Share

Sarah Diusir

"Nggak apa - apa. Santai aja sama aku," balas Patrick sambil tersenyum dan mengeluarkan laptop dari dalam tasnya.

Kemudian datang pelayan dengan membawakan makanan dan minuman yang sudah dipesan Patrick.

"Makan aja dulu," ucap Patrick sambil menyeruput orange juice.

Sarah yang belum makan siang dan hanya makan dikantin sekolah sewaktu istirahat langsung melahap habis makanan dihadapannya.

"Makasih ya Patrick. Maaf kalau aku ngerepotin kamu," ucap Sarah.

"Udah kamu makan aja dulu. Dihabisin. Aku sambil nyicil makalahnya. Kalau kamu udah selesai makan. Nanti kamu yang lanjutin ngerjain," balas Patrick sambil mengetik di keyboard laptop.

Dua jam berlalu. Sarah dan Patrick masih sibuk mengerjakan makalah. Hingga matahari telah terbenam dan berganti menjadi malam.

"Patrick. Kita kapan pulang?" tanya Sarah.

"Sebentar lagi selesai kok. Kenapa? Oh kamu takut kena marah sama lbu kamu ya?" tanya Patrick sambil memandang Sarah.

"Iya juga sih," balas Sarah.

Patrick kemudian bergegas membereskan laptopnya dan memasukkan ke dalam tas. 

"Yaudah yuk. Kita pulang sekarang aja," ucap Patrick sambil berdiri dan berjalan keluar dari cafe.

Sarah dan Patrick kemudian masuk ke dalam mobil. Kali ini Sarah duduk di samping Patrick.

"Kamu duduk didepan aja ya. Nggak usah dibelakang. Sabuknya kamu pakai dulu gih," ucap Patrick.

Sarah mencoba untuk memasang sabuknya sendiri. Namun, ia merasa kesulitan. Patrick tersenyum dan kemudian membantu Sarah memakai sabuk pengaman.

Jantung Sarah berdegup sangat kencang saat Patrick mencoba membantu Sarah memakai sabuk. Nampak wajah Patrick yang tampan mendekat ke Sarah.

"Udah aman. Aku anter kamu pulang ya," balas Patrick.

Mobil melaju dengan pelan di jalan raya.

"Patrick. Kamu anter sampai sini aja," cegah Sarah saat mobil Patrick mulai memasuki gang rumah Sarah.

"Kenapa?" tanya Patrick.

"Ini kan udah malem. Biasanya tuh didepan sana ada orang yang jaga di pos ronda. Kamu anter aku sampai sini aja. Makasih ya Patrick," balas Sarah bohong sambil bergegas keluar dari dalam mobil.

Sarah kemudian berlari menuju rumahnya. Sesampainya di pintu gerbang. Ternyata pintu gerbang rumahnya terkunci.

"Bagus. Sarah. Jamberapa ini?" tanya lbu Sarah yang tiba - tiba keluar dari dalam rumah.

"Jam 7 malem lbu," balas Sarah.

"Kan udah lbu bilang. Pulangnya jangan malem - malem. Mana tadi cowok yang anter kamu?" tanya lbu Sarah yang kemudian mendekat ke Sarah.

"Ada apa to bu?" tanya Ayah Sarah yang kemudian keluar menyusul lbu Sarah.

"Ini mas. Anakmu keluyuran sama om - om. Jam segini baru pulang," jawab lbu Sarah.

Sarah kaget mendengar jawaban dari lbunya. Padahal Sarah pergi dengan Patrick teman sekelasnya. Malah lbunya menuduh Sarah pergi dengan om - om.

"Ibu kok gitu? tadi Sarah pergi sama Patrick temen sekelas Sarah. Bukan sama om - om," bela Sarah.

"Sarah. Kamu habis dari mana dan pergi sama siapa? yang anter kamu mana? kok nggak pamitan sama ayah?" tanya Ayah Sarah.

"Nanti Sarah jelasin Yah. Tapi tolong bukain dulu pintu gerbangnya," jawab Sarah sambil menggoyang - nggoyangkan pintu gerbang rumah.

"Mas. Ya yang anter Sarah udah pulanglah. Kalau itu orang baik - baik. Pastinya bakal pamitan sama kita. Udah gini aja. Malem ini Sarah tidur di luar," ucap Ibu Sarah sambil menatap sinis Sarah.

"Yah, tadi aku ngerjain tugas kelompok sama temen sekelas," balas Sarah sambil menatap Ayahnya.

"Ayah kecewa sama kamu Sarah," balas Ayah Sarah sambil kemudian berjalan masuk ke dalam rumah.

"Ayah. Bukain pintu gerbangnya. Nanti Sarah tidur di mana malem ini?" teriak Sarah.

"Kamu tidur aja di kolong jembatan," balas lbu Sarah.

"Ibu kok bilang begitu sama Ayah? Aku kan nggak pergi sama om - om," ucap Sarah sambil mulai menangis.

"Cengeng banget malah nangis. Udah sana kamu tidur di luar," balas lbu Sarah sambil berjalan masuk ke dalam rumah.

Sarah berdiri mematung di luar pintu gerbang. Matanya menatap kosong. Air matanya bercucuran. Sarah kebingungan. Sarah kemudian menelepon Nisa teman sekelasnya.

"Nisa. Malem ini aku nginep di rumah kamu boleh?" tanya Nisa di sambungan telepon.

"Boleh Sarah. Kamu ke rumahku aja," balas Nisa sambil menutup telepon.

Sarah kemudian berjalan pelan menuju rumah Nisa yang tak jauh dari rumahnya. Hanya berjalan sekitar 10 menit saja sudah sampai. Nisa adalah sahabat Sarah sejak SMP. Sarah selalu mencurahkan isi hatinya kepada Nisa sahabatnya.

"Sarah. Kok kamu nangis?" tanya Nisa sambil memeluk Sarah.

"Siapa Nisa?" tanya Ibu Nisa dari dalam rumah.

"Ini mah. Ada Sarah. Dia mau nginep," balas Nisa.

"Yaudah. Suruh masuk aja."

Sarah dan Nisa kemudian masuk ke dalam kamar Nisa.

"Sarah, kamu kenapa?" tanya Nisa keheranan.

"Orangtua aku ngusir dari rumah," balas Sarah.

"Hah? kok bisa?" ucap Nisa kaget.

"Cuman salah paham sih. Jadi tadi sore, aku pergi dijemput sama Patrick buat ngerjain tugas kelompok. Terus pulangnya lbuku bilang ke Ayahku kalau aku habis pulang sama om - om. Jadinya ya aku di usir," ucap Sarah panjang lebar.

"Kok lbu kamu gitu sih? emang Patrick nggak pamitan?" tanya Nisa.

"Enggak sih. Aku nyuruh Patrick buat anter sampai depang gang aja," jawab Sarah.

"Yaudah. Malem ini kamu tidur aja disini. Besok pas sekolah. Kamu pakai seragam sekolah aku aja ya. Aku kan ada seragam sekolah dua," ucap Nisa sambil mengelus pelan bahu Sarah.

"Makasih ya Nisa," balas Sarah sambil memeluk Nisa.

"Iya. Udah kamu jangan nangis lagi."

Malam ini Sarah tidur di tempat Nisa. Paginya Sarah sarapan bersama dengan keluarga Nisa.

"Sarah. Kamu di usir dari rumah?" tanya lbu Nisa.

"Iya Tante. Cuman gara - gara salah paham sih," jawab Sarah sambil melahap sarapan.

"Sabar ya Sarah. Tante tau. Ibu kamu dari dulu itu memang sifatnya seperti itu. Kamu kalau ada apa - apa kesini aja. Tante udah anggap kamu seperti anak sendiri," ucap Ibu Nisa sambil tersenyum.

"Makasih ya tante."

"Lagian. Ibu kamu itu galak banget. Sukanya marah - marah sama kamu. Mukul - mukul kamu. Tante jadi kasihan sama kamu. Kok bisa ada lbu seperti itu," celoteh lbu Nisa.

"Udah ma," balas Nisa sambil menyuap sesendok nasi.

"Ibu itu juga sebel tau. Di sini kan emang udah terkenal kalau Ibunya Sarah galak. Sampai kakaknya Sarah merantau di kota. Oiya Sarah. Semalem Ayah kamu nelefon tante. Ayah kamu begitu khawatir sama kamu."

"Iya kah tante? Ayah bilang apa?" tanya Sarah.

"Intinya Ayah kamu nanyain. Kamu nginep di rumah tante atau nggak, gitu."

Sarah dan Nisa bergegas berangkat sekolah dengan di antar sopir pribadi Nisa. 

"Sarah? Kamu kenapa? Kok diem aja?" tanya Patrick yang duduk di samping Sarah.

Sarah hanya diam dan tak menjawab pertanyaan dari Patrick. Sarah malas berbicara dengan Patrick.

"Nisa. Sarah kenapa?" tanya Patrick sambil menoleh ke arah Nisa.

"Tanya aja sendiri ke Sarah," balas Nisa.

Patrick kemudian menggoyang kursi yang diduduki oleh Sarah.

"Kamu ngapain sih Patrick?" teriak Sarah sewot sambil menatap Patrick tajam dan memukul bahu Patrick dengan penggaris.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status