LOGINAuthor akan memberikan sedikit gambaran tentang ranah kultivasi di cerita ini agar sobat readers yang baru pertama kali membaca karya wuxia-xian xia tentang kultivasi, bisa memahaminya.
Untuk kisah Legenda Dewa Pedang Shu Jin, Author menggunakan ranah yang umum digunakan di kisah-kisah kultivasi :
RANAH MORTAL
Para manusia biasa yang belum tersentuh energi spiritual.
~ Mortal Biasa
~ Refining Body / Tempering Body / Body Forging
— Memperkuat tulang, otot, darah, dan merasakan energi spiritual untuk pertama kali.Untuk Shu Jin yang merupakan jenius pedang Keluarga Shu, ranah ini sudah pasti dilewatinya saat cerita ini dimulai.
RANAH AWAL SPIRITUAL
Mulai memadatkan dasar kultivasi, membentuk akar spiritual.
~ Qi Refining / Spirit Refining {Pemurnian Tubuh)
~ Foundation Establishment (Pendirian Fondasi)
— Menstabilkan inti energi dan membuka meridian.~ Core Formation (Pembentukan Inti / Golden Core)
— Menciptakan inti emas dalam dantian.RANAH MENENGAH
Lebih mendalam, mulai mendapatkan kekuatan supranatural.
~ Nascent Soul (Jiwa Bayi / Yuan Ying)
~ Soul Formation / Spirit Soul (Jiwa Roh)
~ Divine Soul (Jiwa Ilahi)
~ Spirit Sea / Void Sea Realm (Ruang Kekosongan)
RANAH TRANSENDEN
Mulai meninggalkan batas manusia.
~ Void Refining (Pemurnian Kekosongan)
~ Body Integration (Integrasi Tubuh–Jiwa)
~ Great Ascension (Pendakian Besar)
RANAH ABADI RENDAH
Mulai memasuki tingkat keabadian.
~ Immortal Ascension (Naik Keabadian)
~ Earth Immortal (Abadi Bumi)
~ Heaven Immortal (Abadi Langit)
~ Golden Immortal (Abadi Emas)
RANAH ABADI TINGGI
Dimensi kekuatan yang jauh lebih besar.
~ True Immortal (Abadi Sejati)
~ Profound Immortal (Abadi Mendalam)
~ Mystic Immortal
~ Celestial Immortal / Immortal King (Raja Abadi)
RANAH JIWA ILAHI & DEWA
Di atas para abadi biasa.
~ Immortal Emperor (Kaisar Abadi)
~ Saint / Sage Realm (Sage Besar)
~ Great Saint (Sage Agung / Maha Sage)
~ Supreme Saint (Makhluk Suci Tertinggi)
RANAH KOSMIK
Dewa yang mengatur hukum kosmik dan dimensi.
~ Dao Lord / Dao Monarch (Penguasa Dao)
~ Dao Saint (Dao Suci)
~ Dao Emperor (Dao Kaisar)
RANAH HUKUM TERTINGGI
Menguasai esensi hukum alam : ruang, waktu, karma.
~ Heavenly Dao Lord (Penguasa Dao Surga)
~ World Overlord (Penguasa Dunia)
~ Universal Sovereign (Penguasa Semesta)
RANAH TERTINGGI (RARE / ENDGAME)
Jarang digunakan... level para pencipta dunia atau entitas primodial.
~ Primordial Emperor
~ Origin Sovereign
~ Chaos Monarch (Penguasa Kekacauan)
~ Eternal Dao Source (Asal Dao Abadi)
~ Supreme Creator / Supreme Progenitor
RINGKASAN SINGKAT (BIAR MUDAH DIGUNAKAN)
Mortal → Refining → Foundation → Core → Nascent Soul → Soul / Void → Integration → Ascension → Immortal → Immortal King → Immortal Emperor → Saint → Dao Lord → Dao Emperor → Heavenly Dao → Primordial → Supreme.
Author akan menggunakan ranah kultivasi yang singkat untuk cerita Legenda Dewa Pedang ini seperti “Ringkasan Singkat” di atas agar lebih mudah digunakan dan dipahami oleh sobat readers sekalian.
Terima kasih sudah membaca sejauh ini :)
Pusaran hitam itu berputar semakin liar, mengisap udara hingga lorong labirin bergetar seperti dada raksasa yang menahan napas. Aroma besi terbakar dan hawa kegelapan menekan seperti ribuan jarum menusuk kulit.Aylin mundur satu langkah.“Shu Jin… sesuatu keluar dari sana!”Shu Jin sudah mengencangkan genggaman pada Pedang Penakluk Iblis—pedang baru itu mengeluarkan dengung rendah, seolah menahan kegembiraan haus darah.Lalu—BOOM!Tiga sosok melesat dari portal seperti panah hitam. Mereka mendarat di lantai labirin dengan suara retakan, cape gelap berkibar, dan mata mereka menyala merah keunguan.Tiga Murid Gelap Rong Hai.Pemburu dan pemusnah.Orang-orang yang dibesarkan dari racun, darah, dan dendam.Begitu pandangan mereka bertemu pedang Shu Jin, tubuh mereka menegang.“Itu…!”“Pedang Penakluk Iblis…”“Guru Rong Hai… akhirnya—!”Salah satu dari mereka bahkan berlutut sedikit, bukan karena hormat, tetapi karena ketakutan yang ditikamkan dari aura pedang itu ke tulang.Shu Jin melan
Gelombang dingin itu merayap di sepanjang lorong labirin seperti ular tak berbentuk. Bukan hembusan angin. Bukan pula hawa spiritual biasa.Itu niat membunuh yang murni, purba, dan mengerikan.Urat-urat batu merah yang membentuk lantai mulai berdenyut semakin cepat, seperti jantung raksasa yang baru saja bangun setelah ribuan tahun tidur. Sementara itu, ukiran-ukiran pedang di dinding bergetar, suara lolongan mereka berubah menjadi jeritan menusuk yang membuat telinga panas.Aylin refleks merapat, genggamannya di lengan Shu Jin mengencang. “Ada… sesuatu yang bangkit.”Shu Jin bernapas pelan, matanya menyipit. “Siap.”Namun ia belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika—KRAAASSSHHH!!!Dinding di hadapan mereka pecah, retakannya meluas secepat akar tanaman yang menjalar. Dalam satu ledakan brutal, puluhan pecahan batu terlempar ke udara seperti badai peluru tajam.Dari dalam kegelapan itu, sesuatu merangkak keluar.Sesuatu yang tidak berasal dari dunia manusia.Sosok itu menjulang, tu
Kegelapan itu menelan mereka tanpa ampun.Bukan seperti tenggelam ke dalam air—melainkan seperti dijatuhkan ke dalam rahang dunia lain. Tubuh Qing Jian dan Aylin meluncur ke bawah dengan kecepatan mengerikan. Tidak ada rasa cairan. Tidak ada pelambatan. Hanya tarikan brutal yang menyeret jiwa sekaligus raga.Udara—jika masih bisa disebut udara—bergetar oleh gemuruh jeritan. Bukan satu atau dua suara, melainkan ratusan, ribuan, tumpang tindih, seperti roh-roh yang diseret paksa melewati lorong sempit neraka.Aylin menjerit tertahan dan menggenggam lengan Qing Jian sekuat tenaga, kuku jarinya menekan sampai terasa sakit.“Kita… kita jatuh ke mana…?” suaranya pecah oleh angin gelap.Qing Jian menahan napas. Aura Ranah Pendirian Pondasi mengembang dari dantiannya, membentuk lapisan pelindung tipis yang menahan tekanan spiritual yang mencoba meremukkan tubuhnya dari segala arah.“Bukan jatuh,” ucapnya tegas, meski dadanya bergetar oleh tekanan. “Kita… ditarik.”Dunia berputar.Arah hilang.
Ketika jarak mereka dengan Oasis Hitam tinggal beberapa puluh langkah, dunia seolah menarik napas—lalu menghembuskannya kembali dengan kasar.DUM—!Tanah di bawah kaki Qing Jian bergetar hebat. Pasir berloncatan, retak-retak halus menjalar seperti urat pecah di permukaan gurun. Air pekat yang semula tenang, hitam seperti tinta malam, mulai berputar.Bukan riak biasa.Melainkan pusaran perlahan yang menyedot cahaya, suara, dan hawa panas di sekitarnya.“Tidak bagus…” desis Qing Jian.Ia merasakan tekanan dari bawah—dingin, basah, dan penuh niat jahat, seolah ada sesuatu yang terbangun setelah lama tertidur.Di pelukannya, tubuh Aylin menggigil semakin keras. Bibirnya memucat, napasnya tersengal.“Oasis ini…” suaranya bergetar, hampir tenggelam oleh angin. “Menyimpan aura roh… roh mereka yang mati terbunuh… atau dikhianati…”Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya—SPLASH—!!Bayangan raksasa mencuat dari air hitam.Bukan makhluk utuh, melainkan bentuk tangan—besar, panjang, terbuat dar
Di puncak bukit pasir raksasa, sebuah bayangan tinggi berdiri membisu di bawah matahari gurun yang memerah seperti mata berdarah.Panas menggulung di udara, membuat cakrawala bergetar seolah dunia sendiri meleleh. Pasir berkilau seperti bara, membakar setiap makhluk yang berani melintas. Namun sosok itu tetap tak bergerak—tegak, sunyi, seakan bukan manusia, melainkan potongan kegelapan yang dipaku ke dunia.Rong Hai.Jubah hitamnya berkibar perlahan, bukan karena tertiup angin, melainkan seperti sedang ditelan olehnya. Kain itu menyerap cahaya, memadamkan warna di sekitarnya. Pedang hitam di tangannya memantulkan sinar matahari dengan cara yang keliru—bukan memantul, melainkan menghisap, seolah bilah itu adalah lubang menuju malam yang tak berujung.“Qing Jian…”Suara Rong Hai meluncur turun dari bukit pasir, dingin dan berat, seperti logam yang digesekkan pada batu nisan.“Aku sudah mendengar kabarnya. Ternyata kau terluka olehku semalam.”Ia sedikit memiringkan kepala. Sorot ungu ge
Angin gurun mengaum liar, seperti ratusan serigala kelaparan yang saling berebut mangsa di bawah langit malam. Pasir beterbangan, memukul wajah dan mata, membentuk dinding-dinding debu yang bergulung tanpa henti. Di batas cakrawala, badai pasir berdiri seperti raksasa yang tak pernah tidur, mengawasi setiap langkah makhluk hidup yang berani melintas.Qing Jian berlari.Tubuhnya melesat menembus gurun seakan dilahirkan ulang. Setiap pijakan terasa ringan, hampir tak menyentuh tanah. Energi Ranah Pendirian Pondasi mengalir di otot dan tulangnya—lentur, kuat, dan responsif. Angin yang sebelumnya menjadi penghalang kini seolah membuka jalan baginya.Namun di balik kecepatan itu, tekanan terus menghantui punggungnya.Bukan tekanan musuh.Melainkan pelukan Aylin.Lengan gadis itu melingkar erat di pinggangnya, jari-jarinya mencengkeram jubah Qing Jian seolah takut terlepas oleh badai. Tubuhnya masih lemah, napasnya tersengal, namun tekadnya terasa jelas—ia tidak akan melepaskan, bahkan jika







