerion merasa ia tidak bisa terus mengabaikannya.Selama beberapa hari terakhir, ia terus meyakinkan dirinya bahwa semua itu hanyalah kebetulan. Anomali arus dan perasaan aneh yang muncul setiap kali melihat Maris tidak memiliki hubungan apa pun.Namun semakin lama, semakin sulit baginya untuk berpura-pura tidak

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 22

    Maris belum sempat menjawab. Suasana yang tadi menggantung tiba-tiba berubah ketika suara pintu terbuka terdengar dari dalam rumah. Ayahnya keluar, tampak siap berangkat bekerja.Ia terhenti saat melihat beberapa duyung berkumpul di depan rumah—termasuk Seraphine. Tatapannya beralih perl

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 21

    Pintu kamar Maris terbuka perlahan. Suara lembut ibunya memecah suasana yang sejak tadi terasa tegang diantara Maris dan Seraphine. “Maris… Seraphine makan siang sudah siap, ayo makan bersama.”Suara itu terdengar biasa saja. Namun bagi Maris, itu seperti penyelamat yang datang

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 20

    “Semalam… kau baik-baik saja, kan?”Jantung Maris berdetak kencang. Pertanyaan itu terdengar sederhana, namun entah kenapa terasa tepat mengenai sesuatu yang ingin ia sembunyikan. Ia menahan napas sesaat, mencoba menjaga ekspresinya tetap tenang.Pikirannya berputar cepat, menca

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 19

    …gak mungkin dia… kan?” gumam Maris. Maris mendekati jendelanya, dan di balik kaca itu—Seraphine berdiri. Cahaya redup dari dalam kamar memantul tipis, membuat sosoknya terlihat lebih lembut dari biasanya. Kehadirannya terasa kontras dengan ketegangan yang sejak tadi memenuhi ruangan.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status