LOGINMobil Maserati berwarna merah mencolok itu berhenti di depan rumah dua lantai bergaya eropa klasik. Tidak lama kemudian seorang gadis berpakaian rapi keluar dari gerbang dan kemudian masuk ke dalam mobil mentereng tersebut.
Vivan perlahan memajukan mobilnya untuk membuntuti mobil merah tersebut. Rumah yang Vivan lewati barusan adalah rumah Inditha. Tadinya Vivan ingin memberikan kejutan pada Inditha karena seminggu lagi hari ulangtahunnya, makanya Vivan tidak memberitahukan pada Inditha kalau Vivan akan main ke rumahnya. Kebetulan sekali Vivan datang berbarengan dengan mobil Maserati tersebut, jadi Vivan bisa tahu kalau Inditha sedang pergi. Tapi yang Vivan bingung siapa pemilik mobil tersebut karena setahu Vivan, pacarnya itu tidak punya teman yang punya mobil sport mewah. Rata-rata ya teman-teman Inditha sama seperti dirinya menggunakan mobil biasa. Sekitar satu jam kemudian mobil tersebut berhenti di sebuah restoran Prancis bintang lima. Vivan memilih parkir di tempat yang cukup jauh tetapi masih bisa memantau Inditha. Emosi Vivan tiba-tiba memuncak ketika melihat siapa pemilik mobil Maserati tersebut. Dan jeng jeng jeng orang itu adalah rivalnya yaitu Ega si Nepo Baby. Vivan sebenarnya bisa saja langsung menghajar Ega saat itu juga tapi ia tahan karena ada mobil lain yang datang. Vivan tidak tahu siapa tetapi orang itu terlihat akrab dengan Ega dan mereka bertiga kemudian berjalan masuk ke dalam restoran. Vivan juga ikut masuk tetapi ia tidak bisa ke lantai atas karena di sana tempatnya sudah direservasi semua jadi Vivan memilih untuk pulang. Tetapi sebelum itu ia memotret sebagian tempat yang setidaknya cukup i*******m-able. Tidak lupa juga ia menghubungi Inditha dan menanyakan posisi pacarnya itu sekarang. Inditha membalas pesan Vivan dengan mengatakan kalau dirinya sedang keluar bersama teman yang baru saja pulang dari luar negeri. Inditha juga menolak untuk dijemput pulang, ia juga menolak Vivan datang ke 'rumah' temannya itu karena katanya ini adalah girls time. Setengah jam kemudian Vivan mengunggah foto kolase restoran dan secangkir kopi hitam dengan gula batu di sampingnya kemudian ia memberikan keterangan 'bitter and sweet'. Inditha melihat I*******m story Vivan ketika dirinya sampai di rumah pukul sepuluh malam. Inditha benar-benar kaget karena Vivan juga berada di sana. Ia benar-benar panik dan takut kalau dirinya akan ketahuan berbohong. Tapi selama Inditha berada di restoran, ia sama sekali tidak melihat Vivan di sana. Apakah Vivan berada di lantai bawah dan bukan di tempat reservasi? *** "Sayang, semalem kamu abis dari restoran? Ke sana sama siapa? Kok nggak ngasih tau aku?" Inditha masuk ke ruang string dan duduk di kursi kosong samping Vivan. Ega yang mendengar tersebut menoleh sebentar. Ia langsung memasang telinganya untuk mendengar percakapan tersebut. "Ketemu dosen aku, kebetulan Mr. Maciej lagi liburan ke Indonesia ya sekalian aku mau ngebahas tesis yang bentar lagi selesai." "Berarti kamu bentar lagi mau ke Jepang? Yaaah... kita LDR-an dong?" "Iya, aku mau cepet-cepet lulus biar nggak harus bolak-balik Indonesia - Jepang. Beberapa bulan ini juga, kan, udah nggak bisa daring lagi kuliahnya." Vivan menjawab dengan jujur ya meskipun dalam hati ia masih kesal karena Inditha berbohong. Tapi kata Aji, Vivan tidak boleh langsung mencecar Inditha, ia harus mencari bukti dulu kemudian barulah ia melemparkan fakta perselingkuhan itu. "Aku mau pulang duluan. Sorry hari ini nggak bisa ngater kamu pulang." Vivan menggendong tasnya karena hari ini ia harus ke sekolah untuk mengajar di klub musik SMA Sasmitha. Inditha mengantarkan Vivan sampai ke parkiran. Begitu mobil Vivan sudah pergi dari, Inditha kembali ke dalam ke ruangan string. Tanpa Inditha dan Ega tahu, gerak-geriknya sedang diawasi oleh para sahabat Vivan. Bahkan Vivan juga sudah berpesan pada teman-temannya selama Vivan sedang pergi ke Jepang untuk urusan penyelesaian tesis, mereka harus melaporkan dan mendokumentasikan apa saja yang Inditha lakukan baik bersama teman-temannya ataupun saat sedang bersama Ega. Meskipun Vivan tidak ada, tetapi baik Inditha maupun Ega tidak akan terang-terangan kalau mereka menjalin kedekatan yang intim. Mereka juga main aman, dong. Nah barulah ketika waktunya tiba, mereka akan mendeklarasikan hubungan yang penuh cinta itu. *** Satu bulan kemudian Vivan sudah pulang dari Jepang. Tinggal selangkah lagi dirinya akan lulus S2 tepat waktu karena memang dari semester tiga Vivan sudah mempersiapkan semuanya, dan bulan Januari nanti saat sidang semoga semuanya berjalan lancar supaya ia cepat diwisuda. Selama Vivan berada di Jepang, ia sudah mendapatkan banyak laporan mulai dari petisi yang ditolak oleh jajaran pengurus orkestra, Ega yang tiba-tiba menjadi concertmaster menggeser Brian dan Celine yang sebenarnya sangat pantas di posisi tersebut. Dan hubungan gelap antara Ega dan Inditha. Ini laporan yang benar-benar waw. Dua hari setelah Vivan pulang, dirinya dan para sahabatnya langsung mengadakan rapat di markas. Andhika, Aji, dan Joseph memberikan laporan beserta bukti-bukti perselingkuhan Inditha. "Jangan dihajar sekarang, Van. Tunggu kau lulus dulu. Sayang, kan, usaha begadang bikin tesis hancur gara-gara kedua makhluk ini," ucap Andhika. "Tapi aku udah nggak tahan buat ngegrebek mereka." "Santai, santai. Bukti kita belum cukup kuat soalnya mereka ini kalau main suka ngajak temen-temennya yang lain." Aji juga ikut menenangkan. "Kalau mau bukti yang kuat, kita harus masukin penyusup," ucap Joseph. "Penyusup?" Vivan bertanya dengan bingung. Joseph mengangguk. "Iya, aku mau masukin sepupu aku ke grupnya pacar kamu, Van." "Sepupu? Emang di orkestra kita kau punya sodara, Jo?" Andhika juga ikut bingung karena setahu mereka Joseph tidak punya saudara yang bermain orkestra di tempat yang sama. Pacar Joseph tidak bergabung dalam klub orkestra dan adiknya pun juga sama. "Itu anggota yang kemarin baru masuk, pemain obo." "Maksudmu Eliza?" tanya Aji. Joseph mengangguk. "Iya." "Kenapa nggak bilang-bilang, sih?" "Orang dianya aja udah mewanti-wanti kalau di orkestra harus pura-pura gak kenal. Ya udah aku nggak ngenalin sepupuku itu ke kalian." "Yeeee...." Mereka bertiga bersorak kesal. Joseph hanya tertawa kecil merasa tak bersalah. Vivan belum tahu yang mana orangnya karena ia sudah lama tidak berada di orkestra, sibuk dengan studinya. "Jadi sepupumu itu mau jadi apa?" "Jadi kan gini, cewek-cewek itu ber-grup, aku mau masukin Eliza ke grup pacarmu, Van. Cewek-cewek ini kan hobinya healing kebetulan juga anggota cowok yang lain suka diajak. Kan kita sibuk, nih, jadi nggak bisa ngawasin. Makanya sekarang gantinya Eliza toh kemampuan stalking cewek tuh nggak usah diraguin lagi. Kita bakal suruh Eliza buat cari second account punya pacarmu sama Ega. Pasti kebersamaan mereka di-posting di sana." Aji menjentikkan jarinya. "Masuk akal." Vivan mengangguk-angguk mengerti. Di sini ia hanya punya waktu satu minggu sebelum akhir Oktober ia akan balik lagi ke Jepang untuk persiapan submit tesis. "Aku serahin semuanya ke kalian." Vivan tidak mau banyak berpikir lagi. Kepalanya sekarang sudah benar-benar pusing.Sore hari setelah salat asar di mesjid bersama Aki Ajat, Vivan duduk di belakang rumah tempat dapur khusus tungku dan tempat penyimpanan kayu bakar. Di belakang rumah terdapat kandang ayam dan juga kandang kambing. Vivan suka duduk di halaman belakang karena sinyal kartu providernya cukup bagus dibandingkan di depan rumah. Sabila pernah menyarankan Vivan untuk ganti kartu tetepi belum ia lakukan karena ia malas pergi ke konter dan harus registrasi ulang.Sebenarnya Vivan ingin pasang Wi-Fi tetapi dia tinggal di sini hanya enam bulan saja, lagipula ia harus mengeluarkan uang lagi untuk beli kabel karena pengguna Wi-Fi di sini jarang dan jaraknya cukup jauh. Kalau lagi genting biasanya Vivan sering meng-hotspot dari ponsel Sabila. Tentu saja Vivan ganti pulsanya, kalau nggak diganti, Sabila pasti udah manyun ngambek."Permisi! Aki! Nini!"Vivan menoleh pada seorang gadis berpakaian kotor dengan memakai celana panjang, kaos polos hitam dan kemeja kotak-kotak
Vivan berbaring di atas tikar sambil tubuhnya dipijat oleh Mang Uu, tukang urut kampung yang sudah tersohor namanya. Tubuh Vivan rasanya linu dan pagal akibat dirinya dari pagi sampai siang memikul tumpukan batang padi dan menyusunnya secara rapi untuk dikeprak. Ia juga tadi sempat membantu kakeknya mengarit rumput untuk makan kambing. Ia memikul dua copo bambu wadah rumput, sementara kakeknya memikul di sebuah karung.Rumah kakeknya kini banyak didatangi oleh para tetangga. Sepertinya kebiasaan di kampung sini kalau ada tamu dari kota mereka selalu bersilaturahmi sehabis pulang dari mesjid. Bahkan anak-anak kecil juga ada yang ikut, mereka sekarang sedang bermain dengan Sabila, sepupu Vivan anak dari pamannya yang bungsu.Orang tua Sabila pergi merantau ke kota, Sabila dari masuk SD kelas satu sudah dititipkan di rumah kakek dan neneknya. Sekarang Sabila dirawat oleh mereka dan juga oleh uwanya, kakak dari ibunya Vivan yang rumahnya tepat di samping rumah kakek."Gimana, udah enakan?
Byuuur!!!Vivan melemparkan air jus semangka ke wajah Inditha dan melemparkan nasi goreng ke wajah Ega.Inditha ingin menyumpah-serapahi orang yang mengganggunya itu tetapi ia tidak jadi, ia malah merasa gugup saat mengetahui Vivan berada di depannya."Jadi ini kelakuan kalian berdua. Kau tega, ya, Tha, bermain belakang seperti ini.""Aku, aku bisa jelasin, Van. Ini tidak seperti yang kamu kira.""Mau jelasin apa? Aku udah tau kelakuan kamu selama ini, Tha. Kamu udah selingkuh sama dia selama lima bulan lamanya.""Aku nggak selingkuh, Van. Kamu salah paham.""Salah paham apa? Aku sudah punya bukti kelakuan busuk kamu." Vivan mengeluarkan ponselnya yang menunjukkan semua bukti-bukti perselingkuhan Inditha selama Vivan berada di Jepang."Kau tega ya sama aku, Tha."Ega tertawa kecil. Ia melemparkan tisu yang dipakai untuk membersihkan wajahnya."Iya, kita emang main api di belakang kau, Van.""Sialan!" Vivan melayangkan tinju pada wajah tampan Ega dan membuat pemuda itu tersungkur.Viva
"Sayang kok kamu pulang nggak ngasih tau aku, sih?" Inditha merajuk pada Vivan.Saat ini Inditha sedang berkunjung ke rumah Vivan setelah mengetahui kalau Vivan sudah pulang dari Jepang satu minggu yang lalu. Padahal waktu berkirim kabar dan melihat Instagram story Vivan kemarin pacarnya itu masih memposting pemandangan indah negara sakura tersebut."Sengaja, biar jadi kejutan.""Iiiih kamu mah kebiasaan, deh, kalau abis dari mana suka nggak ngasih tau kalau udah pulang. Bete deh aku.... Oh ya, maaf ya, Sayang, waktu kamu wisuda aku nggak bisa datang. Akhir-akhir ini orkestra lagi sibuk pake banget. Sekali lagi selamat udah diwisuda, ya. Kapan-kapan kalau kita lagi free kita rayain ya.""Iya, gak apa-apa." Vivan mengambil sebuah bingkisan dari meja kemudian memberikannya pada Inditha. "Ini oleh-oleh buat kamu.""Wah ini apa, Sayang? Aku buka sekarang boleh?""Iya, silakan."Inditha membuka kado pemberian dari Vivan. Ia terkejut melihat isinya yang ternyata adalah perlengkapan skincare
Mobil Maserati berwarna merah mencolok itu berhenti di depan rumah dua lantai bergaya eropa klasik. Tidak lama kemudian seorang gadis berpakaian rapi keluar dari gerbang dan kemudian masuk ke dalam mobil mentereng tersebut.Vivan perlahan memajukan mobilnya untuk membuntuti mobil merah tersebut.Rumah yang Vivan lewati barusan adalah rumah Inditha. Tadinya Vivan ingin memberikan kejutan pada Inditha karena seminggu lagi hari ulangtahunnya, makanya Vivan tidak memberitahukan pada Inditha kalau Vivan akan main ke rumahnya.Kebetulan sekali Vivan datang berbarengan dengan mobil Maserati tersebut, jadi Vivan bisa tahu kalau Inditha sedang pergi. Tapi yang Vivan bingung siapa pemilik mobil tersebut karena setahu Vivan, pacarnya itu tidak punya teman yang punya mobil sport mewah. Rata-rata ya teman-teman Inditha sama seperti dirinya menggunakan mobil biasa.Sekitar satu jam kemudian mobil tersebut berhenti di sebuah restoran Prancis bintang lima. Vivan memilih parkir di tempat yang cukup ja
"Padahal ada Brian yang biasa menjadi concertmaster menggantikan saya kalau saya sedang absen. Brian lebih berpengalaman dan permainannya lebih bagus dari Ega, Pak."Vivan langsung protes pada Pak Hartawan atas rolling anggota yang menurutnya tidak sesuai."Permainan Ega menurut saya sudah bagus. Kemarin saat kamu sedang di Kalimantan, saya yang kembali menyeleksi para anggota dan semuanya tidak ada masalah. Bahkan Brian juga tidak keberatan duduk di belakang Ega.""Tapi, Pak—"Ucapan Vivan langsung dipotong. "Tidak ada tapi-tapian. Saya harap kamu bisa membimbing Ega ya, Van."Vivan mendengus pelan. Enak aja ia harus bermurah hati dan bersikap baik pada orang menyebalkan itu."Gimana?" tanya Aji setelah melihat Vivan keluar dari ruangan Pak Hartawan.Kepala Vivan menggeleng. "Sebagus apa, sih, permainannya sampai Pak Hartawan lebih milih bocah tengil itu daripada Brian.""Coba kamu tantang aja, Van," ucap Andhika. "Tadi aku liat dia lagi ada di ruangan string."Vivan, Aji, Andhika da







