LOGINDihina dan dibuang bagai sampah oleh mantannya demi pria kaya, Aris Pratama berada di titik terendah hidupnya. Tepat saat kehancuran itu, suara dingin menggema di dalam kesadarannya: [ SISTEM PENGUASA MODERN BERHASIL DI-INSTALL! ] Sistem ini langsung memberinya dana hibah Rp5 Milyar secara instan, lengkap dengan misi-misi bertahap yang mengubah Aris dari mahasiswa miskin menjadi pria tangguh, berwibawa, dan kaya raya. Langkah pertamanya? Membeli kafe mewah tempat dia diputusin secara tunai dalam hitungan detik, sekaligus mempermalukan mantannya di depan umum. Aksi nekad Aris menarik perhatian Wulan Indah Kusuma, CEO muda berwajah dingin dari Kusuma Group yang menyaksikan segalanya. Siapa sangka, ini barulah awal. Dari jalanan Kota Metro Raya hingga panggung bisnis internasional, setiap langkah Aris kini dipenuhi kekayaan raksasa, aksi pertarungan, dan pesona para dewi yang bertekuk lutut padanya.
View MoreTamparan keras itu mendarat tepat di pipi kiri Aris. Suara plak yang nyaring memotong alunan musik jazz lembut di dalam Kafe Grand Luxe. Rasa panas membakar kulitnya seketika, disusul helaan napas sinis dari wanita yang sudah dua tahun ini mendampinginya.
"Kamu tuh sadar diri dong, Ris! Selama ini aku cukup sabar makan di warung pinggir jalan sama kamu!" bentak Sarah dengan suara melengking. Matanya melotot tajam, mengabaikan beberapa pasang mata pengunjung kafe yang mulai menoleh ke arah meja mereka. Aris memegangi pipinya yang berdenyut. Ibu jarinya meraba perlahan permukaan cincin perak murah yang tergeletak kaku di atas meja kayu kafe. Cincin itu adalah hasil tabungannya selama tiga bulan terakhir, berniat diserahkannya malam ini sebagai simbol keseriusan. "Rah, aku cuma minta waktu sedikit lagi," bisik Aris, suaranya bergetar hebat menahan gelombang rasa malu dan sakit hati. "Usaha perintis yang aku bangun bareng kawan-kawan sebentar lagi jalan. Kita cuma butuh sedikit kesabaran." "Waktu? Sampai aku tua dan berkerut?" Sarah tertawa mengejek, nada suaranya dipenuhi hinaan yang melukai dada Aris. Tanpa rasa canggung, Sarah melangkah rapat lalu menyandarkan tubuhnya ke lengan seorang pria berjas necis yang sejak tadi berdiri angkuh di sampingnya. Tangannya melingkar mesra di lengan pria itu, seolah menegaskan batasan yang sangat tegas antara dirinya dan Aris. "Kenalin, ini Kevin. Ayahnya pemilik jaringan properti terbesar di Kota Metro Raya," ujar Sarah dengan dagu terangkat bangga. "Dia cuma butuh waktu lima menit buat beliin aku tas Gucci, bukan janji manis enggak jelas kaya kamu!" Kevin tersenyum sinis, menatap Aris dari atas ke bawah seolah Aris hanyalah seonggok sampah yang mengotori sepatu kulit gilapnya. Pria itu mencondongkan badannya sedikit, memperlihatkan jam tangan emas yang berkilau disiram lampu gantung kafe. "Gue perhatiin dari tadi lu cuma muter-muter kalimat yang sama," potong Kevin dengan nada dingin. "Gak malu lu ngajak cewek sekelas Sarah ke tempat kaya gini tapi cuma sanggup pesen Americano paling murah?" Aris mengepalkan kedua tangannya di bawah meja. Jemarinya saling meremas hingga buku-buku jarinya memutih, menahan gejolak amarah yang membakar dadanya. Kevin merogoh dompet kulit mewahnya tanpa terburu-buru. Dengan gerakan santai dan penuh penghinaan, dia menarik lima lembar uang ratusan ribu dari dalam dompetnya. "Nih, ambil." Kevin melemparkan lembaran uang merah itu tepat ke dada Aris. Uang-uang tersebut berhamburan, sebagian jatuh di paha Aris dan sisanya berserakan di lantai dingin kafe. "Ambil buat ongkos pulang naik angkot. Sarah bukan level laki-laki kere kaya kamu." Sarah bersedekap, tersenyum puas melihat ketidakberdayaan Aris. "Mending kamu ambil uangnya, Ris. Jangan makin bikin malu diri sendiri di sini. Lagian kita udah selesai." Beberapa pengunjung di meja sekitar mulai berbisik-bisik. Tatapan kasihan dan ejekan menyatu, mengurung Aris dalam lingkaran kecanggungan yang meremukkan harga dirinya sebagai seorang pria. Pandangan Aris meredup, menatap lima lembar uang merah yang berserakan di antara sepatunya yang sudah usang. Dada pria itu bergemuruh hebat, merasakan sakit yang memuncak hingga ke tenggorokan. Ting! Suara dentingan jernih mendadak menggema kuat langsung di dalam kepala Aris, menghentikan detak waktu di dalam kesadarannya. Kebisingan kafe, tawa mengejek Sarah, dan tatapan angkuh Kevin mendadak seolah membeku. [ SISTEM PENGUASA MODERN DITEMUKAN! ] [ MENGHUBUNGKAN DENGAN GELANGBANG OTAK HOST... 100% SUCCESS! ] [ PEMBERITAHUAN: DANA HIBAH PERDANA SEBESAR Rp5.000.000.000 (LIMA MILYAR RUPIAH) TELAH DISALURKAN KE REKENING UTAMA HOST! ] Sebuah layar holografik transparan berkerlap-kerlip warna emas tiba-tiba mengapung tepat di hadapan mata Aris. Di saat yang bersamaan, ponsel murahan di saku celananya bergetar hebat secara berturut-turut. Dengan tangan yang sedikit gemetar karena keterkejutan, Aris merogoh saku celananya dan menarik ponselnya keluar. Cahaya layar ponsel menyinari wajahnya yang tegang. Pesan Masuk (M-Banking): Rekening Anda telah dikreditkan sebesar Rp5.000.000.000,00 dari DANA UTAMA SISTEM. Saldo Efektif: Rp5.000.215.000,00. Mata Aris melotot kecil. Jarinya menekan layar, memastikan bahwa angka sembilan digit di dalam aplikasi perbankannya bukanlah halusinasi mata semata. [ MISI PERDANA: Balas Penghinaan Ini! Beli Kafe Grand Luxe Secara Tunai Dalam Waktu 3 Menit! ] Hadiah Misi: Stat Bertarung +5, Stat Karisma +3, dan Hak Milik Kafe Grand Luxe. Hukuman Gagal: Sistem dicabut permanen dan seluruh saldo ditarik kembali. Napas Aris berhembus perlahan. Sensasi aneh merayapi punggungnya, menggantikan rasa malu yang tadinya membakar menjadi sebuah ketenangan yang tak tergoyahkan. "Kenapa? Masih kurang uangnya?" tebak Kevin sambil menyunggingkan senyum remeh, menyangka Aris hanya bisa tertegun memandangi ponsel murahan di tangannya. "Kalau mau nambah, bersihin dulu sepatu gue pakai lidah lu!" Sarah terkekeh geli mendengar ucapan Kevin. "Udah deh Kev, yuk pergi aja. Males aku ngeliat dia menderita di sini." Aris mendongak perlahan. Sorot matanya yang tadinya penuh kepasrahan kini berubah drastis—tajam, sangat tenang, dan memancarkan aura tekanan yang membuat Kevin mendadak menghentikan tawa kecilnya. Aris mengabaikan lembaran uang di lantai. Dia melangkah maju satu tahap, melintasi Kevin dan Sarah tanpa melirik mereka sedikit pun. Pria itu berjalan lurus menuju area kasir, lalu menatap langsung ke arah manajer kafe yang berdiri gugup sejak tadi memperhatikan keributan tersebut. "Manajer," panggil Aris dengan suara berat, dalam, dan sangat mantap. Sang Manajer, seorang pria paruh baya berkacamata tebal, tersentak kecil dan merapikan kemejanya dengan panik. "I-iya, Mas? Ada yang bisa saya bantu?" "Berapa nilai seluruh aset dan kepemilikan saham Kafe Grand Luxe ini kalau saya beli sekarang juga secara tunai?" tanya Aris datar.Malam harinya, Kota Metro Raya diguyur hujan gerimis tipis. Cahaya lampu dari gedung-gedung pencakar langit membias indah di atas permukaan jalanan aspal yang basah.Aris berdiri di depan cermin kamar kosnya yang sempit. Dia mematut penampilannya. Meski kini memiliki saldo miliaran di rekeningnya, Aris masih mengenakan kemeja hitam polos dan celana kain gelap yang bersih. Tidak ada barang bermerek yang melekat di tubuhnya, namun peningkatan Stat Karisma 17 secara alami memberi gestur tubuh yang tegap, tenang, dan memancarkan aura wibawa yang tak bisa diabaikan.Aris melangkah keluar dari gang rumah kosnya. Ketika sebuah taksi konvensional berhenti di depannya, Aris masuk dan menyebutkan tujuan dengan suara datar."Restoran Skyview, Metro Tower, Pak."Sopir taksi sempat menoleh sejenak lewat spion tengah, sedikit ragu melihat penampilan Aris yang terlampau sederhana untuk mengunjungi restoran termahal di pusat kota tersebut. Namun, melihat sorot mata Aris yang begitu tenang dan ta
Mobil mewah Roll-Royce Phantom milik Wulan berlalu meninggalkan area parkir Kafe Grand Luxe. Aris berdiri di ambang pintu kaca, memperhatikan lampu belakang mobil itu hingga menghilang di belokan jalan utama Kota Metro Raya.Suasana di dalam kafe kini sudah kembali tenang. Para karyawan sibuk membersihkan sisa-sisa cangkir dan menata kembali meja kayu yang sempat bergeser akibat perkelahian tadi.Sang Manajer berjalan mendekat ke arah Aris dengan langkah serba salah. Tangannya saling meremas di depan perut, wajahnya dipenuhi rasa cemas yang tak tertahankan."P-Pak Aris... maafkan kelalaian saya dan staf tadi," ujar Sang Manajer dengan suara bergetar. "Saya tidak tahu kalau Pak Aris adalah..."Aris memutar badannya, menatap Sang Manajer dengan wajah datar. "Siapa nama kamu?""Budi, Pak. Saya Budi, manajer operasional di sini," jawabnya cepat sambil menundukkan kepala."Pak Budi, saya tidak menyalahkan kamu atau karyawan lain," ucap Aris pelan. "Mulai hari ini, operasional kafe b
Suasana di depan pintu kaca Kafe Grand Luxe mendadak mencekam. Delapan pria berbadan tegap dengan seragam serba hitam mulai melangkah masuk. Tongkat besi di tangan mereka dipukul-pukulkan ke telapak tangan, menciptakan suara dentingan logam yang meneror keberanian siapa pun di dalam ruangan.Pengawal pribadi Wulan yang berjumlah dua orang mencoba menahan di ambang pintu, namun sapuan tongkat besi yang bertubi-tubi memaksa mereka terdesak mundur dengan luka memar di lengan."Gua bakal bikin lu berlutut dan minta ampun di depan kaki gua, Aris!" teriak Kevin dari balik kerumunan premannya. Wajahnya yang tampan kini dipenuhi urat kemarahan yang meluap-luap.Di samping Kevin, Sarah menatap Aris dengan senyum puas. "Makanya jangan sok kaya! Baru pegang uang segitu aja udah berani ngusir Kevin!"Wulan Indah Kusuma yang berdiri tepat di belakang Aris merogoh ponselnya tenang. Jemari lentiknya dengan cepat menekan nomor darurat markas keamanan Kusuma Group."Saya Wulan. Kirim dua tim pen
Suasana di sekitar meja kasir mendadak hening. Sang Manajer membetulkan letak kacamatanya yang sedikit meluncur, memandangi Aris dari tatanan rambut hingga sepatu kets usangnya dengan tatapan tak percaya. "Ma-maaf, Mas? Mas bilang mau beli kafe ini?" tanya Sang Manajer gagap, yakin bahwa telinganya baru saja menangkap lelucon paling tidak masuk akal sepanjang hari ini. Suara tawa melengking Sarah langsung memecah keheningan tersebut. Wanita itu memegangi perutnya, tertawa hingga matanya sedikit berair. "Ris, kamu kesurupan ya?! Jangan makin bikin malu diri sendiri deh!" jerit Sarah dengan nada sarkastik. "Kafe ini tuh nilainya miliaran! Bukan warung bakso langganan kamu yang bisa kamu bayar pakai uang pas-pasan!" Kevin menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum keji. Dia melangkah menyusul Aris ke depan meja kasir dan melipat kedua tangannya di dada. "Manajer, mending lu panggil sekuriti sekarang buat usir orang gila ini. Mengganggu kenyamanan gue dan pacar baru gue aj












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.