LOGINSejak Zaman kuno, jalan kultivasi selalu di penuhi duri dan darah. Hanya mereka yang memiliki bakat luar biasa, akar spiritual langka serta dukungan sekte besar yang mampu menapaki tangga menuju puncak. Sisanya hanya menjadi batu pijakan, mayat mayat di sepanjang jalan. Ye Tian, seorang pemuda dari desa terpencil lahir dengan akar spiritual cacat. Di mata orang lain, ia hanyalah sampah yang tak mungkin melangkah di dunia kultivasi. Tak ada sekte yang mau menerimanya bahkan tak ada guru yang mau membimbingnya. Hidupkannya hanya di takdirkan sebagai rakyat jelata yang terlupakan zaman. Namun, takdir berubah pada suatu malam batu misterius dari zaman kuno jatuh ke tangannya. Batu itu menyimpan rahasia besar yang dimana di dalam batu itu menyimpan tehnik-tehnik kultivasi yang pernah menggemparkan sembilan negri ribuan tahun lalu, tetapi kini banyak di lupakan bahkan oleh sekte sekte besar sekalipun. Sejak saat itu, Ye Tian tidak lagi berjalan di jalan yang di tentukan orang lain , melainkan menapaki jalannya sendiri. Di tengah dunia yang di penuhi pertarungan sekte, ambisi klan bangsawan dan kembalinya bangkitnya iblis kuno, Ye Tian hanya memiliki satu tekad: untuk melawan, menentang, dan terus melangkah. Dari pemuda yang di remehkan, ia akan menjadi sosok yang menentang langit dan bumi. Tetapi jalan menuju keabadian bukanlah perkara yang mudah. Setiap langkahnya akan di penuhi darah, penghianatan, serta ujian dari surga itu sendiri. "Jika dunia menganggapku sampah, maka aku akan membuat dunia berlutut. Jika langit menghalangiku, maka aku akan menghancurkan langit. Jalan ini adalah jalanku, langkah demi selangkah menuju keabadian!"
View MorePagi itu, alun-alun kota Yunzhou dipenuhi ribuan orang. Suasana meriah, namun juga penuh ketegangan. Bendera besar empat sekte besar berkibar gagah di udara: Sekte Awan Putih, Sekte Pedang Es Abadi, Sekte Tombak Petir, dan Sekte Teratai Emas.
Hari ini adalah hari perekrutan murid baru. Bagi pemuda maupun gadis, ini merupakan kesempatan emas untuk mengubah nasib.
"Perhatian! Perekrutan murid empat sekte besar dimulai sekarang!" suara seorang tetua Sekte Awan Putih bergema, membuat semua mata tertuju pada panggung utama.
Tahap pertama adalah tes kekuatan tubuh.
Batu uji berdiri di tengah alun-alun. Pemuda dan gadis maju satu per satu, memukul batu itu. Kebanyakan hanya menghasilkan cahaya samar, menunjukkan kekuatan rata-rata. Beberapa pemuda yang rajin berlatih fisik mampu membuat batu itu bergetar lebih kuat, tapi tetap dalam batas wajar.
Di antara peserta, tampak beberapa tuan muda dari keluarga besar kota Yunzhou. Mereka berpakaian mewah, sikapnya angkuh, dan setiap kali maju selalu diiringi tatapan penuh kagum dari kerumunan.
"Giliran Ye Tian, dari desa Qinghe!"
Seorang pemuda bertubuh kekar melangkah maju. Tubuhnya penuh otot, hasil latihan fisik keras sejak kecil. Meski hanya pemuda desa miskin, aura tenaganya membuat banyak orang melirik.
Ia menarik napas, lalu menghantamkan tinjunya ke batu.
BOOM!
Batu itu bergetar hebat, cahaya terang memancar. Banyak orang terperangah.
"Wow! Pukulan yang luar biasa!"
"Untuk pemuda desa, kekuatan fisiknya setara dengan para tuan muda kota!"
Ye Tian hanya menunduk sedikit, wajahnya tenang. Namun, ia tahu tahap berikutnya adalah ujian yang selalu menjadi aib baginya—tes akar spiritual.
Sebuah kristal bening ditempatkan di altar.
Satu per satu peserta meletakkan tangan di atasnya. Kebanyakan hanya memunculkan cahaya hijau pucat atau biru redup, menandakan akar spiritual tingkat menengah. Sesekali ada yang lebih terang, tapi tetap dalam batas wajar.
"Akar spiritual menengah, cukup untuk jadi murid luar sekte."
"Menengah lagi… memang beginilah di wilayah timur, akar langka jarang sekali muncul."
Sorak-sorai tetap terdengar tiap kali seorang tuan muda menghasilkan cahaya lebih terang, meski masih dalam kategori menengah. Wajah mereka sombong, seakan sudah pasti diterima.
Kini giliran Ye Tian. Ia maju dan meletakkan telapak tangannya di atas kristal.
Awalnya hening, lalu cahaya samar muncul—abu-abu kusam.
Kerumunan mendadak terdiam, sebelum tawa keras meledak.
"HAHAHA! Akar spiritual kusam!" Zhao Liang, yang berasal dari desa yang sama dengan Ye Tian, langsung menunjuk sambil tertawa terbahak-bahak.
"Benar-benar sampah! Fisikmu kuat, tapi dengan akar busuk begitu, kau tak akan pernah jadi kultivator!" ejek Lin Fei.
Mei Lan menutup mulutnya sambil terkikik. "Aku kira kau bisa sedikit mengejutkan, ternyata hanya sia-sia."
Para tetua sekte saling berpandangan, sebagian menggeleng.
"Akar kusam, ini nyaris tak berguna."
"Hmph, tubuh kuat saja tak cukup. Jalannya sudah tertutup sejak awal."
Di barisan depan, seorang tuan muda dari keluarga Zhao tersenyum meremehkan. "Orang macam sepertimu tak pantas bermimpi masuk sekte besar."
Ye Tian mengepalkan tepalak tangannya dengan erat. Meski dadanya terasa sesak mendengar ejekan, tatapannya tetap tajam. Ia menunduk sejenak, menahan emosi, namun api tekad dalam dirinya tidak padam.
Dari arah kerumunan, tampak dua sosok muda menatap penuh rasa iba. Lin Hao, pemuda berwajah tegas dengan sorot mata jujur, mengepalkan tangannya kuat-kuat. Di sampingnya berdiri Meng Rou, seorang gadis berwajah lembut dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Mereka adalah sahabat Ye Tian sejak kecil. Keduanya tahu betapa kerasnya Ye Tian berlatih setiap hari, menempuh latihan fisik tanpa henti demi memperkuat tubuhnya, berharap bisa menebus kekurangan yang dimilikinya.
“Tidak mungkin??? Dengan tubuh sekuat itu, bagaimana bisa akar spritualnya hanya kusam?” gumam Lin Hao seraya menahan emosi.
Meng Rou menggigit bibirnya, jemari halusnya bergetar saat meremas kain bajunya. "Tian-ge sudah berlatih lebih keras daripada siapa pun… dia bahkan tak pernah menyerah meski diejek satu desa. Kenapa… kenapa hasilnya tetap seperti ini?"
Di tengah tawa dan ejekan yang tak kunjung reda, seorang tetua dari Sekte Pedang Es Abadi mengibaskan tangannya.
"Cukup! Tidak perlu dilanjutkan. Dengan akar spiritual kusam, pemuda ini tidak layak diterima oleh salah satu sekte mana pun."
Tetua lain dari Sekte Awan Putih menggeleng pelan, suaranya dingin, “Tubuhmu memang kuat, tapi apa gunanya tanpa fondasi spiritual? Jalur kultivasi bagimu hanyalah mimpi kosong."
Keputusan itu disambut gelak tawa para peserta yang iri sekaligus puas melihat ada yang dipermalukan. Zhao Liang sengaja melangkah maju, suaranya dibuat lantang agar seluruh orang mendengar.
“Hahaha, dengar itu, Ye Tian! Bahkan tetua sekte pun menganggapmu sampah!”
"Sejak dulu aku sudah bilang, kau tidak punya masa depan. Ternyata benar, kan?" timpal Lin Fei.
Mei Lan tersenyum sinis sambil melipat tangan. "Kau hanya buang-buang tenaga dengan semua latihan fisikmu."
Ye Tian berdiri terdiam. Suara riuh tawa bercampur cibiran seperti ribuan jarum menusuk telinga, tapi wajahnya tetap tenang. Tatapannya hanya lurus ke depan, seolah ejekan mereka tidak berarti apa-apa.
Lin Hao menunduk, mengepalkan telapak tangannya dengan kuat, sementara Meng Rou menitikkan air mata. Mereka ingin mendekat, namun kerumunan yang ramai membuat langkah mereka tertahan.
Akhirnya, Ye Tian menarik napas panjang. Ia berbalik tanpa sepatah kata pun, lalu melangkah meninggalkan alun-alun. Tubuhnya tegak, tetapi setiap langkahnya terasa berat seperti menahan beban teramat berat.
Kerumunan masih berbisik-bisik, sebagian tertawa, sebagian lagi merasa iba serta kasihan. Tapi Ye Tian tidak peduli lagi.
"Sejak awal aku sudah tahu jalanku berbeda, kalau sekte tak menginginkanku, maka aku akan mencari jalanku sendiri."
Di kejauhan, sosoknya perlahan hilang di antara lautan manusia, meninggalkan panggung perekrutan yang penuh dengan sorak-sorai dan tawa penghinaan.
Begitu sosok Ye Tian menghilang di balik kerumunan, Lin Hao segera meraih tangan Meng Rou. "Ayo, kita susul dia!"
Mereka bergegas menerobos keramaian hingga akhirnya berhasil menyusul Ye Tian yang berjalan sendirian di jalan. Matahari senja mewarnai langit dengan cahaya merah keemasan, membuat bayangan tubuh Ye Tian terlihat panjang dan kesepian.
"Ye Tian!" Lin Hao memanggil dengan suara parau. Ia menepuk bahu sahabatnya kuat-kuat. "Jangan hiraukan mereka. Yang penting kamu sudah berusaha, meski kamu gagal di terima menjadi murid sekte besar. Masih ada kami yang akan selalu mendukungmu."
Meng Rou menatap wajah Ye Tian dengan mata berkaca-kaca, "Apa yang di katakan, Lin Hao, benar Tian'ge. Kamu jangan berkecil hati karena hal ini. Boleh saja mereka menertawakanmu, meremehkanmu, tapi bagi kami kamu adalah sosok paling hebat."
Ye Tian berhenti sejenak, lalu menoleh pada kedua sahabatnya. Wajahnya tetap tenang, meski ada kilatan getir di matanya. "Kalian… terima kasih. Tanpa kalian, mungkin aku sudah terjatuh."
Mereka bertiga lalu kembali melangkah bersama, meninggalkan hiruk pikuk alun-alun. Tujuan mereka adalah penginapan sederhana yang sejak kemarin mereka sewa, ruangan kecil dengan ranjang kayu sederhana dan lampu minyak yang temaram.
Saat tiba, suasana kota Yunzhou masih ramai oleh pesta perekrutan. Namun di dalam kamar penginapan itu, hanya ada keheningan. Lin Hao duduk di tepi ranjang, menatap sahabatnya. "Besok pagi-pagi sekali, kita kembali ke desa."
Ye Tian hanya menganggukkan kepala menanggapi perkataan Lin Hao. Di balik ketenangan wajahnya, hatinya sedang berkecamuk hebat. Hinaan para tetua sekte, ejekan Zhao Liang, Lin Fei, dan Mei Lan, bahkan cemoohan para tuan muda dari keluarga besar di kota ini, semuanya berputar-putar dalam pikirannya.
Siang hari, Long Chen dan rombongannya memasuki kawasan Pegunungan Xuanfeng. Ketika mereka bergerak semakin dalam, mereka mendadak berhenti. Sekelompok pria bertopeng tengkorak muncul dari balik pepohonan, menghadang jalan mereka. "Serahkan semua sumber daya yang kalian miliki, jika ingin hidup melewati wilayah kami," ujar Bao Zhixin, pemimpin Perampok Tengkorak Merah, sambil mengacungkan pedangnya. Long Chen hanya menggeleng pelan. Tatapannya menyapu satu per satu anggota perampok di hadapannya. "Sejak kapan Pegunungan Xuanfeng menjadi wilayah kalian?" Tang Mingyu melangkah maju. "Daerah ini masih berada di bawah kekuasaan Kota Zhoucheng." Bao Zhixin menyeringai. "Jadi kau ingin menentang kami?" Tatapannya mengeras. "Meski kau putra Patriark Tang Qiyu, aku tidak takut menghadapi semut sepertimu." Tang Mingyu menyipitkan mata. Aura di tubuhnya mulai bergerak. "Semut?" suaranya dingin. Bao Zhixin tertawa kasar. Ia mengangkat tangan kanannya. "Habisi mereka. Sisakan sa
Tekanan berat itu perlahan mereda. Beberapa saat kemudian, tubuh mereka mulai beradaptasi dengan tempat itu. Otot-otot yang semula kaku perlahan mengendur, napas menjadi lebih stabil. Tanah di sekitar mereka retak halus akibat tekanan aura yang ditekan paksa agar tidak bocor keluar. Lin Hao membuka mata lebih dulu. Ia menarik napas panjang, wajahnya tampak sedikit serius. "Akhirnya bisa bergerak secara leluasa." Meng Rou mengangguk pelan. "Jika bertarung tanpa penyesuaian, kita akan dirugikan." Ye Tian membuka matanya terakhir. Tatapannya menyapu hutan di sekeliling mereka—pepohonan menjulang tinggi, daun-daunnya tebal dan gelap, sementara dari kejauhan terdengar raungan rendah hewan buas. "Hewan buas di sini juga hidup di bawah gravitasi ini," ucapnya datar. "Jangan menganggap tingkat mereka sama dengan dunia luar." Seolah menjawab ucapannya, semak-semak di depan mereka bergetar. Seekor binatang buas bertubuh besar melangkah keluar. Sisiknya kusam kehijauan, matanya m
Ye Tian menyesap tehnya perlahan, lalu meletakkan cangkir itu kembali ke meja. Pandangannya beralih ke Lin Hao dan Meng Jin. "Aku ditangkap siang tadi," ucapnya datar. Alis Lin Hao langsung terangkat. "Ditangkap?" "Balai Hukum Kota," lanjut Ye Tian singkat. "Atas tuduhan merampas sumber daya milik Chanming." Suasana kamar langsung berubah sunyi. Meng Rou mengerutkan kening, sementara Meng Jin mengepalkan tangan tanpa sadar. "Chanming dari Sekte Kelelawar Merah?" tanya Lin Hao dengan suara rendah. Ye Tian menganggukkan kepala perlahan. "Dia dengan sengaja menjebak Tuan Muda dan memberikan tuduhan palsu. Sebelumnya, dia memerintahkan dua murid untuk mengawasi kami," ujar Shen Long. Meng Rou menghela napas lega, namun ekspresinya tetap serius. "Kalau sampai ke Balai Hukum… berarti dia memang berniat menekanmu sejak awal." "Benar," jawab Ye Tian. “Dia telah menargetkanku, dan aku yakin saat ini dia sedang menyiapkan rencana lain." Lin Hao terdiam sesaat. "Berarti kedat
Hakim Yu Lai mengangkat tangannya perlahan. "Dengan demikian," ucapnya tegas, "Balai Hukum memutuskan: tuduhan perampasan terhadap Junior Ye Tian tidak terbukti." Ketukan palu menggema singkat. Riuh rendah langsung pecah di ruangan. Beberapa kultivator berbisik kagum, sebagian lain menatap Chanming dengan sorot kemarahan, karena telah memfitnah Ye Tian. Para murid Sekte Kelelawar Merah menunduk, wajah mereka memucat. Hakim Yu Lai belum selesai. Ia menoleh ke Chanming, sorot matanya dingin dan berwibawa. "Namun perkara ini tidak berhenti di sini. Tuduhan palsu, penahanan tanpa bukti kuat, serta upaya menekan Balai Hukum—semuanya pelanggaran serius." Wajah Chanming mengeras. "Tuan Hakim, aku hanya—" "Cukup." Satu kata itu menghentikannya. "Sebagai Tuan Muda sekte Kelelawar Merah, kau seharusnya paham batas," lanjut Hakim Yu Lai datar. "Balai Hukum tidak akan dijadikan alat untuk balas dendam pribadi. Dan kau telah menuduh Junior Ye Tian tanpa alasan yang jelas. Tindaka






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews