MasukJ'ai grandi aux côtés de l'alpha Griffith de la meute Avalora, et tout le monde disait que j'étais la femme la plus chanceuse de Merville. Pour moi, Griffith a refusé de conclure le lien sacré avec la compagne destinée que la Déesse de la Lune lui avait choisie. Il a proclamé au monde entier que j'étais son unique amour. Mais après que j'avais fait une fausse couche, j'ai surpris Griffith en train de parler à la guérisseuse : « Trouve une occasion pour droguer Luna, enlève-lui l'utérus, qu'elle ne puisse plus jamais tomber enceinte. » Puis, il a caressé le ventre d'une autre femme en disant : « Donne-lui les meilleurs remèdes pour protéger sa grossesse, je veux qu'elle donne naissance à l'enfant le plus fort et le plus intelligent. » Je connaissais cette femme : c'était Gisèle, la compagne que la Déesse de la Lune avait destinée à Griffith. J'ai entendu Griffith ajouter d'un ton grave à l'attention des autres : « Ne dites rien à Luna, prenez soin de sa santé de toutes vos forces, ou vous en paierez le prix. » Mon cœur était transpercé : je n'aurais jamais cru que l'homme qui m'aimait à la folie puisse me trahir. Plus tard, je suis partie sans dire un mot, leur laissant la voie libre. Et pourtant, il m'a dit qu'il avait perdu la capacité d'aimer.
Lihat lebih banyak"Satu... dua... tiga!"
Gadis seksi bersurai panjang itu segera memutar botol bir kosong dengan posisi rebah di atas meja bartender.Malam ini ia ingin menghabiskan waktu untuk bercinta dengan salah satu dari tiga lelaki tampan yang mengerubunginya dengan tatapan lapar.Si Baju Hitam, si Mata Sipit, dan si Suara Lembut.Kia sama sekali tidak mengingat nama mereka, akibat efek alkohol yang telah hampir mengambil alih seluruh fungsi otaknya, jadi dia menamakan ketiga lelaki itu berdasarkan penilaian subyektif. Alias semaunya.Botol bir itu pun mulai berputar, dan Kia tertawa geli saat salah seorang lelaki mengecup lehernya dengan penuh nafsu."Berhenti, Suara Lembut! Dilarang sentuh kecuali kamulah pemenangnya." Gadis cantik bergaun hitam ketat itu pun menjambak kasar rambut lelaki yang curang dengan mencuri start.Kia tersenyum ke arah lelaki itu, lalu mengusap bibirnya. "Jika kamu yang menang, maka malam ini aku adalah milikmu seorang," bisiknya mesra dengan nada seduktif. "Kamu bisa melakukan apa pun yang kamu mau padaku, Sayang."Ah, benar. Dia tidak akan rugi sama sekali.Tiga lelaki ini sangatlah tampan, dan Kia hanya ingin bersenang-senang sepuasnya. Lupakan Alex--brengsek--Guntoro yang sudah berani meninggalkannya demi menikahi wanita pilihan orang tuanya!'Lihat saja, Alex. Akan kukirimkan fotoku bersama lelaki yang tidur denganku, dan kita lihat apakah kau akan tetap bertahan menikah dengan jalang itu!' Batin Kia antara geram dan panas oleh amarah.Kia pun kemudian mengalihkan tatapannya kepada botol bir yang masih bergerak di atas meja, namun pergerakannya terlihat mulai memelan.Hingga akhirnya, botol kaca itu pun berhenti bergerak.Kia menelengkan kepalanya, merasa bingung ketika ujung mulut botol bir itu saat ini menghadap ke arah......seorang lelaki berseragam bartender yang berdiri di balik meja, dan ikut membalas tatapannya.Alis Kia yang melengkung indah sontak terangkat naik. "Wow," ucapnya sambil mendengus geli. "Well, tampaknya pemenangnya sudah ketemu."Si Baju Hitam-lah yang paling terlihat gusar dari ketiga lelaki yang sama-sama kecewa itu. Lelaki itu menjulurkan tangannya menyeberangi meja panjang bartender untuk merenggut kerah kemeja putih Sang pramusaji minuman. Alkohol tampaknya ikut mempengaruhi pola pikirnya yang kalut karena kalah oleh seseorang yang tak berarti di matanya."Katakan kau tidak akan menerima tawaran Nona ini," ucap Si Baju Hitam dengan suara menggeram kepada Bartender itu.Si Bartender hanya tersenyum malas, lalu dengan sengaja kembali menatap Kia dari ujung kepala hingga pinggangnya, karena dari pinggang ke bawah tertutup meja."Maaf, tapi hanya lelaki buta dan tidak normal yang bisa menolak tawaran semenggiurkan ini," ucapnya dengan seringai yang menghiasi wajahnya. "Aku terima tawaranmu, Nona."Si Baju Hitam pun terlihat makin naik pitam mendengar perkataan Sang Bartender yang seolah mengabaikan peringatannya. Sambil mengumpat keras, lelaki itu pun sontak melayangkan tinjunya kepada Bartender."Aarrgghh!!" Teriakan kesakitan pun terdengar, disertai suara derak mengerikan dari tulang yang patah.Kia pun seketika mengerjap kaget saat melihat pemandangan di depannya. Sejak kapan Bartender itu membuat sebelah sisi wajah Si Baju Hitam menempel di atas meja, dengan tangan yang dipiting kuat? Saking cepatnya, Kia bahkan tidak melihat gerakan Si Bartender!Anehnya, tak ada satu pun pekerja club atau pun bagian keamanan yang berusaha memisahkan Bartender itu dengan Si Baju Hitam, padahal dia terlihat sangat butuh bantuan."Jangan menyentuhku, kecuali kamu ingin kehilangan fungsi salah satu tanganmu," guman pelan namun penuh ancaman dari Si Bartender di telinga Si Baju Hitam yang meringis menahan sakit di tangannya."Oke. Aku menyerah, tolong lepaskan... ini sakit sekali," mohon lelaki berbaju hitam yang kini malah berbalik berada di posisi yang terjepit.Namun alih-alih langsung melepaskan, Si Bartender itu malah mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Kia. "Bagaimana, Nona? Apa dia harus saya lepaskan, atau sekalian saya hancurkan tulangnya saja?"Kia mengangkat alisnya tinggi-tinggi, lalu melipat kedua tangannya di depan dada. "Apa barusan kamu meminta pendapatku?" Tanya gadis itu memastikan.Sikap tubuh Kia itu membuat dadanya semakin membusung, sedikit mencuat dari kerah gaunnya yang rendah, menampakkan belahan indah berbalut kulit mulus tanpa cela dengan warna seputih susu.Seringai di wajah Bartender itu pun semakin melebar melihat pemandangan indah di depan matanya. "Ya, saya meminta pendapat Anda."Suara serak dan dalam milik Si Bartender itu membuat sesuatu terasa menggelitik di dalam perut Kia. Mendadak tenggorokannya terasa kering, terutama ketika untuk yang kesekian kalinya ia beradu tatap dengan lelaki itu.Gadis berambut panjang itu pun mendehem pelan untuk mengusir desir-desir aneh yang tiba-tiba terasa di jantungnya. 'Cuma efek alkohol,' guman Kia dalam hati."Lepaskan dia," ucap Kia tegas, setelah beberapa saat diam untuk menguasai diri.Lelaki Bartender itu pun kemudian mengangguk pelan, dan tak lama kemudian ia benar-benar melepaskan Si Baju Hitam. Tampak kedua temannya, Si Mata Sipit dan Si Suara Lembut, membantu lelaki malang itu untuk berdiri. Tak perlu menunggu waktu lama, ketiga lelaki itu pun pergi di bawah tatapan pengunjung club yang mendapatkan tontonan gratis.Kia menatap kepergian ketiga lelaki itu sembari berdecih pelan. Dasar pengecut, apa mereka tak ada niat untuk duel dengan bartender yang membuat teman mereka terluka? Bukannya biasanya seorang teman akan membela harga diri temannya? Entahlah. Mungkin pikirannya yang kacau saja yang beranggapan begitu.Kia terkesiap ketika merasakan seseorang yang mendadak telah berdiri di sampingnya. Ternyata lelaki itu melompati meja bartender dengan mudahnya, dan kini menatap Kia sambil menyeringai tipis.Gadis itu memutar kedua bola mata. "Dasar pamer," desisnya sembari mencebik, membuat Bartender itu tertawa pelan."Sekarang bagaimana, Nona?" Tanya lelaki itu dengan sisa tawa kecil yang masih menguar dari bibirnya. "Apa kita langsung check-in ke hotel, atau Anda mau minum-minum dulu?"Kia menumpukan sikunya ke atas meja, lalu menaruh satu sisi wajahnya di telapak tangan. Menatap ke arah lelaki di depannya dengan sorot tertarik."Siapa kamu sebenarnya?" Tanya gadis itu penasaran, lalu mengulurkan tangannya satu lagi ke wajah lelaki itu. Telunjuk Kia menyusuri pelipis dan turun ke pipi Si Bartender, lalu mengelis bibir melekuk di atas dan membusur di bawah milik lelaki itu. Seksi sekali."Kamu terlalu tampan untuk menjadi seorang Bartender. Hm... apa kamu juga berprofesi ganda sebagai seorang gigolo?" Tanya Kia antusias. Dia belum pernah mengenal seorang gigolo sebelumnya. Dan jika benar lelaki ini gigolo, maka itu akan menjadi sebuah keberuntungan baginya. Seorang gigolo pasti bisa memuaskan hasratnya.Lelaki itu menangkap jemari Kia yang mulai nakal bergerilya di dadanya dengan gerakan-gerakan zig-zag yang membuat darahnya berdesir. Lalu dengan tetap menatap lekat mata Kia, ia pun mengecup jemari gadis itu."Aku adalah milik Anda seorang, Nona. Aku akan jadi apa pun yang Anda inginkan," ucapnya, dengan sengaja mengulang perkataan yang sama yang sebelumnya diucapkan Kia kepada Si Suara Lembut.Kia pun tertawa mendengarnya. "Tampan dan humoris. Ah, kamu sangat sempurna, Sayang." Kia pun segera turun dari kursi bar stool-nya, hingga tak pelak kini ia berdiri sangat dekat dengan lelaki itu. Aroma perpaduan musk dan kayu-kayuan yang lembut namun maskulin samar-samar terhidu olehnya. Aroma yang cukup menyenangkan, dan Kia menyukainya.Gadis itu berjinjit untuk berbisik kepada Bartender itu karena tinggi badan mereka yang cukup jauh. "Bawa aku dari sini, bawa aku sejauh mungkin... hingga tak ada seorang pun yang bisa menemukan kita."BERSAMBUNGEn entendant ses paroles de plus en plus absurdes, je n’ai plus pu retenir ce que j’avais sur le cœur.« Ne crois pas que tout le monde soit aussi sale que toi. La personne à qui Trent a fait sa demande en mariage, c’est Nathalie. Je l’ai seulement aidé à choisir une bague. »« Tout le monde ne perd pas le contrôle de son cœur comme toi. »« J’ai admis avoir été un peu troublée par le lien que la Déesse de la Lune a placé entre nous, mais j’ai su qu’il n’y avait aucune possibilité entre lui et moi. Alors, je n’ai jamais laissé cet intérêt devenir de l’amour. »« Griffith, on ne s’est jamais vraiment compris. Je ne t’ai pas compris, donc, je n’ai pas su que tu me trahirais. Et toi, tu ne m’as pas comprise, alors, tu as cru que je te trahirais comme toi. »J’ai baissé les yeux vers lui, figé : « Alors, nous ne sommes pas faits l’un pour l’autre. »Après cela, Nathalie m’a dit qu’on n’avait plus vu Griffith rôder autour des murs.Peu après, l’un des informateurs de Nathalie a rappo
Griffith m’a rattrapée alors que je m’apprêtais à monter dans la voiture, un enfant dans les bras. « Alicia, attends ! »« Qu’y a-t-il encore ? » Je me suis installée dans la calèche, le regardant de haut, sans intention de prolonger la conversation.« Alicia, regarde ce bébé, comme il est adorable. Je sais que tu as toujours voulu un enfant. Peux-tu… oublier le passé, et m’aider à l’élever ? » a demandé Griffith avec sincérité.J’ai de nouveau été choquée par son culot. « Griffith, à mes yeux, ce n’est pas un enfant mignon. C’est la preuve de ta trahison. Il n’y a plus rien entre nous. »Après cela, j’ai fouetté les rênes pour partir au loin. Griffith, derrière moi, a tenté de me rattraper, mais les pleurs du bébé dans ses bras l’ont forcé à s’arrêter.Pendant l’année qui a suivi, bien que Griffith soit venu de temps à autre me chercher à la meute de Lumina, je l’ai toujours évité. Je ne l’ai plus jamais revu.Ce n’était qu’un an plus tard, lorsque je suis partie acheter des pro
Griffith a effectivement tenu sa promesse et a très vite envoyé le minerai de fer.Mais il ne l’a pas envoyé en une seule fois. Il a prétexté un manque de chariots, et à chaque livraison, il n’envoyait qu’un dixième de la quantité promise.« Ce ne sont que des excuses ! Il veut sûrement profiter de ça pour te voir ! » a dit Nathalie avec colère, « Sinon, il aurait simplement envoyé quelqu’un au lieu de venir lui-même ! »Je ne ressentais plus rien de particulier. Les efforts qu’il faisait ne me touchaient plus. S’il voulait vraiment me plaire, il n’avait qu’à m’apporter le cadavre de Gisèle plus tôt.Malheureusement, Gisèle avait utilisé des méthodes. Deux semaines se sont écoulées depuis la date prévue, et son enfant n’est toujours pas né.Pendant ces deux semaines, même Griffith n’osait plus me voir et ne venait plus en personne livrer le minerai.Il s’est contenté de m’envoyer une lettre par un messager, disant que l’enfant de Gisèle n’était pas encore assez développé, et que,
Quand Nathalie et moi sommes arrivées furieuses à la meute d’Avalora, Griffith s’apprêtait à sortir, et il a été extrêmement surpris de me voir.« Alicia, tu as accepté de revenir ? Je te promets, si tu reviens vers moi, je ne ferai plus jamais… »« Tais-toi ! Nous ne sommes pas venues pour toi. Gisèle est où ? Que cette garce sorte immédiatement ! » a crié Nathalie en le coupant brutalement.À ce moment-là, Gisèle est sortie de derrière Griffith, le ventre bien arrondi.Elle a déclaré avec fierté : « Luna, êtes-vous revenue pour assister à la naissance de l’enfant de l’Alpha et moi ? »Ignorant sa provocation, j’ai saisi mon arc et visé sa direction en demandant : « Gisèle, je te pose une question : pendant trois ans, tu as toujours envoyé des lys au château. Pourquoi, depuis ta grossesse, as-tu commencé à envoyer des violettes ? »« Est-ce parce que tu avais peur d’inhaler toi-même les substances que tu mettais dans les lys, et que cela pourrait nuire à ton propre enfant ? Tu l












Bienvenue dans Goodnovel monde de fiction. Si vous aimez ce roman, ou si vous êtes un idéaliste espérant explorer un monde parfait, et que vous souhaitez également devenir un auteur de roman original en ligne pour augmenter vos revenus, vous pouvez rejoindre notre famille pour lire ou créer différents types de livres, tels que le roman d'amour, la lecture épique, le roman de loup-garou, le roman fantastique, le roman historique et ainsi de suite. Si vous êtes un lecteur, vous pouvez choisir des romans de haute qualité ici. Si vous êtes un auteur, vous pouvez obtenir plus d'inspiration des autres pour créer des œuvres plus brillantes. De plus, vos œuvres sur notre plateforme attireront plus d'attention et gagneront plus d'adimiration des lecteurs.