Home / Fantasi / Legenda Dewa Pedang / Kebangkitan Dewa Pedang

Share

Kebangkitan Dewa Pedang

Author: Zhu Phi
last update publish date: 2025-11-26 14:37:54

“Bangun!”

Suara itu menggelegar seperti guntur yang meledak tepat di samping telinga Shu Jin. Suara Kaisar Pedang Abadi… suara yang sejak tiga hari terakhir tak kunjung memberi tanda kehidupan.

Tiga hari.

Shu Jin bahkan tidak tahu bagaimana ia mampu bertahan selama itu—bersujud di tanah lembab, dingin menusuk tulang, perut melilit kosong. Bibirnya pecah, kulitnya kering, tetapi ia tidak bergerak sedikit pun dari posisinya.

Maka ketika suara itu datang, meski lemah dan nyaris kehabisan tenaga, ia berhasil menegakkan tubuhnya.

“Terima kasih… Locianpwe,” ucapnya dengan suara serak, namun mata yang redup itu bersinar penuh tekad.

Dari dalam tugu nisan raksasa itu, suara Kaisar Pedang Abadi terdengar lebih jernih, lebih hidup—seakan ia akhirnya mengakui keteguhan hati Shu Jin.

“Keluarga Shu,” ujar Luo Fei pelan namun menggetarkan, “telah melahirkan banyak Dewa Pedang terhebat. Untuk menghormati garis keturunan itu… aku akan memberimu satu kesempatan.”

Kata-kata itu membuat jantung Shu Jin berdetak lebih cepat.

“Aku telah menyegel Darah Pedang Spiritual milikku,” lanjut Luo Fei, “di dalam tubuh seekor naga purba yang hidup di dasar Lembah Makam Dewa Pedang ini.”

Shu Jin membeku.

Naga purba…?

“Darah Pedang Spiritual itu akan mengembalikan kemampuanmu sebagai pendekar pedang. Sedangkan darah naga itu… akan memperbaiki dantian-mu yang hancur.”

Bayangan akan tubuhnya yang remuk, dantian yang rusak, kekuatan pedang yang hilang—semua muncul sekejap dalam benaknya. Tapi kini, secercah harapan melintas.

Namun harapan itu cepat padam ketika kenyataan menghantam pikirannya.

“Locianpwe…” ia menelan ludah. “Bagaimana aku bisa melakukannya tanpa memiliki energi Qi? Bahkan tenaga dalam pun aku tidak punya.”

Suara Luo Fei tak menunjukkan simpati sedikit pun.

“Itu urusanmu.”

Shu Jin terdiam.

“Itu belum semuanya,” lanjut Kaisar Pedang Abadi. “Jika kau ingin aku menurunkan seluruh ilmu pedangku… ada syarat lainnya.”

Syarat itu mengalir seperti hukuman.

“Aku memiliki tiga istri yang paling menakjubkan selama hidupku sebagai Kaisar Pedang.”

Nada suaranya merendah, seakan mengingat kejayaan masa lalunya.

“Wanita terlarang, masing-masing dari sekte berbeda—ahli racun, tabib iblis, dan pewaris jurus sensual.”

Shu Jin mengernyit.

Tiga wanita dari tiga sekte terlarang?

Ahli racun saja sudah mematikan… apalagi dua yang lainnya.

“Kau harus menaklukkan mereka,” ujar Luo Fei tegas. “Mempelajari ilmu mereka masing-masing. Barulah kau layak menerima pedangku seutuhnya. Barulah kau layak menuntut balas.”

Napas Shu Jin terguncang. Jalan yang diberikan bukan sekadar sulit—itu gila. Mustahil.

Tapi... tidak ada lagi pilihan.

“Baik, Locianpwe.”

Ia menundukkan kepala dalam.

“Aku akan membunuh naga purba itu… dan meminum darahnya!”

Untuk pertama kalinya, suara Luo Fei terdengar seperti tertawa tipis.

“Bagus,” katanya. “Kalau begitu… kau membutuhkan ini.”

Dari langit kegelapan di atas tugu, cahaya hijau-biru memecah kegelapan. Cahaya itu turun perlahan, memanjang, berubah bentuk… hingga akhirnya menjadi sebuah pedang.

Pedang yang bilahnya berwarna biru kehijauan, memancarkan aura dingin namun agung, seperti es kuno yang menyimpan nyala petir.

“Pedang Dewa Ilahi,” ujar Luo Fei.

“Pedang ini akan memberimu Qi sementara. Gunakan dengan bijak. Jika kau ceroboh… hidupmu akan habis sebelum kau sempat menghadapi naga itu.”

Pedang itu berhenti tepat di depan Shu Jin, mengambang seperti makhluk hidup yang menunggu pemiliknya.

Ketika Shu Jin mengulurkan tangan dan menggenggam gagangnya—

Sebuah energi liar mengalir ke seluruh tubuhnya.

Seolah petir mengalir dalam meridiannya yang kosong.

Tubuhnya tersentak. Napasnya terhenti sesaat.

Namun untuk pertama kalinya sejak kehancurannya—

Ia merasakan… kekuatan yang cukup besar.

Shu Jin menatap ke dalam kegelapan lembah—tempat naga purba menunggu

*****

Jurang itu tampak seperti pintu menuju dunia lain—gelap, dingin, dan seakan tidak memiliki dasar. Lembah terdalam di Makam Dewa Pedang ini tidak memantulkan cahaya apa pun, seolah menelan setiap sinar yang jatuh ke dalamnya.

Namun begitu Pedang Dewa Ilahi berada dalam genggaman Shu Jin…

Bilahnya melepaskan cahaya kehijauan, berdenyut seperti napas makhluk hidup. Aura pedang itu merambat ke sekujur tubuh Shu Jin, memperkuat otot lemahnya dan menerangi kegelapan jurang seperti obor kuno yang bangkit kembali setelah ribuan tahun.

Setiap langkah yang ia turuni terasa seperti bergerak di antara kabut gelap yang tak berujung.

Jauh di bawah, suara gemuruh aneh mengguncang dinding-dinding batu.

Itu dia… pikir Shu Jin.

Ketika cahaya pedang bersinar lebih terang, suara itu akhirnya terdengar dengan jelas—

ROOOAAARRRRR!

Suara tersebut menggema naik, begitu kuat hingga batu-batu dinding jurang bergetar. Napas Shu Jin tercekat, bukan karena ketakutan—melainkan karena semangatnya bangkit mendadak.

“Akhirnya…” ucapnya sambil mengatur napas. “Aku berhasil menemukannya.”

Ia melompat turun, mendarat di hamparan tanah yang luas di dasar jurang.

Di hadapannya berdiri seekor naga purba—kulitnya hitam kebiruan, tertutup sisik sebesar tameng perang. Panas api memancar dari celah napasnya, dan setiap langkah gergasi itu mengguncang tanah.

Meskipun tubuhnya besar, sayap naga itu tampak rusak dan mengecil—jelas ia tidak mampu terbang tinggi. Namun taring raksasa dan lidah apinya cukup untuk membunuh puluhan cultivator dalam hitungan detik.

Shu Jin menggenggam Pedang Dewa Ilahi lebih erat. Qi dari pedang mengalir ke meridiannya, membangkitkan memori tubuhnya tentang seni bela diri keluarga Shu. Teknik-teknik pedang yang dulu pernah ia kuasai bergerak sendiri—mengalir kembali dalam instingnya.

Naga itu maju, mengaum hingga tanah retak.

Shu Jin tidak mundur.

Ia bergerak cepat, tubuhnya melesat seperti bayangan. Serangan-serangan naga menghantam tanah di kiri dan kanannya, meledakkan debu dan api. Namun setiap kali naga itu mencoba menjepitnya dengan cakar atau semburan api, Shu Jin selalu berada selangkah lebih cepat.

Bilah hijau kebiruan Pedang Dewa Ilahi membelah udara—whisshh!—meninggalkan jejak cahaya.

“Mati kau…!” desis Shu Jin.

Pertarungan berlangsung cepat, brutal, dan berbahaya. Tapi bagi Shu Jin—yang pernah menjadi jenius pedang—gerakan naga tersebut masih masuk akal dan bisa diprediksi, meski tubuhnya belum sepenuhnya pulih.

Ketika naga itu membuka rahangnya lebar untuk melontarkan api terakhirnya—

Shu Jin melompat ke udara, memusatkan semua kekuatan dari pedang ke ujung bilah.

“Ini akhirmu!”

CREEEP!!!

Pedang itu menusuk tepat ke kepala naga. Tubuh raksasa itu terguncang hebat, sebelum akhirnya roboh dengan gemuruh panjang yang menggema di seluruh lembah.

Asap mengepul dari luka besar di kepala naga.

Kemudian, dari dada naga itu, cahaya biru berdenyut keluar—membentuk sebuah mutiara bersinar.

Mutiara itu melayang perlahan keluar dari tubuh naga, menyebarkan aroma energi kuno yang begitu kuat hingga tanah di bawahnya retak.

“Mutiara darah naga…”

Sebelum Shu Jin sempat mengulurkan tangan, mutiara itu terbang dan menembus dadanya.

Ia terkejut—namun bukan karena sakit.

Ketika energi naga menyebar ke seluruh tubuhnya, ia merasakan sesuatu yang sudah lama hilang dari dirinya.

Darah biru naga purba itu berpadu dengan tubuhnya, memperkuat meridiannya dan memperbaiki dantian yang pernah hancur.

Ia menatap tangannya, merasakan kekuatan yang mengalir di dalamnya.

“Aku…tidak perlu minum darah naga purba ini karena sudah disedot oleh Mutiara darah Naga ini” napasnya terhenti karena emosinya yang meluap.

“Aku kembali kuat seperti dulu!”

Darah pedang spiritualnya yang hilang terasa kembali menyala. Ototnya terasa lebih kuat, langkahnya lebih ringan, dan ia dapat merasakan Qi mengalir di tubuhnya dengan teratur.

Shu Jin mengangkat pedangnya ke atas kemudian ia melompat, menjejak dinding jurang, lalu melesat ke atas seperti panah ditembakkan ke langit.

“Akhirnya…” teriaknya, suaranya menggema di seluruh lembah.

“Aku kembali menjadi Cultivator Jenius!”

Ia menembus kabut gelap, memecah udara, dan melesat menuju permukaan Makam Dewa Pedang—seakan ia sedang terbang.

Perjalanan balas dendamnya baru saja dimulai.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Sabam Silalahi
makin seru
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Legenda Dewa Pedang    Ending : Benua Terlarang

    Benua Terlarang...Nama itu bergaung seperti kutukan di kalangan para Cultivator Song Selatan.Sebuah daratan luas yang jarang disebut tanpa nada takut—tempat yang oleh sebagian orang dijuluki Benua Dewa. Bukan karena kedamaiannya… melainkan karena para penghuninya yang melampaui batas manusia biasa.Tak banyak yang berani pergi ke sana.Bukan karena tak ingin.Tapi karena tahu—sekali melangkah ke wilayah itu, hidup dan mati bukan lagi milik sendiri.Di Benua Terlarang, kekuatan adalah hukum.Sosok yang lemah… hanya bahan pijakan.Langit di sana terasa lebih berat, seolah tekanan energi spiritual menindih siapa pun yang belum cukup kuat. Bahkan cultivator tingkat Inti Emas... yang di Song Selatan sudah dianggap elite... hanyalah lapisan terbawah di tempat itu.Lebih tinggi lagi... ada mereka yang telah menyentuh ambang keabadian.Immortal.Makhluk-makhluk yang tak lagi terikat sepenuhnya oleh hukum fana.Sekte-sekte pedang terkenal menjamur di sana.Transaksi sepenuhnya menggunakan bat

  • Legenda Dewa Pedang    Pertempuran Lembah Hantu - Pesan Terakhir

    “Kenapa… ia tidak melawan?”Suara Shu Jin terdengar serak, nyaris tak dikenali. Ia berdiri membeku di tengah sisa panas yang masih beriak di udara. Abu halus beterbangan di sekelilingnya... sisa tubuh Wu Chao-Ming yang baru saja lenyap dilahap api. Bau hangus masih menempel di tenggorokan, pahit, menyesakkan.Tangannya gemetar.Untuk pertama kalinya sejak pertarungan dimulai… ia ragu.Langkah tertatih terdengar dari belakang.Tetua Wu Chao-Pei muncul dari antara reruntuhan tubuh murid-murid Wu. Napasnya berat, darah masih menetes dari sudut bibirnya, tapi matanya tetap jernih—penuh kelelahan… dan sesuatu yang lebih dalam.Guo Xiang langsung bergerak ke depan. Pedangnya terangkat, siap kapan saja menebas jika pria tua itu mencoba sesuatu.Namun Wu Chao-Pei hanya berhenti beberapa langkah dari Shu Jin.Tidak ada niat menyerang.Hanya satu gerakan pelan... ia mengeluarkan sebuah surat yang sudah kusut dari balik jubahnya.“Ini… dari ayahmu, Shu Jin,” ucapnya lirih. “Bacalah… maka kau akan

  • Legenda Dewa Pedang    Pertempuran Lembah Hantu - Rahasia Besar

    Wu Chao-Ming sudah menyadarinya.Sebelum Shu Jin dan Guo Xiang benar-benar tiba, sebelum ujung serangan mereka menyentuh sasaran—mata pria tua itu telah terbuka perlahan, seperti seseorang yang memang telah menunggu momen ini sejak lama.Dalam satu tarikan napas, dua bayangan menerjang.Namun yang mereka hantam… hanya ruang kosong.Energi pedang mencabik udara tanpa mengenai apa pun.Shu Jin langsung memutar tubuhnya ke belakang.Wu Chao-Ming kini telah berdiri di belakang mereka.Tegak dan tenang. Seolah perpindahan barusan hanyalah langkah biasa yang tak berarti.Jubahnya bergoyang pelan, wajahnya tetap datar, namun sorot matanya… dalam. Terlalu dalam untuk dibaca.“Aku sudah tahu hari ini akan datang…” suaranya berat, mengandung sesuatu yang tak mudah dijelaskan. “Tapi, Shu Jin… apa yang kau lihat… belum tentu adalah kebenaran yang sebenarnya.”Ucapan itu membuat suasana semakin memanas.Mata Shu Jin langsung menyala.“Bandot tua sialan!” suaranya pecah, penuh amarah yang tak lagi t

  • Legenda Dewa Pedang    Pertempuran Lembah Hantu – Menghancurkan Keluarga Besar Wu

    Shu Jin dan Guo Xiang melesat maju tanpa ragu.Kaki mereka tidak benar-benar menyentuh tanah... keduanya melayang rendah, menapak udara dengan kecepatan yang memecah angin. Hantu-hantu kelaparan di bawah mereka mengangkat tangan-tangan busuk, mencoba meraih, namun yang tertangkap hanya bayangan yang sudah melintas.Desingan udara berdengung di telinga.Satu… dua… puluhan sosok hantu terlewati dalam sekejap.Dan tiba-tiba... pemandangan berubah.Mereka mendarat di sebuah tempat yang kontras dengan neraka di belakang: sebuah dataran yang tenang, hampir indah. Tanahnya bersih, udara terasa lebih ringan, seolah wilayah ini dilindungi oleh sesuatu yang tak kasat mata.Namun ketenangan itu semu.Karena di sana... Keluarga Besar Wu telah menunggu.Ratusan murid berdiri berlapis, membentuk barisan kokoh yang menghadang jalan. Mata mereka tajam, penuh kewaspadaan, sebagian menyimpan keraguan, sebagian lagi menyala dengan niat membunuh.Dan di belakang mereka, seorang pria tua duduk bersila.Wu

  • Legenda Dewa Pedang    Pertempuran Lembah Hantu - Pasukan Hantu

    Kebingungan itu bahkan belum sempat mengendap di benak Shu Jin—baru saja ia menyadari ada sesuatu yang janggal... ketika teror berikutnya datang tanpa memberi ruang untuk bernapas.Kabut Lembah Hantu yang sebelumnya menutup pandangan kini telah tersibak sepenuhnya.tapi apa yang tersembunyi di baliknya… membuat udara seakan membeku.Ratusan sosok muncul.Mereka tidak berjalan tapi mereka meluncur. Bergerak cepat, tak beraturan, dengan aura membunuh yang begitu pekat hingga membuat dada terasa ditekan. Tanah bergetar pelan setiap kali gelombang hantu itu mendekat, seperti gelombang kematian yang tak bisa dihentikan.Mata Shu Jin menyipit tajam.Hantu-hantu itu bukan sekadar roh gentayangan.Mereka dikendalikan.Namun… oleh siapa?Beberapa di antara mereka memiliki cakar panjang, hitam, berkilat seperti logam basah... racun menetes dari ujungnya, menguap saat menyentuh tanah. Hantu yang lain diselimuti kobaran api hijau kebiruan, nyalanya tidak memberi cahaya hangat, justru memancarkan h

  • Legenda Dewa Pedang    Pertempuran Lembah Hantu – Sekte Pedang Surgawi

    “Tiarap!”Suara Shu Jin meledak memecah sunyi, tajam seperti petir yang menyambar di tengah kabut tebal. Dalam detik yang sama, ribuan anak panah berujung api melesat dari balik kabut dingin—menderu, berdesing, menyayat udara dengan panas yang langsung menggigit kulit.Shu Jin menjatuhkan tubuhnya tanpa ragu. Tanah lembap menyambut dengan dingin yang menusuk. Di kanan kirinya, Guo Xiang dan Zhang Yin bergerak seirama, tubuh mereka menghantam permukaan tanah hampir bersamaan. Lima wanita iblis di belakangnya juga bereaksi cepat—menjatuhkan diri, menempel pada tanah, napas tertahan.Namun di barisan belakang, ratusan murid dan anggota Gobi Pay tidak seberuntung itu.Teriakan keras terdengar menyayat hati..Beberapa bahkan belum sempat memahami perintah ketika hujan panah itu tiba. Api menyambar pakaian, menembus daging, membakar kulit. Bau gosong langsung memenuhi udara—campuran antara kain terbakar dan darah yang mendidih. Tubuh-tubuh berjatuhan, sebagian menggeliat kesakitan, sebagian

  • Legenda Dewa Pedang    Bertemu Teman Lama

    Perjalanan keluar dari markas Sekte Pedang Dewa berlangsung tanpa banyak kata. Tubuh mereka lelah, energi qi terkuras, dan luka pertarungan masih terasa panas di bawah kulit.Ketika pusat Kota Ganzhou akhirnya terlihat di kejauhan, bahkan Byakko menguap panjang.Kota itu ramai, lampion merah menggan

    last updateLast Updated : 2026-04-03
  • Legenda Dewa Pedang    Menerobos Pendirian Pondasi Bintang Tujuh

    Angin di Dunia Makam Dewa Pedang… berhenti.Langit kelabu yang selama ini bergerak lambat seperti asap tipis mendadak membeku, seolah waktu sendiri menahan napas. Ribuan pedang tua yang tertancap di tanah sunyi berdiri diam—tak lagi berdengung, tak lagi bergetar.Di atas altar batu yang dipenuhi uki

    last updateLast Updated : 2026-04-01
  • Legenda Dewa Pedang    Teknik Penyatuan Energi Murni

    Tubuh Qing Jian kembali bergetar.Namun bukan getaran biasa— Ini seperti gelombang kejut yang meledak dari dalam tulangnya, mengalir ke kulitnya dalam hantaman kasar yang membuat ranjang obat berderit keras.KRAAAK—KRAAAK—!Urat-urat biru dan merah saling berbenturan di permukaan kulitnya seperti d

    last updateLast Updated : 2026-03-18
  • Legenda Dewa Pedang    Memasuki Sekte Racun Hitam

    Kabut hijau gelap menggantung rendah di lereng kedua gunung Yunhua—seperti tirai beracun yang menunggu siapa pun yang bodoh atau nekat untuk menembusnya. Saat Qing Jian melangkah masuk ke wilayah itu, udara seketika berubah. Setiap tarikan napas terasa sesak tanpa adanya udara.Rumput di sekelilingn

    last updateLast Updated : 2026-03-17
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status