Masuk"Dilahirkan dengan darah dewa, tapi dibesarkan sebagai kutukan." Gohan Lee, bocah yatim dari Desa Langit Sepi, tumbuh tanpa bakat, tanpa keluarga, dan tanpa harapan. Di mata sekte, dia hanya beban—lemah, tak berguna, dan ditakdirkan gagal. Sampai langit pecah. Sebuah pedang kuno jatuh, memilihnya sebagai tuan. Dan dunia... mulai ketakutan. Dalam darahnya, mengalir warisan yang pernah menghancurkan tujuh sekte besar. Tapi bukan pujian yang ia dapat. Melainkan pengkhianatan, pengejaran, dan kutukan untuk dikorbankan. Dengan sistem misterius dan kekuatan dendam dari masa silam, Gohan tidak lagi mencari pengakuan. Dia hanya punya satu tujuan: menghancurkan dunia yang pernah membuangnya.
Lihat lebih banyak"Kapan kamu bisa melayaniku lagi?"
Dinda mengerutkan keningnya seketika saat ia mendengar hal tersebut.
Pertanyaan itu muncul dari bibir Dewa, atasannya, tanpa mengalihkan pandangannya dari tumpukan berkas yang harus dia baca dan mendapatkan tanda tangannya.
"Maksud Bapak?" tanya Dinda, benar-benar tidak paham.
Terdengar suara dengusan napas Dewa. Pria itu mendongak, melihat wajah polos Dinda. Sorot matanya yang tajam akhirnya membuat si sekretaris kembali menunduk karena merasa tidak nyaman.
"Kapan milikmu bisa aku pakai lagi?"
Kali ini, pertanyaan itu cukup bisa dimengerti. Dinda meremat jemarinya.
Kenapa pria itu terus memburunya?
Sudah beberapa bulan ini, Dinda terikat kontrak dengan Dewa. Pekerjaannya sebagai sekretaris hanyalah sebagai kedok agar Dinda bisa terus berada di dekat pria tersebut. Dengan terpaksa, Dinda menjadi pemuas hasrat sang presdir.
Kalau wanita itu punya pilihan lain, tidak akan mungkin ia merendahkan harga dirinya sebagai simpanan seperti ini.
Namun, saat ini, Dinda tengah datang bulan sehingga tidak dapat melayani Dewa. Sebenarnya, ia paham bahwa kekesalan Dewa berawal dari pertengkaran dengan istrinya tadi pagi. Ditambah keadaan di mana Dewa belum bisa menikmati bagian intim Dinda lantaran wanita itu tengah datang bulan.
"Itu ... mungkin tiga hari lagi, Pak."
Dewa berdecak. "Selama itu?” Ia terdengar kesal. Sudah tiga hari ia menahan diri untuk tidak berhubungan dengan sekretarisnya tersebut. “Aku menginginkanmu, Din!”
Jantung Dinda berdebar cepat. Kalimat terakhir itu membuatnya terlena, seolah memang merasa sangat diinginkan dan hanya dia yang diinginkan pria itu.
Kenyataan? Tidak. Dinda tidak spesial dan Dewa tidak menyimpan perasaan padanya, tapi karena pria itu masih menginginkan pelayanannya.
Hening sejenak, sebelum kemudian Dewa bertitah, “Gunakan tanganmu.”
Dua kata itu terdengar jernih di dalam kantor presdir yang tengah mereka tempati, membuat tubuh Dinda bergetar. Ia tahu, menolak tidak akan ada gunanya. Dinda tidak punya kuasa apa-apa.
Karenanya, tak butuh waktu lama, ruangan yang sejuk tersebut terasa panas akibat gairah kedua manusia itu.
“P-Pak–”
Permainan Dewa, sekali lagi, mampu membuat Dinda terbawa arus. Meski awalnya ia tidak punya pilihan untuk menolak perintah pria itu, Dewa berhasil membuatnya hanyut dengan menyasar kedua miliknya yang membusung.
Wanita itu kembali mengigit bibir bawahnya, menahan desahan yang nyaris keluar seiring ritme mereka yang makin cepat dan menggila hingga akhirnya Dewa mendapatkan kepuasan.
“Bagus.” Dewa tersenyum miring melihat wajah Dinda yang memerah karena ulahnya.
Pujian itu membuat pipi Dinda memanas. Dia bukan munafik. Dinda mengakui bahwa terkadang ia merasakan kesenangan, menikmati permainan ulung dari atasannya tersebut.
Akan tetapi, Dinda juga merasa sedih dan sangat berdosa. Ada banyak orang yang sudah mereka bohongi serta khianati.
Terutama istri Dewa.
“Benahi bajumu dan bereskan mejaku,” perintah Dewa lagi sembari membetulkan pakaiannya.
Tanpa berkomentar, Dinda menuruti ucapan atasannya.
Banyak yang curiga pada Dinda di kantor, kenapa ia bisa menembus perusahaan besar seperti Diraja Corp. Seharusnya, tamatan SMA sepertinya tidak akan diterima menjadi sekretaris seorang Sadewa Diraja.
Untungnya, selain memiliki tubuh yang sangat indah, serta wajah yang cantik, Dinda juga gadis yang pintar dan cekatan. Tidak sulit baginya memahami apa saja yang menjadi pekerja dan tanggung jawab nya sebagai sekretaris. Hal itu bisa menutup mulut-mulut rekan kerjanya yang pada awalnya memandang sebelah mata padanya.
Dinda keluar dari toilet setelah membersihkan tangannya dan merapikan penampilan. Sementara itu, Dewa sudah kembali berkutat dengan berkas di atas mejanya.
"Apa saja agendaku hari ini?" tanya Dewa kemudian ketika ia menyadari sekretarisnya sudah kembali.
Dengan sigap, Dinda menjawab, "Hanya ada pertemuan dengan keluarga. Hari ini mertua Bapak datang dari Australia."
Wanita itu bisa melihat raut wajah atasannya menjadi keruh. Dalam hati, Dinda mengeluh. Ia akan menghadapi kejengkelan atasannya lagi kali ini.
"Katakan saja aku ke Bandung, mengurus proyek."
"Akan sedikit aneh kalau Bapak di Bandung dan saya di Jakarta," balas Dinda segera.
Sesungguhnya dia dilema. Seharusnya sebagai seorang sekretaris, Dinda tidak harus ikut mencampuri masalah keluarga Dewa apalagi rumah tangganya. Terlebih saat ia tahu bahwa Dewa sedang tidak akur dengan istri serta orang tua kandungnya, terutama ayahnya.
Namun, sebagai sekretaris yang terlibat langsung dengan Dewa, Dinda tidak punya banyak pilihan.
"Katakan kalau kamu juga ada di Bandung!"
"Tidak bisa, Pak. Ibu Anda minta saya membeli kue ubi talas untuk dibawa ke acara itu dan sudah saya titipkan pada sopir keluarga," terang Dinda.
Dia berharap agar Dewa mau pulang ke rumah orang tua dan bertemu mertuanya agar ia tidak terlibat drama keluarga yang lebih rumit jika harus berbohong.
Ibunda Dewa sudah menghubunginya sejak siang tadi, mengatakan bahwa bagaimanapun caranya, Dinda harus bisa membujuk Dewa untuk mau pulang. Sudah dua hari pria itu tidur di apartemen. Tampaknya sang ibunda tahu bahwa lagi-lagi Dewa bertengkar dengan Helen, istrinya.
Kemungkinan, beliau juga tahu bahwa istri Dewa tersebut nekat datang ke kantor untuk mencari Dewa dan marah-marah. Wanita itu murka karena suaminya sudah tidak pulang dua hari dan menyebabkan keributan, sekaligus membuat Dewa uring-uringan sepanjang hari.
"Kalau begitu kau temani aku ke sana." Dewa melempar bolpoin yang sejak jadi dia putar-putar di sela jarinya ke atas meja, membuat Dinda terkejut.
Dengan segera, Dinda menyahut, "Tidak bisa, Pak. Saya harus pulang karena ada urusan keluarga."
Kenapa pula dia harus dibawa-bawa segala?
Dewa berdecak. "Kalau begitu hubungi ibuku, katakan aku sudah mati dan tidak bisa datang."
Kalau Dinda bisa menggeplak kepala pria itu, pastilah sudah dia lakukan. Mana mungkin dia mengatakan hal itu pada Bu Reni, ibunda Dewa? Bisa pingsan di tempat wanita itu.
Lagi pula, Dewa harus datang. Ada hal serius yang ingin dibicarakan oleh mertuanya. Itulah pesan Bu Reni tadi, saat meminta Dinda menjamin kedatangan Dewa.
Karenanya, Dinda memasang tatapan sendu. Sepasang matanya meredup dan wajahnya tampak murung. Ekspresi ini selalu berhasil membuat Dewa tidak bisa menolak permintaannya, meskipun kadang dengan sedikit dongkol. Karenanya, Dinda yakin kali ini pun ia akan berhasil.
Namun, ternyata perkiraannya meleset.
"Aku pergi, kalau kau ikut!" tegas Dewa. Sepasang matanya yang tampak dingin membalas tatapan sendu Dinda.
Pada akhirnya, Dinda menghela napas. Ia tahu ini adalah keputusan final Dewa.
Mungkin karena hari ini mereka tidak bercinta, hati Dewa makin menjadi keras dan pendiriannya kokoh seperti batu hingga bujukan Dinda tidak mempan.
“Baik, Pak.”
***
"Makasih ya, Din. Kamu sudah berhasil menarik tali lehernya, sehingga mau datang ke sini," bisik Bu Reni setibanya Dewa dan Dinda di kediaman mereka. Wanita paruh baya itu tersenyum pada Dinda dan mencubit pelan pipi gadis itu.
"Bapak benar-benar mau datang kok, Bu. Bukan karena paksaan," jawab Dinda sopan. Ia balas tersenyum.
Keluarga Dewa sangat baik padanya. Kalau biasanya keluarga terpandang akan memandang sebelah mata pada bawahan, tidak begitu dengan Keluarga Diraja.
Tiba-tiba ponsel Dinda berdering. Wanita itu izin pada ibunda Dewa untuk mengangkat panggilan tersebut.
“Halo?”
Wajah Dinda yang tampak tenang berangsur menjadi panik saat mendengarkan penjelasan orang di telepon.
“Leon?” Dinda menyebut nama putra kecilnya. Ia kemudian kembali mendengarkan. “Ya, tunggu aku, Bu.”
“Din, ayo duduk,” ucap ibunda Dewa kemudian. “Gak enak sama keluarga Helen, mereka sudah datang soalnya.”
"Saya pulang saja, Bu," ujar Dinda spontan. Raut wajahnya tampak khawatir. Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.
Bu Reni mengernyit. “Ada apa?” tanyanya.
Dinda menggeleng. “Saya harus–”
Ucapannya terpotong seketika oleh suara bariton milik Dewa, membuat Dinda sontak menoleh pada atasannya.
"Tidak! Kamu harus tetap di sini!"
Hening itu mematikan.Ujung pedang emas bergetar di leher Rouye, nyaris menyentuh kulit. Cahaya dari bilahnya berdenyut, bukan sekadar cahaya. Melainkan desakan, dorongan haus darah yang kian kuat. Seakan pedang itu sendiri ingin segera menenggelamkan diri ke dalam daging sahabat yang kini berdiri sebagai pengkhianat.“Han,” suara Rouye lirih, senyumnya anehnya tenang. “Kau tidak berani. Karena di balik semua keberanianmu, kau masih bocah desa yang takut kehilangan satu-satunya orang yang pernah menatapmu sebagai saudara.”Gohan menggertakkan gigi. Jantungnya berdegup gila, seakan ingin merobek dadanya. Xiulan di sisi ruangan berteriak, air mata berkilat di wajahnya.“Jangan lakukan itu! Jika kau mendengarkan pedang, kau akan kehilangan dirimu!”Tapi bagaimana mungkin ia tidak mendengarkan? Bisikan pedang itu seperti gelombang yang menghantam terus-menerus. Masuk lewat telinga, meresap ke dalam nadi.“Tebas. Dia adalah bayangan.
Angin malam menyapu hening kuil. Sisa-sisa cahaya dari pedang emas masih berdenyut samar, namun di balik keindahan itu ada sesuatu yang membuat bulu kuduk Gohan meremang. Bisikan halus yang menghantam pikirannya tidak sepenuhnya hilang, ia hanya bersembunyi, menunggu. “Gohan,” suara Xiulan lirih, “matamu… masih berubah-ubah warnanya.” Ia mengusap sudut wajah Gohan, seakan ingin memastikan lelaki itu masih utuh. Gohan hanya mengangguk, menutup matanya sejenak untuk menahan denyutan gelap di dada. Rouye berdiri di pintu kuil, matanya tajam menatap kegelapan malam. “Aku merasakan sesuatu. Ada yang mengintai. Sekte Bayangan… mereka tidak akan tinggal diam setelah kau menguasai pedang itu.” Gohan mengangkat kepalanya. Kata-kata itu langsung membuat napasnya berat. Sekte Bayangan, sekte kuno yang dipercaya telah lenyap ratusan tahun lalu, terkenal karena doktrin licik mereka: ‘Bayangan lebih tajam daripada pedang.’ Mereka tidak m
Gohan terduduk, tubuhnya gemetar, pedang emas di tangan seperti membakar kulit. Napas tersengal, jantung berdegup liar, dan dunia di sekelilingnya terasa melayang, kuil Langit Ketujuh lenyap, menyisakan ruang hampa dan cahaya. “Tidak… tidak mungkin,” desisnya. Kepala berat, suara dalam pikirannya berputar, bukan lagi kabut kuil. Itu… suara pedangnya. “Gohan… kau lemah,” bisik lembut tapi menusuk. “Kau tak pantas mewarisi ini. Ikuti aku… semua penderitaan akan berhenti.” Cahaya emas memudar, berganti semburat hitam pekat berputar di udara, menyentuh kulit dengan dingin mengerikan. Jantungnya berdetak lebih kencang, tubuh gemetar. Pedang itu… hidup. “Bicara padaku?” suaranya serak. Tubuh menggigil, pandangan menelan kuil sunyi, setiap detak terdengar seperti gendang perang. “Tidak, aku bicara melalui kau. Aku tersegel ribuan tahun, menunggu pemilik kuat dan putus asa. Kini aku bangkit.” Suara berbaur dengan det
Udara di sekeliling Gohan seolah berhenti berputar ketika kakinya menjejak tangga terakhir. Setiap langkah menggemakan suara asing, seperti batu-batu kuno itu mengenali siapa yang berjalan di atasnya. Di hadapannya menjulang bangunan yang tak bisa digambarkan dengan kata manusia, Kuil terakhir di Langit Ketujuh. Pilar-pilarnya menggantung di udara, berkilau seperti potongan bintang yang membeku, atapnya dipenuhi ukiran naga dan phoenix yang bergerak samar, seakan bernapas. Gohan menelan ludah, rasa logam masih tersisa di lidahnya dari darah yang belum sempat kering sejak pertempuran terakhir. Tubuhnya sakit, teknik terlarang yang dipakai menuntut balasan, tapi matanya tak bisa lepas dari cahaya kuil itu, emas, sama dengan pedang yang dulu jatuh di depannya di desa sepi. “Ini… tujuan akhir…” bisiknya serak. Xiulan di sisi kiri menatapnya teguh meski pucat, Rouye di kanan, tangan terkepal hingga buku jarinya memutih. Keduanya
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.