FAZER LOGIN7 hari kemudian.Mentari baru saja muncul dari balik pegunungan dan lonceng Sekte Gunung Langit berbunyi 9 kali.Dong... Dong... Dong...Suara lonceng bergema ke berbagai puncak gunung dan para Murid menghentikan kultivasi mereka.Hari ini adalah hari Kompetisi Murid Pemburu.Di Halaman Utama Murid Pemburu.Arena batu berukuran raksasa sudah dipenuhi para Murid Pemburu dan para Tetua.Di kursi paling depan, Tetua Lin dan Tetua Gu duduk dengan wajah tenang.Tidak jauh dari mereka, Ketua Sekte juga hadir bersama para Tetua lainnya.Para Murid Dalam dan Murid Elite hanya bisa melihat dari luar arena.Mereka tidak memiliki hak untuk memasuki wilayah Murid Pemburu.Whush...He Long melesat dari puncak gunung miliknya dan mendarat di pinggir arena.Hari ini dia masih menggunakan nama Han Li.Pakaiannya berwarna putih dengan corak emas dan pedang tergantung di pinggangnya.Saat dia muncul, hanya sedikit Murid yang mengenalinya."Itu Han Li.""Murid baru yang dijadikan Murid Pemburu.""Aku de
Lelang kembali berlanjut. Setelah beberapa item dilelang, wanita pelelang membawa sebuah kotak kecil. "Item terakhir dalam sesi ketiga." "Jamur Kaisar Langit." Begitu nama itu terdengar, para Murid Pemburu berubah serius. Wanita pelelang membuka kotak tersebut. Sebuah jamur putih dengan pola emas terlihat di dalamnya. "Jamur ini berasal dari wilayah rahasia kuno." "Jika dikonsumsi oleh ahli Langit, benda ini bisa membantu meningkatkan kultivasi 1 tahap." "Untuk Murid Pemburu yang sedang mencari terobosan, item ini memiliki nilai luar biasa." jelas si wanita. Penjelasan itu membuat banyak peserta tertarik. Harga awal diumumkan. "10 juta koin emas." "20 juta koin emas." "30 juta koin emas."
"500 ribu koin emas, apakah ada yang ingin memberikan penawaran lebih tinggi?" tanya wanita pelelang. Namun tidak ada suara lain. "Terjual kepada Tuan Muda di bagian belakang dengan harga 500 ribu koin emas." ucap wanita pelelang sambil mengetuk palu kayu. He Long menerima Bunga Naga Api beberapa saat kemudian. Dia menyimpan bunga itu ke dalam cincin penyimpanan. Para peserta kembali melihatnya dengan rasa penasaran. Namun tidak ada yang mengetahui identitas aslinya. Lelang terus berlanjut. He Long beberapa kali memberikan penawaran untuk beberapa bahan kultivasi langka. Setiap kali dia membeli sesuatu, para Murid lain semakin penasaran. "Siapa pemuda itu?" "Aku belum pernah melihatnya di Sekte." "Dia berani menghabiskan ratusan ribu k
"Senior." He Long melihat seorang Murid Elite dan memanggilnya. "Ada yang bisa ku bantu?" tanya Murid itu menoleh. He Long menganggukkan kepala. "Kenapa begitu banyak Tuan Muda dan Nona Muda naik ke lantai 3?" tanyanya. Murid Elite itu tersenyum. "Adik junior baru datang ke Sekte?" "Benar Senior." He Long menganggukkan kepala. "Hari ini ada Pelelangan Tahunan Paviliun Harta Karun." jelasnya. "Pelelangan?" kening He Long kembali terangkat. "Setiap tahun Paviliun Harta Karun melelang berbagai harta langka." "Kadang ada Pil tingkat tinggi, senjata kuno dan teknik kultivasi langka." "Semua barang itu berasal dari Reruntuhan kuno dan wilayah rahasia." Murid Elite itu menganggukkan kepala. He Long sedikit tertarik dengan pelelangan ini. Kalau benar ada berbagai harta langka, mungkin dia menemukan sesuatu yang be
Tidak lama kemudian dia tiba di lantai 2. Ruangan itu jauh lebih tenang dibandingkan lantai 1. Jumlah kios juga lebih sedikit. Namun aura berbagai harta jauh lebih kuat. Di setiap kios terlihat berbagai herbal berusia ratusan bahkan ribuan tahun. He Long pun menganggukkan kepala dengan puas. "Seperti yang diduga. Tempat ini memang berbeda." gumamnya pelan. Dia kemudian mengelilingi setiap kios dan melihat berbagai barang langka. Ada Buah Api Seribu Tahun, Teratai Es Ungu dan ada juga Batu Bintang Hitam yang biasa digunakan untuk menempa senjata. Namun semua itu bukan tujuan utamanya. Dia terus mencari hingga langkahnya berhenti di depan sebuah kios kecil. Di atas meja kayu itu terlihat 2 tanaman yang sangat dikenalnya. Jamur berwarna u
Beberapa saat kemudian, He Long dan semua Murid Pemburu tiba di sana. Tanpa membuang waktu, He Long lebih dulu naik ke arena pertarungan. "Siapa yang lebih dulu?" tanyanya menyapu pandangannya. "Cukup sombong juga bocah ini." para Murid Senior tertegun melihat mental He Long. Mereka tidak menyangka Murid baru yang berusia 18 tahun itu begitu berani. "Baik. Aku yang naik lebih dulu." teriak seorang Murid laki-laki dan melompat ke arena pertarungan. "Ada apa ini?" namun tiba-tiba sebuah suara datang dari langit. Semua Murid pun langsung mendongak dan membungkuk hormat. "Salam Tetua." ucap para Murid dengan hormat. "Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Tetua Gu dengan suara berat. Pemuda yang bernama Zhao Feng pun menangkupkan tangan. "Tetua Gu, kami hanya







