Share

Bab. 3. Enyah!

Penulis: Master KidOO
last update Terakhir Diperbarui: 2023-08-18 11:11:18

Fang Han menggigit bibir dengan raut wajah yang sangat masam. Dia sangat menyadari kristal inti emas yang beberapa waktu lalu baru terbentuk, dan sekarang harus secara paksa dihancurkan kembali.

“Sial! Aku benar-benar tidak rela!” Gigi si Pemuda bergeletuk menahan amarah.

Kesengsaraan Surgawi ini tidak ada unsur kehidupan sama sekali. Itu adalah pembunuhan dan hukuman mati bagi kultivator.

Fang Han yakin jika ia berada di Alam Tiga Puluh Delapan Provinsi Dao Surgawi sejak dia mulai berlatih—Tingkat Pertama di Ranah Pemurnian Qi—dia pasti dapat melewati kesengsaraan surgawi yang bersifat membunuh ini.

Ya, pada akhirnya dia hanya dapat berpuas diri karena merupakan pendatang di alam ini.

Seberapa besar pun keberuntungannya, bakatnya yang melengkung, dan kecerdasannya. Hal-hal itu semua tidak akan dapat mengubah fakta dari perkara yang pertama—seorang pendatang.

Kristal Inti Emas yang retak, secara perlahan hancur. Kekuatan dari kesengsaraan petir surgawi terlalu besar. Tidak perlu berharap pada teknik lain yang dimiliki si Pemuda—Qi Tuntiandi/Qi Melahap Semesta.

Teknik tersebut benar-benar tidak berefek pada petir kesengsaraan surgawi. Walaupun Fang Han berusaha menyerap rune petir ke dalam tubuh. Namun, itu terlalu membunuh.

Fang Han menangis dalam diam, dan berkata-kata di dalam, coba memotivasi diri sendiri. “Ya, ini tidak apa-apa. Selama masih hidup, selalu ada kesempatan lain untuk kembali berkultivasi dengan benar.”

Seiring dengan hancurnya inti emas di dalam dantian-nya. Ranah Kultivasi Fang Han benar-benar menurun secara drastis.

Ranah Formasi Inti Tingkat Sembilan ... Delapan ... Tujuh ... dan terus hingga Ranah Formasi Inti Tingkat Pertama.

Akan tetapi, itu masih belum berakhir. Fang Han meraung, dia merasa akan gila hanya karena memikirkan hal tersebut. “Apakah dunia ini terlalu kejam?”

Ranah Kultivasi si Pemuda masih turun. Sekarang dia berada di Ranah Pendirian Yayasan Tingkat Kelima. Fang Han tidak dapat membantu diri sendiri, hanya bisa berharap dengan cemas agar penurunan ranah kultivasi segera berhenti.

Ketika memikirkan kembali perjalanan kultivasi yang sangat melelehkan. Fang Han tertawa kecut, sejak kecil diremehkan oleh seluruh anggota Klan Fang.

Hanya Ayah dan Ibunya saja yang memiliki keyakinan akan kemampuan Fang Han dan terus mengolah segala daya upaya untuk membuat si Pemuda terlepas dari kutukan yang ada di dalam tubuhnya.

Bahkan, itu membuat kedua orang tuanya menghilang. Hingga Fang Han berspekulasi bahwa kedua orang tuanya telah berpindah ke Alam Tiga Puluh Delapan Provinsi Dao Surgawi juga.

Namun, sekarang segala kekuatan yang telah dia kembangkan akan segera menghilang.

“Keparat! Berhentilah.” Fang Han mengepalkan tangan dengan keras, hingga kuku menusuk telapak tangan dan berdarah. Pada saat itu, Ranah Kultivasi-nya telah berada di Alam Pendirian Yayasan Tingkat Ketiga.

“Tolong berhenti, kembali ke Ranah Pemurnian Qi adalah mala petaka yang lebih buruk dari pada kematian!” Sekarang perasaan takut sedikit merayap masuk dalam pikiran si Pemuda.

Rasa frustasi, dan kecemasan Fang Han akhirnya benar-benar mereda ketika dia hal yang dikhawatirkannya telah berhenti seiring dengan hilangnya awan gelap di langit. Ya, sekarang kultivasi Fang Han hanya berada di Tingkatan Pendirian Yayasan Tahap Pertama.

“Akhirnya ini berhenti.” Fang Han menghela nafas panjang.

Itu jelas merupakan pukulan besar bagi seorang pembudidaya. Penurunan ranah yang melewati dua alam besar secara sekaligus.

Pada saat ini, raut wajah Fang Han benar-benar memasam hingga terlihat menghitam. Dia benci pada keberuntungan diri sendiri. Kenapa Alam ini terlalu kejam? Menyiksa seorang pendatang baru dengan hukuman yang sangat berat.

Fang Han terpekur, lesu, marah, kesal dan berbagai emosi lainnya teraduk dan bergejolak di dalam hati. Mata si Pemuda memerah, dia seolah-olah telah berubah menjadi binatang buas yang gila dan hilang akal.

Praktisi yang hadir di sana merasa tidak ada lagi yang dapat mereka tonton. Nasib kultivasi si Pemuda dalam pandangan mereka untuk saat itu jelas sekali telah berakhir.

“Seberapa berbakat pun dia, jika tidak disukai oleh langit dan bumi, pada akhirnya tetap tidak akan bisa melangkah jauh di jalan kultivasi agung.”

Satu persatu dari mereka berbalik dan pergi dari tempat itu.

Fang Han masih dalam kondisi lemah dengan mental yang tidak stabil serta mata yang memerah.

Wus! ....

Angin berhembus lembut. Pakaian atas si Pemuda terbang terbawa angin dalam bentuk bubuk halus. Itu jelas bahwa tenaga dari petir kesengsaraan surgawi telah membuat pakaian Fang Han menjadi lapuk seolah-olah telah terkikis oleh perubahan zaman.

Itu memperlihatkan tubuh putih yang kokoh dengan otot-otot di perut yang tersusun seperti batu-batu.

Fang Han menghela nafas dengan berat. Mata yang memerah secara perlahan juga telah kembali ke warna aslinya.

Setelah bergumam kecil dengan bunyi yang tidak jelas dia berjalan gontai. Meninggalkan tempat itu dengan arah tujuan yang tidak jelas.

Pada saat itu, Fang Han seperti telah menjadi lebih tua beberapa tahun. Semangatnya benar-benar jatuh. Namun, dia tahu bahwa tidak sepantasnya untuk terus larut dalam keadaan ini.

Fang Han tidak mungkin mengecewakan Qiau Yuelin. “Ya, Aku harus bangkit dan kembali lebih kuat.”

Dia mengelus lembut cincin penyimpanan yang tersemat dijari manis—Cincin Aku Menunggu Kamu—yang ditinggalkan Qiau Yuelin untuknya. “Hanya dengan mengingat mu. Ini adalah motivasi terakhir yang sangat berharga bagiku. Yuelin‘er, bagaimana kabar Anda saat ini?”

Sekali lagi Fang Han menghela nafas dan menggerakkan kaki perlahan. Meski berjalan dalam keadaan gontai. Tapi, dia berusaha mencari arah untuk dituju selanjutnya dengan menggunakan kesadaran spiritual.

“Adik kecil! ... Tahan sebentar!”

Langkah goyah Fang Han dihentikan oleh teriakan tiba-tiba dari suara tegas yang mendominasi.

Fang Han berbalik tanpa peduli siapa yang menyapa. Lalu, dengan ekspresi acuh tak acuh dia berkata, “Enyah!”

Orang yang menahan kepergian Fang Han mengabaikan perkataan si Pemuda. Setelah satu tarikan nafas orang itu sudah berdiri di depan si Pemuda. “Adik, aku memiliki bisnis yang ingin dikonsultasikan dengan Anda, adik kecil. Apakah Anda berminat?”

Orang itu melemparkan aura dominasi. Jangankan Fang Han, jika ada pembudidaya lain di sana, mereka juga akan tahu bahwa antara sikap dan ucapan orang tersebut jelas berbanding terbalik.

Ini hanya pemanis di mulut, serigala lapar yang coba memangsa daging kelinci.

Fang Han mengangkat kepala dan melihat pada sosok di depannya. Itu merupakan sosok dari laki-laki paruh baya dengan bahu yang lebar dan perawakan besar.

Otot-otot kekar dan kuat tentu disembunyikan dengan baik di balik jubah hitam yang ia kenakan. Wajahnya yang memiliki rahang yang kokoh. Serta hidung bangir sedikit lebih besar.

Mata orang tersebut terlihat agak menyipitkan. Namun, nyala api pada netranya terlihat liar dan tidak terkendali. Sifat dan tanda kelicikan tergambar jelas di sana.

Fang Han masih acuh tak acuh, dan nada suara yang sedikit ditinggikan. “Enyah!”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Joe Mozart
NOVEL SAMPAH
goodnovel comment avatar
Mu_Yan
wow.... keren
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Legenda Sang Immortal   Bab. 117. Masalah Bersama

    Di area inti … angin panas berhembus pelan, namun cukup untuk membuat ujung jubah para kultivator berkibar tak beraturan. Udara terasa berat, seolah-olah setiap tarikan napas mengandung bara halus yang menggores paru-paru. Di hadapan mereka, tiga lapisan penghalang berdiri seperti tiga ujian yang memisahkan dunia luar dari misteri yang tersembunyi di dalam area inti.Dan kini, masalah yang dihadapi oleh semua orang di tempat itu, juga menjadi masalah yang harus dihadapi Fang Han—bagaimana cara memecah tiga lapisan penghalang tersebut dan masuk ke dalam area inti?Tidak ada jalan memutar. Tidak ada celah yang terlihat.Hanya ada penghalang yang harus dihancurkan. Lapisan pertama saja sudah sangat sulit untuk dipecahkan. Itu tidak hanya membutuhkan kerja sama, juga menguras Qi Sejati.Fang Han memandang dengan tenang, tetapi tatapannya tajam.Ia tidak hanya melihat api. Tapi merasakan struktur di baliknya.Energi roh yang menyelimuti kobaran itu bergerak dalam pola teratur—bukan kacau

  • Legenda Sang Immortal   Bab. 116. Area Inti Tanah Salju Kuno

    Setelah menembus ke Ranah Yayasan Inti, Fang Han tidak langsung menghentikan kultivasinya melainkan masih terus duduk di tempat semula dan menstabilkan ranah kultivasi. Aura di sekeliling tubuhnya masih bergetar halus, Qi sejati di dalam dantiannya berputar dalam siklus yang lebih dalam dan lebih padat dibandingkan sebelumnya. Jika Fang Han menghentikan proses itu secara mendadak, fondasi yang baru saja terbentuk bisa menjadi tidak stabil.Fang Han menarik napas perlahan. Setiap helaannya terasa berbeda.Qi Sejati yang ia serap kini seperti memiliki saluran yang lebih luas, aliran meridian terasa lebih lancar dan kuat. Namun justru karena lonjakan itulah, ia tidak berani ceroboh.“Stabilkan dulu … jangan terburu-buru.” Fang Han berkata-kata di dalam.Ia terus memutar Qi, menghaluskan sisa-sisa gejolak energi yang masih bergema akibat penembusan ranah. Inti Yayasan di dalam dantiannya berdenyut lembut, memancarkan cahaya redup namun mantap.Proses itu tanpa disadari Fang Han telah m

  • Legenda Sang Immortal   Bab. 115. Ranah Yayasan Inti

    Karena telah bersama Su Li Xiu kembali, Fang Han tidak langsung mengajak gadis itu ke area yang paling berbahaya, melainkan terlebih dahulu mempersiapkan segalanya dengan cermat. Fang Han memahami bahwa perjalanan mereka ke depan tidak akan mudah. Bahaya bisa muncul kapan saja, dan jika fondasinya sendiri belum benar-benar kokoh, maka bukan hanya dirinya yang akan terancam, tetapi juga Su Li Xiu.Fang Han menoleh sekilas ke arah gadis itu. Su Li Xiu berdiri tidak jauh darinya, pakaian birunya berkibar pelan tertiup angin lembah, wajahnya tampak tenang namun sorot matanya menyimpan kepercayaan penuh padanya. Justru karena kepercayaan itulah Fang Han semakin tidak ingin bertindak gegabah.“Li Xiu’er, Aku tidak akan masuk terlalu dalam dulu,” ujar Fang Han pelan.Su Li Xiu mengangkat alisnya sedikit. “Fang Han Gege, memiliki rencana lain?” tanyanya ringan, nada suaranya terdengar menggoda.Fang Han tersenyum tipis. “Iya, aku tidak ingin ceroboh.”Dia kemudian menambahkan dengan nada s

  • Legenda Sang Immortal   Bab. 114. Tidak Akan Kenal Jika Tidak Bertarung

    Namun, mesti Fang Han telah mengerahkan segenap kemampuan istimewanya itu. Guo Tiandu tetap unggul banyak. Niat pedang yang dikuasai Guo Tiandu walaupun belum mencapai ranah penyatuan manusia dan pedang. Namun, itu hanya satu level di bawah Fang Han. Guo Tiandu diuntungkan oleh kultivasinya yang tinggi. Lagipula, ia juga seorang praktisi yang sanggup bertarung melawan lintas ranah.Di medan es yang telah porak-poranda itu, perbedaan satu level tersebut meski terasa seperti jurang yang dalam. Namun, Guo Tiandu memiliki fondasi kultivasi yang lebih tinggi.Setiap kali pedang mereka beradu, Fang Han dapat merasakan tekanan berat yang bukan hanya berasal dari kekuatan fisik, melainkan dari kedalaman pemahaman. Niat pedang Guo Tiandu stabil, padat, dan bersih. Tidak liar, tidak berlebihan. Justru karena kestabilan itulah, ia menjadi menakutkan.Fang Han mengayunkan pedangnya dengan cepat. Aura hitam bergetar mengikuti gerakan bilah, memecah udara dan memadatkan tekanan di sekitarnya. S

  • Legenda Sang Immortal   Bab. 113. Niat Pedang Vs Niat Pedang

    Fang Han yang terdesak hebat akhirnya tidak punya pilihan lain selain mengeluarkan potensi terbaik yang ia miliki. Di bawah tekanan serangan Guo Tiandu yang semakin menggila, ia memforsir kedalaman Qi Sejati miliknya dengan cara yang hampir tak masuk akal. Aliran energi di dalam tubuh Fang Han berputar cepat, menghantam dinding meridian satu demi satu, menimbulkan rasa nyeri yang tajam seperti jarum menusuk dari dalam. Namun Fang Han tidak peduli. Dalam situasi seperti ini, sedikit kelengahan saja sudah cukup untuk membuatnya terjungkal.Teknik Langkah Dewa Seribu Tapak pun ia kembangkan secara ekstrem.Setiap langkah yang diambil Fang Han hampir tidak lagi meninggalkan jejak. Tubuh Fang Han bergerak dengan kecepatan tinggi, berpindah posisi dalam jarak pendek dengan ritme yang tidak beraturan, seolah-olah ruang di sekitarnya terlipat dan dibuka kembali sesuai kehendaknya. Di mata orang luar, bayangan Fang Han tampak berlapis, sulit ditangkap dengan penglihatan biasa.Untuk terus

  • Legenda Sang Immortal   Bab. 112. Guo Tiandu Mengambil Tindakan

    Fang Han tersenyum santai. Senyum itu tipis, nyaris tak terlihat, namun cukup untuk memperlihatkan bahwa ia sama sekali tidak tertekan oleh tudingan maupun sikap Guo Tiandu. Tatapan Fang Han tenang, jernih, seolah ia sedang berbincang ringan, bukan berdiri di hadapan dua orang yang jelas-jelas menghalangi jalannya.Dengan nada lugas dan tidak berbelit, Fang Han pun berbicara.“Sebagai seorang Kultivator,” ujar Fang Han dengan perlahan dan santai. “Harusnya Saudara Guo paham, bahwa kita tidak banyak berbicara dan langsung bekerja dengan tindakan.”Kalimat itu terdengar sederhana, namun sarat makna. Fang Han tidak meninggikan suara, tidak pula menunjukkan emosi berlebihan. Justru ketenangannya itulah yang membuat ucapannya terasa lebih tajam.“Karena yang terlalu banyak berbicara,” lanjut Fang Han tanpa ragu dan menyindir. “Hanyalah seorang pengecut. Tidak memiliki kemampuan, lalu sibuk memprovokasi sana dan sini.”Chu Yang yang berdiri di samping Guo Tiandu langsung menegang.Meski F

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status