Share

Bab 59. Merebut perhatiannya

Penulis: Ralonya
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-21 23:47:12
Ingatannya kembali pada alur asli komik itu. Rocella akan memintanya pergi berdua, tanpa pengawal. Dan Madeleine yang terlalu naif saat itu menurut saja—hingga ia terpisah dari rombongan dan berhadapan dengan sosok asing yang menjadi awal petaka.

Polanya tidak berubah.

Apakah penyusup itu belum tertangkap? Atau mereka memang menunggu saat yang tepat untuk bergerak? Namun keamanan istana tengah diperketat. Terlalu berisiko untuk menyerang secara terang-terangan. Kecuali… jebakannya sudah terp
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Lady Madeleine, Yang Mulia Tak Ingin Melepaskanmu!   Bab 99. Mencerminkan isi hati

    Duchess Rowan meletakkan cangkirnya dengan perlahan. Denting porselen yang lembut terdengar singkat di meja, seolah menandai akhir dari percakapan yang sebelumnya.Ia menatap Madeleine dengan sorot mata yang seakan menimbang sesuatu.“Di istana ini, tidak ada seorang pun yang benar-benar bisa berdiri sendirian tanpa dukungan,” ujarnya.Duchess Rowan kemudian sedikit mencondongkan tubuh. Suaranya merendah, namun tetap terdengar jelas.“Saya menyukai orang yang tahu bagaimana menjaga posisinya. Jika suatu hari tempat berdiri Anda mulai goyah, pintu saya selalu terbuka.”Sekilas, ucapan itu terdengar seperti tawaran yang ramah. Namun Madeleine memahami bahwa maknanya jauh lebih dalam.Keluarga Rowan dikenal sangat ambisius. Di kalangan bangsawan, hampir semua orang tahu bagaimana mereka terus berusaha memperluas pengaruhnya di istana.Beberapa wanita bangsawan yang duduk tidak jauh dari meja mereka sempat saling bertukar pandang ketika mendengar nada tawaran itu. Di lingkungan istana, pe

  • Lady Madeleine, Yang Mulia Tak Ingin Melepaskanmu!   Bab 98. Sisi mana saya akan berdiri

    Madeleine melangkah perlahan memasuki halaman dalam. Gaunnya bergoyang lembut setiap kali ia bergerak, sementara beberapa bangsawan wanita diam-diam mengamatinya. Duchess Rowan menuntunnya menuju meja jamuan yang tertata rapi di sisi taman. Ia duduk di sebelah Madeleine, lalu memberi isyarat halus kepada pelayan. Pelayan segera menuangkan teh ke dalam cangkir Madeleine. “Teh khas dari wilayah barat,” kata Duchess Rowan ringan. “Saya rasa Yang Mulia akan menyukainya.” “Terima kasih.” Untuk beberapa saat, mereka hanya ditemani suara percakapan para bangsawan wanita dan denting porselen yang saling bersentuhan. Duchess Rowan akhirnya membuka pembicaraan. “Akhir-akhir ini nama Yang Mulia sering dibicarakan di kalangan bangsawan.” Madeleine menoleh sedikit ke arahnya. Duchess itu melanjutkan dengan nada santai, seolah hanya berbagi kabar ringan. “Terus terang saya cukup terkejut. Banyak orang mulai melihat Anda dengan cara yang berbeda sekarang.” Ia berhenti sebentar sebelum men

  • Lady Madeleine, Yang Mulia Tak Ingin Melepaskanmu!   Bab 97. Saran untuk Duke

    Madeleine mengangkat pandangannya ke arah Alaric. “Bukankah suamiku juga ikut andil merebut benteng itu dulu? Sayang sekali kalau tempat dengan pemandian air hangat seindah itu jatuh ke tangan lawan hanya karena kelalaian kita.”Madeleine memutar cangkir porselen itu perlahan sebelum melanjutkan, “Lagipula, rumor tentang emas tersembunyi di sana bisa saja sampai ke pihak luar. Anda tidak ingin mereka bergerak lebih dulu, bukan?”​“Perkiraan Anda terlalu berlebihan, Yang Mulia,” ujar Alaric datar, meski dalam hati ia mulai mempertimbangkan setiap kata yang diucapkan wanita itu.​“Saran saya tetap sama, Tuan Alaric. Namun, saya harap Anda memikirkannya dengan matang sebelum terlambat,” sahut Madeleine dengan ketenangan yang tak tergoyahkan.Alaric menghabiskan sisa tehnya lalu berdiri dari kursi.Ia baru saja berbalik untuk pamit ketika langkahnya mendadak terhenti.Di ambang pintu paviliun, Lucas sudah berdiri di sana. Wajahnya dingin dan mengintimidasi.“Aku tidak menyangka seorang d

  • Lady Madeleine, Yang Mulia Tak Ingin Melepaskanmu!   Bab 96. Menolak imbalan

    Madeleine memilih parfum yang akan ia kenakan. Ia menghirup aromanya sejenak sebelum menyemprotkannya ke pergelangan tangan. Dua bulan telah berlalu sejak ia terbangun sebagai Madeleine—artinya, waktu kematiannya di masa lalu sudah terlewati. Meski begitu, ia tidak boleh lengah. Takdir mungkin bisa berubah arah, tetapi jika ia ceroboh, akhirnya bisa tetap sama. ​Ia beralih menuju deretan gaun. Desain yang ia pesan dari Rumah Mode Starwell akhirnya tiba. Pengerjaan mereka memang tidak pernah mengecewakan. ​“Aku akan memakai yang ini,” ujar Madeleine, menunjuk sebuah gaun dengan kerah tinggi yang elegan. Warnanya lembut, tanpa banyak aksesori yang mencolok. Sebagai pelengkap, ia memilih sepasang anting teardrop mutiara. ​Sementara itu, rumor tentang keberhasilannya menekan pajak pangan dan meredakan bentrokan dua suku di Utara telah menyebar luas ke seantero ibu kota. Rakyat mulai memuja namanya. Undangan mulai membanjiri mejanya, termasuk satu yang paling ia nantikan. ​“Yang Mulia

  • Lady Madeleine, Yang Mulia Tak Ingin Melepaskanmu!   Bab 95. Jodoh untuk Rocella

    Madeleine tak mengalihkan pandangan dari paras tenang Daphne yang kini duduk di hadapannya. Di antara mereka, kepul uap teh hangat dan aroma kue yang manis tersaji dengan apik. ​Daphne menyesap minumannya perlahan sebelum meletakkan cangkir itu kembali ke tatakannya. “Kau tampak sehat, Yang Mulia,” ujarnya dengan senyum hangat. ​“Tentu, Ibu,” jawab Madeleine singkat. ​“Aku sangat khawatir karena masalah yang menimpamu. Tuduhan yang dilemparkan padamu sangatlah kejam,” lanjut Daphne. Ada kilat kekesalan yang melintas di matanya yang semula lembut. “Mereka bahkan tidak meminta maaf setelah kau terbukti tak bersalah.” ​Madeleine hanya tersenyum tipis. “Biarkan saja, Ibu.” Daphne menghela napas lega, jarinya mengusap tepi cangkir porselen. “Kau jauh lebih dewasa sekarang. Beberapa bulan lalu kau masih merengek hanya karena Putra Mahkota mengabaikanmu. Ibu sempat ragu apakah putriku benar-benar sudah berubah atau tidak,” ujar Daphne lembut. ​Senyum Madeleine sempat memudar sesaat, s

  • Lady Madeleine, Yang Mulia Tak Ingin Melepaskanmu!   Bab 94. Cara menemui putri mahkota

    Di kediaman Moore, Rocella menerobos masuk ke ruang kerja ayahnya. Sepatu peraknya bergaung di lantai marmer. “Ayah, rencanamu gagal!” serunya. Wajahnya memerah. “Ia terbebas dari hukuman, informan kita tertangkap, dan sekarang kakak justru makin kuat. Bagaimana aku bisa jadi ratu?” Wilder hanya menatapnya tajam. “Teruslah berteriak,” katanya tenang. “Siapa tahu ibumu mendengarnya.” “Wanita itu bukan ibuku!” bentak Rocella. “Kali ini aku akan bergerak sendiri,” katanya tajam. “Ayah memang menyuruhku diam. Tapi aku tidak akan membiarkan kakak terus menang. Ia harus tahu posisinya.” Napasnya memburu. “Lucas tidak pernah mencintainya. Aku akan membuatnya sadar bahwa semua usahanya sia-sia.” Wilder menatapnya tanpa tergesa. “Rocella,” ucapnya tenang, “jika kau menunjukkan kebencianmu di depan Lucas, ia akan kehilangan rasa hormat padamu. Itu hanya akan menguntungkan kakakmu.” Ia berhenti sejenak sebelum menambahkan, “Kalau ingin menjatuhkan seseorang, jangan terlihat sedang me

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status