LOGINShu Jin seketika duduk tegak, rasa lelah dan sakitnya seolah lenyap ditelan gelombang kecemasan. “Apa yang sedang terjadi? Katakan!”
“Nona Wu… dia... datang menemui Tuan Besar. Dia datang bersama begitu banyak Tetua Keluarga Wu yang berilmu tinggi! Sepertinya Tuan Besar marah besar dengan pembatalan sepihak pertunangan Tuan Muda! Tuan Besar juga sudah tahu semua yang dilakukan Nona Wu terhadapmu, Tuan Muda!”
“Tuan Muda harus menghentikan Nona Wu sebelum semuanya terlambat! Sudah lama Keluarga Wu hendak menghancurkan Keluarga Shu yang menjadi keluarga nomor satu di Kota Lin’an ini agar keluarga mereka bisa naik,” jelas Lian Hua.
“Maksudmu... semua kejadian ini adalah rencana besar dari Chao-Xing, iblis betina itu? Ia mencuri Darah Pedang Spiritual Keluarga Shu, mempermalukanku di hadapan seluruh cultivator ierutama di depan Patriark Wang Chengtian saat seleksi di Sekte Pedang Surgawi?” tanya Shu Jin.
Tanpa menunggu jawaban Lian Hua, Shu Jin langsung berlari keluar ke halaman utama tempat keributan besar terjadi.
*****
Suara ledakan energi spiritual mengguncang udara ketika Wu Chao-Ming maju selangkah ke depan. Jubahnya berkibar liar, dan hawa tekanannya membuat para pelayan Shu yang berada terlalu dekat jatuh tersungkur. Tatapannya menyapu seluruh halaman seperti bilah pedang.
“Hari ini, kami akan menghancurkan Keluarga Shu!” pekiknya, suaranya menggema hingga menembus dinding-dinding paviliun. “Kalian tidak pantas menjadi besan kami!”
Aura hitam kebiruan di sekeliling tubuhnya menjalar seperti ular, menandakan kultivasi tingkat tinggi yang siap memusnahkan apa pun di hadapannya. Di belakangnya, para Tetua Keluarga Wu berdiri kokoh—puluhan cultivator dengan mata penuh niat membunuh.
Di seberang halaman, Shu Tian melangkah maju. Rambut peraknya bergetar ditiup angin, namun sorot matanya tetap tajam dan dingin seperti baja yang ditempa ribuan kali.
“Kamu harus bertanggung jawab atas cacatnya anakku! Teganya kau hancurkan dantian-nya!” suaranya berat namun tegas. “Aku sudah mengetahui semua perbuatan busuk kalian… terutama kau, wanita iblis!”
Tatapan Shu Tian terarah lurus pada Wu Chao-Xing yang berdiri dalam jubah merah gelap, ekspresinya setengah puas setengah meremehkan.
“Jin’er mencintaimu selama tiga tahun,” lanjut Shu Tian, suaranya bertambah keras. “Namun kau menodai kepercayaannya, kau berselingkuh dengan Pangeran Ketiga, dan kalian bersekongkol mencuri Darah Pedang Spiritual keluarga kami! Kembalikan Mutiara Hitam yang kau curi, maka urusan kita selesai!”
Chao-Xing tersenyum miring, ujung bibirnya melengkung angkuh. Tapi sebelum ia sempat membuka mulut, Wu Chao-Ming sudah membalasnya.
“Cih!” serunya. “Awalnya kami hanya ingin mempermalukan kalian dan membatalkan pertunangan sampah itu. Tapi kalian sendiri yang menggali kuburan kalian! Beraninya kamu memfitnah Pangeran Ketiga!”
Ia mengangkat tangan, hawa spiritualnya berputar membentuk pusaran gelap.
“Hari ini… Keluarga Shu harus lenyap dari Kota Lin’an!”
Tapi, sebelum Wu Chao-ming turun tangan terdengar suara tertawa yang dingin memenuhi udara yang sudah mencekam.
“Hahaha… tak kusangka aku harus turun tangan menghabisi kalian sendiri.”
Semua orang menoleh. Dari arah gerbang utama, seorang pemuda melangkah masuk dengan pakaian kerajaan yang rapi dan bersulam emas. Setiap langkahnya meninggalkan gema ringan, terasa congkak dan penuh keyakinan.
Di belakangnya, barisan pasukan kerajaan memasuki halaman dengan langkah serempak, tombak terangkat, mata tajam menatap keluarga Shu seakan mereka sudah menjadi mayat.
Pangeran Ketiga, Zhao Shin yang terkenal kejam dan licik. Putra dari salah satu selir Kaisar Song Selatan, Zhao Gou—Kaisar Gaozong.
Shu Tian mencoba mengendalikan amarah dan ketakutannya. “Pangeran… Keluarga Shu tidak pernah bermusuhan dengan kekaisaran, apalagi dengan Anda. Mengapa kalian mengincar kami?”
Tidak ada jawaban.
Zhao Shin hanya melirik Wu Chao-Ming dan mengangguk kecil.
“Chao-Ming. Bunuh pengkhianat ini.”
Perintah itu menjadi sinyal kematian.
Wu Chao-Ming menghilang dalam sekejaban mata.
Tanpa memberi kesempatan siapa pun untuk bereaksi, ia sudah berada tepat di depan Shu Tian, tinjunya sudah berlapis energi gelap pekat.
BUK!
Suara pukulan itu menghantam seluruh halaman seperti ledakan merobek udara.
Tubuh Shu Tian terpental jauh, menghantam tiang paviliun utama. Kayu berat retak, serpihan beterbangan, dan tanah di bawahnya bergurat akibat tekanan energi yang mengerikan.
“Uhuk—!” Darah segar memancar dari mulut Shu Tian, warnanya hitam pekat—tanda racun tingkat tinggi merusak organ dalamnya dengan cepat.
Para Tetua Shu berteriak kaget, namun tekanan kultivasi Wu Chao-Ming membuat mereka tak bisa maju mendekat.
Tepat pada saat itu...
“AYAH!”
Suara Shu Jin menggema di seluruh halaman, membuat beberapa pelayan yang bersembunyi di balik pilar spontan menutup mulut mereka ketakutan.
Dengan napas terputus-putus, Shu Jin menerobos kerumunan cultivator dan pasukan kerajaan. Debu beterbangan setiap kali kakinya menghantam tanah. Sepatu kainnya licin oleh serpihan batu dan darah, membuat tubuhnya beberapa kali hampir tersungkur—namun ia tetap memaksa maju. Wajahnya pucat, matanya melebar penuh kepanikan.
Ia memusatkan pandangan hanya pada satu titik: tubuh ayahnya yang terkapar tak jauh dari tiang paviliun yang pecah terbelah.
Begitu ia sampai di sisi ayahnya, dunia seakan pecah menjadi serpihan.
Darah hitam—darah yang telah terkontaminasi racun tingkat tinggi—mengalir perlahan dari sudut bibir Shu Tian. Warnanya mengilap, pekat, dan berbau menusuk seperti logam terbakar. Pandangan Shu Tian yang biasanya kuat dan penuh wibawa kini kabur, matanya hanya memantulkan sosok anaknya dalam bayangan suram.
“Ayah… apa yang sebenarnya terjadi pada Ayah?” suara Shu Jin bergetar, nyaris tak keluar. Jemarinya menggenggam lengan ayahnya yang mulai dingin.
Namun sebelum Shu Tian sempat memberi jawaban lain, suara tawa melengking memotong udara.
“Lengkap sudah! Sampah kultivasi juga muncul… saatnya berpesta!” ejek Wu Chao-Xing, menyeringai sambil memandang Shu Jin seolah ia hanyalah mainan rusak yang menunggu dibuang.
Aura kebencian melingkar di sekitar wanita itu, dan setiap kata yang keluar dari mulutnya bagaikan duri menusuk dada Shu Jin.
Shu Tian, dengan napas yang makin berat, memaksakan dirinya berbicara. “Jin’er… cepat lari… jangan biarkan keluarga Shu musnah… setidaknya kau harus hidup…”
Shu Tian berhenti bernapas begitu mengucapkan kata terakhir.
Mata Shu Jin membesar. Dadanya seperti diremas dari dalam, nyeri yang meledak tanpa ampun.
“Bangsat kau!” raung Shu Jin, suaranya begitu parau hingga menusuk hati siapa pun yang mendengarnya. “Kau membunuh ayahku!”
Tanpa pikir panjang, tanpa energi Qi, tanpa kekuatan apa pun, ia menerjang ke arah Wu Chao-Xing. Setiap otot tubuhnya menjerit, namun amarah membuatnya tak peduli apakah tulangnya akan remuk.
Namun baru beberapa langkah, bayangan hitam melintas.
BUK!
Pukulan telak menghantam dadanya. Pangeran Ketiga muncul tepat di depan wajahnya, tinjunya masih terangkat penuh kesombongan.
Shu Jin terpental beberapa meter, jatuh terguling di tanah sambil muntah darah.
“Dasar sampah,” dengus Zhao Shin sambil menepuk-nepuk debu khayalan dari tangannya. “Kaisar memujimu setinggi langit, Shu Jin… tapi lihatlah dirimu sekarang. Tanpa Qi, tanpa Darah Pedang Spiritual. Membunuhmu hanya akan mengotori tanganku.”
Wu Chao-Xing mengangguk dengan senyum puas. “Benar sekali.”
Kemudian suara dingin Zhao Shin terdengar seperti putusan akhir:
“Bunuh semuanya. Sisakan saja sampah tak berguna itu.”
Pertarungan berdarah yang tak seimbang ini bagaikan eksekusi kematian.
Tubuh-tubuh melesat, pedang-pedang memekik memecah udara. Pasukan kerajaan menerjang dengan formasi ketat, sementara para cultivator Keluarga Wu menebar racun ke udara. Kabut berwarna hijau gelap menyelimuti halaman, menempel di kulit siapa pun yang tak beruntung berada di dekatnya.
Satu per satu anggota Keluarga Shu tumbang, mata mereka membelalak karena racun yang melumpuhkan organ dalam sebelum mereka sempat berteriak minta tolong.
Shu Jin, yang tubuhnya hancur oleh pukulan sebelumnya, hanya mampu merangkak perlahan. Tangannya bergetar saat ia mencoba bangkit, namun lututnya roboh kembali. Ia hanya bisa menyaksikan—tanpa kekuatan, tanpa senjata—satu demi satu anggota keluarganya tewas menggenaskan.
Shu Jin menjerit, namun tak ada suara yang keluar. Tenggorokannya kering. Napasnya patah-patah. Tubuhnya gemetar hebat.
Ia hanya bisa menonton keluarganya dibantai begitu saja tanpa mampu berbuat apapun.
Benua Terlarang...Nama itu bergaung seperti kutukan di kalangan para Cultivator Song Selatan.Sebuah daratan luas yang jarang disebut tanpa nada takut—tempat yang oleh sebagian orang dijuluki Benua Dewa. Bukan karena kedamaiannya… melainkan karena para penghuninya yang melampaui batas manusia biasa.Tak banyak yang berani pergi ke sana.Bukan karena tak ingin.Tapi karena tahu—sekali melangkah ke wilayah itu, hidup dan mati bukan lagi milik sendiri.Di Benua Terlarang, kekuatan adalah hukum.Sosok yang lemah… hanya bahan pijakan.Langit di sana terasa lebih berat, seolah tekanan energi spiritual menindih siapa pun yang belum cukup kuat. Bahkan cultivator tingkat Inti Emas... yang di Song Selatan sudah dianggap elite... hanyalah lapisan terbawah di tempat itu.Lebih tinggi lagi... ada mereka yang telah menyentuh ambang keabadian.Immortal.Makhluk-makhluk yang tak lagi terikat sepenuhnya oleh hukum fana.Sekte-sekte pedang terkenal menjamur di sana.Transaksi sepenuhnya menggunakan bat
“Kenapa… ia tidak melawan?”Suara Shu Jin terdengar serak, nyaris tak dikenali. Ia berdiri membeku di tengah sisa panas yang masih beriak di udara. Abu halus beterbangan di sekelilingnya... sisa tubuh Wu Chao-Ming yang baru saja lenyap dilahap api. Bau hangus masih menempel di tenggorokan, pahit, menyesakkan.Tangannya gemetar.Untuk pertama kalinya sejak pertarungan dimulai… ia ragu.Langkah tertatih terdengar dari belakang.Tetua Wu Chao-Pei muncul dari antara reruntuhan tubuh murid-murid Wu. Napasnya berat, darah masih menetes dari sudut bibirnya, tapi matanya tetap jernih—penuh kelelahan… dan sesuatu yang lebih dalam.Guo Xiang langsung bergerak ke depan. Pedangnya terangkat, siap kapan saja menebas jika pria tua itu mencoba sesuatu.Namun Wu Chao-Pei hanya berhenti beberapa langkah dari Shu Jin.Tidak ada niat menyerang.Hanya satu gerakan pelan... ia mengeluarkan sebuah surat yang sudah kusut dari balik jubahnya.“Ini… dari ayahmu, Shu Jin,” ucapnya lirih. “Bacalah… maka kau akan
Wu Chao-Ming sudah menyadarinya.Sebelum Shu Jin dan Guo Xiang benar-benar tiba, sebelum ujung serangan mereka menyentuh sasaran—mata pria tua itu telah terbuka perlahan, seperti seseorang yang memang telah menunggu momen ini sejak lama.Dalam satu tarikan napas, dua bayangan menerjang.Namun yang mereka hantam… hanya ruang kosong.Energi pedang mencabik udara tanpa mengenai apa pun.Shu Jin langsung memutar tubuhnya ke belakang.Wu Chao-Ming kini telah berdiri di belakang mereka.Tegak dan tenang. Seolah perpindahan barusan hanyalah langkah biasa yang tak berarti.Jubahnya bergoyang pelan, wajahnya tetap datar, namun sorot matanya… dalam. Terlalu dalam untuk dibaca.“Aku sudah tahu hari ini akan datang…” suaranya berat, mengandung sesuatu yang tak mudah dijelaskan. “Tapi, Shu Jin… apa yang kau lihat… belum tentu adalah kebenaran yang sebenarnya.”Ucapan itu membuat suasana semakin memanas.Mata Shu Jin langsung menyala.“Bandot tua sialan!” suaranya pecah, penuh amarah yang tak lagi t
Shu Jin dan Guo Xiang melesat maju tanpa ragu.Kaki mereka tidak benar-benar menyentuh tanah... keduanya melayang rendah, menapak udara dengan kecepatan yang memecah angin. Hantu-hantu kelaparan di bawah mereka mengangkat tangan-tangan busuk, mencoba meraih, namun yang tertangkap hanya bayangan yang sudah melintas.Desingan udara berdengung di telinga.Satu… dua… puluhan sosok hantu terlewati dalam sekejap.Dan tiba-tiba... pemandangan berubah.Mereka mendarat di sebuah tempat yang kontras dengan neraka di belakang: sebuah dataran yang tenang, hampir indah. Tanahnya bersih, udara terasa lebih ringan, seolah wilayah ini dilindungi oleh sesuatu yang tak kasat mata.Namun ketenangan itu semu.Karena di sana... Keluarga Besar Wu telah menunggu.Ratusan murid berdiri berlapis, membentuk barisan kokoh yang menghadang jalan. Mata mereka tajam, penuh kewaspadaan, sebagian menyimpan keraguan, sebagian lagi menyala dengan niat membunuh.Dan di belakang mereka, seorang pria tua duduk bersila.Wu
Kebingungan itu bahkan belum sempat mengendap di benak Shu Jin—baru saja ia menyadari ada sesuatu yang janggal... ketika teror berikutnya datang tanpa memberi ruang untuk bernapas.Kabut Lembah Hantu yang sebelumnya menutup pandangan kini telah tersibak sepenuhnya.tapi apa yang tersembunyi di baliknya… membuat udara seakan membeku.Ratusan sosok muncul.Mereka tidak berjalan tapi mereka meluncur. Bergerak cepat, tak beraturan, dengan aura membunuh yang begitu pekat hingga membuat dada terasa ditekan. Tanah bergetar pelan setiap kali gelombang hantu itu mendekat, seperti gelombang kematian yang tak bisa dihentikan.Mata Shu Jin menyipit tajam.Hantu-hantu itu bukan sekadar roh gentayangan.Mereka dikendalikan.Namun… oleh siapa?Beberapa di antara mereka memiliki cakar panjang, hitam, berkilat seperti logam basah... racun menetes dari ujungnya, menguap saat menyentuh tanah. Hantu yang lain diselimuti kobaran api hijau kebiruan, nyalanya tidak memberi cahaya hangat, justru memancarkan h
“Tiarap!”Suara Shu Jin meledak memecah sunyi, tajam seperti petir yang menyambar di tengah kabut tebal. Dalam detik yang sama, ribuan anak panah berujung api melesat dari balik kabut dingin—menderu, berdesing, menyayat udara dengan panas yang langsung menggigit kulit.Shu Jin menjatuhkan tubuhnya tanpa ragu. Tanah lembap menyambut dengan dingin yang menusuk. Di kanan kirinya, Guo Xiang dan Zhang Yin bergerak seirama, tubuh mereka menghantam permukaan tanah hampir bersamaan. Lima wanita iblis di belakangnya juga bereaksi cepat—menjatuhkan diri, menempel pada tanah, napas tertahan.Namun di barisan belakang, ratusan murid dan anggota Gobi Pay tidak seberuntung itu.Teriakan keras terdengar menyayat hati..Beberapa bahkan belum sempat memahami perintah ketika hujan panah itu tiba. Api menyambar pakaian, menembus daging, membakar kulit. Bau gosong langsung memenuhi udara—campuran antara kain terbakar dan darah yang mendidih. Tubuh-tubuh berjatuhan, sebagian menggeliat kesakitan, sebagian
Angin sore Kota Lin’an berembus pelan, membawa aroma pasar, wangi rempah, dan suara riuh penduduk yang memenuhi jalanan. Di antara keramaian itu, Qing Jian berjalan tanpa suara, menyembunyikan aura kultivasinya serendah mungkin. Langkahnya mantap namun hatinya berat meninggalkan Gunung Yunhua dan ke
Tubuh Qing Jian kembali bergetar.Namun bukan getaran biasa— Ini seperti gelombang kejut yang meledak dari dalam tulangnya, mengalir ke kulitnya dalam hantaman kasar yang membuat ranjang obat berderit keras.KRAAAK—KRAAAK—!Urat-urat biru dan merah saling berbenturan di permukaan kulitnya seperti d
Angin gurun tiba-tiba mengamuk.Bukan hembusan biasa—melainkan raungan rendah yang menggulung dari segala arah, menghantam dinding batu, mencabik pasir dari tanah dan mengangkatnya ke udara. Butiran pasir berputar liar, membentuk pusaran yang menanjak ke langit malam seperti naga tanpa kepala.Aylin
Di dalam gua, dunia terasa terpisah dari keganasan gurun.Badai pasir masih meraung di luar, namun dinding batu tebal meredamnya menjadi dengung jauh—seperti napas makhluk raksasa yang tertahan. Api kecil yang dinyalakan dari batu roh menyala stabil, memantulkan cahaya temaram ke dinding gua yang ka







