หน้าหลัก / Fantasi / Legenda Sang Immortal / Bab. 40. Kembali Bertemu Li Zhangtian

แชร์

Bab. 40. Kembali Bertemu Li Zhangtian

ผู้เขียน: Master KidOO
last update วันที่เผยแพร่: 2024-02-01 01:36:41
Fang Han mempelajari slip giok yang diberikan oleh Huang Liong dengan seksama. Itu termasuk penggunaan tenaga spiritual untuk menjelajah peta kecil di sudut slip giok.

Dia menyadari ada banyak kesulitan, baik resep itu sendiri juga termasuk jalan agar bisa masuk ke Lembah Pil.

“Persyaratan untuk dapat masuk ke sana, setidaknya aku harus menjadi Alkemis Level Enam.” Fang Han memainkan bola mata dan bergumam, itu hampir tidak terdengar di telinganya sendiri.

Huang Liong tidak mengatakan apa-apa,
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Legenda Sang Immortal   Bab. 129

    Sementara di Tangga Menembus Langit, Fang Han perlahan membuka matanya.Pemandangan Kuburan Pedang yang dipenuhi kabut kelabu telah menghilang. Sebagai gantinya, hamparan anak tangga batu kembali terbentang di hadapannya. Angin dingin berembus melewati tubuhnya, membawa serta tekanan aneh yang masih tertinggal di udara.Fang Han masih berada di anak tangga ke-301 Tangga Menembus Langit.Namun, sesuatu telah berubah.Fang Han menundukkan kepala dan mengamati kedua tangannya. Tidak ada luka yang terlihat, tetapi sensasi seolah-olah ribuan pedang masih mengiris kesadarannya belum sepenuhnya lenyap. Pengalaman di Kuburan Pedang terlalu nyata untuk dianggap sekadar ilusi. Setiap langkah yang diambilnya menuju puncak gunung pedang itu telah memaksanya menghadapi batas kemampuan jiwa spiritualnya sendiri.Terlebih lagi, pedang kayu polos yang disentuh di puncak masih terukir jelas dalam ingatan Fang Han.Niat Pedang Asal — Kun Peng Menelan Langit!Nama itu muncul kembali di benaknya, diikut

  • Legenda Sang Immortal   Bab. 128

    Retak... retak...Retakan halus itu bukan lagi muncul di pedang-pedang di sekitarnya. Retakan itu muncul di tubuh jiwa Fang Han sendiri.Sosoknya yang semula padat kini berkedip-kedip. Transparan. Seperti lilin yang tertiup angin di tengah badai niat pedang.Seratus langkah lagi menuju puncak Kuburan Pedang. Seratus langkah yang terasa seperti seratus tahun.“Aku... sudah mencapai batas…”Fang Han berlutut. Lutut jiwanya menghantam tanah yang dipenuhi pecahan pedang berkarat. Setiap tarikan nafas, ribuan bilah tak kasatmata mengiris lautan kesadarannya.Di belakangnya, jalan yang telah ia lalui perlahan menghilang ditelan kabut kelabu. Tidak ada jalan untuk mundur.Di depannya, puncak yang memancarkan cahaya menyilaukan itu masih menggantung, dingin dan tidak peduli.Untuk pertama kalinya sejak datang ke Alam Tiga Puluh Delapan Provinsi Dao Surgawi, Fang Han merasakan keputusasaan yang sesungguhnya. Bukan karena musuh lebih kuat. Tapi karena tubuhnya sendiri yang menolak untuk melangk

  • Legenda Sang Immortal   Bab. 127

    Begitu Fang Han memasuki kondisi meditasi, dunia di sekitarnya seketika lenyap.Tekanan spiritual yang semula terus menghantam lautan kesadarannya tiba-tiba berubah menjadi pusaran yang menelan seluruh kesadaran.Wussh!Dalam sekejap mata, Fang Han mendapati dirinya telah berdiri di sebuah dunia yang sama sekali asing.Di hadapan Fang Han menjulang sebuah gunung raksasa yang diselimuti kabut kelabu. Dari kaki hingga puncaknya, ribuan bahkan puluhan ribu pedang tertancap di tanah. Ada pedang yang masih utuh dan memancarkan cahaya dingin, ada pula yang telah berkarat, patah, bahkan hanya menyisakan gagangnya saja.“Tempat ini ...” gumam Fang Han dalam hati. Tatapannya perlahan menyapu seluruh gunung. “Kuburan Pedang.”Begitu pikiran itu muncul, hawa dingin langsung menjalari punggung Fang Han.Walaupun tempat ini dipenuhi pedang-pedang yang telah lama tertancap di tanah, aura yang dipancarkan setiap bilahnya masih sangat mengerikan. Niat pedang yang tajam berpadu dengan aura membunuh

  • Legenda Sang Immortal   Bab. 126

    Melihat Fang Han terus melesat tanpa sedikit pun memperlambat langkahnya, Song Yifeng segera menggertakkan gigi. Rasa malu akibat bentrokan sebelumnya berubah menjadi amarah yang membakar akal sehat Song Yifeng. “Jangan harap kau bisa kabur!” bentaknya sebelum segera mengejar.Boom!Song Yifeng mengerahkan energi spiritualnya hingga batas yang mampu ia kendalikan. Sosoknya melesat dari satu anak tangga ke anak tangga berikutnya dengan kecepatan tinggi.Namun, baru beberapa langkah ia melangkah, wajah Song Yifen kembali berubah.Tekanan pada setiap anak tangga terus meningkat secara bertahap. Setiap kali berpindah ke tangga berikutnya, ia masih membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan tekanan baru yang menghantam tubuh.“Sial!” kutuk Song Yifeng dalam hati.Song Yifeng memaksa melangkah lebih cepat, tetapi tubuhnya tidak mampu mengikuti keinginannya. Semakin terburu-buru, semakin besar pula energi spiritual yang harus dikeluarkan untuk melawan tekanan Tangga Menembus Langit.S

  • Legenda Sang Immortal   Bab. 125

    Dalam beberapa tarikan napas berikutnya, Fang Han telah menyusul hingga mencapai anak tangga yang sama dengan Song Yifeng. Karena memilih mempercepat pendakiannya, fokus Fang Han kini lebih tertuju pada tekanan Tangga Menembus Langit daripada keadaan di sekelilingnya. Tanpa disadari, kewaspadaan Fang Han terhadap orang lain sedikit menurun.Akan tetapi, tepat ketika telapak kakinya menginjak anak tangga ke-285 ….Wussh!Sebuah telapak tangan berwarna keperakan tiba-tiba melesat dari samping dengan kecepatan luar biasa. Angin panas yang dibawa pukulan telapak itu langsung mengoyak udara, sementara di dalam serangan itu terselip jejak aura Hukum Logam yang tajam dan mendominasi.Serangan itu datang tanpa peringatan, keji, dan jelas ditujukan untuk membunuh.“Ha ha ha! Fang Han, orang sepertimu tidak pantas berdiri di anak tangga ini!” teriak Song Yifeng dengan senyum sinis.Tanpa sedikit pun menahan kekuatannya, Song Yifeng mendorong telapak tangannya semakin kuat.“Turunlah dengan p

  • Legenda Sang Immortal   Bab. 124

    Tiba-tiba cahaya emas yang menyilaukan muncul di tangga ke-300, kemudian ada sebentuk gumpalan awan terbang ke arah Mo Yang. Gumpalan awan itu pecah dan memperlihatkan sebuah pil yang dilapisi rune keemasan.“Tidak sia-sia aku bergegas naik dan menjadi yang pertama, di sini aku bahkan mendapatkan sebuah pil yang terlihat sangat istimewa.” Mo Yang tidak menunggu sedetikpun dan langsung mengambil pil itu sambil memperhatikannya dengan lebih teliti.Sementara para kultivator lain yang melihat Mo Yang mendapatkan keberuntungan seperti itu juga menjadi terkejut.Beberapa orang bahkan mulai memberikan penilaian lain terkait Tangga Menembus Langit. Mereka mulai berbicara dengan penuh semangat.“Tangga ini … tidak sesimpel yang kita pikirkan sebelumnya.”“Benar sekali. Mungkin saja di setiap perhentian 300, 600, dan 900 akan ada hadiah tertentu.”“Aku juga berpikir seperti itu. Kemungkinan besar di tingkat ke-600 dan 900 akan memberikan hadiah yang lebih baik dari tingkat 300.”“Ah, itu sudah

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status