MasukBagi seorang duyung, daratan adalah maut. Bagi seorang manusia serigala, laut adalah batasan. Maris melanggar aturan kuno demi melihat matahari. Ia pun berakhir sekarat di atas pasir kasar. Di sana, ia bertemu Lycander—predator bermata emas yang seharusnya memangsa, namun justru mengulurkan tangan mengembalikannya ke laut. Tanpa Maris sadari bahwa pertolongan itu adalah awal malapetaka. "Bagaimana dia bisa berubah? Makhluk apa itu?" gumam Maris tertegun melihat perubahan wujud manusia serigala di depannya.
Lihat lebih banyakBeberapa tahun telah berlalu sejak malam ketika dua kehidupan berakhir di dekat Teluk Mati.Hutan tempat Lycander pernah tinggal masih sama. Pohon-pohon tinggi masih berdiri mengelilingi wilayah itu, sungai kecil masih mengalir di antara bebatuan, dan angin malam masih membawa aroma tanah basah yang sama seperti dahulu.Namun bagi Robert, tidak ada satu pun yang benar-benar terasa sama. Ia berdiri di depan sebuah cermin kecil di dalam rumahnya. Di lehernya tergantung sebuah kalung sederhana dengan satu Mutiara Merah di tengahnya.Robert menyentuh mutiara itu perlahan. Benda tersebut masih terlihat sama seperti ketika pertama kali ia memungutnya dari tanah. Merah pekat, halus, dan memantulkan cahaya dengan cara yang aneh ketika terkena sinar bulan."Sudah lama sekali..." Robert tersenyum tipis. "Seharusnya aku sudah terbiasa."Namun ia tahu dirinya berbohong. Ia masih mengingat hari ketika pertama kali membuat kalung itu. Tangannya gemetar ketika memasukkan Mutiara Merah ke dalam tali,
Pintu ruangan Alpha terbuka menjelang dini hari, Robert masuk dengan langkah berat. Alpha yang masih berada di dalam ruangan langsung mengangkat wajah. Ia hanya perlu melihat ekspresi Robert untuk mengetahui bahwa sesuatu telah terjadi.“Robert.”Robert berhenti beberapa langkah di hadapannya. Alpha menatapnya cukup lama. “Kau tak melapor tadi malam, apa terjadi sesuatu?”Robert tidak langsung menjawab. Keheningan itu sudah cukup memberi jawaban. Alpha perlahan berdiri.“Jawab aku.”Robert menundukkan kepala. “Lycander telah tiada.”Ruangan mendadak terasa sunyi. Alpha tidak bergerak. Tatapannya tetap tertuju kepada Robert, tetapi untuk beberapa detik seolah-olah ia tidak benar-benar mendengar kalimat tersebut.“...Bagaimana?”“Anak panah menembus jantungnya.” Robert menarik napas. “Dia sempat kembali sadar sebelum meninggal.”Mata Alpha sedikit berubah. “Dia kembali?”Robert mengangguk. “Untuk beberapa saat.”Alpha menundukkan pandangan. “Apakah dia mengatakan sesuatu?”Robert terdia
Malam semakin sunyi setelah napas Maris benar-benar berhenti. Robert masih berlutut di samping tubuhnya dan Lycander, sementara beberapa mutiara merah berserakan di atas pasir di antara mereka. Ia menatap mutiara yang masih berada di telapak tangannya. Benda itu terasa hangat, seolah baru saja terlepas dari tubuh Maris beberapa saat lalu. “Ini bukan mutiara biasa...” Robert perlahan mengangkatnya mendekati cahaya bulan. Permukaannya memantulkan cahaya kemerahan yang lembut, begitu berbeda dari mutiara hitam yang pernah ia lihat sebelumnya. Ia kembali teringat pada cerita tentang air mata duyung yang dapat berubah menjadi mutiara hitam ketika lahir dari kebahagiaan murni. Namun yang ada di hadapannya sekarang berwarna merah. “Air mata kebahagiaan menghasilkan mutiara hitam...” gumam Robert. “Lalu apa yang menghasilkan warna ini?” Tidak ada jawaban. Robert menatap Maris. Wajah duyung itu masih terlihat tenang meski beberapa saat sebelumnya tubuhnya dipenuhi rasa sakit. Bahkan sete
Teriakan Maris masih menggema di sepanjang pantai. Tubuh Lycander tetap berada dalam pelukannya, tidak lagi memberikan respons apa pun meski Maris terus memanggil namanya.“Lycander!”Maris mengguncang tubuhnya perlahan, seolah berharap pria itu hanya sedang tertidur. Namun tidak ada gerakan sedikit pun, bahkan napas yang tadi masih tersisa kini benar-benar telah berhenti.“Bangun...”Suaranya pecah. “Aku tahu kau masih bisa mendengarku.”Maris menundukkan wajahnya ke dada Lycander. Ia tidak peduli bahwa tidak ada lagi detak jantung yang bisa dirasakan di sana.“Kau tak boleh pergi.”Robert berdiri beberapa langkah dari mereka. Ia ingin menghampiri Maris, tetapi kakinya terasa berat, seolah dirinya sendiri tidak tahu apa yang harus dilakukan setelah melihat Lycander menghembuskan napas terakhir.“Maris...”Maris tidak menjawab. Ia justru memeluk Lycander semakin erat.“Aku sudah bilang...” bisi
Setelah ayahnya pergi, suasana kamar Maris kembali sepi. Ia menghela napas panjang. Dan dia menatap kosong ke arah celah dinding, tempat cahaya masuk samar dari luar.“Membosankan,” gumamnya dalam hati.Ekornya bergerak pelan, menyapu pasir halus di dasar ruangan tanpa tujuan. Ia tak tahan lebih la
Sementara itu, Maris yang berhasil kembali ke perairan, menyelam dengan sekuat tenaga menuju kedalaman laut. Air menyambutnya.Dingin—namun menenangkan. Gelap—namun terasa seperti pelukan yang telah lama ia rindukan. Ia berenang cepat, tubuhnya bergerak lincah membelah arus, seolah sedang dikejar s
“Lycander!” teriak Robert.Suara itu memecah sesuatu di dalam dirinya. Lycander tersentak. Napasnya terasa berat, seolah baru saja terbangun dari sesuatu yang dalam dan asing.Air laut telah mencapai hampir dadanya, dingin meresap hingga ke tulang. Namun anehnya, ia tak mengingat kapan melangkah se
“Apa... apa yang kau lakukan?” tanya Maris ketakutan.Wajah mereka begitu dekat hingga napas pria itu menyapu kulitnya. Hangat, asing, dan membuat tubuh Maris menegang tanpa ia mengerti alasannya. Ia refleks menahan napas.“Ja-jangan…” suaranya gemetar, nyaris tak terdengar.Manusia serigala itu ti






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan