Beranda / Fantasi / Legenda Sang Immortal / Bab. 4. Bisnis Orang Tamak

Share

Bab. 4. Bisnis Orang Tamak

Penulis: Master KidOO
last update Terakhir Diperbarui: 2023-08-21 01:36:27

Seiring dengan perkataannya, Fang Han juga mengayunkan lengan dengan sedikit True Qi yang disalurkan melalui ayunan tersebut.

Wuss!! ....

Hawa lembut menerpa dan mendorong orang yang coba menghentikan langkah kaki si Pemuda.

Pembudidaya itu terlihat sedikit kesal, dan balas berteriak. “Anda berani melawan kehendak Lin Feiyang?! Orang yang gagal, masih tidak bisa melihat jalan ke neraka.”

Lin Feiyang melesat ke atas dan melepaskan pukulan tangan kosong dengan keras. Hawa panas menerpa ke arah Fang Han. Ada cahaya hitam pekat membentuk garis lurus di sana. Itu seperti cahaya dari pedang kegelapan.

Cara Lin Feiyang membalas juga tidak kalah santai dari Fang Han. Si Pemuda tidak mengharapkan orang yang menjadi lawannya begitu meremehkan dan menganggap dirinya enteng.

Dua hawa pukulan beradu di udara, pakaian dari Lin Feiyang berkibar. Sementara Fang Han yang berdiri kokoh, terdorong mundur satu langkah.

Hanya adu tenaga dalam kecil dan ringan itu sudah menjelaskan bahwa Fang Han telah kalah dalam tingkatan True Qi yang ia miliki.

Lin Feiyang mencemooh dan memperlihatkan tatapan tamak penuh dengan kelicikan. “Anda tidak mau berbisnis! Tuan Besar ini akan mengambil sendiri apa yang diinginkan.”

Fang Han tahu kondisi tubuhnya sendiri. Dia juga telah memahami maksud sebenarnya dari Lin Feiyang. ‘Orang ini, ingin mengetahui hal-hal yang ada di dalam tubuh ku.’

Raut wajah Fang Han semakin kelam. Kebencian membuncah di dalam hati. Dia memaki di dalam. “Dunia apaan ini? Kenapa berbagai kemalangan terus datang silih berganti? Jika terus seperti ini, bagaimana aku dapat menemukan Qiau Yuelin dan Su Ruoxi? Aku tidak boleh terlalu menghabiskan waktu di tempat ini.”

Lin Feiyang tidak memberikan kesempatan pada Fang Han untuk terus berpikir. “Adik kecil, serahkan teknik yang Anda keluarkan saat melawan petir kesengsaraan surgawi! Teknik itu akan lebih berguna di tangan Tuan Besar ini.”

Lin Feiyang bergerak seperti hembusan angin, tangan kanannya diangkat mengarahkan cengkeraman ke leher Fang Han. Sementara tangan kiri membentuk totokan ke arah dahi.

Serangan itu hanya bertujuan untuk menangkap Fang Han dan membaca kesadaran spiritual si Pemuda secara paksa.

Fang Han mendengus semakin kesal. Ya, pada saat itu, meskipun Fang Han telah mengalami penurunan pada ranah kultivasi. Namun, dia bukan lah bunga yang terawat di dalam rumah kaca. Pengalaman pertempuran yang ia miliki sangat banyak. Fang Han telah memikirkan berbagai cara untuk menghalau serangan lawan.

Jurus Satu Jari Menekan Bintang menjadi pilihan. Fang Han tidak berani coba menggunakan Teknik Qi Melahap Semesta. Jika menggunakan teknik ini, itu sama dengan bunuh diri. Perbedaan prinsip dan hukum Dao di antara dua alam yang berbeda menjadi pertimbangan.

Dengan Jurus Satu Jari Menekan Bintang, Fang Han merengsek ke depan coba menusuk jari telunjuk ke arah cengkeraman.

Kali ini, dia kembali terkejut. Itu sangat tidak biasa dengan sebelumnya. Jika di alam bawah Fang Han menggunakan Jurus Satu Jari Menekan Bintang, maka fenomena langit yang berwarna merah darah dan langit terbelah akan muncul.

Akan tetapi, di sini—Alam Tiga Puluh Delapan Provinsi Dao Surgawi—fenomena seperti itu tidak muncul.

Hal itu agak sedikit mengejutkan Fang Han. Sebelumnya si Pemuda berpikir bahwa itu karena gangguan yang terjadi ketika kesengsaraan surgawi. Namun, sekarang kesengsaraan surgawi sudah berlalu.

Fang Han tidak mau terlalu memikirkannya. Bagi dirinya yang penting Jurus Satu Jari Menekan Bintang bisa menghalau serangan Lin Feiyang.

Bayangan jari kehitaman membelah udara dan beradu dengan telapak cengkeraman Lin Feiyang. Ledakan tidak dapat terelakkan.

Hong!! ... Efek dari adu pukulan kedua jelas lebih besar dari sebelumnya. Fang Han terdorong mundur dua tombak. Sementara Lin Feiyang juga sedikit terganggu, dia melakukan tendangan setengah volley di udara, coba menyeimbangkan tubuh dari dorongan hawa True Qi yang menyebar.

Lin Feiyang melayang dengan anggun seperti daun yang dihembuskan angin dan berdiri tegak di atas tanah. Dia melihat Fang Han dengan sorot mata berapi-api. Ada kesenangan tertentu tiba-tiba muncul di dalam hatinya.

“Bagus sekali, Adik Kecil! Teknik ini harus Anda serahkan pada Tuan Besar ini.” Lin Feiyang terkekeh, dan kembali membentuk kuda-kuda penyerangan lainnya. “Jangan melawan lagi! Atau Anda akan mampus.”

Fang Han dalam keadaan hati yang tidak menentu, tapi, dia tidak pernah kehilangan situasi gelanggang pertempuran. Setelah dua kali adu pukulan, dia telah melihat ranah kultivasi dari Lin Feiyang. Itu Ranah Pendirian Yayasan Tingkat Keenam.

“Baik, jika demikian, silahkan ambil sendiri jika Anda memiliki kemampuan.” Fang Han tidak menunggu serangan dari Lin Feiyang. Perbedaan Ranah Kultivasi menjadi pertimbangan utama si Pemuda.

Tinju Besi Klan Fang dimainkan dan dipadukan dengan teknik Langkah Dewa Seribu Tapak.

Fang Han berusaha meningkatkan potensi terkuat yang dapat ia hasilkan dalam pertarungan ini. Tenaga dalam yang lebih rendah daripada lawan coba diimbangi dengan kecepatan oleh si Pemuda.

Lin Feiyang mencibir. Geli terhadap cara Fang Han bertarung. Lin Feiyang dapat membaca apa yang dipikirkan lawan mudanya itu. “Coba bertarung dengan mengandalkan kecepatan dan kelincahan.”

“Ha ha ha! ...” Tawa besar bergema.

Sosok tubuh Lin Feiyang telah menghilang dari tempat semula. Hanya dalam satu kedip mata selanjutnya dia telah berada di depan Fang Han dan beradu pukulan beberapa kali dengan si Pemuda.

Lin Feiyang bergerak seperti bayangan Fang Han. Di mana pun Fang Han berhenti dan melepaskan serangan pukulan, Lin Feiyang selalu dapat mengimbangi.

Pertarungan keduanya menjadi monoton untuk sesaat. Bahkan setelah bertukar puluhan gerakan. Tidak terlihat tanda-tanda Fang Han unggul. Kecepatan yang ditunjukkan Lin Feiyang benar-benar mencengangkan.

Hal yang luar biasa adalah setiap serangan yang dilepaskan Fang Han dapat diimbangi Lin Feiyang dan dilakukan dengan ekspresi acuh tak acuh serta penuh penghinaan. Itu seolah-olah Fang Han benar-benar praktisi yang tidak berguna di depan matanya.

“Apakah Anda sudah puas, Adik Kecil?!” Lin Feiyang memperlihatkan senyuman penghinaan seraya menangkis semua serangan Fang Han. “Baik, sekarang giliran Tuan Besar ini.”

Kompresi True Qi dengan cepat memadat di udara. Ini membawakan aura penindasan dan menghambat sirkulasi True Qi di dalam tubuh Fang Han.

Swhooossh!! ....

Pukulan True Qi panas dilepaskan Lin Feiyang. Bayangan telapak besar seperti cakar elang melesat dan menghantam Fang Han.

“Tidak baik!” Fang Han menjerit di dalam hati. Dia sadar ini akan menjadi adu pukulan lainnya.

Fang Han menggigit bibir, coba menerobos tekanan yang dibawa oleh True Qi Lin Feiyang. Namun, usaha si Pemuda benar-benar sia-sia. Dia hanya berusaha semampunya saja dengan mengadu tenaga keras dari Tinju Besi Klan Fang.

Pukulan yang dilepaskan Lin Feiyang dengan telak menghancurkan teknik Fang Han dan merengsek ke arah tubuh si Pemuda.

Boom!! ....

Ledakan keras terdengar. Cipratan darah berhamburan di udara membawa bau amis yang menusuk hidung.

Fang Han terlempar ke belakang seperti layangan putus. Entah dia masih hidup atau mati? Tidak ada yang dapat memastikannya.

Apakah Fang Han benar-benar mati?!

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Legenda Sang Immortal   Bab. 117. Masalah Bersama

    Di area inti … angin panas berhembus pelan, namun cukup untuk membuat ujung jubah para kultivator berkibar tak beraturan. Udara terasa berat, seolah-olah setiap tarikan napas mengandung bara halus yang menggores paru-paru. Di hadapan mereka, tiga lapisan penghalang berdiri seperti tiga ujian yang memisahkan dunia luar dari misteri yang tersembunyi di dalam area inti.Dan kini, masalah yang dihadapi oleh semua orang di tempat itu, juga menjadi masalah yang harus dihadapi Fang Han—bagaimana cara memecah tiga lapisan penghalang tersebut dan masuk ke dalam area inti?Tidak ada jalan memutar. Tidak ada celah yang terlihat.Hanya ada penghalang yang harus dihancurkan. Lapisan pertama saja sudah sangat sulit untuk dipecahkan. Itu tidak hanya membutuhkan kerja sama, juga menguras Qi Sejati.Fang Han memandang dengan tenang, tetapi tatapannya tajam.Ia tidak hanya melihat api. Tapi merasakan struktur di baliknya.Energi roh yang menyelimuti kobaran itu bergerak dalam pola teratur—bukan kacau

  • Legenda Sang Immortal   Bab. 116. Area Inti Tanah Salju Kuno

    Setelah menembus ke Ranah Yayasan Inti, Fang Han tidak langsung menghentikan kultivasinya melainkan masih terus duduk di tempat semula dan menstabilkan ranah kultivasi. Aura di sekeliling tubuhnya masih bergetar halus, Qi sejati di dalam dantiannya berputar dalam siklus yang lebih dalam dan lebih padat dibandingkan sebelumnya. Jika Fang Han menghentikan proses itu secara mendadak, fondasi yang baru saja terbentuk bisa menjadi tidak stabil.Fang Han menarik napas perlahan. Setiap helaannya terasa berbeda.Qi Sejati yang ia serap kini seperti memiliki saluran yang lebih luas, aliran meridian terasa lebih lancar dan kuat. Namun justru karena lonjakan itulah, ia tidak berani ceroboh.“Stabilkan dulu … jangan terburu-buru.” Fang Han berkata-kata di dalam.Ia terus memutar Qi, menghaluskan sisa-sisa gejolak energi yang masih bergema akibat penembusan ranah. Inti Yayasan di dalam dantiannya berdenyut lembut, memancarkan cahaya redup namun mantap.Proses itu tanpa disadari Fang Han telah m

  • Legenda Sang Immortal   Bab. 115. Ranah Yayasan Inti

    Karena telah bersama Su Li Xiu kembali, Fang Han tidak langsung mengajak gadis itu ke area yang paling berbahaya, melainkan terlebih dahulu mempersiapkan segalanya dengan cermat. Fang Han memahami bahwa perjalanan mereka ke depan tidak akan mudah. Bahaya bisa muncul kapan saja, dan jika fondasinya sendiri belum benar-benar kokoh, maka bukan hanya dirinya yang akan terancam, tetapi juga Su Li Xiu.Fang Han menoleh sekilas ke arah gadis itu. Su Li Xiu berdiri tidak jauh darinya, pakaian birunya berkibar pelan tertiup angin lembah, wajahnya tampak tenang namun sorot matanya menyimpan kepercayaan penuh padanya. Justru karena kepercayaan itulah Fang Han semakin tidak ingin bertindak gegabah.“Li Xiu’er, Aku tidak akan masuk terlalu dalam dulu,” ujar Fang Han pelan.Su Li Xiu mengangkat alisnya sedikit. “Fang Han Gege, memiliki rencana lain?” tanyanya ringan, nada suaranya terdengar menggoda.Fang Han tersenyum tipis. “Iya, aku tidak ingin ceroboh.”Dia kemudian menambahkan dengan nada s

  • Legenda Sang Immortal   Bab. 114. Tidak Akan Kenal Jika Tidak Bertarung

    Namun, mesti Fang Han telah mengerahkan segenap kemampuan istimewanya itu. Guo Tiandu tetap unggul banyak. Niat pedang yang dikuasai Guo Tiandu walaupun belum mencapai ranah penyatuan manusia dan pedang. Namun, itu hanya satu level di bawah Fang Han. Guo Tiandu diuntungkan oleh kultivasinya yang tinggi. Lagipula, ia juga seorang praktisi yang sanggup bertarung melawan lintas ranah.Di medan es yang telah porak-poranda itu, perbedaan satu level tersebut meski terasa seperti jurang yang dalam. Namun, Guo Tiandu memiliki fondasi kultivasi yang lebih tinggi.Setiap kali pedang mereka beradu, Fang Han dapat merasakan tekanan berat yang bukan hanya berasal dari kekuatan fisik, melainkan dari kedalaman pemahaman. Niat pedang Guo Tiandu stabil, padat, dan bersih. Tidak liar, tidak berlebihan. Justru karena kestabilan itulah, ia menjadi menakutkan.Fang Han mengayunkan pedangnya dengan cepat. Aura hitam bergetar mengikuti gerakan bilah, memecah udara dan memadatkan tekanan di sekitarnya. S

  • Legenda Sang Immortal   Bab. 113. Niat Pedang Vs Niat Pedang

    Fang Han yang terdesak hebat akhirnya tidak punya pilihan lain selain mengeluarkan potensi terbaik yang ia miliki. Di bawah tekanan serangan Guo Tiandu yang semakin menggila, ia memforsir kedalaman Qi Sejati miliknya dengan cara yang hampir tak masuk akal. Aliran energi di dalam tubuh Fang Han berputar cepat, menghantam dinding meridian satu demi satu, menimbulkan rasa nyeri yang tajam seperti jarum menusuk dari dalam. Namun Fang Han tidak peduli. Dalam situasi seperti ini, sedikit kelengahan saja sudah cukup untuk membuatnya terjungkal.Teknik Langkah Dewa Seribu Tapak pun ia kembangkan secara ekstrem.Setiap langkah yang diambil Fang Han hampir tidak lagi meninggalkan jejak. Tubuh Fang Han bergerak dengan kecepatan tinggi, berpindah posisi dalam jarak pendek dengan ritme yang tidak beraturan, seolah-olah ruang di sekitarnya terlipat dan dibuka kembali sesuai kehendaknya. Di mata orang luar, bayangan Fang Han tampak berlapis, sulit ditangkap dengan penglihatan biasa.Untuk terus

  • Legenda Sang Immortal   Bab. 112. Guo Tiandu Mengambil Tindakan

    Fang Han tersenyum santai. Senyum itu tipis, nyaris tak terlihat, namun cukup untuk memperlihatkan bahwa ia sama sekali tidak tertekan oleh tudingan maupun sikap Guo Tiandu. Tatapan Fang Han tenang, jernih, seolah ia sedang berbincang ringan, bukan berdiri di hadapan dua orang yang jelas-jelas menghalangi jalannya.Dengan nada lugas dan tidak berbelit, Fang Han pun berbicara.“Sebagai seorang Kultivator,” ujar Fang Han dengan perlahan dan santai. “Harusnya Saudara Guo paham, bahwa kita tidak banyak berbicara dan langsung bekerja dengan tindakan.”Kalimat itu terdengar sederhana, namun sarat makna. Fang Han tidak meninggikan suara, tidak pula menunjukkan emosi berlebihan. Justru ketenangannya itulah yang membuat ucapannya terasa lebih tajam.“Karena yang terlalu banyak berbicara,” lanjut Fang Han tanpa ragu dan menyindir. “Hanyalah seorang pengecut. Tidak memiliki kemampuan, lalu sibuk memprovokasi sana dan sini.”Chu Yang yang berdiri di samping Guo Tiandu langsung menegang.Meski F

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status