Beranda / Thriller / Langkah Dewi : Warisan Rahasia / Bab 47 – “NKRI Harga Mati, Tapi Korupsi Tanpa Akhir”

Share

Bab 47 – “NKRI Harga Mati, Tapi Korupsi Tanpa Akhir”

Penulis: T.Y.LOVIRA
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-16 09:09:47

“NKRI harga mati!” teriak sang pemimpin ormas di podium, suaranya menggema di hadapan ribuan massa yang terpukau. Bendera merah putih berkibar, wajahnya penuh semangat nasionalisme yang menggebu-gebu. Semua terkesima, bahkan media utama tak hentinya mengulang jargon itu sebagai simbol patriotisme sejati.

Namun di balik sorot kamera dan sorak-sorai rakyat, kisah gelap justru terungkap. Sang pencipta jargon tersebut kini menjadi tersangka utama dalam kasus korupsi dana Haji miliaran rupiah yang mengguncang negeri. Ia sempat melarikan diri ke luar negeri, menghindari jerat hukum yang kian rapat mengepung.

Dewi mengamati rekaman video lama saat sang ormas tersebut dengan lantang menuduh ormas lain sebagai radikal dan radikul. “Mereka menyulut kebencian dan perpecahan, bukan karena ideologi, tapi demi menjilat penguasa dan mempertahankan pintu bisnis mereka,” bisik Dewi kepada timnya.

Damar memperlihatkan data korupsi yang terperinci. “Dana Haji yang seharusnya digunakan untuk kepenting
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Langkah Dewi : Warisan Rahasia   Bab 125 — Retakan di Dalam Barisan

    “Pengkhianatan jarang datang dari musuh. Ia lahir dari orang yang pernah duduk semeja dan tersenyum paling lama.”Ruang rapat itu sunyi, terlalu sunyi untuk keputusan sebesar ini. Lampu LED memantul di meja kaca, memecah wajah-wajah yang biasanya lantang menjadi bayangan kaku. Dewi berdiri di ujung meja, kedua tangannya bertumpu ringan, seolah beban dunia tak cukup berat untuk membungkukkannya.“Negara itu menarik diri,” kata Arga, analis kepercayaannya. “Alasannya klasik: stabilitas nasional dan tekanan mitra strategis.”“Tekanan siapa?” tanya Dewi, datar.Tak ada yang langsung menjawab. Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar seperti napas tertahan.Dewi menoleh ke layar. Peta kawasan menyala, satu titik berubah abu-abu. Kecil, tapi efeknya menjalar—seperti retakan halus di kaca yang terlihat sepele, sampai tiba-tiba seluruh permukaan runtuh.“Ini bukan soal satu negara,” lanjut Dewi. “Ini sinyal.”Seseorang di ujung meja menggeser kursi. “Jika mereka mundur, rantai kepercayaan

  • Langkah Dewi : Warisan Rahasia   BAB 124-Standar, Kuasa, dan Ketakutan yang Tidak Pernah Diucapkan

    Lampu-lampu gedung itu menyala dingin, putih, tanpa jendela.Bukan karena ingin terlihat modern—melainkan agar siapa pun di dalamnya lupa waktu.Dewi duduk di ujung meja kaca panjang. Di seberangnya, layar besar menampilkan peta dunia. Bukan peta politik. Bukan peta militer.Peta alur uang.“Perhatikan baik-baik,” katanya, suaranya tenang namun menekan.“Perang modern tidak lagi dimulai dengan tembakan.”Ia menyentuh layar. Garis-garis cahaya muncul—mengalir dari negara berkembang menuju pusat-pusat lama dunia.“Inilah kolonialisme versi baru,” lanjutnya. “Bukan penjajahan wilayah. Tapi penjajahan standar.”Salah satu hadirin mengernyit.“Standar… pembayaran?”“Bukan cuma pembayaran,” Dewi mengoreksi. “Bahasa teknologi. Protokol. Aturan main. Siapa yang menentukan standar—dialah yang mengatur aliran nilai.”Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan pelan,“Dan selama ini, bukan kita.”Di ruangan itu, semua paham. Negara boleh merdeka secara bendera, tapi selama sistemnya mengikuti desain

  • Langkah Dewi : Warisan Rahasia   BAB 123 — Api yang Menyala Bersama

    “Mereka datang dengan helikopter. Kami menjawab dengan persatuan.”Deru baling-baling memecah udara, tapi tak lagi menakutkan. Di kampung itu—yang tak tercatat di peta, yang disebut wilayah mati—orang-orang berdiri tegak. Bukan sebagai tameng. Sebagai saksi. Lampu-lampu rumah menyala bergantian, seperti denyut nadi yang menemukan ritmenya kembali.Dewi melangkah ke tengah lapangan kecil. Tanah basah menahan sepatunya, namun ia tak goyah. Di atas, helikopter berputar ragu, sorot lampunya menyapu—dan berhenti. Bukan pada Dewi. Pada rakyat.Rizal berdiri di sampingnya, wajahnya tenang. “Mereka tak menyangka ini,” katanya pelan.“Karena mereka menghitung angka,” jawab Dewi. “Bukan manusia.”Siaran nasional kembali hidup—namun kali ini retak. Di layar-layar publik, tayangan terbelah dua. Di satu sisi, kurator kebijakan mengulang frasa keamanan. Di sisi lain, kanal alternatif menampilkan hal sederhana: mata air yang kembali mengalir, warga menanam kembali bantaran sungai, data izin yang run

  • Langkah Dewi : Warisan Rahasia   BAB 122 — Wilayah Sunyi

    “Tempat yang mereka sebut mati, sering kali adalah tempat kebenaran bertahan hidup.”Bayangan itu tidak bergerak ketika truk berhenti. Ia berdiri di seberang sungai dengan jaket lusuh, wajahnya separuh tertutup cahaya fajar yang pucat. Air mengalir pelan di bawah jembatan sempit, memantulkan langit abu-abu seperti kaca retak.Dewi turun pertama. Tanah basah menempel di sepatunya. Ia mengenali postur itu sebelum wajahnya jelas—cara berdiri yang tidak pernah menantang, tapi juga tidak pernah tunduk.“Sudah lama,” kata sosok itu.“Tidak selama yang seharusnya,” jawab Dewi.Pria itu melangkah maju. Wajahnya muncul utuh—garis-garis usia yang tidak tercatat, mata yang menyimpan peta lebih lengkap daripada layar manapun. Rizal Rahman. Ayahnya. Tidak ada pelukan. Hanya jeda singkat yang sarat.“Mereka menyebut namaku,” kata Rizal. “Berarti waktumu sempit.”“Dan waktumu lebih sempit,” sahut Dewi.Rin dan warga menutup perimeter dengan gerak senyap. Tidak ada senjata terbuka, hanya mata yang wa

  • Langkah Dewi : Warisan Rahasia   BAB 122 — Wilayah Sunyi

    “Tempat yang mereka sebut mati, sering kali adalah tempat kebenaran bertahan hidup.”Bayangan itu tidak bergerak ketika truk berhenti. Ia berdiri di seberang sungai dengan jaket lusuh, wajahnya separuh tertutup cahaya fajar yang pucat. Air mengalir pelan di bawah jembatan sempit, memantulkan langit abu-abu seperti kaca retak.Dewi turun pertama. Tanah basah menempel di sepatunya. Ia mengenali postur itu sebelum wajahnya jelas—cara berdiri yang tidak pernah menantang, tapi juga tidak pernah tunduk.“Sudah lama,” kata sosok itu.“Tidak selama yang seharusnya,” jawab Dewi.Pria itu melangkah maju. Wajahnya muncul utuh—garis-garis usia yang tidak tercatat, mata yang menyimpan peta lebih lengkap daripada layar manapun. Rizal Rahman. Ayahnya. Tidak ada pelukan. Hanya jeda singkat yang sarat.“Mereka menyebut namaku,” kata Rizal. “Berarti waktumu sempit.”“Dan waktumu lebih sempit,” sahut Dewi.Rin dan warga menutup perimeter dengan gerak senyap. Tidak ada senjata terbuka, hanya mata yang wa

  • Langkah Dewi : Warisan Rahasia   BAB 121 — Harga Sebuah Kebenaran

    “Jika kebenaran harus dibayar dengan darah, maka yang takut bukanlah kami—melainkan mereka.”Hujan menyamarkan langkah Dewi saat ia menyeberang lorong sempit di antara bangunan tua. Lampu kota redup, seolah ikut menahan napas. Di kepalanya, hitungan berjalan tanpa suara—jarak, waktu, sudut pandang. Ayahnya selalu bilang: yang paling berbahaya bukan senjata, tapi arah.Di balik dinding beton, Rin menghentikan mobil tanpa mematikan mesin. “Sinyal mereka kuat. Terlalu rapi,” katanya. “Ini panggung.”Dewi menarik hoodie lebih rapat. “Kalau begitu, kita ganti skrip.”Mereka berpisah. Rin menuju gang kiri, menyusup di balik deretan kios tutup. Dewi melangkah lurus ke titik temu—sebuah gudang logistik tua yang bau oli dan besi basahnya menempel di tenggorokan. Pintu geser setengah terbuka. Dari dalam, cahaya dingin memotong hujan seperti pisau.“Masuk,” suara itu memantul dari dinding. Netral. Terlalu tenang.Di dalam, kursi tunggal menghadap meja logam. Di belakangnya, layar besar menampilk

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status