共有

Makam Dewa Pedang

作者: Zhu Phi
last update 公開日: 2025-11-26 14:36:17

PLAAAK!

Suara tamparan itu menghantam udara dengan keras, memantul di antara pilar-pilar paviliun yang berlumuran darah. Tepukan telapak tangan Wu Chao-Xing begitu kuat hingga kepala Shu Jin terpelanting ke samping. Debu dan serpihan tanah beterbangan dari pipinya ketika wajahnya menghantam tanah.

Sayup-sayup pandangannya terbuka. Suara-suaranya kembali, namun tidak membawa kelegaan—hanya kengerian yang membakar dadanya. Pemandangan pertama yang dilihatnya adalah genangan darah pekat milik keluarganya yang mulai mengering di tanah. Bau amis yang menyengat masuk ke hidungnya, membuat perutnya teraduk-aduk.

Kesadaran yang baru kembali seketika menusuk jantungnya seperti pedang.

Wu Chao-Xing menyeringai tepat di depannya, rambut hitamnya berkilau tertiup angin. Mata wanita itu berkilat puas.

“Sekarang kau lihat, Shu Jin…” katanya sambil tertawa terbahak-bahak, suaranya memantul seperti gema iblis. “Keluarga kebanggaanmu… sudah musnah!”

Tawa itu mengiris telinga Shu Jin, merontokkan sisa-sisa kekuatan mentalnya. Tangannya bergetar di atas tanah. Tubuhnya terasa berat seperti batu, tak mampu bangkit meski hatinya meraung ingin membunuh siapa pun di hadapannya.

Wu Chao-Xing kemudian melangkah ke arah Pangeran Ketiga. Dengan manja ia meraih lengan Zhao Shin, tubuhnya melekat seperti ular yang membelit.

“Pangeran…” suaranya berubah lembut, namun penuh racun. “…mengapa kita tidak menghabisi saja sampah tak berguna ini? Ia bahkan tak pantas hidup.”

Zhao Shin menatap Shu Jin dari atas, seolah menilai barang rongsokan yang tidak lagi memiliki nilai. Sorot matanya dingin, tanpa belas kasihan.

“Keluarga Shu tidak boleh benar-benar musnah,” katanya datar. “Jika tidak, Kaisar akan curiga.” Ia mengibaskan tangan. “Anak ini sudah cacat total. Bahkan berdiri pun dia tak mampu lagi. Biarkan saja dia mati perlahan di sini. Hanya itu balasan yang pantas.”

Namun bagi Chao-Xing, penderitaan Shu Jin sepertinya belum cukup.

Mata Shu Jin masih redup, tapi ketika Chao-Xing jongkok di depannya, tatapan mereka saling bertemu.

BUK!

Batu besar yang dipegangnya menghantam kepala Shu Jin. Darah menyembur, terasa hangat mengalir menuruni wajahnya. Pandangannya bergetar, kemudian gelap.

Zhao Shin memekik marah.

“Apa yang kau lakukan?! Kenapa kau memukulnya seolah ingin membunuhnya?!”

Chao-Xing hanya berdiri, tercengang, tapi tatapan matanya belum kehilangan kebengisannya.

Zhao Shin menghela napas kasar penuh amarah, jubahnya berkibar.

“Kita tinggalkan saja tempat ini! Tidak ada gunanya berlama-lama dengan sampah seperti ini.”

Dengan satu perintah tangan, pasukan kerajaan dan para Tetua Wu mundur, meninggalkan halaman keluarga Shu yang kini menjadi kuburan terbuka.

Shu Jin terbaring tak sadarkan diri—sendirian, terluka parah, di ambang antara hidup dan mati

*****

Kesadaran Shu Jin muncul perlahan, hawa dingin lembab menyentuh kulitnya terlebih dahulu—

Apa aku… sudah mati?

Pertanyaan itu berputar dalam benaknya saat ia membuka mata.

Ia tidak lagi berada di halaman rumah Keluarga Shu. Tidak ada bau darah, tidak ada puing-puing paviliun, dan tidak ada jeritan yang membekas di telinganya. Sebaliknya, tanah di bawah tubuhnya basah, begitu dingin hingga membuat tulangnya bergetar.

Kota Lin’an tidak pernah hujan selama berbulan-bulan… lalu kenapa di sini begitu lembap?

Ia mendorong tubuhnya perlahan—dan nyaris memekik saat menyadari sesuatu.

Kedua kakinya… yang seharusnya patah dan remuk—kini mampu bergerak. Ia bahkan bisa bangkit berdiri, meski tubuhnya gemetar.

"Ini… mimpi?" gumamnya lirih.

Namun begitu matanya menyesuaikan diri dengan kegelapan yang pekat, ia sadar bahwa tempat ini jauh dari kata mimpi.

Di sekelilingnya, ratusan tugu batu menjulang tinggi, tertancap dalam formasi yang tidak dikenalnya. Tidak ada cahaya selain sinar samar kebiruan yang seperti keluar dari tanah itu sendiri, menciptakan ilusi kabut tipis yang bergerak pelan-pelan di permukaan tanah.

Tugu-tugu itu bukan sekadar batu biasa.

Masing-masing memancarkan aura dingin, seolah ribuan jiwa pernah melewati tempat ini.

Shu Jin mendekat pada salah satu tugu dan membaca ukirannya.

[MAKAM DEWA PEDANG]

Napasnya tercekat.

“Makam Dewa Pedang…? Tempat apa ini sebenarnya? Terus kenapa hanya aku seorang diri di sini?”

Ia melangkah lebih jauh. Batu-batu nisan di tempat ini raksasa—menjulang seperti menara kuno yang sudah ribuan tahun tidak disentuh manusia. Di setiap permukaannya terukir nama-nama Dewa Pedang dari generasi ke generasi. Beberapa nama memancarkan aura anggun, beberapa lainnya begitu tajam sehingga tulang belikat Shu Jin terasa ngilu hanya dengan menatap tulisan mereka.

Tetapi satu tugu batu menarik perhatiannya.

Tugu itu berbeda.

Permukaannya kasar, tidak dipoles, seperti batu liar yang belum dijinakkan. Tidak seperti nisan lainnya yang licin dan bersih, tugu ini sangat aneh..

Dengan hati-hati, Shu Jin menyentuh permukaan batu tersebut—dan udara di sekelilingnya berubah drastis. Seolah tempat ini tiba-tiba tertarik ke dalam pusaran.

Ia membaca ukirannya.

[KAISAR PEDANG ABADI]

[DEWA DARI SEGALA DEWA PEDANG]

Detik berikutnya—

BUM!

Tugu nisan itu bergetar hebat. Api biru keunguan menyembur dari sela-sela ukiran, melahap sekelilingnya seperti nyala kehidupan yang baru bangkit dari tidur panjang.

Lalu sebuah suara yang dalam, bergemuruh, penuh ancaman, mengguncang ruang gelap itu.

“Aku… Kaisar Pedang Abadi, Luo Fei. Siapa yang berani membangunkanku dari tidur lima ribu tahun?”

Auran membunuh yang dipancarkan suara itu begitu tajam hingga bulu kuduk Shu Jin berdiri. Ia refleks berlutut, tubuhnya gemetar.

“Maaf… Locianpwe…” ujarnya terbata. “Aku tidak sengaja membangunkanmu.”

Ledakan tawa sinis terdengar dari dalam tugu.

“Begitu lama aku tidur… dan yang membangunkanku hanyalah sampah yang tidak memiliki darah pedang dan akar spiritual?! Benar-benar memalukan.”

Shu Jin mengepalkan tangan. Penghinaan itu menusuk hatinya seperti pisau.

“Aku… adalah jenius kultivasi yang hanya lahir seribu tahun sekali!”

Suaranya bergetar dan penuh luka.

“Tunangan yang aku percayai menghancurkan dantian-ku—mencuri darah pedang spiritual keluarga kami. Ia juga membunuh seluruh keluargaku di depan mataku, membuatku cacat dan tak berdaya!”

Tatapannya menajam.

“Jadi jangan kau sebut aku sampah, Pak Tua!”

Untuk sesaat, keheningan menyelimuti Makam Dewa Pedang.

Kemudian suara dingin itu menjawab, “Bagaimana aku bisa mengajarimu ilmu pedang jika kau tidak memiliki Qi? Tidak memiliki darah pedang? Kau tidak punya apa-apa.”

Nisan itu bergetar sekali lagi.

“Aku tidak tertarik. Pergilah. Jika kau masih menggangguku lagi… tubuhmu akan kuhancurkan jadi debu.”

Namun Shu Jin tidak mundur.

Ia merapatkan kedua lutut dan bersujud dalam-dalam, dahinya menyentuh tanah basah yang dinginnya menusuk hingga ke tulang.

“Aku sungguh ingin memulihkan tubuhku… dan membalaskan dendam keluarga Shu. Locianpwe, aku mohon!”

Sunyi.

Tidak ada suara yang keluar dari tugu nisan itu lagi. Aura besar yang tadi mengguncang dunia perlahan memudar.

“Locianpwe… Locianpwe…” panggil Shu Jin lagi dan lagi.

Tetap tidak ada jawaban.

Namun Shu Jin tidak bangkit.

Ia terus bersujud—berkali-kali, meski dahinya mulai berdarah. Tanah basah yang menempel di wajahnya juga tak dihiraukannya lagi.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
コメント (1)
goodnovel comment avatar
Sabam Silalahi
mulai menarik dan penasaran
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Legenda Dewa Pedang    Ending : Benua Terlarang

    Benua Terlarang...Nama itu bergaung seperti kutukan di kalangan para Cultivator Song Selatan.Sebuah daratan luas yang jarang disebut tanpa nada takut—tempat yang oleh sebagian orang dijuluki Benua Dewa. Bukan karena kedamaiannya… melainkan karena para penghuninya yang melampaui batas manusia biasa.Tak banyak yang berani pergi ke sana.Bukan karena tak ingin.Tapi karena tahu—sekali melangkah ke wilayah itu, hidup dan mati bukan lagi milik sendiri.Di Benua Terlarang, kekuatan adalah hukum.Sosok yang lemah… hanya bahan pijakan.Langit di sana terasa lebih berat, seolah tekanan energi spiritual menindih siapa pun yang belum cukup kuat. Bahkan cultivator tingkat Inti Emas... yang di Song Selatan sudah dianggap elite... hanyalah lapisan terbawah di tempat itu.Lebih tinggi lagi... ada mereka yang telah menyentuh ambang keabadian.Immortal.Makhluk-makhluk yang tak lagi terikat sepenuhnya oleh hukum fana.Sekte-sekte pedang terkenal menjamur di sana.Transaksi sepenuhnya menggunakan bat

  • Legenda Dewa Pedang    Pertempuran Lembah Hantu - Pesan Terakhir

    “Kenapa… ia tidak melawan?”Suara Shu Jin terdengar serak, nyaris tak dikenali. Ia berdiri membeku di tengah sisa panas yang masih beriak di udara. Abu halus beterbangan di sekelilingnya... sisa tubuh Wu Chao-Ming yang baru saja lenyap dilahap api. Bau hangus masih menempel di tenggorokan, pahit, menyesakkan.Tangannya gemetar.Untuk pertama kalinya sejak pertarungan dimulai… ia ragu.Langkah tertatih terdengar dari belakang.Tetua Wu Chao-Pei muncul dari antara reruntuhan tubuh murid-murid Wu. Napasnya berat, darah masih menetes dari sudut bibirnya, tapi matanya tetap jernih—penuh kelelahan… dan sesuatu yang lebih dalam.Guo Xiang langsung bergerak ke depan. Pedangnya terangkat, siap kapan saja menebas jika pria tua itu mencoba sesuatu.Namun Wu Chao-Pei hanya berhenti beberapa langkah dari Shu Jin.Tidak ada niat menyerang.Hanya satu gerakan pelan... ia mengeluarkan sebuah surat yang sudah kusut dari balik jubahnya.“Ini… dari ayahmu, Shu Jin,” ucapnya lirih. “Bacalah… maka kau akan

  • Legenda Dewa Pedang    Pertempuran Lembah Hantu - Rahasia Besar

    Wu Chao-Ming sudah menyadarinya.Sebelum Shu Jin dan Guo Xiang benar-benar tiba, sebelum ujung serangan mereka menyentuh sasaran—mata pria tua itu telah terbuka perlahan, seperti seseorang yang memang telah menunggu momen ini sejak lama.Dalam satu tarikan napas, dua bayangan menerjang.Namun yang mereka hantam… hanya ruang kosong.Energi pedang mencabik udara tanpa mengenai apa pun.Shu Jin langsung memutar tubuhnya ke belakang.Wu Chao-Ming kini telah berdiri di belakang mereka.Tegak dan tenang. Seolah perpindahan barusan hanyalah langkah biasa yang tak berarti.Jubahnya bergoyang pelan, wajahnya tetap datar, namun sorot matanya… dalam. Terlalu dalam untuk dibaca.“Aku sudah tahu hari ini akan datang…” suaranya berat, mengandung sesuatu yang tak mudah dijelaskan. “Tapi, Shu Jin… apa yang kau lihat… belum tentu adalah kebenaran yang sebenarnya.”Ucapan itu membuat suasana semakin memanas.Mata Shu Jin langsung menyala.“Bandot tua sialan!” suaranya pecah, penuh amarah yang tak lagi t

  • Legenda Dewa Pedang    Pertempuran Lembah Hantu – Menghancurkan Keluarga Besar Wu

    Shu Jin dan Guo Xiang melesat maju tanpa ragu.Kaki mereka tidak benar-benar menyentuh tanah... keduanya melayang rendah, menapak udara dengan kecepatan yang memecah angin. Hantu-hantu kelaparan di bawah mereka mengangkat tangan-tangan busuk, mencoba meraih, namun yang tertangkap hanya bayangan yang sudah melintas.Desingan udara berdengung di telinga.Satu… dua… puluhan sosok hantu terlewati dalam sekejap.Dan tiba-tiba... pemandangan berubah.Mereka mendarat di sebuah tempat yang kontras dengan neraka di belakang: sebuah dataran yang tenang, hampir indah. Tanahnya bersih, udara terasa lebih ringan, seolah wilayah ini dilindungi oleh sesuatu yang tak kasat mata.Namun ketenangan itu semu.Karena di sana... Keluarga Besar Wu telah menunggu.Ratusan murid berdiri berlapis, membentuk barisan kokoh yang menghadang jalan. Mata mereka tajam, penuh kewaspadaan, sebagian menyimpan keraguan, sebagian lagi menyala dengan niat membunuh.Dan di belakang mereka, seorang pria tua duduk bersila.Wu

  • Legenda Dewa Pedang    Pertempuran Lembah Hantu - Pasukan Hantu

    Kebingungan itu bahkan belum sempat mengendap di benak Shu Jin—baru saja ia menyadari ada sesuatu yang janggal... ketika teror berikutnya datang tanpa memberi ruang untuk bernapas.Kabut Lembah Hantu yang sebelumnya menutup pandangan kini telah tersibak sepenuhnya.tapi apa yang tersembunyi di baliknya… membuat udara seakan membeku.Ratusan sosok muncul.Mereka tidak berjalan tapi mereka meluncur. Bergerak cepat, tak beraturan, dengan aura membunuh yang begitu pekat hingga membuat dada terasa ditekan. Tanah bergetar pelan setiap kali gelombang hantu itu mendekat, seperti gelombang kematian yang tak bisa dihentikan.Mata Shu Jin menyipit tajam.Hantu-hantu itu bukan sekadar roh gentayangan.Mereka dikendalikan.Namun… oleh siapa?Beberapa di antara mereka memiliki cakar panjang, hitam, berkilat seperti logam basah... racun menetes dari ujungnya, menguap saat menyentuh tanah. Hantu yang lain diselimuti kobaran api hijau kebiruan, nyalanya tidak memberi cahaya hangat, justru memancarkan h

  • Legenda Dewa Pedang    Pertempuran Lembah Hantu – Sekte Pedang Surgawi

    “Tiarap!”Suara Shu Jin meledak memecah sunyi, tajam seperti petir yang menyambar di tengah kabut tebal. Dalam detik yang sama, ribuan anak panah berujung api melesat dari balik kabut dingin—menderu, berdesing, menyayat udara dengan panas yang langsung menggigit kulit.Shu Jin menjatuhkan tubuhnya tanpa ragu. Tanah lembap menyambut dengan dingin yang menusuk. Di kanan kirinya, Guo Xiang dan Zhang Yin bergerak seirama, tubuh mereka menghantam permukaan tanah hampir bersamaan. Lima wanita iblis di belakangnya juga bereaksi cepat—menjatuhkan diri, menempel pada tanah, napas tertahan.Namun di barisan belakang, ratusan murid dan anggota Gobi Pay tidak seberuntung itu.Teriakan keras terdengar menyayat hati..Beberapa bahkan belum sempat memahami perintah ketika hujan panah itu tiba. Api menyambar pakaian, menembus daging, membakar kulit. Bau gosong langsung memenuhi udara—campuran antara kain terbakar dan darah yang mendidih. Tubuh-tubuh berjatuhan, sebagian menggeliat kesakitan, sebagian

  • Legenda Dewa Pedang    Pembunuh Bayaran Cultivator

    Harga Buah Cahaya Senja tidak pernah ditentukan oleh emas atau janji. Ia selalu dibayar dengan darah.Mei Shia berdiri tepat di hadapan pohon roh itu.Batangnya menjulang seperti tiang senja, diselimuti cahaya jingga keemasan yang berdenyut pelan, seolah menyimpan napas terakhir matahari. Daun-daun

    last update最終更新日 : 2026-03-30
  • Legenda Dewa Pedang    Teratai Waktu di Danau Roh Kuno

    Danau Roh Kuno tidak memantulkan langit.Ia memantulkan masa lalu.Begitu kaki Shu Jin menginjak tepian danau, hawa di sekitarnya berubah. Udara terasa lebih berat, seperti dipenuhi lapisan kenangan yang tak terlihat. Permukaan air berkilau keperakan, tenang, bahkan terlalu tenang... tanpa riak, tan

    last update最終更新日 : 2026-03-29
  • Legenda Dewa Pedang    Perjalanan Ke Kota Ganzhou

    Pagi menyingsing dengan dingin yang menusuk tulang di Kota Jiuquan.Kabut pucat menggantung rendah, menelan atap-atap batu dan lorong sempit, meninggalkan embun tipis yang berkilau seperti serpihan kaca. Paviliun Lotus Merah yang semalaman menahan gejolak energi kini kembali tenang—seolah baru saja

    last update最終更新日 : 2026-03-28
  • Legenda Dewa Pedang    Teknik Penyatuan Energi Murni

    Tubuh Qing Jian kembali bergetar.Namun bukan getaran biasa— Ini seperti gelombang kejut yang meledak dari dalam tulangnya, mengalir ke kulitnya dalam hantaman kasar yang membuat ranjang obat berderit keras.KRAAAK—KRAAAK—!Urat-urat biru dan merah saling berbenturan di permukaan kulitnya seperti d

    last update最終更新日 : 2026-03-18
続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status