MasukBab Utama : 2/3. Misteri apa sebenarnya yang ada di Kota Huayin?
Ruang Angin Sunyi tidak pernah benar-benar sunyi.Angin tipis beredar tanpa arah pasti di lorong-lorong batu putih, menyusuri ukiran formasi kuno yang tertanam jauh di dinding dan lantai. Ia tidak hanya bergerak—ia mengingat. Setiap hembusan membawa gema masa lalu... jeritan yang terpotong, sumpah yang diucapkan dengan darah, dan keputusan-keputusan yang tidak pernah bisa ditarik kembali.Di antara arus itu, Aylin Qara melangkah.Tidak ada suara langkah. Tidak ada gesekan kain. Tubuhnya bergerak seperti bayangan yang dipinjamkan wujud oleh cahaya lentera. Segel tujuh lapis masih melingkar di pergelangan tangannya, namun kini hanya simbol mati—kulit kosong yang tetap dipertahankan agar orang lain percaya ia masih terbelenggu.Ia telah mematahkan segel itu perlahan.Bukan dengan kekuatan.Bukan dengan ledakan Qi.Melainkan dengan kesabaran—menunggu saat segel bernafas, saat formasi lengah, saat angin lebih mendengarnya dibanding perintah Gobi-Pay.“Zhi Lan terlalu mudah,” gumamnya nyari
Pagi tidak pernah ramah di Gurun Gobi.Ia tidak datang dengan cahaya keemasan atau kehangatan perlahan. Fajar di sini memutus malam seperti bilah dingin—langit kelabu pucat terbelah perlahan, dan angin turun dari tebing-tebing batu putih dengan tajam, menyusup ke setiap lorong Gobi-Pay. Udara menggigit kulit, membawa debu halus dan bau pasir tua yang telah menyaksikan terlalu banyak darah.Lonceng kristal angin bergetar serempak.Bukan denting nyaring. Melainkan nada rendah—dalam dan berlapis—mengalun panjang melalui formasi kuno.Itu bukan tanda bahaya.Itu adalah tanda kepulangan.Di Aula Angin Dalam, Madam Yao Shen berdiri paling depan. Posturnya tegak, jubah hijau pucatnya bergerak mengikuti arus Qi yang berdenyut pelan di ruangan itu. Di belakangnya, para tetua wanita telah berbaris rapi—rambut memutih, mata tajam, wajah penuh kerutan yang diukir oleh angin dan keputusan keras selama puluhan tahun menjaga sekte.Tekanan Qi mereka bersatu, membentuk lapisan tak terlihat yang memb
Ruang Aula Angin Dalam diselimuti cahaya pucat dari lentera kristal angin yang menggantung rendah. Cahaya itu tidak hangat—melainkan bening dan dingin, memantul di dinding batu berukir formasi spiral. Udara terasa ringan saat dihirup, namun menekan dada, seolah setiap tarikan napas diukur, ditimbang, lalu diputuskan layak atau tidak.Qing Jian berdiri di tengah aula.Jubahnya masih berdebu pasir gurun, sisa pertempuran belum sepenuhnya pergi. Punggungnya lurus, pedangnya tersarung rapi, namun auranya belum sepenuhnya tenang—seperti bilah yang masih panas setelah ditempa.Di hadapannya, Madam Yao Shen duduk di kursi batu berbentuk lingkaran mantra. Rambut putihnya terikat rapi, kedua tangannya disilangkan di pangkuan. Tatapannya tajam, namun dalam—seperti angin tua yang telah melihat terlalu banyak kematian.“Permintaanku sederhana,” kata Qing Jian, memecah keheningan yang terasa terlalu berat. “Golok Pembasmi Iblis. Aku telah memenuhi syarat. Pemimpin Iblis Gurun kubawa hidup-hidup.”
Angin gurun berputar rendah di kaki tebing batu putih, menyapu tanah tandus dengan bisikan halus. Butiran pasir menari di udara, berdesis lembut saat menyentuh kulit, seolah memperingatkan siapa pun yang melangkah terlalu dekat.Di sanalah Gobi-Pay berdiri.Bukan kota. Bukan pula benteng dagang.Melainkan kompleks bangunan batu pucat dan kayu hitam yang menyatu dengan alam tandus di sekitarnya—seolah tempat itu tidak dibangun, melainkan tumbuh dari gurun itu sendiri. Pilar-pilar tinggi berukir mantra angin menopang aula utama, ukiran kuno berdenyut samar setiap kali angin berputar. Di atasnya, bendera putih dengan lambang matahari terbelah berkibar perlahan, namun tanpa suara—seolah udara sendiri menolak menyentuhnya.Qing Jian berhenti tepat di depan gerbang luar.Langkahnya mantap, namun pandangannya menyapu setiap detail—formasi tersembunyi, aliran Qi di pilar, dan tekanan halus yang menyelimuti tempat itu seperti napas panjang yang tidak pernah berhenti.Di belakangnya, Aylin Qara
Debu perlahan turun dari langit yang kembali pucat.Lembah Angin Mati menampakkan wujud aslinya—retak di mana-mana, tanahnya hangus, batu-batu hitam pecah seperti tulang patah. Pasir yang tadi meraung kini mengendap diam, seakan medan itu sendiri kelelahan setelah menyaksikan duel yang melampaui batas nalar.Kesunyian menekan.Di tengah kehancuran itu, Qing Jian berdiri dengan pedang masih terhunus. Bilah Pedang Dewa Ilahi memantulkan cahaya suram, ujungnya bergetar samar oleh sisa energi yang belum sepenuhnya reda.Napas Qing Jian stabil. Teratur. Tidak ada tanda kemenangan berlebihan—hanya ketenangan seseorang yang tahu pertarungan telah usai.Di hadapannya, Aylin Qara berlutut.Satu lutut menekan pasir hitam yang ternodai darah. Cairan merah mengalir dari sudut bibirnya, menetes pelan dan meresap ke tanah. Rambut peraknya kusut dan menempel di pipi, jubahnya robek di banyak tempat. Aura liar yang tadi mengamuk kini runtuh sepenuhnya, tersisa kilau redup yang berkedip-kedip seperti n
Angin kencang yang tadi meraung liar mendadak lenyap.Bukan karena alam menjadi jinak—melainkan karena tekanan energi spiritual yang menindih segalanya.Di jantung Lembah Angin Mati, butiran pasir yang terlempar oleh badai berhenti di udara, membeku seperti serpihan waktu yang tertahan. Kerikil, debu, bahkan serpih besi dari senjata patah menggantung diam, menciptakan pemandangan seperti lukisan yang belum selesai. Suara benturan logam, teriakan pasukan Iblis Gurun, dan raungan monster cacing roh perlahan memudar, seolah dunia sendiri menahan napas.Semua memberi ruang.Di tengah kesunyian itu, dua sosok berdiri saling berhadapan.Qing Jian mencengkeram pedangnya dengan satu tangan. Bilah Pedang Dewa Ilahi memantulkan cahaya redup, memancarkan tekanan halus namun mengintimidasi—seperti naga yang sedang tertidur, tapi siap bangkit kapan saja.Di seberangnya, Aylin Qara berdiri di atas batu hitam yang retak. Jubah gelapnya berkibar pelan meski angin telah mati, rambut hitamnya melayang l







