LOGIN"Bawa dia ke kamarnya dan panggil penyembuh," perintah Xiao Zheng kepada para pelayan. "Xiao Tian, ikut aku. Kita perlu membicarakan pertunanganmu dengan keluarga Lin."
Mereka pergi begitu saja, meninggalkan Xiao Fan tergeletak dalam genangan darahnya sendiri. Para pelayan dengan hati-hati mengangkat tubuhnya yang rusak parah dan membawanya ke kamar. Saat berbaring di ranjang dengan seluruh tubuh terasa hancur, Xiao Fan menatap langit-langit kamarnya dengan mata kosong. Rasa sakit fisik tidak ada apa-apanya dibanding rasa sakit di hatinya. Su Mincheng mati. Keadilan tidak ada. Keluarganya tidak peduli. Bahkan dengan kekuatan baru yang ia dapat, ia masih kalah. Masih lemah. Masih tidak berguna. Air mata mengalir deras di pipinya. Bukan air mata kesedihan biasa, tetapi air mata seseorang yang kehilangan segalanya. Harapan terakhirnya untuk mendapat kasih sayang keluarga musnah. Satu-satunya orang yang peduli padanya sudah mati dengan cara yang mengerikan. "Maafkan aku, Mincheng," bisiknya dengan suara serak. "Aku tidak bisa melindungimu. Aku terlalu lemah. Maafkan aku..." Malam itu, Xiao Fan tidak tidur. Ia hanya berbaring dengan mata terbuka, menatap kegelapan, sementara rasa sakit dan penyesalan memakan jiwanya perlahan. *** Cahaya pagi menerobos masuk melalui jendela kamar Xiao Fan yang kusam. Matanya terbuka perlahan, menatap langit-langit dengan pandangan kosong. Seluruh tubuhnya masih terasa remuk, setiap gerakan kecil menimbulkan rasa sakit yang menusuk. Tulang rusuknya yang retak berdenyut setiap kali ia bernapas. Dengan susah payah, ia bangkit dari tempat tidur. Energi Crystal dalam tubuhnya bekerja menyembuhkan luka-lukanya, tetapi prosesnya lambat. Luka internal yang disebabkan oleh qi Xiao Tian tidak mudah dipulihkan. Ia membutuhkan waktu berhari-hari, mungkin berminggu-minggu untuk sembuh total. Xiao Fan berjalan tertatih menuju meja kecil di sudut kamar. Di atas meja itu masih ada secangkir teh yang dibuat Su Mincheng sebelum ia pergi dalam misi pengawalan. Teh itu sudah dingin dan basi, tetapi Xiao Fan mengangkatnya dengan tangan gemetar. "Mincheng," bisiknya dengan suara serak. "Aku benar-benar tidak berguna." Pintu kamarnya terbuka pelan. Seorang pelayan muda bernama Xiao Ling masuk dengan langkah hati-hati, membawa nampan berisi makanan sederhana dan obat-obatan. "Tuan muda," sapanya dengan suara lirih. "Saya membawakan sarapan dan obat untuk luka anda." Xiao Fan menatapnya. "Bibi Yue dimana? Biasanya dia yang mengurus pelayan-pelayan." Ekspresi Xiao Ling berubah menjadi ketakutan. Ia menempatkan nampan dengan tangan gemetar, tidak berani menatap mata Xiao Fan. "Bibi Yue... dia..." suara gadis itu hampir tidak terdengar. "Katakan," Xiao Fan berkata dengan nada datar, meskipun ia sudah merasakan firasat buruk. Xiao Ling berlutut, air mata mulai mengalir di pipinya. "Bibi Yue dieksekusi pagi ini oleh prajurit tuan besar. Dia dituduh sebagai pembisik yang menyebarkan fitnah tentang tuan muda Xiao Tian." Xiao Fan merasa dunia berputar. Nampan di tangannya jatuh, pecahan mangkuk berserakan di lantai. "Apa?" "Tuan besar marah karena Bibi Yue menceritakan tentang... tentang Su Mincheng kepada anda," Xiao Ling menangis lebih keras. "Dia bilang Bibi Yue mencoba merusak harmoni keluarga dengan gosip tidak berdasar. Pagi ini di lapangan depan, dia... dia dipenggal di depan semua pelayan sebagai peringatan." Tangan Xiao Fan mengepal erat. Darah segar mengalir dari telapak tangannya karena kuku-kukunya menancap terlalu dalam. Seluruh tubuhnya bergetar, amarah yang lebih besar dari kemarin membara di dadanya. "Gosip tidak berdasar?" suaranya keluar seperti geraman. "Xiao Tian membunuh Su Mincheng! Itu fakta! Bibi Yue hanya menceritakan kebenaran!" "Ssst!" Xiao Ling menutup mulutnya dengan panik, melirik ke pintu dengan ketakutan. "Tuan muda, mohon jangan bicara keras. Jika ada yang mendengar, tuan muda bisa..." "Bisa apa? Dibunuh juga?" Xiao Fan tertawa pahit. "Keluarga ini sudah membunuhku perlahan selama dua puluh tahun. Membunuhku sekarang tidak akan ada bedanya." Xiao Ling menangis dalam diam. Ia dan para pelayan lain tahu kebenaran, tetapi tidak ada yang berani berbicara. Di keluarga Xiao, kekuatan adalah segalanya. Keadilan hanyalah ilusi bagi mereka yang lemah. "Pergilah," Xiao Fan berkata dengan lelah. "Terima kasih untuk makanannya." Xiao Ling bangkit dan pergi dengan cepat, meninggalkan Xiao Fan sendirian kembali. Ia berdiri di tengah kamar yang dingin dan kosong, merasakan kekosongan yang luar biasa di dadanya. Su Mincheng mati. Bibi Yue mati. Dua nyawa tidak bersalah hilang, dan tidak ada yang peduli. Bahkan usaha untuk menceritakan kebenaran dihukum dengan kematian. Xiao Fan berjalan ke jendela dan menatap mansion luas keluarga Xiao. Bangunan megah dengan taman indah, kolam teratai, dan paviliun mewah. Dari luar terlihat sempurna, tetapi di dalamnya busuk hingga ke akar. Ia melihat Xiao Tian berjalan santai di taman bersama beberapa pelayan yang melayaninya dengan takut-takut. Adiknya itu tertawa, tanpa beban, seolah tidak ada yang terjadi. Seolah ia tidak baru saja membunuh dua orang dalam tiga hari terakhir. "Aku masih terlalu lemah," gumam Xiao Fan dengan kepalan tangan yang semakin erat. "Terlalu lemah untuk melindungi siapa pun. Terlalu lemah untuk mendapat keadilan. Terlalu lemah bahkan untuk balas dendam." Ia menyadari dengan pahit bahwa meskipun ia sudah mendapat kekuatan dari Crystal yang tidak dia tahu apa itu, tapi itu belum cukup. Kekuatannya masih mentah, kontrolnya masih buruk, dan pengalamannya jauh di bawah Xiao Tian yang sudah berlatih bertahun-tahun dengan guru-guru terbaik. Dia masih perlu waktu. Pertarungan kemarin membuktikannya. Ia kalah telak. Dipukuli hingga hampir mati. Seperti biasa, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Tetapi kali ini ada yang berbeda. Kali ini ia punya jalan untuk menjadi kuat. Pengetahuan dari Crystal masih tersimpan dalam pikirannya, sangat banyak dan menunggu untuk dipelajari dan dikuasai. Ia hanya butuh waktu. Xiao Fan mengambil keputusan. Ia akan menyepi. Ia akan berlatih dengan gila-gilaan. Ia akan menguasai setiap teknik, setiap metode, setiap rahasia yang tersimpan dalam warisan kuno itu. Dan suatu hari, ia akan kembali untuk menuntut keadilan. Bukan untuk dirinya sendiri. Tetapi untuk Su Mincheng, untuk Bibi Yue, dan untuk semua orang lemah yang tidak berdaya melawan tirani keluarga ini.Bab 336 Mengambil Langhuan sebagai pelayan Wanita bernama Qin Xian'er itu mengenakan pakaian putih dan memiliki penampilan yang lembut dan cantik. Yang paling luar biasa adalah aura kultivasinya telah mencapai Kesempurnaan Tingkat Rendah Alam Api Ilahi, hampir setara dengan Orang Suci Bulu yang Jatuh itu. "Seorang pelayan wanita Langhuan, yang kultivasinya setara dengan Sepuluh Raja Kecil?" tanya Jun Xiaoyao dengan sedikit ragu. Dengan kekuatan seperti itu, mengapa dia harus menjadi pelayan orang lain? Pemuda bertanduk di kepalanya menjelaskan, "Qin Xian'er selalu bersama Putri Langhuan dan mereka memiliki ikatan yang dalam. Meskipun dia cukup mahir dalam kultivasi, dia bersedia menjadi seorang pelayan." Jun Xiaoyao mengangguk setelah mendengar itu. "Ehem, mungkin Putri Kesembilan memiliki standar yang terlalu tinggi dan memandang rendah pria biasa. Tetapi dengan penampilan dan kekuatanmu, tuan muda, kau mungkin punya kesempatan," kata pemuda bertanduk itu. Bahkan dia, seorang
Bab 335 Wilayah Asura, Kerajaan Iblis Asura, Seleksi Pengawal Suci Putri Langhuan Kabar tentang kejatuhan Orang Suci Bulu yang Jatuh dan penyerahan diri Klan Bulu yang Jatuh menyebar ke seluruh Pemakaman dalam waktu singkat. Di antara Sepuluh Raja Kecil, bukan hanya Chu Tianba dan Lang Huan yang menerima kabar tersebut. Raja-raja lainnya juga menerima kabar tersebut. Di antara para anak ajaib ini, sebagian menjadi penonton, sebagian terkejut, dan sebagian lagi tidak yakin. Bagaimanapun juga, Sang Suci Bulu yang Jatuh tetaplah makhluk yang terkubur di dalam bumi, dan salah satu dari Sepuluh Raja Kecil. Namun, orang yang membunuhnya adalah seorang jenius dari luar wilayah tersebut. Apakah ini, sampai batas tertentu, menunjukkan bahwa bahkan sepuluh anak ajaib teratas, seperti "Sepuluh Raja Kecil," tidak dapat mengalahkan satu pun anak ajaib dari luar wilayah tersebut? Lalu bagaimana dengan wajah Sepuluh Raja Kecil? Oleh karena itu, beberapa dari Sepuluh Raja Kecil sangat ingin
Bab 334 Tubuh Penguasa Surgawi Kuno yang Belum Sempurna, Chu Tianba! Ketika Langhuan pertama kali mendengar berita itu, dia mengira bahwa Orang Suci Bulu yang Jatuh itu buta dan telah menyinggung beberapa raja lain yang lebih kuat darinya. Sekarang, Qin Xian'er mengatakan bahwa dia dibunuh oleh manusia dari luar ras manusia. Dan yang terpenting, manusia dari dunia luar itu sendirian. Hal ini membuat seluruh Klan Bulu Jatuh takut untuk membalas dendam padanya, dan mereka bahkan harus berkompromi dan meminta maaf. Itu hal lain lagi. Langhuan berdiri dengan terkejut, memperlihatkan sosoknya yang tinggi dan langsing. Qin Xian'er menatap kaki Lang Huan yang panjang dan indah, wajah cantiknya sedikit memerah, dan dia menundukkan kepalanya. Namun, Langhuan tidak menyadari bahwa saat itu dia sedang merenungkan berita ini. Karena rasanya sangat luar biasa. "Ada detail lain?" tanya Langhuan. Meskipun dia seorang wanita, keterampilan dan visinya tidak kalah dengan seorang pria. Dalam
Bab 333 Putri Kesembilan dari Kerajaan Iblis Asura Selama beberapa hari itu, Jun Xiaoyao tetap berada di Kota Baiwang. Saudari Cang juga melayani Jun Xiaoyao dengan sangat penuh perhatian, menyajikan teh dan air dengan sangat hati-hati. Dalam beberapa hari terakhir, kepala keluarga Cang juga telah mengirimkan anggota klan terkuat ke lokasi tiga kekuatan utama, menjarah wilayah dan sumber daya mereka. Setelah mengetahui latar belakang Jun Xiaoyao, kepala keluarga Cang merasa bahwa Klan Bulu Jatuh mungkin agak waspada terhadap keluarga Jun. Namun, beberapa hari kemudian, tersebar kabar bahwa Klan Bulu yang Jatuh telah mengirimkan tim yang dipimpin oleh Makhluk Semu Tertinggi dan sedang menuju ke Kota Harapan Putih. Berita ini sekali lagi membuat seluruh kota Baiwang menjadi pusat perhatian semua orang. Kepala keluarga Cang dan yang lainnya semuanya dipenuhi rasa gelisah. Meskipun Jun Xiaoyao memiliki latar belakang yang menakutkan, sulit untuk menjamin bahwa Klan Bulu Jatuh tida
Bab 332 Reaksi Klan Bulu yang Jatuh: Bahkan Kaisar Pemakaman Pun Mundur Seluruh kota Baiwang gempar dan sama sekali tidak bisa ditenangkan. Karena apa yang terjadi hari ini berada di luar pemahaman mereka. Bisa jadi dalam beberapa hari, berita ini akan menyebar ke seluruh Wilayah Dunia Bawah, dan bahkan mencapai wilayah lain. Lagipula, jatuhnya seorang jenius setingkat salah satu dari Sepuluh Raja Kecil bukanlah hal sepele. Namun, yang lebih menarik perhatian semua orang adalah bagaimana Klan Bulu yang Jatuh akan bereaksi. Pemanggilan mendadak tiga Boneka Pembunuh Dewa Alam Suci Agung oleh Jun Xiaoyao benar-benar mengejutkan semua orang. Namun, jujur saja, Klan Bulu yang Jatuh sebenarnya tidak perlu takut. Sekalipun kita mengabaikan fakta bahwa Kaisar Pemakaman dari Klan Bulu yang Jatuh telah bergerak, bahkan seorang Quasi-Supreme pun akan mampu dengan mudah mengatasi ketiga Boneka Pembunuh Dewa ini. Jadi semua orang sangat penasaran tentang apa yang akan dilakukan Klan Bulu
Bab 331 Boneka Pembunuh Dewa yang Perkasa Memusnahkan Musuh Ketiga boneka ini adalah Boneka Pembunuh Dewa milik keluarga Jiang, yang masing-masing berada di tingkat Maha Bijak. Seperti yang sudah diketahui, semakin tinggi level sebuah boneka, semakin sulit pula pembuatannya. Jika boneka di Alam Suci dianggap langka di Alam Abadi... Lalu, boneka di Alam Bijak Agung bahkan lebih langka lagi. Mungkin hanya di ranah kekuatan abadi seseorang dapat menemukan beberapa di antaranya. Sebelumnya, Jun Xiaoyao telah memperoleh Boneka Ilahi Pemecah Bintang yang langka di alam bawah. Namun, Boneka Ilahi Pemecah Bintang itu hanya berada di Alam Suci. Namun, Boneka Pembunuh Dewa milik keluarga Jiang dua tingkat lebih tinggi dari Boneka Dewa Pemecah Bintang, mencapai Alam Suci Agung. Fakta bahwa keluarga Jiang mempercayakan tiga Boneka Pembunuh Dewa kepada Jun Xiaoyao menunjukkan betapa mereka menghargai dan menyayanginya. "Bagaimana ini mungkin? Tiga boneka Alam Suci Agung! Siapa sebenarnya







