Ladang yang Berdendang

Ladang yang Berdendang

last updateHuling Na-update : 2026-09-24
By:  Hayanis KalaniIn-update ngayon lang
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Hindi Sapat ang Ratings
7Mga Kabanata
8views
Basahin
Idagdag sa library

Share:  

Iulat
Buod
katalogo
I-scan ang code para mabasa sa App

Satu pukulan yang tak sengaja dilayangkan ke sang konduktor membuat kehidupan Vivan jungkir balik, mulai dari reputasinya rusak, diskors oleh pihak orkestra dan diasingkan oleh orang tuanya ke kampung kakek-neneknya untuk memberikannya pelajaran. Dalam setengah hidupnya selalu memegang biola, kini Vivan malah harus berganti memegang cangkul, menjadi seorang petani karena dipaksa harus membantu Arumi, gadis rese pemilik ladang sayur yang sempat berkelahi dengannya. Meskipun kata Vivan kalau Arumi itu rese, tapi kekesalannya pada Arumi perlahan luntur karena gadis itu membuat Vivan paham akan makna kehidupan. Arumi membuka mata Vivan pada dunia baru yang membuat gairah bermusiknya bangkit lagi dan memberikan warna-warna baru pada setiap nada yang ia mainkan. Akankah benih-benih cinta pun tumbuh diantara sang violinist dan gadis petani?

view more

Kabanata 1

Awal Pagi yang Membosankan

Vivan terbangun dari tidurnya yang tidak nyenyak itu dengan suasana hati yang sedikit dongkol. Baru juga jam setengah lima pagi tapi dirinya sudah bangun gara-gara dibangunkan oleh suara adzan subuh yang berkumandang dari sebuah mesjid yang jaraknya hanya seratus lima puluh meter dari tempat tinggalnya. Selain itu, suara ayam berkokok yang berasal dari belakang rumahnya dan juga ayam punya tetangga yang jaraknya jauh pun itu dari dini hari kedengaran berkokok terus.

Jujur saja, jam bangun Vivan bukan yang terlalu pagi, tapi sekitaran pukul enam pagi ia baru bangun, itu pun kalau dalam mode kerja, kalau dalam mode libur Vivan bisa bangun pukul sembilan sampai pukul sepuluh pagi.

Setelah adzan subuh itu selesai dilantunkan, Vivan kembali tidur. Rencananya hari ini ia akan bangun siang karena ya hari ini tidak ada jadwal apa pun.

Tapi rencana hanyalah rencana. Jika di rumah masih tinggal bersama ibu, rencananya semua akan gagal. Dan kali ini Vivan benar-benar sudah bangun walaupun dengan enggan.

"Hari ini kita ke sawah, bantuin kakek sama nenek panen padi," ucap Bu Herlina, ibunya Vivan.

"Baru aja tadi siang kita nyampe, masa hari ini harus langsung nguli?" Vivan protes. Ia menyeruput kopi hitamnya dengan keadaan hati yang benar-benar dongkol.

"Bantu-bantu dikit sambil perhatikan gimana kerja di sawah. Kan nanti kamu setiap hari bakal nemenin kakek sama nenek ke sawah sama ke kebun. Nggak usah banyak protes lagi, sawahnya juga deket kok tuh sawah yang di belakang rumah. Kalau sawah yang jauh kamu ke sananya dua minggu lagi."

"Kok aku, sih? Nggak mau."

Bu Herlina melotot tajam sambil berkacak pinggang. "Ayo cepat berangkat. Papa, nenek sama kakek kamu udah nunggu makan. Nih kamu bawa bakul nasi ini, mama mau bawa teko."

Dengan enggan Vivan menuruti apa kata ibunya itu soalnya ia tidak mau kena amukan yang entah sudah kesekian kalinya.

Sekitar kurang dari tujuh menit perjalanan, Vivan dan ibunya sampai di saung. Vivan meletakkan bakul nasinya dan kemudian mengamati sekitar. Hampir sejauh mata memandang orang-orang sedang sibuk, ada yang merontokkan padi pada bilah papan, ada yang memotong batang padi, ada yang memikul kemudian menumpuknya dengan rapi.

Ibunya Vivan bersiap turun ke kotakan sawah, membantu memukul padi yang kata ibunya tadi namanya adalah 'ngeprak'. Sementara Vivan disuruh untuk membantu kakek dan ayahnya memikul tumpukan batang padi.

"Nih, kamu pakai karung biar gatalnya nggak terlalu nempel. Pakai topi ninja punya kekek biar nggak gatel." Pak Sujiwo memberikan arahan pada Vivan.

Belum juga tumpukan tangkai padi itu berhasil Vivan pikul, sang violinist muda itu malah terjatuh karena tidak kuat diberikan beban yang ternyata sangat berat. Vivan pikir ringan karena melihat kakeknya dan yang lain terlihat ringan membawanya.

Kedua orang tua Vivan mentertawakan anaknya itu yang terbilang lemah fisik. Apalagi sekarang tubuh Vivan cukup kotor karena Vivan jatuh ke kotakan yang dibuat parit untuk mengalirkan air supaya tidak bergenang di sekitar tempat merontokkan padi.

Vivan sudah tidak kuat lagi. Ia ingin cepat-cepat pulang lagi ke kota. Vivan ingin skorsingnya segera berakhir.

Kenapa nasibnya harus dihukum di kampung seperti ini, sih?

Jadi, inilah awal cerita bagaimana Vivan bisa berakhir tinggal di kampung bersama kakek dan neneknya.

***

—Flashback beberapa bulan yang lalu—

Tepuk tangan menggema ketika Gloria in D major, RV 589 milik Antonio Vivaldi itu selesai dibawakan oleh Arsyanendra Orchestra di Aula Simfoni Jayadana dengan sangat apik. Konser amal yang diselenggarakan oleh berbagai pihak ini sukses digelar, apalagi konduktornya debutan baru yang sudah menjadi buah bibir karena penampilannya yang tidak kalah dari para seniornya. Selain itu, sorotan juga tidak lepas dari seorang concertmaster yang sudah jadi langganan dari banyak acara.

Pusat perhatian orang-orang tertuju pada sang konduktor muda dan sang violinist, concertmaster muda yang sebentar lagi menyelesaikan studi S2-nya di negeri Sakura sana.

Setelah acara selesai, para anggota orkestra dan penyelenggara konser amal tersebut melakukan makan malam di hotel yang tempatnya tidak jauh dari tempat konser.

Seorang gadis cantik yang juga bergabung dalam orkestra bagian paduan suara itu terlihat menghampiri kursi kosong di samping sang concertmaster yang tengah berdiskusi dengan konduktor muda dan para pemain orkestra lainnya.

"Lagi bahas apa, sih?" tanya gadis cantik bernama Inditha itu.

"Katanya orkestra kita kedatangan anggota baru. Pemain violin. Bisa-bisa jadi saingan pacar kamu, lagi," jawab sang konduktor, Aji.

"Emang iya, Sayang?"

"Paling juga anak titipan." Vivan menjawab dengan datar.

"Oh." Inditha mengangguk mengerti.

Mereka kemudian menyantap makanan yang sudah dihidangkan. Setelah selesai, mereka pulang ke rumah masing-masing. Inditha diantar oleh Vivan. Pacar Vivan itu meminta dirinya untuk main dulu tapi Vivan menolak karena besok ia harus mengikuti audisi di Kalimantan untuk acara konser pemuda-pemudi bangsa yang akan digelar bulan depan. Acara ini sering diadakan setiap setahun sekali untuk memperingati hari sumpah pemuda.

***

Rumor yang beredar ternyata benar, anggota baru orkestra ada lima orang. Satu pemain violin, kedua dan ketiga pemain obo, keempat pemain horn dan yang terakhir pemain kontrabas.

Vivan tidak asing dengan anggota baru yang masuk dalam kelompok string yaitu pemain violin yang tak lain dan tak bukan adalah rivalnya sendiri yaitu Ega.

Teman-teman terdekat Vivan menyebut Ega dengan sebutan 'Si Anak Titipan'. Bukan tanpa alasan yang jelas, soalnya ini sudah menjadi rahasia umum dikalangan para musisi klasik kalau Ega ini selalu dianakemaskan padahal kemampuan bermusiknya masih dibawah standar.

"Kalau kayak gini kita jadi males latihan gak, sih?" ucap Joseph, pemain cello sahabat Vivan dari sekolah menengah pertama.

"Sudah kuduga." Aji hanya bergumam, sebenarnya ia juga agak malas meladeni Ega soalnya dulu ia pernah satu acara dengan Ega. Selain malas latihan, Ega ini juga suka seenaknya memainkan nada tanpa memperhatikan arahan dari konduktor.

"Aku pulang duluan. Mau packing buat besok. Sampai bertemu bulan depan." Vivan pamit pada teman-temannya saat anggota baru itu selesai diperkenalkan oleh konduktor senior sekaligus pemilik Arsyanendra Orchestra yang Pak Hartawan.

"Tunggu, kita pulang bareng," ucap Joseph yang juga lolos audisi dan beberapa anggota orkestra lainnya dari kelompok perkusi dan brass.

"Kita awasi Ega selama Vivan nggak ada." Andhika, pemain flute yang juga sahabat Vivan itu berbisik pada Aji. "Aku ngerasa si Ega ini ada maksud dan tujuan lain masuk ke sini."

Aji langsung paham. Ia kira bukan hanya dirinya saja yang merasakan hal aneh seperti itu.

"Vivan udah berapa lama pacaran sama ceweknya?" tanya Aji.

"Bulan depan anniversary satu tahun hubungan mereka."

"Selera Vivan emang agak lain."

***

Setelah selesai acara di Kalimantan, Vivan kembali pulang ke Jakarta dan besok lusa ia harus datang ke studio untuk latihan karena katanya tahun baru akan diadakan konser kolaborasi bersama para penggiat kesenian tradisional Jawa Tengah. Acaranya akan diadakan di alun-alun kota. Vivan berharap acaranya diadakan malam hari supaya ia tidak panas-panasan terkena sinar matahari.

"Van!" Andhika melambaikan tangannya pada Vivan yang baru memarkirkan mobilnya di tempat yang teduh.

"Apa? Kenapa wajahmu keruh gitu?"

"Cepetan kamu liat papan buletin sekarang." Andhika mendorong tubuh Vivan supaya segera masuk ke lobi dan melihat apa yang sedang terjadi sekarang.

Vivan berdiri di depan papan buletin yang terbalut kaca bening. Matanya seketika melotot kaget melihat daftar susunan pemain orkestra yang berubah drastis.

Apa maksudnya ini? Pagi-pagi sekali Vivan harus menjalani mood yang super membetekan ini?

Tidak bisa dibiarkan!

Palawakin
Susunod na Kabanata
I-download

Pinakabagong kabanata

Higit pang Kabanata

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Walang Komento
7 Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status