Home / Fantasi / Langkah di Jalan Keabadian / Bab 23 Menjemput Meng Jin dan Meng Rou

Share

Bab 23 Menjemput Meng Jin dan Meng Rou

Author: Kopi Senja
last update Last Updated: 2025-10-14 08:20:25

Setelah keluar dari Kota Yunzhou, Ye Tian, Lin Hao, dan Su Wan’er bergerak menuju hutan. Sebelumnya, keduanya sudah diberi tahu oleh Ye Tian bahwa ada tiga orang yang mengikuti mereka sejak tadi.

"Keluarlah, aku tahu kalian sedang mengikuti kami," ucap Ye Tian sambil menghentikan langkahnya, saat berada di hutan.

Swush! Swush! Swush!

Tiga bayangan melesat cepat dan muncul di hadapan mereka. Ketiganya berdiri dengan senyum sinis, menatap Ye Tian dan yang lain dengan penuh ejekan.

"Ad
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Langkah di Jalan Keabadian    Bab 126

    “Cepat katakan, apa yang telah terjadi di dalam dunia kuno itu? Kenapa hanya murid-murid sekte, klan, ataupun keluarga besar yang kembali? Sedangkan murid-murid kami tidak ada satu pun yang kembali. Dan kalian adalah orang yang keluar terakhir dari gerbang dimensi dunia kuno itu sebelum hancur. Jadi… aku yakin pasti kalian mengetahui apa yang telah terjadi dengan murid-murid kami, atau bisa saja kalian yang telah membunuh mereka," tanya Tetua Sekte Huangquan sambil menatap ke arah Ye Tian beserta rombongannya. Ia telah bertanya pada murid Klan Ma, Klan Nan, Sekte Laut Biru, sekte-sekte lain, bahkan hingga murid keluarga besar sekalipun. Namun tidak satu pun dari mereka mengetahui keberadaan murid-muridnya setelah memasuki dunia kuno. Mereka menjelaskan bahwa setibanya di dunia itu, mereka terlempar ke tempat yang berbeda-beda. Karena itu, ia bersama tiga tetua lainnya mencurigai Ye Tian, Jiang Ruolan, dan rombongannya. Namun Tetua itu merasa sangat asing dengan wajah empat pria ya

  • Langkah di Jalan Keabadian    Bab 125 Keluar Dari Dunia Kuno

    Malam turun perlahan di dunia kuno itu. Langit yang retak akibat pertarungan sebelumnya perlahan menutup, namun bekas-bekas kehancuran masih jelas terlihat. Cahaya bintang pucat menggantung di langit, menerangi altar yang kini berubah menjadi puing-puing sunyi. Angin malam berembus dingin, membawa aroma debu batu dan sisa aura pertempuran yang belum sepenuhnya menghilang. Api unggun km dinyalakan tidak jauh dari altar runtuh. Jiang Ruolan duduk di samping Ye Tian yang terbaring di atas tikar. Wajah pemuda itu pucat, napasnya stabil namun lemah. Luka-luka di tubuhnya sudah menghilang tidak berbekas. Jiang Ruolan menggenggam tangan adiknya erat-erat, ia sangat mengkhawatirkan kondisi adiknya itu. "Bodoh…" bisiknya lirih, suaranya bergetar. "Kau terlalu memakasakan diri, Tian'er. Di sekeliling mereka, Yinshen, Ming Liu, Bao Liang, Lin Hao, Meng Jin, Meng Rou serta para murid Sekte Bunga Salju berjaga dengan wajah serius. Tak ada yang berbicara keras. Bahkan Heylong pun dudu

  • Langkah di Jalan Keabadian    Bab 124 Kematian Du Zhuan

    "Kau terlalu percaya diri untuk menghadapiku seorang diri, bocah." Setelah berkata seperti itu, Du Zhuan menghilang dari tempatnya berdiri dan muncul di hadapan Ye Tian seraya melayangkan serangan. Duar! Ye Tian terpental sejauh puluhan langkah terkena tinju Du Zhuan di dadanya. Tubuhnya menghantam lantai batu altar, menghancurkan lapisan batu hingga membentuk cekungan dalam. Debu dan pecahan batu menyembur ke udara. Darah segar merembes dari sudut bibirnya. Jiang Ruolan tersentak. "Tian’er…!" Du Zhuan berdiri tegak di udara, napasnya sedikit memburu. Tatapannya tajam, penuh kepuasan dingin. "Hmph. Jadi kau juga bisa terluka," ujarnya sinis. "Itu hanya baru permulaan, bocah." Tanpa memberi waktu— Du Zhuan menghilang. Wush... Ia muncul tepat di depan Ye Tian, telapak tangannya sudah diselimuti kabut hitam pekat yang berputar seperti pusaran neraka. "Telapak Penghancur Jiwa!" Duar! Telapak itu menghantam dada Ye Tian. Krak! Suara tulang retak terdengar je

  • Langkah di Jalan Keabadian    Bab 123

    Duar! Ledakan yang sangat keras terdengar ketika dua aura saling berbenturan antar Ye Tian dan Heylong. Kemudian simbol-simbol kuno yang berada di mengelilingi tubuh Ye Tian bergerak mengurung naga hitam. "Mu-mustahil... bagaimana mungkin dia bisa memeliki kekuatan seperti itu..." Hey Long tidak bisa menggerakan anggota tubuhnya. Simbol-simbol kuno itu terus menekan tubuhnya. Ledakan itu membuat altar batu retak-retak. Pecahan batu beterbangan, namun langsung hancur menjadi debu sebelum sempat menyentuh tanah. Aura Heylong yang semula mengamuk tiba-tiba terhenti, seolah ditekan oleh sesuatu yang jauh lebih tinggi tingkatannya. Simbol-simbol kuno itu berputar semakin cepat, membentuk lingkaran segel yang saling bertaut, mengunci tubuh naga hitam dari segala arah. Heylong menggeram keras, berusaha mengerahkan seluruh kekuatannya. Sisik hitam di tubuhnya berkilau, namun tak satu pun rantai simbol itu retak. "Aaargh—!" raungnya tertahan. "Tubuhku… ditekan sepenuhnya olehnya,

  • Langkah di Jalan Keabadian    Bab 122

    Langkah mereka terhenti hampir bersamaan. Ming Liu, Yinshen, dan Bao Liang menatap ke depan dengan sorot mata yang berubah tajam. Di hadapan mereka, seekor naga hitam raksasa terbelenggu oleh rantai kuno. Rantai itu melilit leher, tubuh, hingga keempat kakinya, menahan sosoknya di atas sebuah altar batu yang sangat luas. Naga hitam itu perlahan membuka mata ketika merasakan aura Ming Liu, Yinshen, Bao Liang, Ye Tian, beserta rombongannya. Cahaya dingin berkilat di pupil matanya. "Tch…," dengusnya rendah. "Aku tak menyangka kalian bertiga tunduk pada manusia." Tatapan naga hitam itu menyapu satu per satu wajah mereka sebelum berhenti pada Ye Tian. "Kalian tidak lebih seperti budak yang mau di perintah oleh manusia..." lanjutnya dengan nada meremehkan. "Yinshen, Bao Liang, Ming Liu—kalian benar-benar mengecewakanku." Tatapan naga hitam itu masih tertuju pada Ye Tian, penuh penilaian dan ejekan yang tertahan. Ye Tian tidak menunjukkan reaksi apa pun. Ia hanya berdiri

  • Langkah di Jalan Keabadian    Bab 121

    Rombongan Ye Tian bergerak meninggalkan kawasan danau tanpa menoleh kembali. Hutan kembali menyelimuti mereka. Pepohonan kuno menjulang tinggi, akar-akar besar mencuat dari tanah seperti urat naga, dan kabut tipis menggantung rendah di antara batang pohon. Aura dunia kuno di tempat ini terasa semakin pekat, seolah setiap langkah membawa mereka lebih dalam ke wilayah yang belum tersentuh. Jiang Ruolan berjalan di sisi Ye Tian. "Dunia ini… jelas bukan reruntuhan biasa," ucapnya pelan. "Semakin jauh kita masuk, tekanan gravitasinya makin kuat." Ye Tian mengangguk tipis. "Ini bukan dunia yang diciptakan untuk kultivator lemah." Di belakang mereka, Ming Liu, Yinshen, dan Bao Liang berjalan dalam wujud manusia. Tidak ada lagi jejak keganasan—yang tersisa hanyalah kepatuhan mutlak. Yinshen melirik sekeliling. "Ada pergerakan aura di depan. Tidak kuat, tapi jumlahnya banyak." Bao Liang menyeringai tipis. "Seperti… pemburu tingkat rendah. Mereka menunggu mangsa." Shen Long tersen

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status