LOGIN
Vivan terbangun dari tidurnya yang tidak nyenyak itu dengan suasana hati yang sedikit dongkol. Baru juga jam setengah lima pagi tapi dirinya sudah bangun gara-gara dibangunkan oleh suara adzan subuh yang berkumandang dari sebuah mesjid yang jaraknya hanya seratus lima puluh meter dari tempat tinggalnya. Selain itu, suara ayam berkokok yang berasal dari belakang rumahnya dan juga ayam punya tetangga yang jaraknya jauh pun itu dari dini hari kedengaran berkokok terus.
Jujur saja, jam bangun Vivan bukan yang terlalu pagi, tapi sekitaran pukul enam pagi ia baru bangun, itu pun kalau dalam mode kerja, kalau dalam mode libur Vivan bisa bangun pukul sembilan sampai pukul sepuluh pagi. Setelah adzan subuh itu selesai dilantunkan, Vivan kembali tidur. Rencananya hari ini ia akan bangun siang karena ya hari ini tidak ada jadwal apa pun. Tapi rencana hanyalah rencana. Jika di rumah masih tinggal bersama ibu, rencananya semua akan gagal. Dan kali ini Vivan benar-benar sudah bangun walaupun dengan enggan. "Hari ini kita ke sawah, bantuin kakek sama nenek panen padi," ucap Bu Herlina, ibunya Vivan. "Baru aja tadi siang kita nyampe, masa hari ini harus langsung nguli?" Vivan protes. Ia menyeruput kopi hitamnya dengan keadaan hati yang benar-benar dongkol. "Bantu-bantu dikit sambil perhatikan gimana kerja di sawah. Kan nanti kamu setiap hari bakal nemenin kakek sama nenek ke sawah sama ke kebun. Nggak usah banyak protes lagi, sawahnya juga deket kok tuh sawah yang di belakang rumah. Kalau sawah yang jauh kamu ke sananya dua minggu lagi." "Kok aku, sih? Nggak mau." Bu Herlina melotot tajam sambil berkacak pinggang. "Ayo cepat berangkat. Papa, nenek sama kakek kamu udah nunggu makan. Nih kamu bawa bakul nasi ini, mama mau bawa teko." Dengan enggan Vivan menuruti apa kata ibunya itu soalnya ia tidak mau kena amukan yang entah sudah kesekian kalinya. Sekitar kurang dari tujuh menit perjalanan, Vivan dan ibunya sampai di saung. Vivan meletakkan bakul nasinya dan kemudian mengamati sekitar. Hampir sejauh mata memandang orang-orang sedang sibuk, ada yang merontokkan padi pada bilah papan, ada yang memotong batang padi, ada yang memikul kemudian menumpuknya dengan rapi. Ibunya Vivan bersiap turun ke kotakan sawah, membantu memukul padi yang kata ibunya tadi namanya adalah 'ngeprak'. Sementara Vivan disuruh untuk membantu kakek dan ayahnya memikul tumpukan batang padi. "Nih, kamu pakai karung biar gatalnya nggak terlalu nempel. Pakai topi ninja punya kekek biar nggak gatel." Pak Sujiwo memberikan arahan pada Vivan. Belum juga tumpukan tangkai padi itu berhasil Vivan pikul, sang violinist muda itu malah terjatuh karena tidak kuat diberikan beban yang ternyata sangat berat. Vivan pikir ringan karena melihat kakeknya dan yang lain terlihat ringan membawanya. Kedua orang tua Vivan mentertawakan anaknya itu yang terbilang lemah fisik. Apalagi sekarang tubuh Vivan cukup kotor karena Vivan jatuh ke kotakan yang dibuat parit untuk mengalirkan air supaya tidak bergenang di sekitar tempat merontokkan padi. Vivan sudah tidak kuat lagi. Ia ingin cepat-cepat pulang lagi ke kota. Vivan ingin skorsingnya segera berakhir. Kenapa nasibnya harus dihukum di kampung seperti ini, sih? Jadi, inilah awal cerita bagaimana Vivan bisa berakhir tinggal di kampung bersama kakek dan neneknya. *** —Flashback beberapa bulan yang lalu— Tepuk tangan menggema ketika Gloria in D major, RV 589 milik Antonio Vivaldi itu selesai dibawakan oleh Arsyanendra Orchestra di Aula Simfoni Jayadana dengan sangat apik. Konser amal yang diselenggarakan oleh berbagai pihak ini sukses digelar, apalagi konduktornya debutan baru yang sudah menjadi buah bibir karena penampilannya yang tidak kalah dari para seniornya. Selain itu, sorotan juga tidak lepas dari seorang concertmaster yang sudah jadi langganan dari banyak acara. Pusat perhatian orang-orang tertuju pada sang konduktor muda dan sang violinist, concertmaster muda yang sebentar lagi menyelesaikan studi S2-nya di negeri Sakura sana. Setelah acara selesai, para anggota orkestra dan penyelenggara konser amal tersebut melakukan makan malam di hotel yang tempatnya tidak jauh dari tempat konser. Seorang gadis cantik yang juga bergabung dalam orkestra bagian paduan suara itu terlihat menghampiri kursi kosong di samping sang concertmaster yang tengah berdiskusi dengan konduktor muda dan para pemain orkestra lainnya. "Lagi bahas apa, sih?" tanya gadis cantik bernama Inditha itu. "Katanya orkestra kita kedatangan anggota baru. Pemain violin. Bisa-bisa jadi saingan pacar kamu, lagi," jawab sang konduktor, Aji. "Emang iya, Sayang?" "Paling juga anak titipan." Vivan menjawab dengan datar. "Oh." Inditha mengangguk mengerti. Mereka kemudian menyantap makanan yang sudah dihidangkan. Setelah selesai, mereka pulang ke rumah masing-masing. Inditha diantar oleh Vivan. Pacar Vivan itu meminta dirinya untuk main dulu tapi Vivan menolak karena besok ia harus mengikuti audisi di Kalimantan untuk acara konser pemuda-pemudi bangsa yang akan digelar bulan depan. Acara ini sering diadakan setiap setahun sekali untuk memperingati hari sumpah pemuda. *** Rumor yang beredar ternyata benar, anggota baru orkestra ada lima orang. Satu pemain violin, kedua dan ketiga pemain obo, keempat pemain horn dan yang terakhir pemain kontrabas. Vivan tidak asing dengan anggota baru yang masuk dalam kelompok string yaitu pemain violin yang tak lain dan tak bukan adalah rivalnya sendiri yaitu Ega. Teman-teman terdekat Vivan menyebut Ega dengan sebutan 'Si Anak Titipan'. Bukan tanpa alasan yang jelas, soalnya ini sudah menjadi rahasia umum dikalangan para musisi klasik kalau Ega ini selalu dianakemaskan padahal kemampuan bermusiknya masih dibawah standar. "Kalau kayak gini kita jadi males latihan gak, sih?" ucap Joseph, pemain cello sahabat Vivan dari sekolah menengah pertama. "Sudah kuduga." Aji hanya bergumam, sebenarnya ia juga agak malas meladeni Ega soalnya dulu ia pernah satu acara dengan Ega. Selain malas latihan, Ega ini juga suka seenaknya memainkan nada tanpa memperhatikan arahan dari konduktor. "Aku pulang duluan. Mau packing buat besok. Sampai bertemu bulan depan." Vivan pamit pada teman-temannya saat anggota baru itu selesai diperkenalkan oleh konduktor senior sekaligus pemilik Arsyanendra Orchestra yang Pak Hartawan. "Tunggu, kita pulang bareng," ucap Joseph yang juga lolos audisi dan beberapa anggota orkestra lainnya dari kelompok perkusi dan brass. "Kita awasi Ega selama Vivan nggak ada." Andhika, pemain flute yang juga sahabat Vivan itu berbisik pada Aji. "Aku ngerasa si Ega ini ada maksud dan tujuan lain masuk ke sini." Aji langsung paham. Ia kira bukan hanya dirinya saja yang merasakan hal aneh seperti itu. "Vivan udah berapa lama pacaran sama ceweknya?" tanya Aji. "Bulan depan anniversary satu tahun hubungan mereka." "Selera Vivan emang agak lain." *** Setelah selesai acara di Kalimantan, Vivan kembali pulang ke Jakarta dan besok lusa ia harus datang ke studio untuk latihan karena katanya tahun baru akan diadakan konser kolaborasi bersama para penggiat kesenian tradisional Jawa Tengah. Acaranya akan diadakan di alun-alun kota. Vivan berharap acaranya diadakan malam hari supaya ia tidak panas-panasan terkena sinar matahari. "Van!" Andhika melambaikan tangannya pada Vivan yang baru memarkirkan mobilnya di tempat yang teduh. "Apa? Kenapa wajahmu keruh gitu?" "Cepetan kamu liat papan buletin sekarang." Andhika mendorong tubuh Vivan supaya segera masuk ke lobi dan melihat apa yang sedang terjadi sekarang. Vivan berdiri di depan papan buletin yang terbalut kaca bening. Matanya seketika melotot kaget melihat daftar susunan pemain orkestra yang berubah drastis. Apa maksudnya ini? Pagi-pagi sekali Vivan harus menjalani mood yang super membetekan ini? Tidak bisa dibiarkan!Sore hari setelah salat asar di mesjid bersama Aki Ajat, Vivan duduk di belakang rumah tempat dapur khusus tungku dan tempat penyimpanan kayu bakar. Di belakang rumah terdapat kandang ayam dan juga kandang kambing. Vivan suka duduk di halaman belakang karena sinyal kartu providernya cukup bagus dibandingkan di depan rumah. Sabila pernah menyarankan Vivan untuk ganti kartu tetepi belum ia lakukan karena ia malas pergi ke konter dan harus registrasi ulang.Sebenarnya Vivan ingin pasang Wi-Fi tetapi dia tinggal di sini hanya enam bulan saja, lagipula ia harus mengeluarkan uang lagi untuk beli kabel karena pengguna Wi-Fi di sini jarang dan jaraknya cukup jauh. Kalau lagi genting biasanya Vivan sering meng-hotspot dari ponsel Sabila. Tentu saja Vivan ganti pulsanya, kalau nggak diganti, Sabila pasti udah manyun ngambek."Permisi! Aki! Nini!"Vivan menoleh pada seorang gadis berpakaian kotor dengan memakai celana panjang, kaos polos hitam dan kemeja kotak-kotak
Vivan berbaring di atas tikar sambil tubuhnya dipijat oleh Mang Uu, tukang urut kampung yang sudah tersohor namanya. Tubuh Vivan rasanya linu dan pagal akibat dirinya dari pagi sampai siang memikul tumpukan batang padi dan menyusunnya secara rapi untuk dikeprak. Ia juga tadi sempat membantu kakeknya mengarit rumput untuk makan kambing. Ia memikul dua copo bambu wadah rumput, sementara kakeknya memikul di sebuah karung.Rumah kakeknya kini banyak didatangi oleh para tetangga. Sepertinya kebiasaan di kampung sini kalau ada tamu dari kota mereka selalu bersilaturahmi sehabis pulang dari mesjid. Bahkan anak-anak kecil juga ada yang ikut, mereka sekarang sedang bermain dengan Sabila, sepupu Vivan anak dari pamannya yang bungsu.Orang tua Sabila pergi merantau ke kota, Sabila dari masuk SD kelas satu sudah dititipkan di rumah kakek dan neneknya. Sekarang Sabila dirawat oleh mereka dan juga oleh uwanya, kakak dari ibunya Vivan yang rumahnya tepat di samping rumah kakek."Gimana, udah enakan?
Byuuur!!!Vivan melemparkan air jus semangka ke wajah Inditha dan melemparkan nasi goreng ke wajah Ega.Inditha ingin menyumpah-serapahi orang yang mengganggunya itu tetapi ia tidak jadi, ia malah merasa gugup saat mengetahui Vivan berada di depannya."Jadi ini kelakuan kalian berdua. Kau tega, ya, Tha, bermain belakang seperti ini.""Aku, aku bisa jelasin, Van. Ini tidak seperti yang kamu kira.""Mau jelasin apa? Aku udah tau kelakuan kamu selama ini, Tha. Kamu udah selingkuh sama dia selama lima bulan lamanya.""Aku nggak selingkuh, Van. Kamu salah paham.""Salah paham apa? Aku sudah punya bukti kelakuan busuk kamu." Vivan mengeluarkan ponselnya yang menunjukkan semua bukti-bukti perselingkuhan Inditha selama Vivan berada di Jepang."Kau tega ya sama aku, Tha."Ega tertawa kecil. Ia melemparkan tisu yang dipakai untuk membersihkan wajahnya."Iya, kita emang main api di belakang kau, Van.""Sialan!" Vivan melayangkan tinju pada wajah tampan Ega dan membuat pemuda itu tersungkur.Viva
"Sayang kok kamu pulang nggak ngasih tau aku, sih?" Inditha merajuk pada Vivan.Saat ini Inditha sedang berkunjung ke rumah Vivan setelah mengetahui kalau Vivan sudah pulang dari Jepang satu minggu yang lalu. Padahal waktu berkirim kabar dan melihat Instagram story Vivan kemarin pacarnya itu masih memposting pemandangan indah negara sakura tersebut."Sengaja, biar jadi kejutan.""Iiiih kamu mah kebiasaan, deh, kalau abis dari mana suka nggak ngasih tau kalau udah pulang. Bete deh aku.... Oh ya, maaf ya, Sayang, waktu kamu wisuda aku nggak bisa datang. Akhir-akhir ini orkestra lagi sibuk pake banget. Sekali lagi selamat udah diwisuda, ya. Kapan-kapan kalau kita lagi free kita rayain ya.""Iya, gak apa-apa." Vivan mengambil sebuah bingkisan dari meja kemudian memberikannya pada Inditha. "Ini oleh-oleh buat kamu.""Wah ini apa, Sayang? Aku buka sekarang boleh?""Iya, silakan."Inditha membuka kado pemberian dari Vivan. Ia terkejut melihat isinya yang ternyata adalah perlengkapan skincare
Mobil Maserati berwarna merah mencolok itu berhenti di depan rumah dua lantai bergaya eropa klasik. Tidak lama kemudian seorang gadis berpakaian rapi keluar dari gerbang dan kemudian masuk ke dalam mobil mentereng tersebut.Vivan perlahan memajukan mobilnya untuk membuntuti mobil merah tersebut.Rumah yang Vivan lewati barusan adalah rumah Inditha. Tadinya Vivan ingin memberikan kejutan pada Inditha karena seminggu lagi hari ulangtahunnya, makanya Vivan tidak memberitahukan pada Inditha kalau Vivan akan main ke rumahnya.Kebetulan sekali Vivan datang berbarengan dengan mobil Maserati tersebut, jadi Vivan bisa tahu kalau Inditha sedang pergi. Tapi yang Vivan bingung siapa pemilik mobil tersebut karena setahu Vivan, pacarnya itu tidak punya teman yang punya mobil sport mewah. Rata-rata ya teman-teman Inditha sama seperti dirinya menggunakan mobil biasa.Sekitar satu jam kemudian mobil tersebut berhenti di sebuah restoran Prancis bintang lima. Vivan memilih parkir di tempat yang cukup ja
"Padahal ada Brian yang biasa menjadi concertmaster menggantikan saya kalau saya sedang absen. Brian lebih berpengalaman dan permainannya lebih bagus dari Ega, Pak."Vivan langsung protes pada Pak Hartawan atas rolling anggota yang menurutnya tidak sesuai."Permainan Ega menurut saya sudah bagus. Kemarin saat kamu sedang di Kalimantan, saya yang kembali menyeleksi para anggota dan semuanya tidak ada masalah. Bahkan Brian juga tidak keberatan duduk di belakang Ega.""Tapi, Pak—"Ucapan Vivan langsung dipotong. "Tidak ada tapi-tapian. Saya harap kamu bisa membimbing Ega ya, Van."Vivan mendengus pelan. Enak aja ia harus bermurah hati dan bersikap baik pada orang menyebalkan itu."Gimana?" tanya Aji setelah melihat Vivan keluar dari ruangan Pak Hartawan.Kepala Vivan menggeleng. "Sebagus apa, sih, permainannya sampai Pak Hartawan lebih milih bocah tengil itu daripada Brian.""Coba kamu tantang aja, Van," ucap Andhika. "Tadi aku liat dia lagi ada di ruangan string."Vivan, Aji, Andhika da







