LOGIN"Padahal ada Brian yang biasa menjadi concertmaster menggantikan saya kalau saya sedang absen. Brian lebih berpengalaman dan permainannya lebih bagus dari Ega, Pak."
Vivan langsung protes pada Pak Hartawan atas rolling anggota yang menurutnya tidak sesuai. "Permainan Ega menurut saya sudah bagus. Kemarin saat kamu sedang di Kalimantan, saya yang kembali menyeleksi para anggota dan semuanya tidak ada masalah. Bahkan Brian juga tidak keberatan duduk di belakang Ega." "Tapi, Pak—" Ucapan Vivan langsung dipotong. "Tidak ada tapi-tapian. Saya harap kamu bisa membimbing Ega ya, Van." Vivan mendengus pelan. Enak aja ia harus bermurah hati dan bersikap baik pada orang menyebalkan itu. "Gimana?" tanya Aji setelah melihat Vivan keluar dari ruangan Pak Hartawan. Kepala Vivan menggeleng. "Sebagus apa, sih, permainannya sampai Pak Hartawan lebih milih bocah tengil itu daripada Brian." "Coba kamu tantang aja, Van," ucap Andhika. "Tadi aku liat dia lagi ada di ruangan string." Vivan, Aji, Andhika dan Joseph pergi menuju ruang string yang jaraknya hanya lima ruangan dari tempat Pak Hartawan berada. Aji membuka pintu. Ternyata di dalam ada beberapa orang yang sedang berlatih termasuk Ega dan Inditha yang sedang mengobrol di dekat jendela. "Eh, Sayang sudah datang? Kok kamu nggak ngabarin kalau sudah ada di sini, sih?" Inditha berjalan menghampiri Vivan. Vivan menatap sekilas pacarnya itu kemudian berjalan menuju ke arah Ega. "Saat ini juga, aku mau tantang kau main violin." Ega tersenyum kecil. Dalam hati ia sudah tahu dan sudah menebak kalau Vivan akan meremehkan kemampuannya yang berbeda seperti dulu. Ya terakhir kali mereka satu acara sekitar satu tahun yang lalu. "Boleh. Mau tantang lagu apa? Beethoven? Bach? Tchaikovsky? Dvorak?" "Terserah." "Kalau gitu Vivaldi: The Four Seasons - Summer. Gimana?" Vivan terdiam. Oh, ceritanya Ega mau pamer kalau sekarang dia sudah menguasai musik tersebut. Dulu waktu mereka pertama kali bertemu dan dengan ego yang tinggi karena bersaing, Vivan menantang Ega dengan musik tersebut dan alhasil Ega yang kalah karena Ega belum terlalu menguasai teknik bermain Vivaldi yang penuh dengan kecepatan berpresisi tinggi. "Silakan." Ega mengambil violin miliknya kemudian ia mulai mengatur senar supaya mendapatkan suara yang pas. Ega langsung menggesek violinnya dengan serius. Orang-orang yang ada di sana langsung memusatkan perhatiannya pada Ega yang ya secara teknik permainannya sekarang bisa dibilang lumayan dan tidak ada banyak nada yang terpeleset seperti dulu. "Oh lumayan juga. Selama setahun ini kau kayaknya banyak berlatih." Vivan berkata datar seperti biasa. "Ya dengan kemampuanku yang sekarang pantas Pak Hartawan memilih concertmaster yang baru." Ega menimpalinya dengan santai dan penuh percaya diri. "Jangan seneng dulu. Kita masih mau tantang kau main Paganini - La Campanella," ucap Brian. Ternyata ia juga sedikit sebal pada Ega dan ingin menunjukkan kalau dirinya lebih jago bermain violin. Menurut desas-desus yang beredar, Ega ini anak orang kaya dan orang tuanya pemberi donatur yang besar untuk Arsyanendra Orchestra. Orang-orang menyebut Ega adalah Nepo Baby karena hal tersebut. Apalagi baru masuk langsung menjadi concertmaster, kan bau-baunya mencurigakan ya meskipun permainan Ega sekarang ada peningkatan tapi masih jauh levelnya dari Vivan dan Brian, apalagi jam terbangnya belum cukup tidak seperti para seniornya. Ega terdiam sejenak kemudian ia mengangguk. "Oke. Ku terima tantangan kau. Vivan juga harus ikut main. Kita battle bertiga." "Ayo, siapa takut." Vivan menerima tantangan tersebut dengan senang hati. Orang-orang bersorak kegirangan. Ini seperti derby el classico yang ditunggu-tunggu banyak orang, saingan dan ketegangan akan pertandingan yang sudah lama dinantikan dan penggemar tim masing-masing berharap tim kebanggaannya itu menang. Permainan dimulai dari Brian kemudian Ega dan yang terakhir adalah Vivan. Permainan Brian berjalan mulus sementara permainan Ega ada nada yang meleset, sedikit banyak dan yang tentu saja permainan yang paling memukau berasal dari Vivan. Orang-orang berdecak kagum mendengarkan nada yang sempurna yang Vivan mainkan. Gemuruh tepuk tangan dan siulan bergema di ruangan itu. Wajah Ega terlihat tidak senang karena semua perhatian tertuju pada Vivan. Ya Ega mengakui kalau permainan Vivan tadi sangat memukau meskipun Vivan tidak mengeluarkan seluruh kemampuannya, tetapi tetap saja Ega merasa kesal karena Vivan meremehkannya gara-gara tadi dia salah nada dan sedikit memperlambat temponya. "Ada apa di sini ramai-ramai?" Pak Hartawan tiba-tiba datang. Ruangan yang tadinya riuh sekarang menjadi sunyi. "Kami habis battle, Pak. Saya sedang menguji kemampuan bermain biola Ega karena saya sudah lama tidak bertemu dengannya." Pak Hartawan menghela napas. Beliau tahu hal ini akan terjadi makanya saat ini ia akan membuat pengumuman penting supaya Ega tidak ditekan terus-terusan oleh para seniornya terutama oleh Vivan. "Dalam sesi latihan kali ini kita akan merolling posisi concertmaster. Sesi latihan pertama oleh Vivan, kedua oleh Brian, ketiga oleh Celine dan keempat oleh Ega." Orang-orang di dalam ruangan berbisik-bisik karena pengumuman mendadak itu. "Bapak akan memberikan kesempatan pada pemain yang lain yang memang berpotensi sebagai concertmaster." "Bilang aja takut digeruduk," ucap Bobby pemain viola. Orang-orang yang mendengar gumaman Bobby itu mengangguk setuju. Mereka berpikir kalau sebenarnya Pak Hartawan tadi mendengar permainan dari Brian, Ega dan juga Vivan. Makanya Pak Hartawan mungkin berpikir ulang untuk menempatkan Ega si Nepo Baby tersebut di tempat yang krusial. "Celine, kamu sekarang yang menjadi concertmaster." "Baik, Pak." Celine benar-benar tidak menyangka kalau dirinya akan ditunjuk menjadi pemimpin. Rasanya benar-benar gugup karena ia adalah seorang pemain violin kedua dan ia sekarang ditunjuk dadakan. Celine akan bermain semaksimal mungkin. "Vivan dan Brian ikut bapak ke kantor ada seseorang yang ingin bertemu dengan kalian." "Baik, Pak." Mereka berdua mengikuti Pak Hartawan. Mereka bertanya-tanya siapa orang yang dimaksud tersebut? Ada hal apa sampai rasanya sangat serius seperti ini. "Beliau adalah Pak Roni, donatur untuk orkestra kita dan beliau adalah ayahnya Ega," ucap Pak Hartawan setelah mereka bertiga duduk di ruangan khusus tamu. Baik Vivan maupun Brian langsung tidak enak hati. Mereka tahu arah tujuan pembicaraan ini akan ke mana. "Tolong bimbing Ega dengan baik. Ega masih minim pengalaman, tidak seperti kalian. Kalau Ega membuat kesalahan saat menjadi pemimpin tolong maklumi." Pak Roni mengucapkan hal tersebut sambil tersenyum seolah pergantian concertmaster bukan hal yang sangat penting. *** "Bener-bener kebangetan, ye," ucap Brian setelah ia dan Vivan berjalan cukup jauh dari ruangan Pak Hartawan. "Gak bisa dibiarin ini. Aku pengen ngehajar si Ega tapi bapaknya mau nontonin kita latihan. Ah, sial!" Vivan juga mengungkapkan kekesalannya. "Apa kita bikin petisi aja? Meskipun posisi concertmaster dirolling pun nggak bakalan bener." "Kita nanti abis pulang latihan kumpul di markas. Kita bahas hal ini. Peduli amat mau si Ega anak donatur kek, kondektur kek, bodo amat. Keadilan harus ditegakkan. Kita lawan Nepo Baby!" Brian mengangguk setuju. Rapat di markas ini hanya segelintir orang yang tahu setelah musyawarah itu membuahkan hasil, barulah mereka akan menyebarkan informasi pada anggota orkestra yang lain dan mereka berharap dengan adanya petisi ini, Pak Hartawan sebagai pemilik orkestra mau mendengarkan keluhan tersebut.Sore hari setelah salat asar di mesjid bersama Aki Ajat, Vivan duduk di belakang rumah tempat dapur khusus tungku dan tempat penyimpanan kayu bakar. Di belakang rumah terdapat kandang ayam dan juga kandang kambing. Vivan suka duduk di halaman belakang karena sinyal kartu providernya cukup bagus dibandingkan di depan rumah. Sabila pernah menyarankan Vivan untuk ganti kartu tetepi belum ia lakukan karena ia malas pergi ke konter dan harus registrasi ulang.Sebenarnya Vivan ingin pasang Wi-Fi tetapi dia tinggal di sini hanya enam bulan saja, lagipula ia harus mengeluarkan uang lagi untuk beli kabel karena pengguna Wi-Fi di sini jarang dan jaraknya cukup jauh. Kalau lagi genting biasanya Vivan sering meng-hotspot dari ponsel Sabila. Tentu saja Vivan ganti pulsanya, kalau nggak diganti, Sabila pasti udah manyun ngambek."Permisi! Aki! Nini!"Vivan menoleh pada seorang gadis berpakaian kotor dengan memakai celana panjang, kaos polos hitam dan kemeja kotak-kotak
Vivan berbaring di atas tikar sambil tubuhnya dipijat oleh Mang Uu, tukang urut kampung yang sudah tersohor namanya. Tubuh Vivan rasanya linu dan pagal akibat dirinya dari pagi sampai siang memikul tumpukan batang padi dan menyusunnya secara rapi untuk dikeprak. Ia juga tadi sempat membantu kakeknya mengarit rumput untuk makan kambing. Ia memikul dua copo bambu wadah rumput, sementara kakeknya memikul di sebuah karung.Rumah kakeknya kini banyak didatangi oleh para tetangga. Sepertinya kebiasaan di kampung sini kalau ada tamu dari kota mereka selalu bersilaturahmi sehabis pulang dari mesjid. Bahkan anak-anak kecil juga ada yang ikut, mereka sekarang sedang bermain dengan Sabila, sepupu Vivan anak dari pamannya yang bungsu.Orang tua Sabila pergi merantau ke kota, Sabila dari masuk SD kelas satu sudah dititipkan di rumah kakek dan neneknya. Sekarang Sabila dirawat oleh mereka dan juga oleh uwanya, kakak dari ibunya Vivan yang rumahnya tepat di samping rumah kakek."Gimana, udah enakan?
Byuuur!!!Vivan melemparkan air jus semangka ke wajah Inditha dan melemparkan nasi goreng ke wajah Ega.Inditha ingin menyumpah-serapahi orang yang mengganggunya itu tetapi ia tidak jadi, ia malah merasa gugup saat mengetahui Vivan berada di depannya."Jadi ini kelakuan kalian berdua. Kau tega, ya, Tha, bermain belakang seperti ini.""Aku, aku bisa jelasin, Van. Ini tidak seperti yang kamu kira.""Mau jelasin apa? Aku udah tau kelakuan kamu selama ini, Tha. Kamu udah selingkuh sama dia selama lima bulan lamanya.""Aku nggak selingkuh, Van. Kamu salah paham.""Salah paham apa? Aku sudah punya bukti kelakuan busuk kamu." Vivan mengeluarkan ponselnya yang menunjukkan semua bukti-bukti perselingkuhan Inditha selama Vivan berada di Jepang."Kau tega ya sama aku, Tha."Ega tertawa kecil. Ia melemparkan tisu yang dipakai untuk membersihkan wajahnya."Iya, kita emang main api di belakang kau, Van.""Sialan!" Vivan melayangkan tinju pada wajah tampan Ega dan membuat pemuda itu tersungkur.Viva
"Sayang kok kamu pulang nggak ngasih tau aku, sih?" Inditha merajuk pada Vivan.Saat ini Inditha sedang berkunjung ke rumah Vivan setelah mengetahui kalau Vivan sudah pulang dari Jepang satu minggu yang lalu. Padahal waktu berkirim kabar dan melihat Instagram story Vivan kemarin pacarnya itu masih memposting pemandangan indah negara sakura tersebut."Sengaja, biar jadi kejutan.""Iiiih kamu mah kebiasaan, deh, kalau abis dari mana suka nggak ngasih tau kalau udah pulang. Bete deh aku.... Oh ya, maaf ya, Sayang, waktu kamu wisuda aku nggak bisa datang. Akhir-akhir ini orkestra lagi sibuk pake banget. Sekali lagi selamat udah diwisuda, ya. Kapan-kapan kalau kita lagi free kita rayain ya.""Iya, gak apa-apa." Vivan mengambil sebuah bingkisan dari meja kemudian memberikannya pada Inditha. "Ini oleh-oleh buat kamu.""Wah ini apa, Sayang? Aku buka sekarang boleh?""Iya, silakan."Inditha membuka kado pemberian dari Vivan. Ia terkejut melihat isinya yang ternyata adalah perlengkapan skincare
Mobil Maserati berwarna merah mencolok itu berhenti di depan rumah dua lantai bergaya eropa klasik. Tidak lama kemudian seorang gadis berpakaian rapi keluar dari gerbang dan kemudian masuk ke dalam mobil mentereng tersebut.Vivan perlahan memajukan mobilnya untuk membuntuti mobil merah tersebut.Rumah yang Vivan lewati barusan adalah rumah Inditha. Tadinya Vivan ingin memberikan kejutan pada Inditha karena seminggu lagi hari ulangtahunnya, makanya Vivan tidak memberitahukan pada Inditha kalau Vivan akan main ke rumahnya.Kebetulan sekali Vivan datang berbarengan dengan mobil Maserati tersebut, jadi Vivan bisa tahu kalau Inditha sedang pergi. Tapi yang Vivan bingung siapa pemilik mobil tersebut karena setahu Vivan, pacarnya itu tidak punya teman yang punya mobil sport mewah. Rata-rata ya teman-teman Inditha sama seperti dirinya menggunakan mobil biasa.Sekitar satu jam kemudian mobil tersebut berhenti di sebuah restoran Prancis bintang lima. Vivan memilih parkir di tempat yang cukup ja
"Padahal ada Brian yang biasa menjadi concertmaster menggantikan saya kalau saya sedang absen. Brian lebih berpengalaman dan permainannya lebih bagus dari Ega, Pak."Vivan langsung protes pada Pak Hartawan atas rolling anggota yang menurutnya tidak sesuai."Permainan Ega menurut saya sudah bagus. Kemarin saat kamu sedang di Kalimantan, saya yang kembali menyeleksi para anggota dan semuanya tidak ada masalah. Bahkan Brian juga tidak keberatan duduk di belakang Ega.""Tapi, Pak—"Ucapan Vivan langsung dipotong. "Tidak ada tapi-tapian. Saya harap kamu bisa membimbing Ega ya, Van."Vivan mendengus pelan. Enak aja ia harus bermurah hati dan bersikap baik pada orang menyebalkan itu."Gimana?" tanya Aji setelah melihat Vivan keluar dari ruangan Pak Hartawan.Kepala Vivan menggeleng. "Sebagus apa, sih, permainannya sampai Pak Hartawan lebih milih bocah tengil itu daripada Brian.""Coba kamu tantang aja, Van," ucap Andhika. "Tadi aku liat dia lagi ada di ruangan string."Vivan, Aji, Andhika da







