MasukMadeleine tak mengalihkan pandangan dari paras tenang Daphne yang kini duduk di hadapannya. Di antara mereka, kepul uap teh hangat dan aroma kue yang manis tersaji dengan apik. Daphne menyesap minumannya perlahan sebelum meletakkan cangkir itu kembali ke tatakannya. “Kau tampak sehat, Yang Mulia,” ujarnya dengan senyum hangat. “Tentu, Ibu,” jawab Madeleine singkat. “Aku sangat khawatir karena masalah yang menimpamu. Tuduhan yang dilemparkan padamu sangatlah kejam,” lanjut Daphne. Ada kilat kekesalan yang melintas di matanya yang semula lembut. “Mereka bahkan tidak meminta maaf setelah kau terbukti tak bersalah.” Madeleine hanya tersenyum tipis. “Biarkan saja, Ibu.” Daphne menghela napas lega, jarinya mengusap tepi cangkir porselen. “Kau jauh lebih dewasa sekarang. Beberapa bulan lalu kau masih merengek hanya karena Putra Mahkota mengabaikanmu. Ibu sempat ragu apakah putriku benar-benar sudah berubah atau tidak,” ujar Daphne lembut. Senyum Madeleine sempat memudar sesaat, s
Di kediaman Moore, Rocella menerobos masuk ke ruang kerja ayahnya. Sepatu peraknya bergaung di lantai marmer. “Ayah, rencanamu gagal!” serunya. Wajahnya memerah. “Ia terbebas dari hukuman, informan kita tertangkap, dan sekarang kakak justru makin kuat. Bagaimana aku bisa jadi ratu?” Wilder hanya menatapnya tajam. “Teruslah berteriak,” katanya tenang. “Siapa tahu ibumu mendengarnya.” “Wanita itu bukan ibuku!” bentak Rocella. “Kali ini aku akan bergerak sendiri,” katanya tajam. “Ayah memang menyuruhku diam. Tapi aku tidak akan membiarkan kakak terus menang. Ia harus tahu posisinya.” Napasnya memburu. “Lucas tidak pernah mencintainya. Aku akan membuatnya sadar bahwa semua usahanya sia-sia.” Wilder menatapnya tanpa tergesa. “Rocella,” ucapnya tenang, “jika kau menunjukkan kebencianmu di depan Lucas, ia akan kehilangan rasa hormat padamu. Itu hanya akan menguntungkan kakakmu.” Ia berhenti sejenak sebelum menambahkan, “Kalau ingin menjatuhkan seseorang, jangan terlihat sedang me
“Sejujurnya, saya tidak suka urusan wilayah saya dibawa ke meja dewan,” ujar Alaric dengan wajah mengeras. Tatapannya beralih tajam pada Madeleine. “Terlebih jika seorang wanita yang tidak memahami militer ikut memberi saran.” Madeleine membalas tatapan itu tanpa gentar. “Maaf jika itu mengganggu Anda, Duke. Saran saya hanya untuk menjaga stabilitas. Anda bebas mempertimbangkannya atau mengabaikannya.” Ketegangan di ruangan itu pecah saat Kaisar akhirnya bicara. “Duke Alaric,” panggilnya tenang. “Saran Putri Mahkota bukan untuk meragukan kemampuanmu, tetapi untuk memastikan rakyatmu tetap bisa makan.” Ia bersandar di singgasananya. “Seorang penguasa harus tahu kapan menggunakan kekuatan, dan kapan mendengarkan saran orang lain.” Tatapannya menajam. “Aku memercayaimu menyelesaikan masalah di utara. Tapi aku tidak ingin konflik itu merembet hingga mengganggu lumbung pangan kita. Anggap saja itu strategi politik.” Alaric terdiam sejenak sebelum akhirnya menundukkan kepala. Lu
Semua mata tertuju pada Madeleine. Semua orang tahu pertanyaan itu hanya untuk mengujinya. Lucas juga menunggu bagaimana sang putri menjawab Elowen. Madeleine menegakkan punggungnya. “Jika kita terus bergantung pada barang dari luar sambil menaikkan pajak, yang menanggung beban tetap rakyat,” ujarnya tenang. Pandangannya menyapu para anggota dewan. “Pertanyaannya sederhana. Siapa yang sebenarnya diuntungkan oleh kebijakan ini? Rakyat atau para bangsawan?” Tak ada yang menjawab. Beberapa anggota dewan hanya saling melirik dengan wajah tidak senang. “Usulan saya,” lanjut Madeleine, “pajak barang mewah tetap seperti yang sudah disahkan. Tapi pajak bahan pangan seperti gandum, tepung, dan kebutuhan pokok lainnya dikurangi.” Ia menoleh ke arah bendahara kerajaan. “Dengan begitu kita tetap bisa bekerja sama dengan negara lain, dan kas kekaisaran juga tidak kehilangan pemasukan.” Madeleine tahu kebijakan itu tidak akan merugikan kekaisaran. Pajak barang mewah justru akan menambah pe
Aula itu sudah dipenuhi tujuh anggota dewan yang duduk berderet di sisi kanan dan kiri.Kaisar berada di singgasana utama. Lucas duduk di kursi yang lebih rendah di sisi kanan, sementara Madeleine menempati kursi di sebelahnya.Di bawah sisi kiri singgasana berdiri sekretaris istana, Sedrik Connor.Madeleine menyapu pandangannya ke seluruh ruangan. Wajah para bangsawan tampak kaku dan serius.‘Jadi beginilah rapat dewan kekaisaran,’ pikirnya. ‘Tegang sekali … hampir seperti rapat panjang yang hanya membahas anggaran desa.’Sejak ia melangkah masuk, tujuh anggota dewan itu sudah menatapnya dengan pandangan yang jelas tidak bersahabat. Tak satu pun berusaha menyembunyikannya.Melihat suasana yang mulai memanas, sekretaris istana akhirnya angkat bicara.“Kehadiran Putri Mahkota hari ini merupakan keputusan Kaisar Agung,” ujar Sedrik dengan suara tenang. “Jika ada yang keberatan, silakan menyampaikannya sekarang.”Seorang pria segera berdiri dari barisan dewan. Ia adalah Perwakilan Bangsa
Ucapan Lucas membuat Madeleine tersentak pelan. Seolah ada sesuatu yang baru saja ia lewatkan. Lucas menyandarkan tubuhnya di kursi, menatapnya dengan ekspresi dingin. “Kau selalu seperti ini,” katanya datar. “Ceroboh dan bertindak sesuka hati.” Madeleine menahan napas sejenak sebelum menjawab, “Maaf, Yang Mulia. Aku tidak menyadari kalau kelalaianku bisa menimbulkan masalah sebesar itu.” Lucas menatapnya beberapa saat. Wajahnya tidak lagi setegang tadi. “Setidaknya sekarang kau menyadarinya,” ujar Lucas singkat. Madeleine hanya mengangguk tipis. “Aku akan meminta Kael memberi hukuman pada prajurit yang menjaga gerbang samping. Mereka jelas lalai.” Lucas berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan nada yang lebih tenang. “Namun sebelum itu, aku sempat mengira dayang itu keluar atas perintahmu.” Tatapannya meneliti wajah Madeleine. “Bukankah dia pergi untuk menemui ayahmu?” Madeleine langsung menggeleng. “Tidak, Yang Mulia. Dia keluar tanpa izinku.” Namun pertanyaan itu membu







