MasukIstana tidak pernah benar-benar sepi. Di tengah ramainya acara setelah puncak musim panas, Madeleine menyadari seseorang yang tampak familiar.Alaric berjalan mendekat, melewati kerumunan kecil di sekitarnya.“Anda tidak mengatakan akan datang menemui saya, Tuan Alaric,” ujar Madeleine dengan senyum sopan.Alaric menunduk singkat sebagai salam. “Saya baru saja menyelesaikan urusan dengan Putra Mahkota. Kebetulan saya memang ingin berbicara dengan Anda.”Madeleine sempat terdiam sejenak. Kejujuran Alaric yang langsung pada tujuan itu cukup mengejutkannya, tetapi ia segera menenangkan ekspresinya kembali.“Begitu, ya? Jadi, bagaimana dengan saran yang saya berikan waktu itu, Tuan?” tanya Madeleine, beralih ke topik yang lebih serius. “Saya dengar tempat itu sempat diserang.”“Perkiraan Anda tepat, Yang Mulia,” jawab Alaric. Nada suaranya tenang, tetapi tatapannya menunjukkan rasa hormat yang tulus. “Itulah yang ingin saya bicarakan dengan Anda. Langkah pencegahan yang Anda sarankan te
Beberapa wanita bangsawan menutup bibir mereka dengan kipas, berusaha menahan senyum yang nyaris lolos.Rocella sendiri berdiri kaku sesaat. Ia menatap Madeleine, lalu tersenyum tipis.“Benar sekali,” kata Rocella. “Karena itu orang sering bisa menilai seseorang dari beberapa kalimat saja. Kadang kata-kata yang terdengar tenang justru menyimpan niat yang buruk.”Duchess tampak menikmati pertikaian halus antara dua saudari itu.Rocella menambahkan dengan nada manis, “Semua orang tahu bagaimana sikap anda terdahulu, Yang Mulia. Itu bukan rahasia umum.”“Tapi yang mulia putri terlihat berubah beberapa bulan ini,” sambung Duchess. Rocella tertawa pelan. “Nyonya, sifat seseorang tidak mudah berubah.” Rocella melipat kedua tangannya. “Sehebat apa pun seseorang menutupinya, pada akhirnya tabiat itu akan terlihat juga. Bagaimanapun, itu sudah menjadi bagian dari dirinya.”Rocella lalu mengalihkan pandangannya, menyapu wajah para wanita bangsawan yang berdiri di sekitar mereka satu per satu.
Duchess Rowan meletakkan cangkirnya dengan perlahan. Denting porselen yang lembut terdengar singkat di meja, seolah menandai akhir dari percakapan yang sebelumnya.Ia menatap Madeleine dengan sorot mata yang seakan menimbang sesuatu.“Di istana ini, tidak ada seorang pun yang benar-benar bisa berdiri sendirian tanpa dukungan,” ujarnya.Duchess Rowan kemudian sedikit mencondongkan tubuh. Suaranya merendah, namun tetap terdengar jelas.“Saya menyukai orang yang tahu bagaimana menjaga posisinya. Jika suatu hari tempat berdiri Anda mulai goyah, pintu saya selalu terbuka.”Sekilas, ucapan itu terdengar seperti tawaran yang ramah. Namun Madeleine memahami bahwa maknanya jauh lebih dalam.Keluarga Rowan dikenal sangat ambisius. Di kalangan bangsawan, hampir semua orang tahu bagaimana mereka terus berusaha memperluas pengaruhnya di istana.Beberapa wanita bangsawan yang duduk tidak jauh dari meja mereka sempat saling bertukar pandang ketika mendengar nada tawaran itu. Di lingkungan istana, pe
Madeleine melangkah perlahan memasuki halaman dalam. Gaunnya bergoyang lembut setiap kali ia bergerak, sementara beberapa bangsawan wanita diam-diam mengamatinya. Duchess Rowan menuntunnya menuju meja jamuan yang tertata rapi di sisi taman. Ia duduk di sebelah Madeleine, lalu memberi isyarat halus kepada pelayan. Pelayan segera menuangkan teh ke dalam cangkir Madeleine. “Teh khas dari wilayah barat,” kata Duchess Rowan ringan. “Saya rasa Yang Mulia akan menyukainya.” “Terima kasih.” Untuk beberapa saat, mereka hanya ditemani suara percakapan para bangsawan wanita dan denting porselen yang saling bersentuhan. Duchess Rowan akhirnya membuka pembicaraan. “Akhir-akhir ini nama Yang Mulia sering dibicarakan di kalangan bangsawan.” Madeleine menoleh sedikit ke arahnya. Duchess itu melanjutkan dengan nada santai, seolah hanya berbagi kabar ringan. “Terus terang saya cukup terkejut. Banyak orang mulai melihat Anda dengan cara yang berbeda sekarang.” Ia berhenti sebentar sebelum men
Madeleine mengangkat pandangannya ke arah Alaric. “Bukankah suamiku juga ikut andil merebut benteng itu dulu? Sayang sekali kalau tempat dengan pemandian air hangat seindah itu jatuh ke tangan lawan hanya karena kelalaian kita.”Madeleine memutar cangkir porselen itu perlahan sebelum melanjutkan, “Lagipula, rumor tentang emas tersembunyi di sana bisa saja sampai ke pihak luar. Anda tidak ingin mereka bergerak lebih dulu, bukan?”“Perkiraan Anda terlalu berlebihan, Yang Mulia,” ujar Alaric datar, meski dalam hati ia mulai mempertimbangkan setiap kata yang diucapkan wanita itu.“Saran saya tetap sama, Tuan Alaric. Namun, saya harap Anda memikirkannya dengan matang sebelum terlambat,” sahut Madeleine dengan ketenangan yang tak tergoyahkan.Alaric menghabiskan sisa tehnya lalu berdiri dari kursi.Ia baru saja berbalik untuk pamit ketika langkahnya mendadak terhenti.Di ambang pintu paviliun, Lucas sudah berdiri di sana. Wajahnya dingin dan mengintimidasi.“Aku tidak menyangka seorang d
Madeleine memilih parfum yang akan ia kenakan. Ia menghirup aromanya sejenak sebelum menyemprotkannya ke pergelangan tangan. Dua bulan telah berlalu sejak ia terbangun sebagai Madeleine—artinya, waktu kematiannya di masa lalu sudah terlewati. Meski begitu, ia tidak boleh lengah. Takdir mungkin bisa berubah arah, tetapi jika ia ceroboh, akhirnya bisa tetap sama. Ia beralih menuju deretan gaun. Desain yang ia pesan dari Rumah Mode Starwell akhirnya tiba. Pengerjaan mereka memang tidak pernah mengecewakan. “Aku akan memakai yang ini,” ujar Madeleine, menunjuk sebuah gaun dengan kerah tinggi yang elegan. Warnanya lembut, tanpa banyak aksesori yang mencolok. Sebagai pelengkap, ia memilih sepasang anting teardrop mutiara. Sementara itu, rumor tentang keberhasilannya menekan pajak pangan dan meredakan bentrokan dua suku di Utara telah menyebar luas ke seantero ibu kota. Rakyat mulai memuja namanya. Undangan mulai membanjiri mejanya, termasuk satu yang paling ia nantikan. “Yang Mulia







